
Waktu berlalu, Jeff semakin terbiasa dengan semua hal menyebalkan yang Mika keluarkan dari dalam dirinya. Semakin besar kandungan Mika, semakin menyebalkan saja, tapi Jeff yang memang sejak awal menjadi sosok yang paling mengerti bahwa hormon dalam tubuh Mika sedang sangat menguasai Mika.
"Kayanya aku mau lahiran di rumah aja, tempat yang lebih privat, kamu juga bebas buat ada di samping aku," ucap Mika. Mereka sudah dalam tahap mencari rumah sakit untuk persiapan lahiran, secepat itu waktu berlalu.
Jeff menoleh, karena di satu sisi mereka harus memikirkan risikonya, di rumah sakit ya karena rumah sakit lengkap alat-alat medisnya, jadi kalau memang Mika butuh tindakan yang lain tindakan tersebut bisa langsung dilakukan.
"Bisa, 'kan?" Tanya Mika, anak mereka akan lahir dengan jenis kelamin perempuan, Mika ingin sekali merasakan kehangatannya saat anaknya lahir nanti.
Jeff masih belum menjawab, biasanya Mika suka marah kalau permintaannya tidak dituruti, apalagi selama hamil sekarang ini.
"Gak bisa ya?" Tanya Mika yang sudah mulai memunculkan wajah murungnya.
Jeff menarik napasnya. "Kita gak bisa ambil risiko sebesar itu sayang, karena ini menyangkut nyawa kamu dan nyawa anak kita," jelas Jeff, karena bagaimanapun yang harus dipikirkan bukan hanya yang dewasa, anak yang baru akan melihat dunia juga harus sangat dipikirkan.
"Aku takut kamu kenapa-napa," ujar Jeff, kalau bisa seluruh dunia juga dia berikan, kapan sih dia tidak memberikan yang terbaik untuk Mika? Kapan dia tidak mengusahakan sesuatu yang Mika butuhkan?
Mika masih menundukkan kepalanya, selama ini juga semua orang tahu kalau Jeff punya banyak uang, apa tidak bisa dia buat pelayanan untuk Mika di rumah saja, Mika hanya mau ditemani itu saja.
Jeff seketika langsung berpikir keras, langsung merasa bersalah dengan apa-apa yang dia lontarkan dari mulutnya, karena sungguh tidak menyangka kalau apa yang Mika minta benar-benar seserius itu.
"Kamu marah?" Tanya Jeff, untuk sesuatu yang sebenarnya itu juga di luar kendali Jeff dan Mika marah?
"Masa gak bisa?" Tanya Mika, banyak kok di luar sana yang berusaha untuk lahiran dan privasinya tetap terjaga.
Jeff menahan napasnya, oke nanti dia akan cari tahu apa yang harus dia lakukan, permintaan bumil selalu aneh-aneh dan Jeff juga tidak punya banyak pilihan selain ikut apa mau Mika.
__ADS_1
"Oke, nanti aku cari tahu gimana prosedurnya." Ya, meski begitu Jeff juga akan tetap mencari jalan yang terbaik.
Mika langsung tersenyum sumringah, dia senang sekali saat Jeff bisa membuat keputusan seperti ini, dia selalu bangga dengan suaminya.
Mika membuka sabuk pengaman di tubuhnya dan mencium pipi Jeff yang sedang mengemudi, mereka baru saja pulang dari rumah sakit. "Sayang banget sama kamu!" Ucap Mika.
"Ya ampun sayang!" Tentu saja tindakan di mana Mika melepas sabuk pengamannya adalah tindakan yang mengerikan di mata Jeff.
.
.
.
Regan langsung mendekat ke Mika saat tahu kalau mamanya sudah di rumah, sekarang rutinitas Regan adalah menunggu pergerakan adik bayi di dalam perut, dia selalu antusias saat bisa merasakan gerakannya.
Tidak masalah, asal Regan Senang saja maka semuanya akan baik-baik saja. "Masih lama lagi ya ma, adek keluarnya?" Tanya Regan, tentu saja ada banyak hal yang ingin dia lakukan bersama sang adik.
"Sebentar lagi kok, mungkin adek masih nyaman di dalam perut mama, tapi pasti sebentar lagi akan keluar kok," jelas Mika, dia juga sudah selalu berbicara dengan anak yang ada di dalam kandungannya untuk suggest agar anaknya itu juga mendengarnya.
Regan menganggukkan kepalanya, dia mendekatkan kepalanya dan mendengarkan apa yang bisa dia dengarkan dari dalam sana. "Gak ada suara apa-apa," ucap Regan. Mika kemudian terkekeh. "Ya, emang nggak ada suara, karena adek masih belum bisa bicara," jelas Mika.
Regan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Emangnya adek mau diajak main apa?" Tanya Mika.
Regan tampak berpikir sejenak, apa ya? "Main tembak-tembakan?" Tanya Regan.
"Gak dong, adeknya cewek. Abang Regan nanti main tembak-tembak, tapi adeknya dilindungi ya?" Pinta Mika, karena harus diajak bicara sedini ini agar Regan juga mengerti.
__ADS_1
"Kenapa nggak boleh?"
"Karena anak cewek mainnya seharusnya bukan tembak-tembakan, tapi main boneka atau main salonan," jelas Mika.
"Tapi boleh adek main sama abang Regan nanti, tapi abang Regan jagain adek ya?"
Regan mengangguk-anggukkan kepalanya, dia selalu ingin punya teman. "Adek bakal suka baca buku gak?" Tanya Regan, mungkin mereka bisa menyatukan diri satu sama lain dengan membaca buku bersama, kalau main tembak-tembakan terasa tidak adil untuk mereka berdua, maka menurut Regan harus memainkan sesuatu yang bisa berdua.
"Suka dong, apalagi kalau abangnya suka baca buku, adiknya juga pasti suka banget." Mika malah senang sekali kalau Regan maunya membaca buku dengan adiknya, itu adalah hal yang baik, baik untuk tumbuh kembang keduanya saat besar nanti.
Regan menganggukkan kepalanya. "Nanti Regan pilih buku yang bagus buat adek dengar ceritanya," ucap Regan membuat sebuah keputusan, anak yang selalu sangat dewasa menurut Mika.
Mika mengulurkan tangannya untuk menepuk puncak kepala Regan, semoga saja anaknya itu selalu sebaik ini. "Regan sayang adek nggak?" tanya Mika. Regan menganggukkan kepalanya, belum lahir saja dia sudah sayang, tidak tahu kalau adiknya sudah lahir nantinya.
"Sayang banget?" tanya Mika lagi.
"Sayang banget, pengen cepet-cepet ketemu adek," jawab Regan dengan polosnya, dia tidak menganggap adiknya yang akan lahir adalah saingan, malah tidak sabar untuk bertemu teman.
"Bilang dong sama adek harus cepat-cepat keluar, biar bisa main sama abang," ujar Mika. Regan menganggukkan kepalanya, dia kemudian kembali mendekatkan kepalanya, mendekatkan bibirnya untuk berbicara dengan sang adik.
"Adek, Abang udah tunggu adek di luar, Adek nggak mau ke sini? Main sama Abang," ucap Regan. Hati Mika menghangat mendengar itu, dia beruntung sekali memiliki anak yang sangat manis seperti Regan.
"Adek betah banget di dalam perut mama, nyaman ya? Abang juga suka dipeluk mama," ujar Regan, pemikiran polos Regan adalah
Nyamannya pelukan sang mama sama dengan nyamannya adiknya di dalam sana.nMika membelai kepala Regan, berusaha menyalurkan kehangatannya pada Regan.
"Abang tunggu adek di sini, adek harus cepat keluar biar bisa main sama abang, nanti abang bacakan buku untuk adek," ujar Regan. Ah Mika sampai tidak kuasa menahan air matanya, anaknya benar-benar sebaik itu.
__ADS_1