10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
50 Tusuk Sate


__ADS_3


Beberapa hari berlalu, kini Mika melihat Mona yang sedang membujuk Selena keluar kamar, namun Selena tidak memberikan jawaban. Mika merasa kasihan sih karena ya dia juga akan menjadi seorang Ibu dia paham, pasti Mona khawatir terjadi apa-apa pada Selena.


Mika menghampiri Mona dan mengusap bahunya perlahan. Mencoba memberikan ketenangan pada Ibu mertuanya itu. "Mama tenang dulu coba, siapa tau Selena butuh waktu. Mungkin dia sedang sedih atau banyak tugas kan kita gak tau. Biarin dia ambil waktu dulu ya, Ma?"


"Tapi Mama gak bisa tenang sebelum lihat Selena makan, Sayang."


Mika mengangguk dan tersenyum. "Mika paham kok, pasti mama khawatir. Tapi kita gak bisa memaksa kalau Selena belum bisa cerita. Nanti malem atau besok kita coba lagi ya?"


Mona mengangguk, tubuhnya juga sedikit tidak enak badan. Entah kenapa dia benar-benar takut terjadi apa-apa pada Selena. Seperti bertautan, seolah perasaan Selena terkoneksi padanya. Mika yang melihat Ibu mertuanya nampak tidak sehat ya harus peka. Dia mengantarkan Mona ke kamar untuk istirahat.


"Mika, mama tidak apa-apa, kamu loh yang seharusnya menjaga kesehatan. Kamu sedang hamil, lebih rentan," peringat Mona.


"Gapapa, Ma. Mama itu udah Mika anggap kaya Bunda Mika sendiri. Mika selalu pingin ngerawat kalau Bunda sakit ata butuh sesuatu. Tapi berhubung Bunda Mika udah gak ada, sekarang Mika harus merawat Mama sebaik mungkin sampai sembuh."


"Mika paham kok mungkin Mama kepikiran banget tapi seusia Mika sama Selena terkadang kalau kita punya masalah lebih memilih buat diam, buat gak menceritakan apapun. Bukan karena gak percaya, tapi karena emang lebih enak dan ngelatih kita buat menyelesaikan masalah sendiri."


"Tetap saja Mama khawatir," ucap Mona sedikit pasrah.


"Namanya juga orang tua, Ma. Mama cukup dukung aja apa yang menjadi pilihan Selena, nanti dia juga pasti cerita sama Mama. Memangnya rumah anak perempuan untuk kembali siapa lagi kalau bukan Ibunya, iyakan Ma?"


Mona terkekeh dan mengusap pipi Mika dengan lembut. "Kalau begitu, kalau kamu kenapa-kenapa cerita juga sama Mama, Sayang. Mama pasti akan mendengarkannya, tidak akan membeda-bedakan kamu dengan Selena. Karena kalian sama-sama putri Mama," jelas Mona.


"Iya, Ma. Pasti kok."


Mika hanya mengiyakan saja, ya pada kenyataannya Mika juga lebih senang menyimpan perasaannya sendiri. Dia tidak mau sampai harus merepotkan orang-orang hanya dengan perasaan kekanak-kanakannya itu.


Setelah selesai membantu Ibu mertuanya meminum Obat dan memijitnya sedikit, Mika langsung ke kamar. Dia langsung menghubungi Caca yang memang satu kampus dengan Selena. Karena Selena mengurung diri sejak pulang dari sana.


Dengan yakin dia menghubungi Caca.


"Halo, Ca. Gimana kabarnya?"


"Baik, Mik. Kenapa lo hubungi gue, ada masalah?" Tanya Caca saat menerima panggilan dari Mika.

__ADS_1


"Engga, gue mau nanya. Lo se-kampus kan ya sama Selena. Waktu kalian study tour kemarin apa lo liat Selena kenapa-kenapa gitu? Maksudnya ya gue tau kalian gak satu fakultas tapi kali aja, kan?"


"Hah, study tour apa maksud lo? Gak ada study tour," jawab Caca yang sedikit kaget.


"Hah, bukannya satu kampus ke Singapore? Atau cuma fakultas Selena aja kali ya?" Tanya Mika.


"Engga, loh. Gak ada acara ke luar negeri atau tour di kampus, Mik. Si bebek ngada-ngada kali. Atau nanti gue bantu cari tau?"


Mika berpikir sejenak. "Boleh deh, gue khawatir soalnya."


Setelah bicara panjang lebar, Mika terdiam. Ya cukup kaget sebenarnya, tapi kalau memang tidak ada acara, Selena kemana? Karena dia benar-benar pergi dari rumah beberapa hari. Mika kalau begini tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari tahu kebenarannya.


.


.


.


Pukul 9 malam, Mika mondar-mandir di ruang tengah atas. Dia menunggu Jeff pulang sih. Dia juga merasa ingin makan sesuatu tapi tidak tau apa. Mika mencoba menghubungi Jeff, namun Jeff tidak mengangkatnya. Menyebalkan sekali memang Om-Om itu menurut Mika.


Karena menurut Mika lama sekali, akhirnya Mika duduk sambil berkelana di aplikasi pesanan online. Mendadak dia ingin makan sate, mungkin ada kali dia berkelana di sana satu setengah jam untuk akhirnya mendapatkan sate yang dia inginkan.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Jeff yang kini berdiri di hadapan Mika. Dia nampak seperti seorang kakak yang tengah memergoki adiknya belum tidur karena bermain ponsel.


"Mau pesen ini." Mika menunjukkan ponselnya dan Jeff menyerahkan paper bag pada Mika.


"Kebetulan aku bawa sate."


"Kok bisa kebetulan?"


"Gak tau mendadak mau beli. Jadi makan aja."


Mika mengerjapkan matanya berkali-kali. Ya kaget saja bisa se-kebetulan ini. Atau anaknya sudah bertelepati dengan ayahnya ya?


Saat Jeff akan ke kamar, Mika menahan tangan Jeff. Membuat Jeff kini kembali menatapnya. "Jangan dulu bersih-bersih. Nanti aja, makan sate dulu sama akuu."

__ADS_1


"Kamu aja yang makan ya? Masih banyak pekerjaan, Mik."


Mika memasang wajah memelas, dia juga memaju-majukan bibirnya seolah sangat sedih karena keinginannya tidak dipenuhi oleh Jeff. Melihat wajah Mika seperti itu mana bisa Jeff meninggalkannya, atau dia akan sedih seharian. "Ya sudah, aku temani."


Mika tersenyum kemenangan dan Jeff pun duduk di samping Mika. Mika semangat sih saat melihat sate yang Jeff bawa, sepertinya bukan sate pinggir jalan. Tempatnya saja mewah begini dan jumlahnya 50 tusuk. Memang tidak kira-kira.


"Ini kebanyakan," ucap Mika yang kini melirik Jeff yang ada di sampingnya.


"Aku tau kamu suka makan, jadi itu tidak ada apa-apanya," jawab Jeff santai dengan tangannya yang di lipat di bawah dada.


"Aku serakus itu kah di mata kamu?" Kesal Mika.


"Kamu yang bilang, bukan aku."


"Gak jadi makan, aku liatnya udah kenyang!"


Jeff terkekeh, memang ada-ada saja Mika kalau ngambek. Jeff mengambil satu tusuk sate lalu mendekatkannya ke arah bibir Mika. "Makan, jangan banyak ngambek."


"Tapi kamu bilang aku rakus," rengek Mika dengan bibir yang dibuat seperti akan menangis.


"Engga, bercanda. Makan lah, jarang-jarang aku mau suapin kamu."


Mika menyeka air matanya lalu mengigit sate yang ada di tangan Jeff. "Tapi aku kalau rakus juga tetep cantik kan, Mas?"


Ah sialnya Jeff tidak bisa berhenti terkekeh melihat sikap yang seperti itu, menggemaskan. "Iya cantik."


Mika kembali makan sate yang Jeff berikan. "Tapi kamu kaya gak ikhlas gituuu!!"


Jeff menghela napasnya, melihat Mika menangis hanya karena masalah rakus atau tidak memang sangat ajaib di mata Jeff. "Ikhlas, udah-udah makan. Jangan nangis. Makan, yang banyak. Biar sehat, kamu gak rakus. Kan wajar makannya berdua sama bayi."


"Beneran, kan?" Tanya Mika memastikan.


"Iyaa."


Mika tersenyum senang mendengar perkataan Jeff, setelah itu dia kembali memakan satenya dengan lahap. Jeff yang melihat itu hanya menghela napasnya berkali-kali. Perempuan memang aneh, cita-citanya kurus, tapi makannya banyak, belum lagi nanti mereka akan sensitif dengan masalah-maalah kecil dan itu terjadi pada istri kecilnya.

__ADS_1


"Enakk!!" Kata Mika dengan antusias. Ya enak, apapun yang Jeff berikan Mika akan selalu hargai dan memang rasanya beda saja. Apalagi ini menurut Mika salah satu perhatian dari Jeff untuknya. Sekecil apapun Mika sangat senang pokoknya.


Jeff hanya tersenyum dan menghapus sudut bibir Mika yang celemotan saat Mika menatapnya dengan senang. Setidaknya dia senang jika melihat Mika bahagia seperti ini karena ulahnya.


__ADS_2