
"Jangan main-main, nanti terjebak sendiri." Jeff bicara dengan wajah datarnya. Ada kepuasan tersendiri ketika dia mendapatkan ciuman pertama calon istrinya.
"Om-om gila!" Kesal Mika.
"Memang."
"Om aku tegasin lagi ya kalau aku-"
Tok ... Tok ... Tok
Suara ketukan pintu dari luar rumah terdengar. Jeff memberikan Mika jalan untuk keluar dari kamar. Tentulah itu tamu Mika, tidak mungkin juga dia yang menerima.
Aneh sekali biasanya kalau teman-temannya akan ke rumah selalu mengabari terlebih dahulu. Mana ada Jeff juga di sana, Mika harus menjelaskan apa?
Dengan ragu akhirnya dia membuka pintu rumahnya.
"Dengan Mba Mika?" Tanya seorang bapak-bapak dengan kemeja abu-abunya.
"Iya saya sendiri, ada apa ya?" Tanya Mika keheranan.
"Kami dari pihak bank, dengan pinjaman yang sudah jatuh tempo namun belum dilunasi rumah ini terpaksa harus kami sita."
Mika melongo, kenapa tiba-tiba begini? Kenapa banyak tagihan padanya, sudah Jeff sekarang pihak bank juga, apalagi kesialan yang akan dia dapatkan selanjutnya?
"Hah? Tapi saya gak merasa pinjam ke bank, Pak."
"Ini surat-surat rumah dan bukti peminjaman dana sebesar 700 juta beserta bunganya."
Mika melihat surat-surat yang ada di tangannya sekarang. Benar, ini memang sertifikat rumahnya. Tapi setahunya dia menaruh di kamar.
__ADS_1
Lalu matanya terpejam saat melihat nama tantenya di sana. Jadi lagi-lagi tante dan omnya yang mengambil semua harta yang dia dapatkan dari kedua orang tuanya?
Tubuhnya melemas, jika Jeff lengah sedikit saja mungkin Mika terjungkal ke belakang. "Pak, tolong jangan sita rumah ini. Rumah ini peninggalan orang tua saya, saya berjanji akan menyicilnya mulai hari ini."
"Maaf, sudah tidak bisa. Jika anda tida ingin rumah ini di sita maka harus dilunasi."
Para karyawan bank itu kini telah memasang plang penyitaan, membuat Mika sontak menahannya. "Pakkk!! Tolong beri saya waktu tolong, saya cuma punya rumah ini."
Mika benar-benar tidak peduli apa bahaya yang ada di hadapannya sekarang, dia harus tetap mempertahankan rumah ini. Meskipun kini air matanya tidak bisa dibendung lagi. "Pakkk saya mohon."
"Tolong jangan halangi kami dan segeralah berkemas!"
Jeff melihatnya dari kejauhan, katakan dia tidak punya hati. Namun itu bukan urusannya, kan? Dengan begini dia akan lebih mudah mendapatkan Mika, dia tidak punya tempat tinggal lagi.
Tubuh Mika terhuyung ke belakang saat hendak menghalangi petugas. Dia menenggelamkan wajah di kedua telapak tangannya. Tangisnya pecah detik itu juga, semua kenangan bersama kedua orang tuanya ada di sana.
"Kenapa tante jahat sama Mika?" Gumam Mika di sela isakannya. Jeff sedikit tidak tega saat mendengar suara paraunya. Ahh kenapa dia harus menikah sebenarnya? Kalau bukan karena keinginan orang tuanya juga dia tidak akan memaksa Mika seperti ini.
"Stop," ucap Jeff sembari menatap para petugas yang kini menatap ke arahnya.
Mika menyeka air matanya dan mengikuti arah kemana Jeff berjalan, dia benar-benar selemah ini ya? Sampai dia tidak bisa langsung saja menolak bantuan Jeff?
Kalau Mika mampu pasti sekarang dia sudah mendorong dan menolak pria itu untuk membantunya, tapi kali ini dia benar-benar pasrah. Dia butuh bantuan Jeff untuk menyelamatkan rumah peninggalan orang tuanya.
Pria itu mengambil buku cek dan memberikan tanda-tangannya di sana sesuai nominal yang diminta. Setelah mendapatkan kembali sertifikat rumah itu dia mengintruksi agar mereka pergi dari sini. "Urusan kalian sudah selesai, bereskan semuanya."
Mereka memanggut patuh, memang tidak ada yang bisa mengalahkan aura dari seorang Jeff yang menakutkan dan sedingin es. Sehingga mereka tidak berani bertindak lebih.
Jeff menatap ke arah Mika yang bukannya senang tapi malah semakin menangis di sana. Bahkan tidak hanya menangis, dia sampai mengeluarkan semua isi hatinya saat itu juga.
"Semuanya jahat! Mama, papa bawa Mika aja dari sini, Mika gak mau di sini lagi. Semua orang jahat! Semuanya ninggalin Mika."
__ADS_1
"Kenapa mama sama papa gak ajak Mika waktu itu? Kenapa Mama malah larang Mika untuk ikut ke acara itu, kenapa?! Mika sendirian sekarang. Mika gak punya siapa-siapa lagi. Om tante juga gak peduli sama Mika dan malah korbanin Mika dalam segala hal."
Mika benar-benar meluapkan emosinya di sana. Dia merasa kalau semuanya tidak adil. Semuanya meninggalkan dirinya, tidak ada lagi yang menyayanginya. Di usianya yang sekarang memang berat.
Usia di mana semua masalah, kegagalan, patah hati, kecewa menjadi satu dalam satu waktu. Dia butuh penopang sebenarnya, tapi dia selalu menguatkan diri sendiri dan inilah puncaknya. Semua sisi dewasanya seolah dipukul untuk menepi sejenak, dia memang sejatinya masih kecil. Tapi dia terperangkap di tubuh seorang remaja yang beranjak dewasa.
Jeff menarik napasnya dalam, apa semua remaja seusia mereka seperti ini? Baik Selena ataupun Mika, keduanya sama saja. Sama-sama suka merengek seperti anak kecil. Sama-sama suka mengeluh daripada menikmati apa yang mereka jalani. Ya Tuhan, apa dia harus berpikir lagi untuk menikahi gadis itu?
Sebuah map terulur di hadapan Mika, membuatnya kini mengadahkan wajah sambil menyeka air matanya. "Aku tau ini gak gratis, kan?"
"Oke kalau gini cara mainnya orang kaya, kita menikah bulan depan, puas?!" Mika mengambil berkas-berkas rumah miliknya dan masuk ke dalam rumah.
Dia sudah tidak peduli apa tanggapan Jeff tentang dirinya. Dia sedang emosi sekarang, ya kalau sudah begini dia hanya ingin sendirian dan menangis di kamar sampai dia puas.
Tinggalkan Mika yang kini sedang menangis, Jeff malah mematung di tempatnya. Padahal tadi dia tidak berpikir ke sana, dia melakukannya karena memang sudah kasihan melihat Mika yang menangis sampai tersedu-sedu seperti itu. Dia juga seorang kakak, jika melihat Selena menangis seperti Mika tadi dia tidak pernah tega.
Tapi berhubung Mika sudah salah paham ya dia membiarkannya. Membiarkan Mika larut dengan pemikirannya tentang Jeff. Ini mempermudah dirinya, kan? Dengan senyum simpul Jeff memasuki mobil, akhirnya masalah tentang pernikahan sudah selesai, kini waktunya kembali mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat dia tinggalkan tadi.
"Halo, Ma. Tolong urus pernikahan saya dengan Mika bulan depan, saya langsung pergi ke kantor sekarang."
Setelah selesai menghubungi Ibunya kini Jeff meninggalkan pekarangan rumah Mika dan kembali ke kantor.
Entah apa yang Jeff rasakan sekarang, dia seperti pertama kali mengalaminya. Memang benar jika berhubungan dengan gadis yang lebih muda akan membuat pria lebih awet muda. Ada saja tingkah Mika yang terlintas di pikirannya.
Apalagi mengingat saat Mika masih kecil. Si anak kecil pemberani yang menyelamatkan nyawanya, bercita-cita menjadi polisi, namun sekarang entah kenapa dia memilih untuk tidak menjadi polisi. Padahal dulu semenggebu-gebu itu.
Ditambah ciuman mereka tadi, dia pria dewasa yang normal. Kalau tidak kuat menahan mungkin Mika sudah buka segel sekarang. Tapi untungnya dia tidak gila *** juga. Dia hanya memberi sedikit pelajaran pada Mika agar dia lebih berhati-hati lagi apalagi berhadapan dengan pria dewasa sepertinya.
Namun Jeff tetaplah Jeff, si pria minim ekspresi yang memilih untuk diam dengan wajah datarnya. Yang terpenting Mika sekarang sudah menyetujui pernikahan mereka.
Di sisi lain Mona senang mendengar kabar bahagia dari Jeff, tapi melihat respon Mika tadi apa benar dia melakukannya karena dia mau? Pasalnya dia tau kalau putranya ini selalu memaksakan sesuai kehendaknya sendiri.
__ADS_1
Tapi meskipun begitu, tugasnya sekarang adalah mempersiapkan semuanya. Putranya akan menikah, Mika juga akan menjadi bagian dari hidupnya dan pasti bukan hanya Jeff yang bertanggung jawab atas kebahagiaannya tapi juga Mona sebagai Ibu mertuanya.
Iya Mona berjanji akan memberikan yang terbaik untuk menantu kecilnya.