
Di sepanjang langkah mereka menuju kamar, tak sekalipun Hov melepaskan tangan Alesya dari genggamannya. Hov terus saja memegangi tangan Alesya sembari menariknya pelan agar terus mengikuti langkah nya yang lebar, Hov seperti tidak ingin melihat Alesya tertinggal jauh dibelakangnya.
begitu juga dengan Alesya, gadis itu seperti tidak keberatan, saat suaminya terus saja menarik tangannya pelan, Alesya hanya menurut saja seperti sudah tersihir oleh Jehova.
beberapa saat kemudian, kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu telah tiba didepan pintu kamar mereka.
dengan sigap Hov segera membuka pintu dan mempersilahkan Alesya untuk lebih dulu masuk kedalam kamar.
"silahkan masuk Nyonya Hov!!" titah Hov pelan.
"terimakasih banyak Tuan Jehova" Haha Alesya memasuki kamar sembari berkelakar.
"kenapa kau malah tertawa Nyonya?" goda Hov sambil berkacak pinggang.
"tidak apa-apa Tuan, aku hanya merasa aneh saja diperlakukan sesopan itu oleh seorang Tuan Alexander Jehova." sahut Alesya begitu saja.
"hey, kenapa kau harus merasa aneh? bukankah sudah seharusnya aku memperlakukan Istri ku dengan sebaik mungkin kan?" jawab Jehova sembari menutup pintu kamar nya.
ketahuilah Alesya, mulai sekarang aku akan selalu memperlakukan mu seperti Ratu di manapun kau berada, dan yang pasti kau akan selalu menjadi Ratu di hati ku.
Batin Jehova.
"kau tidak perlu seperti itu padaku Tuan, lagi pula aku tidak terbiasa diperlukan seperti itu." ucap Alesya sambil cekikikan.
"haha, dasar aneh!" Hov mendekati Alesya dan kembali mengacak-ngacak rambut hitam nan panjang milik Istrinya hingga berantakan dari ikatannya.
"aaaaaaaaa Tuan, lihat lah! rambut ku jadi berantakan begini kan." rengek Alesya kesal sambil merapikan ikatan rambut nya.
"kalau begitu biarkan saja seperti itu, tidak usah dirapikan" Sahut Hov cepat.
"tidak mau, rambut ku berantakan kemana-mana kalau aku tidak mengikat nya." ucap Alesya.
"sekarang kemarilah, lepaskan sepatu ku!" Hov sudah duduk di sofa kamar.
"iya Tuan." Alesya dengan begitu patuh dan langsung berjalan menghampiri ketempat di mana Jehova sedang duduk.
Alesya sudah berjongkok tepat didepan Jehova dan ingin segera melepaskan tali sepatu suaminya.
namun tanpa di sangka Hov justru menjauh kan kakinya dari jangkauan tangan Alesya.
sedangkan Alesya hanya diam menatap Hov dengan penuh keheranan.
kenapa sekarang Dia begitu patuh? apa mungkin Alesya sudah mulai jatuh cinta pada ku ya.
Gumam Hov.
"Alesya?" panggil Hov datar.
"Hmmm" sahut Alesya.
"kenapa tiba-tiba aku ingin sekali di pijit ya, rasanya tubuh ku ini sakit semua." ucap Hov sembarangan saja.
"eh, kalau begitu mandilah dulu Tuan! agar tubuh mu lebih segar, tunggu lah aku akan menyiapkan air sebentar." Alesya ingin segera berdiri, namun pundak nya langsung di tahan oleh Jehova, hingga posisi nya langsung terduduk di lantai.
"kalau begitu mandilah bersama ku!" ajak Jehova dengan tatapan genit.
Hov sungguh berharap kali ini Alesya juga akan menuruti permintaannya.
"tidak mau, kau pasti akan berbuat macam-macam pada ku kan." Alesya memicingkan mata nya menatap Jehova.
"macam-macam? aku ini suami mu Alesya! bagaimana mungkin aku akan berbuat macam-macam." ucap Hov kesal.
"tentu saja bisa, karena kau Tuan Jehova yang sangat menyebalkan." jawab Alesya menggoda.
__ADS_1
"jangan menggodaku seperti itu Nyonya Hov." Tangan Jehova merengkuh tengkuk Alesya dan satu tangan nya lagi melepaskan ikatan rambut milik Istri nya hingga rambut gadis itu kembali terurai indah.
"eh, apa yang kau lakukan Tuan?" Alesya mulai kelabakan dengan sikap suami yang kini semakin berani menyentuh tubuhnya.
"jangan ikat rambut mu saat sedang bersama ku Alesya! biar kan saja tetap terurai seperti ini." Hov bergumam sambil menyesapi aroma rambut istri nya yang begitu harum menurut nya.
"Tuan?"
Alesya merasa sedikit geli karena bibir Hov terus saja mengecupi rambut hitamnya.
"sampo apa yang kau gunakan Alesya? kenapa wangi nya bisa seenak ini." Hov masih belum berhenti dengan aktivitas nya.
"bukankah kau juga tadi pagi menggunakan nya Tuan" jawab Alesya.
Alesya bisa tau kalau tadi pagi Hov menggunakan sampo nya, karena saat Hov mandi aroma sampo nya semerbak hingga keluar kamar mandi.
"oh, jadi sampo yang beraroma aneh itu sampo mu ya,
tapi kenapa di rambut mu wanginya bisa begitu nikmat Alesya." sahut Hov.
"aneh? apa maksud mu aneh, jelas-jelas sampo itu beraroma buah peach yang menyegarkan." jawab Alesya.
"aku tidak tau kalau itu sampo mu, lagi pula aku tidak terbiasa melihat produk itu di kamar mandi ku, jadi aku membuang nya. jawab Hov tanpa berdosa.
"apa?? kau membuangnya Tuan! Alesya segera menarik kepala nya menjauh dari Hov dan menatap laki-laki itu penuh dengan kekesalan.
"iya, tapi sungguh aku tidak tau kalau ternyata itu milik mu Alesya." sahut Hov membela diri.
"tapi bukan kan tadi pagi kau menggunakan sampo itu kan? tanya Alesya penasaran.
"tidak, aku hanya mencium aroma nya saja, karena aku merasa aroma nya mirip seperti pembersih lantai, jadi aku membuang isinya ke saluran air." jawab Hov dengan begitu polos nya.
"apa Tuan? pembersih lantai! dan kau sengaja membuangnya ke saluran air" pekik Alesya karena terkejut.
dasar Iblis besar, pantas saja tadi pagi saat dia sedang mandi aku mencium bau sampo ku sampai keluar ruangan. rupanya Dia membuang isinya.
"iya Alesya, apa kau tau terima?" Hov menatap manik Alesya yang masih membulat sempurna.
"bukannya aku tidak terima, tapi kenapa kau tidak bertanya terlebih dulu padaku." Alesya bersungut-sungut.
"salah mu sendiri, kenapa kau tidak mau menemani ku saat mandi." sahut Hov santai.
"kenapa jadi aku yang salah sih? kau yang membuangnya dan sekarang kau menyalahkan aku." Alesya masih duduk bersila di lantai.
"haha, kau sangat cantik saat sedang marah seperti ini Alesya." Hov terkekeh-kekeh melihat Istrinya.
"jangan menggodaku!!" sahut Alesya dengan melipat kedua tangannya di perut.
"kenapa memang nya kalau aku menggoda mu, apa kau akan memukul ku" Hov meraih dagu gadis itu dengan lembut.
"jangan menyentuh ku!!"
Alesya memalingkan wajahnya agar tangan Hov terlepas dari dagu nya.
"oh, rupanya Nyonya Hov sedang benar-benar marah sekarang"
Jehova semakin mendekat kan wajah nya, sembari meregangkan dasi yang sedang di melingkar di lehernya.
Alesya masih tak bergeming, Ia tetep saja diam dan menundukkan wajahnya seakan tak mau menatap wajah Jehova.
matanya tertuju kelantai, dan jari-jari lentiknya bermain satu sama lain.
"Tuan, kenapa kau turun kebawah? Alesya merasa terkejut karena Jehova sudah duduk di sebelah nya, dengan bersandar pada sofa.
__ADS_1
"kenapa? apa aku tidak boleh duduk di sini bersama mu." sahut Hov dengan menatap mata Alesya begitu dalam.
"tidak, tidak, bukan begitu maksud ku" Alesya mulai kelabakan saat pandangan mata mereka bertemu.
"lalu apa Alesya?" Hov mulai menarik pinggang Alesya yang begitu ramping, dan membawanya semakin dekat.
"Tu..tuan, apa yang ak......"
belum sempat Alesya menyelesaikan ucapannya, Hov sudah lebih dulu membungkam bibir mungilnya dengan ciuman yang begitu memabukkan.
lumayan lama mereka saling berpagutan, hingga keduanya terbawa oleh suasana.
tanpa sadar Alesya sudah berpindah posisi duduk nya dan sekarang berada tepat di atas pangkuan Jehova.
mereka saling memeluk, mencium dan juga saling meremas satu sama lain.
mereka tampak menikmatinya terutama Alesya, yang sudah mulai terbiasa dengan sentuhan-sentuhan yang Hov berikan untuk nya.
namun saat mereka sedang menikmati momen itu, tiba-tiba ponsel Jehova berdering begitu nyaring, hingga seketika membuyarkan konsentrasi keduanya.
"sial, mengganggu saja" umpat Hov sembari merogoh ponsel saku jas nya.
Alesya yang tersadar, secara refleks segera turun dari pangkuan suaminya.
dan memilih masuk ke kamar mandi untuk menyembunyikan rasa malu nya dari Hov.
ah bodoh nya aku, kenapa aku bisa duduk di pangkuan nya. memalukan sekali!!
Alesya merutuki dirinya sendiri di kamar mandi.
saat Hov melihat panggilan telepon yang sudah mengganggu nya, Ia semakin kesal.
rupanya Carlos lah yang membuat Hov dan Alesya menghentikan aktivitas mereka.
("brengsek, apa kau ingin mati heh?") sahut Hov begitu saja.
("apa-apaan ini, kenapa kau tiba-tiba ingin membunuh ku, memang nya apa salah ku Hov") protes Carlos.
("kenapa kau harus menelfon ku sekarang brengsek") ucap Hov kesal.
("hey, bagaimana mungkin aku tidak menelfon mu, kalau kau tiba-tiba kau membatalkan kehadiran mu dalam rapat dan harus aku yang mewakili mu, ada apa ini Hov?) cecar Carlos.
sial, aku baru ingat kalau siang ini ada rapat dengan AJ Hospital, kenapa aku tidak menyuruh Steven untuk menghubungi bajingan ini sebelumnya.
Ah Hov mengacak rambutnya kasar.
("tapi kau tidak harus menelpon ku Carl, kau kan bisa menelfon Steve") ucap Hov.
("memang apa yang sedang kau kerjakan Hov? sampai-sampai kau begitu terganggu dengan panggilan telepon ku") Carlos penasaran.
("kau tidak perlu tau, yang jelas apa yang sedang ku kerjakan sekarang lebih penting dari pertemuan atau rapat apapun Carl, jadi jangan menggangguku ku lagi!!") Titah Hov
("tapi apa itu Hov?") Carlos semakin penasaran.
Tut.....................
seperti biasa, Hov sudah lebih dulu mengakhiri panggilan telepon nya, tanpa mempedulikan lawan bicaranya yang sedang berada disambung an telepon itu.
BERSAMBUNG
**LIKE
*VOTE
__ADS_1
*KOMENTAR*
TERIMAKASIH