
Mika menatap dirinya di cermin, tubuhnya kini berbalut gaun cantik yang terlihat mewah di tubuh rampingnya. Bukan dia yang memilih, tentu Jeff sendiri yang memilih karena sudah pasti Mika tidak akan bisa diajak berdiskusi.
Sebenarnya cukup tidak nyaman, bagian dada dan punggungnya terlalu terbuka menurut Mika, ditambah dengan hanya setengah lengan. Tapi dia juga tidak mungkin protes, seperti yang pernah dia katakan. Yang mau menikah ya Jeff, dia hanya perlu menurut saja.
Mika keluar dari ruang ganti untuk diperlihatkan pada Jeff yang kini sudah memakai tuxedo yang senada dengan gaun putih cantiknya. Jeff kagum sih melihat gaun itu melekat pada Mika.
Dia tidak ingin menjadi munafik, calon istrinya memang sangat cantik. Jadi mau dipakaikan apa saja ya Mika memang cantik. Dia jadi sedikit menelan air liurnya karena melihat Mika saat ini. Namun tetap, pridenya itu begitu tinggi.
"Nyaman?" Tanya Jeff.
Mika memilih untuk tidak menjawab, malas juga menjelaskan perasaannya pada Jeff. Kalau memang sangat harus dijawab mungkin Mika akan blak-blakan kalau dia tidak nyaman dengan gaun ini dan dia juga tidak nyaman dengan kanebo kering sepertu Jeffrico. Satu lagi, dia tidak nyaman dengan pernikahan ini.
"Ya sudah kita ambil yang ini," ucap Jeff.
Mika menghela napasnya, dia terus menatap dirinya di cermin sambil sesekali merapikan rambutnya. Sesekali dia juga menatap ke arah Jeff. Mereka mungkin terlihat serasi jika berdampingan seperti ini, tapi kalau soal hati tentu tidak.
Hanya mereka yang merasakan. Mika malah seperti menjalani pernikahan formalitas saja yang penuh dengan pencitraan. Apa orang kaya semuanya seperti itu ya?
Setelah selesai dengan baju pernikahan, kini Mika di bawa ke ruang make up setelah berganti pakaian dengan menggunakan mini dress berwarna hitam yang elegan.
Apalagi kalau bukan untuk melakukan prewedding. Semuanya dibuat simpel dan hanya di lakukan di sebuah photo studio yang memang sepaket dengan butik ini. Padahal Mika pernah membayangkan kalau photo prewedding nya nanti akan dia lakukan di pantai.
Tapi salahnya juga tidak mau berdiskusi dengan Jeff. Padahal mau prewedding di Paris sekali pun Jeff akan menuruti kemauan Mika.
"Mik, apa lo yakin mau menjalankan pernikahan ini? Lo selalu bilang kalau harus ikutin kata hati dan hati lo ragu. Tapi kenapa lo tetep lanjut?" Gumam Mika dalam benaknya.
Bagi Mika pernikahan itu akan menjadi hubungan seumur hidup. Tapi setelah dia bertaut dengan Jeff apa mungkin pernikahan mereka akan terjalin seumur hidup?
Dia bahkan tidak yakin. Apa ini akan sama sepertu kisah dalam novel yang berujung perpisahan? Atau mungkin kawin kontrak. Memang pikirannya sudah kemana-mana.
Mika terus memandangi wajahnya di depan cermin, bertransformasi dari seorang Mika menjadi seorang calon istri Jeffrico. Mungkin karena dia akan menikah dengan orang dewasa, semuanya juga disesuaikan.
__ADS_1
Bukan konsep casual ataupun feel free natural. Ya sesuai lah dengan Jeff yang sudah berumur. Mau tidak mau Mika mengikuti.
.
.
.
Jeff dan Mika saling menatap, mengikuti arahan sang photographer untuk mengambil gambar yang perfek. Harus Mika akui, meskipun Jeff sangat kaku tapi saat di depan kamera seperti ini dia sangat menikmati.
Bahkan sudah sepertu seorang model profesional. Wajahnya yang tampan juga memumpuni dia untuk menjadi model sebenarnya. Tapi Jeff lebih memilih untuk melakukan pekerjaan yang membosankan.
Beberapa kali mereka mengganti pakaian. Kini keduanya harus berpose lebih intens. Dengan Jeff yang merengkuh pinggangnya dan wajah mereka yang sangat dekat. Mungkin sedikit saja ada pergerakan, bibir mereka akan bertemu.
Mika berusaha mengalihkan pandangannya dari Jeff, ditatap oleh Jeff seperti itu tentulah ada perasaan aneh sekaligus grogi yang Mika rasakan. Terbukti dengan tangannya yang berada di dada Jeff terasa gemetar. Jeff juga tau kalau Mika gugup sekarang.
"Mba Mika tolong rileks ya, coba tatap calon suaminya agar feelnya dapat," ucap Ezra si photographer.
Jantung Mika berdebar saat mendengar bisikan lembut yang Jeff lontarkan. Tapi entah kenapa dia malah terhipnotis dan melakukan apa yang Jeff perintahkan. Mencoba menatap Jeff sebagai orang yang dia cintai.
Merasa sudah mendapat feel yang tepat, kamera mulai membidik beberapa photo terbaik dari mereka. Merasakan hembusan napas Jeff dari dekat begini, apakah mungkin suatu saat nanti Jeff akan benar-benar menjadi orang yang dia cintai?
Namun dengan cepat Mika menepis perasaan itu. Dia hanya masih kecil saja, yang terlalu mudah terbawa perasaan oleh perlakuan manis. Dia tidak boleh jatuh cinta pada seorang Jeff, karena dia tau. Yang akan dia dapatkan nantinya hanya rasa sakit.
Beberapa jam berlalu, sesi pemotretan sudah selesai. Mika juga sudah kembali mengganti pakaiannya dan menunggu Jeff di mobil bersama Gerda. Jeff sendiri yang menyuruhnya.
"Pak, Ger," panggil Mika.
"Iya, Nona?" Bala Gerda dengan ramah sembari melihat Mika dari spion depan.
"Om Jeff itu orangnya seperti apa?" Tanya Mika penasaran.
"Kenapa anda bertanya soal Pak Jeff?"
__ADS_1
"Bukannya wajar ketika aku mau menikah sama Om Jeff dan bertanya soal dia ke bapak?" Ucap Mika.
Memang benar sih, wajar jika Mika ingin tau tentang Jeff. Meskipun terpaksa menikah, tapi mereka akan tinggal satu rumah, kan? Tentu sedikit banyaknya dia harus tau bagaimana seorang Jeffrico.
Gerda terkekeh. "Pak Jeff orangnya disiplin, tegas dan berprinsip. Memang sedikit kaku dan tidak banyak bicara tapi dia bertanggung jawab. Maaf kalau saya lancang, apa Nona takut disakiti oleh Pak Jeff?"
Mika menghela napas, dia tidak yakin sih. Tapi kalau dia tidak menaruh perasaan dia tidak akan pernah terlukan kan? Jadi untuk apa menanyakannya.
"Pak Jeff itu tidak akan menyakiti apa yang memang mau dia jaga. Hanya saja sebagai orang terdekatnya Nona harus bisa memahami sifat dan kesibukan Tuan Jeff yang sangat padat. Karena Pak Jeff pekerja keras." Meskipun Gerda tidak mendapatkan jawaban, tapi dia tau apa yang ada dipikiran gadis seusia Mika sekarang.
"Memang sedikit melewati batas, tapi Pak Jeff mempunyai masa lalu yang buruk setelah kematian ayahnya. Kalau Nona menghadapinya dengan lembut tidak menutup kemungkinan Pak Jeff akan berubah."
Belum sempat menanggapi perkataan Gerda, kini percakapan mereka terputus karena Jeff yang masuk ke dalam mobil. Mika menatap Jeff dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
Ada banyak pertanyaan saat melihat wajah Jeff sekarang. Wajah yang datar dan dingin itu seperti banyak menyembunyikan sesuatu. Dia punya dunia sendiri yang belum bisa ditembus oleh siapapun. Itu yang Mika pikirkan.
"Kau terpesona dengan saya?" Tanya Jeff percaya diri.
"Engga, apasih!" Mika buru-buru mengalihkan pandangannya pada ponsel. Dia juga malu karena ketauan sedang menatap Jeff. Bisa-bisa pria itu berpikir kalau Mika menyukainya.
"Lalu?"
"Lalu apa, Om? Kamu bisa gak sih, Om kalau ngomong itu yang tuntas, jangan setengah-setengah," kesal Mika.
"Lalu kenapa kamu memperhatikan saya sejak tadi?"
"Y-ya gak apa-apa. Cuma masih aneh aja kalau mau nikah sama Om-Om. Gak pernah tuh aku punya cita-cita menikah sama Om-Om, jadi aneh aja," jawab Mika asal.
"Bukannya remaja selalu menginginkan jodoh yang mapan, pekerja keras dan tampan? Jadi kamu sudah mendapatkannya."
Sungguh? Ini sebuah jokes kah? Bisa-bisanya Jeff berkata dengan percaya dirinya seperti itu. Memang yang dia katakan benar, tapi bukan Jeff yang Mika inginkan.
Gerda tersenyum di depan sana, memperhatikan interaksi di antara keduanya. Jeff sangat tertutup dengan seorang perempuan, tapi pada akhirnya di mobil ini ada perempuan yang dia bawa sebagai calon istrinya. Tentulah dia senang.
__ADS_1