
Mika pulang bersama Elang dari rumah sakit. Karena Mona telat, akhirnya dia menunggu kepulangan mereka saja di rumah. Mona sangat senang saat mendengar kehamilan Mika. Sebentar lagi ada tangis seorang bayi kan di rumah ini?
"Kamu harus jaga kesehatan loh, makannya juga harus teratur. Kau hamil di usia segini pasti gak mudah. Jadi harus dijaga ya sayang," nasehat Mona.
"Iya, Ma. Pasti, nanti kalau Mika gak ngerti boleh tanya ke Mama? Mama pasti banyak pengalamannya karena udah bisa besarin 3 anak sampai sekarang," kata Mika.
"Tentu, kalau kamu mau tanya atau minta saran bilang aja. Mama pasti senang bantu kamu, Mama juga akan lebih banyak di rumah kalau kamu mengandung seperti ini. Duh senengnya mama mau punya cucu," ucap Mona antusias.
Selena berdecih, Ibunya meluangkan waktu untuk anak dari Mika? Kenapa harus begitu, kenapa kalau dia yang meminta rasanya susah tuh? Apa segala hal tentang Mika memang lebih penting darinya ya?
"Apasih hamil doang, bukan sakit parah," ketus Selena.
"Eh kamu gak boleh gitu atuh, Geulis. Ini juga keponakan kamu. Jadi kita harus gotong royong buat menjaganya," peringat Mona.
"Males, urus aja sendiri. Anak dia ini," kesal Selena.
"Anak kak Jeff juga." Elang mengusak rambut adiknya. Memang perlu diberi arahan kalau Selena. Dia masih proses untuk menerima keberadaan Mika. Jadi Elang harus memberitahunya dengan pelan-pelan agar dia tidak salah paham.
Mika mengusap lengan mertuanya agar sabar menghadapi Selena. Mika merasa dia sekarang sudah terbiasa dengan sikap buruk Selena. Dia juga merasa kalau sudah lebih bisa mengendalikan dirinya.
Apalagi dia akan segera menjadi Ibu, dia harus menjadi lebih dewasa. Kalau dia stress nanti akan berdampak buruk juga pada kehamilannya. Dia tidak sabar menunggu Jeff pulang.
Setelah bicara panjang lebar di bawah, Mika memutuskan untuk istirahat di kamarnya. Dokter menyarankan agar dia lebih banyak beristirahat untuk beberapa hari ke depan.
"Hai Bayi, selamat datang di hidup Bunda," ucap Mika sembari mengusap perutnya.
"Papa kamu masih di kantor, dia sibuk cari uang. Buat masa depan kamu, nanti malem papa pulang. Papa memang sibuk, tapi papa pasti seneng kalau tau kamu ada di perut mama. Kamu harus paham ya, jangan rewel oke?"
__ADS_1
"Kalau kamu mau apa-apa bilang sama Mama, pasti bakalan Mama turutin. Soalnya papa kamu banyak uangnya, jadi kalau kamu minta yang mahal juga boleh," ucap Mika terkekeh.
Ya dia senang saja ada kehadiran bayi di dalam perutnya sekarang. Bahkan tidak terpikirkan sebelumnya kalau dia akan hamil di usia belasan tahun seperti ini. Tapi ya tidak perlu cemas juga, toh dia hamil ada suaminya.
Anaknya pasti akan bahagia memiliki keluarga seperti ini. Dia tidak akan kekurangan apapun dan Mika akan memastikan kalau anaknya tidak akan kekurangan kasih sayang juga. Semoga saja Jeff lebih perhatian.
.
.
.
Pukul tujuh malam, Jeff memasuki kamarnya dan mendapati Mika yang sudah menyambutnya. Nampaknya dia sedang senang hari ini. Jadi langsung saja dia memeluk dan mengecup bibirnya. "Ada yang buat kamu senang hari ini hm?"
Mika tersenyum dan mengeratkan pelukannya. "Heem, lebih dari sekedar seneng. Kamu juga pasti seneng denger ini."
"Ada apa?" Tanya Jeff penasaran, karena tak biasanya Mika seperti ini.
Mika melepaskan dirinya dari Jeff, sementara Jeff melonggarkan dasinya dan membuka kancing lengan kemejanya sambil menatap Mika yang mengambil sesuatu dari laci.
Mika dengan senang kembali menghampiri Jeff lalu memberikan amplop dari rumah sakit kepada suaminya itu. Jeff menatap heran, untuk apa amplop?
Dengan perlahan Jeff mengambil dan membuka isi amplop yang Mika berikan. Dia membaca dengan teliti isi diagnosis di sana. "Kamu hamil?"
Mika mengangguk dan tersenyum senang. Jeff tersenyum lalu kembali memeluk Mika. "Sebentar lagi kamu akan jadi Ibu dari anak aku. Belajar lebih dewasa ya."
Jeff melepaskan pelukan pada istrinya lalu mengusap puncak kepala Mika dengan lembut. Beres, setelah itu dia melepas jas dan bersiap untuk membersihkan badannya.
Mika mematung, kenapa Jeff terlihat biasa saja? Minimal Jeff memeluknya lebih lama dan berterima kasih karena Mika mengandung anaknya, tapi?
__ADS_1
"Mas ini anak kamu loh," ucap Mika.
"Ya anak aku, masa anak orang," jawab Jeff.
"Gitu aja kah? Kamu gak seneng aku hamil, Mas? Kamu bakalan jadi seorang ayah, kamu gak seneng?" Tanya Mika tak percaya. Mika tau dirinya selalu ingin mendapat afeksi dan validasi dari Jeff tapi kali ini tidak. Apa dirinya saja yang senang?
Kenapa dia tidak melihat binar mata Jeff saat mengetahui dirinya hamil? Kenapa dia seperti tidak antusias? Kenapa seolah hanya Mika saja di sini orang tua dari bayi yang dia kandung.
"Memangnya aku harus terlihat senang di depan kamu? Kamu hamil, anak kita sehat, ya udah. Itu cukup kan? Memang harus bagaimana?"
Harus senang? Memang benar dia tidak senang ya? Lagi-lagi Mika harus menelan pil pahit akibat ekspetasinya sendiri. Dia mati-matian menahan emosinya sekarang. "Terserah kamu deh, Mas. Emang kayanya aku gak ada penting-pentingnya buat kamu."
Mika melempar amplop di tangannya lalu pergi ke balkon, sementara Jeff memilih untuk bersih-bersih dulu baru menyelesaikan masalahnya dengan Mika.
Lagi-lagi Mika marah padanya. Mika tidak memahami apa maksud ucapannya, kalau begini ya dia harus membuat Mika mengerti dan membuatnya paham. Menurutnya ya apalagi yang harus dia lakukan? Pernikahan kan memang seperti itu. Mereka menikah, punya anak dan melanjutkan kehidupan.
Mika duduk sambil menatap ke langit, dia sesekali menyeka air matanya. Apa karena dia sedang hamil ya jadi dia sensitif begini. Tapi wajar saja. Dia masih remaja, dia juga mengandung di usia yang masih rentan.
Dia berharapnya Jeff akan memeluknya, berterimakasih padanya, menyapa anak dalam kandungannya, bertanya tentang keadaannya karena tadi pingsang dan meminta maaf karena tidak bisa dihubungi. Tapi tidak ada satu pun dari perkiraannya yang dilakukan oleh Jeff.
"Kayanya cuma gue doang deh di sini yang ngerasa seneng. Kayanya dia emang gak pernah serius buat jalanin pernikahan sama gue," gumam Mika di sela isakannya.
"Kalau dia ngerasa gak seneng terus kenapa dia suka bikinnya? Kenapa setelah jadi anak dia malah kaya gitu? Jadi dia butuh gue cuma saat dia nafsu aja? Kalau kaya gini apa bedanya gue sama wanita murahan di luar sana?"
Mika semakin terisak, dia mencoba menahannya tapi tetap saja tidak bisa. Dia merasa benar-benar butuh menangis untuk melegakan perasaannya.
"Sayang, Mama janji. Walaupun papa kamu gak sayang sama kita tapi mama akan selau sayang sama kamu. Kamu jangan khawatir ya, Mama gak kenapa-kenapa."
"Maaf kalau kamu harus punya mama kaya gini, udah cengeng, belum dewasa juga. Maafin mama ya, Sayang?" Mika bicara pada bayinya.
__ADS_1
Ah dia jadi tambah menangis kalau begini. Bagaimana ya perasaan anaknya di dalam sana? Apa dia merasa tidak diinginkan oleh ayahnya? Atau dia merasa sedih karena Ayahnya tidak bahagia atas kedatangannya?
Mika benar-benar overthinking. Bahkan dia sudah membuat banyak skenario dalam kepalanya dari berjalannya kehamilan sampai anaknya lahir. Dia sedih sekali sekarang dan memutuskan akan kembali ke kamar setelah Jeff tidur saja. Dia tidak mau melihat wajah Jeff sekarang.