
Tengah malam Mika terbangun karena ingin buang air kecil, tapi matanya tertuju pada Jeff yang ketiduran di sofa dengan mendekap Regan yang bersandar di bahu ayahnya. Mereka nampak lucu, sudah mukanya mirip, gaya tidurnya pun mirip sekali.
Mika akhirnya berjalan kembali ke kamar mandi, setelah selesai dia menggendong Regan yang ada di dekapan papanya untuk dipindahkan ke box. Namun ya Jeff memang mudah terbangun, jadi saat merasakan anaknya tidak bersamanya Jeff sontak membuka matanya. "Kenapa?"
"Kamu butuh istirahat, Regan juga udah tidur."
"Seharusnya biarkan saja, kamu jangan kecapean. Dia sudah minum susu, tadi agak sedikit rewel," lapor Jeff.
Entah harus beruntung atau merasa bersalah tapi Mika merasa kalau Jeff se-perhatian itu, bersalahnya ya karena menurut Mika sebagai Ibu, dia lah yang seharusnya lebih banyak berperan.
"Makasih, Mass," ucap Mika.
"Terima kasih untuk apa? Regan anakku juga!" Tegas Jeff.
Ya memang anak Jeff juga tapi tetap saja Mika merasa tidak enak. Terlebih karena sikapnya pada Jeff masih belum berubah. Karena rasa ingin berpisah itu masih tetap ada dalam benaknya.
Mika menghela napas lalu mengangguk, setelah itu dia kembali ke kasur untuk merebahkan dirinya. Matanya gagal menutup karena tiba-tiba saja Jeff ikut berbaring di sebelahnya dan memeluk tubuh Mika dari belakang.
Ini pertama kalinya semenjak berpisah kemarin mereka tidur satu ranjang, karena kemarin-kemarin Jeff menempati kamar Elang, Mika yang memintanya karena masih belum mau tidur bersamanya. Jantung Mika berdegup kencang, haruskah seperti ini?
"Mas ... " Mika yang merasa tidak nyaman mencoba melepaskan pelukan Jeff dari tubuhnya. Rasanya memang asing kembali untuk Mika.
Namun alih-alih melepaskan, Jeff malah semakin erat memeluk tubuh istrinya, bahkan kini membenamkan wajahnya di tengkuk Mika. "Biarkan seperti ini dulu."
Mika diam untuk beberapa saat, mencoba merasakan kehangatan yang coba Jeff salurkan. "Aneh, aku dipeluk suami sendiri tapi rasanya asing banget."
"Makanya kita harus biasakan lagi."
"Aku gak bisa, rasanya terlalu asing buat aku. Tapi bukannya kita emang asing ya dari dulu? Rasanya aku gak pernah benar-benar memiliki hati kamu, Mas."
__ADS_1
"Maaf, maafkan aku untuk semua rasa sakit yang kamu rasakan selama ini. Maaf aku selalu memposisikan diri aku di sudut paling gelap, padahal aku memiliki kamu. Maaf karena cuma itu yang aku bisa katakan berulang kali sama kamu. Kalau bisa sebanyak mungkin aku katakan sama kamu berkali-kali."
"Aku benci kata maaf dari kamu."
"Aku tau. Tapi untuk malam ini, aku Jeffrico Rasendria Dirgantara meminta kamu untuk berhenti bicara soal kata pisah."
"Kamu takut ya?"
Jeff mengeratkan pelukannya pada Mika seolah dia benar-benar menginginkan gadis itu, dia memeluknya seolah tidak akan membiarkan Mika pergi dari sisinya. Tapi memang itu yang Jeff rasakan. "Lebih dari takut. Kalau kamu benci kata maaf dari aku, aku benci kata pisah dari mulut kamu, Mik."
Mendengar itu air mata Mika menetes. Tidak tau juga bahagia atau sedih. Yang jelas mendengarnya Mika ingin menangis. Perlahan Jeff menghadapkan tubuh Mika padanya. Dengan lembut dia menghapus air mata Mika. "Jangan pernah berpikir untuk pergi dari aku lagi, Mik."
"Kalau kamu melakukan kesalahan lagi, gimana?" Tanu Mika.
"Leave me, setelah itu aku tidak akan meminta kamu kembali kalau kamu memang tidak ingin."
Perlahan Mika mengangguk, entah keputusannya ini sudah benar atau tidak. Tapi menurut Mika di posisi yang seperti ini, posisi di mana Mika memang sangat membutuhkan Jeff dan Regan yang membutuhkan ayahnya. Mika rasa ini sudah benar. Terlebih Jeff memang melakukan perannya dengan sangat baik.
.
.
.
Pagi harinya, Mika sedang fokus di dapur untuk memasak. Setelah memandikan Regan, Jeff membawa Regan berjemur bersamanya. Mika yang dapat melihat dari dapur pun tersenyum. Sepertinya ketika Regan bertambah besar nanti dia akan dekat sekali dengan papanya. Dia nampak anteng menikmati hangatnya sinar matahari, sambil bersandar pada bahu papanya.
Memang pada dasarnya hidup itu terus berjalan dan kehidupan juga terus berlanjut. Perasaan Mika pernah hampir mati, kakinya pernah berhenti melangkah, tapi Jeff kembali datang dan mengajaknya untuk berjalan. Tidak harus cepat-cepat, asal selamat. Tidak perlu buru-buru, cukup nikmati waktu sampai akhirnya mereka menemukan titik bahagia dalam kehidupan rumah tangga yang mereka jalani.
Setelah selesai menyajikan makanan di meja, Mika menghampiri mereka berdua untuk mengambil Regan dari Jeff. Karena ya suaminya itu harus sarapan dulu, dia sejak tadi pagi sibuk. Sibuk mengurus Regan pokoknya.
"Sini sama Mama, Sayang. Biar papanya sarapan dulu," ucap Mika yang meminta anaknya pada Jeff.
__ADS_1
"Masih mau sama papa," ucap Jeff yang menolak memberikan Regan pada Ibunya.
"Sarapan dulu, Regan juga harus sarapan. Mau minum susu," balas Mika.
"Papanya?"
"Papanya gimana?" Tanya tak paham.
"Papanya gak minum susu?" Tanya Jeff dengan wajah polosnya. Kenapa dia malah mirip Regan sih? Gemas.
"Ada, udah aku siapin juga. Makanya liat dulu di meja, Mas. Sini ahh," ucap Mika yang kini membawa Regan dari gendongan Jeff.
"Mau satu produk sama Regan."
Mika membulatkan matanya, kalau dia tidak sedang menggendong Regan sudah pasti lengan Jeff akan menjadi sasaran tangan ajaibnya. Bisa-bisanya gitu loh dia mengatakan itu. Mika kan malu!
Jeff tertawa geli melihat Mika yang kesal. Namun itu membuat Mika terkejut. Baru kali ini dia melihat Jeff seperti itu. Tuh kan apa Mika bilang, kalau Jeff ramah dan hangat begini kan dia akan semakin tampan. Tapi sialnya malah jantung Mika yang tidak aman.
Sebelum masuk dan memakan sarapannya, Jeff menyempatkan diri untuk mengecup bibir Mika. Setelah itu dia baru lah masuk ke dalam. Mika tersenyum tipis, iya ini adalah awal yang baik untuk kehidupan mereka kedepannya.
Mika ikut menyusul Jeff ke ruang makan, dia duduk berseberangan dengan Jeff sembari menyusui Regan. Memang masih agak terlihat kagok memang Jeff melihatnya, tapi Mika belajar begitu cepat. Anaknya juga tidak mengeluh, berati aman.
"Kamu gak sarapan?" Tanya Jeff seraya menyuapkan kentang goreng dan dagingnya ke dalam mulut.
Mika menggeleng, baginya melihat Jeff dan Regan sudah sarapan juga perutnya terasa kenyang. Tapi berbeda dengan Jeff, mendengar hal itu dia memindahkan piringnya dan duduk di sebelah Mika. Dengan telaten dia memotong daging itu menjadi bagian-bagian kecil lalu menyuapkannya pada Mika.
"Nanti aku makan, Mas," tolak Mika perlahan.
"Iya, harus. Tapi ini juga harus, aku gak mau kamu kelelahan dan kurang nutrisi. Kamu juga belum sembuh total."
Mika tersenyum mendengarnya, ahh menyebalkan sekali memang hati mungilnya ini. Padahal dia masih ingin merajuk pada Jeff, tapi diperlakukan seperti ini saja dia malah seolah lupa dengan apa yang terjadi. Tapi persetan dengan itu sih, Mika memutuskan untuk memberi kesempatan pada Jeff dan semoga saja Jeff menepati janjinya untuk membuat dia dan Regan bahagia.
__ADS_1
"Yaudah iya." Mika menerima suapan dari Jeff, Regan pun nampak senang sepertinya melihat kedua orang tuanya akur sambil tetap meminum susunya.