
Elang dan Mika sedang berada di taman belakang, Mika entah kenapa sedang ingin menyiram tanaman sekarang ya jadi Elang temani karena tadi juga Mika sedang sedih. Namun tiba-tiba dengan jahil Elang menyemprotkan air dari selang ke arah Mika. Membuat Mika menghela napasnya.
"KAK ELANG!" Umpat Mika kesal.
"Berani bales gak?" Tanya Elang meledek.
"Oh gitu ya, Kak Elang."
Langsung saja Mika mengarahkan selangnya pada Elang dan membalas menyemprotnya. Mereka nampak seperti anak kecil yang bermain air dan berlarian ke sana ke mari, ya meskipun harus tetap berhati-hati karena takut Mika terjatuh.
"Ih Kak Elang mah jail banget!!" Mika terus menyemprotkan selang itu sampai mereka benar-benar basah kuyup, rasanya sudah lama sekali Mika tidak tertawa seperti ini.
"Makanya jangan ditekuk terus mukanya jelek, emang kamu mau ya, Mik nanti anaknya pas lahir langsung muka kusut ketemu Ibunya karena selama hamil wajahnya kusut terus," ejek Elang yang kembali menyiram Mika dengan air.
Mika menahan tawanya, bagaimana bisa Elang berpikiran seperti itu. "Anehhh! Emang Kak Elang doang yang aneh. Masa gitu sih hahahahaha. Sini, Kak urusan kita belum selesai!" Mika lagi-lagi menyemprotkan air ke tubuh Elang membuat keduanya semakin tergelak menikmati suasana bahagia seperti ini. Ya, bermain air saja rasanya sudah bahagia memang.
Mereka nampak serasi, seperti dua orang remaja yang sedang dimabuk cinta. Itu yang Jeff rasakan dari aura keduanya. Iya Jeff sudah pulang dan hal yang pertama kali menjadi pemandangannya adalah keseruan Mika dan Elang di taman belakang.
Jeff melepas jasnya dan langsung menatap mereka dari depan pintu menuju taman belakang sambil melinting lengan kemejanya. Tangannya melipat di bawah dada sambil menatap mereka dengan dingin.
Saking asiknya mereka terus bermain sambil tertawa lepas. Membuat Jeff merasa kalau Mika lebih bahagia bersama adiknya daripada dia. Sesekali dia menghela napasnya. Mika dan Elang tidak sadar sepertinya, sampai 5 menit Jeff berada di sana barulah Mika dan Elang sadar.
Mika menatap suaminya sedikit takut, pancaran aura dinginnya menusuk sampai ke hati Mika. Dia merasa seperti seorang istri yang kepergok sedang berselingkuh dengan lelaki lain. Padahal ya mereka kan Kakak beradik sekarang jadi seharusnya tidak ada yang salah.
"K-kamu sejak kapan pulang?" Tanya Mika yang menjatuhkan selang miliknya ke bawah.
"Cukup lama untuk menyaksikan kekanak-kanakan ini," jawab Jeff santai.
Mika hanya mengangguk-nganggukkan kepala, begitu juga dengan Elang yang kini sibuk merapikan selang air yang mereka gunakan tadi. Tidak dipungkiri, menurut Elang Jeff seram jika sudah mode seperti itu. Meskipun ya Elang memang sesekali senang membantah tapi tetap Jeff seorang kakak baginya.
__ADS_1
Jeff langsung menghampiri Mika dan menggendongnya ala brydal. "Mandi, nanti kamu masuk angin."
"T-tapi, Mas. Aku masih mau main air ih!" Mika mencoba berontak tapi ya tentu tenaganya tidak sebanding dengan Jeff.
"Masss!!" Teriak Mika sekali lagi.
Jeff tetap tidak menghiraukan Mika dan membawanya ke kamar mandi. Tanpa bicara dia menyalakan keran bathtub dengan air hangat dan melempar bath boom ke dalamnya. Perlahan Jeff menurunkan sleting dress yang Mika pakai, namun Mika menahan saat Jeff akan membukanya. "Aku bisa mandi sendiri!"
"Biar aku bantu, Mika," tegas Jeff.
Dia melanjutkan kembali pekerjaannya dan akhirnya Mika polos tanpa sehelai benang pun. Jeff menggendongnya lagi lalu menaruh Mika di dalam bathub. Tidak hanya itu, setelah menanggalkan semua pakaiannya Jeff ikut bergabung masuk ke dalam bathub yang luas itu.
Mereka berhadapan, tapi tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Rasanya ya memang tidak ada yang perlu dibicarakan walaupun sebenarnya Mika ingin memaki orang yang ada di hadapannya ini.
"Are you oke?" Tanya Jeff melirik Mika yang sedang menggosok tubuhnya sesekali membuat balon dengan tangannya. Ya cukup membuat Jeff menghela napas karena sadar dia menikahi gadis yang masih suka bermain-main tidak jelas.
"I'm oke," jawab Mika singkat.
"Kenapa kalau sama aku kamu gak bisa sehangat itu?" Tanya Jeff tiba-tiba.
"Sehangat waktu kamu sama Elang," ucapnya memperjelas.
"Bukannya aku yang harusnya nanya ya? Kenapa kamu gak bisa sehangat suami orang lain saat istrinya lagi hamil?" Tanya Mika memutar balikan keadaan.
"Aku gak pernah liat kamu sebahagia itu saat lagi sama aku," ucap Jeff lagi.
"Kamu gak tau aja bisa sebahagia apa aku kalau kamu bener-bener jadi suami yang sebenarnya buat aku. Bahkan bukan cuma bahagia, aku bakalan ngerasa beruntung dan ngerasain hal-hal yang gak akan aku tunjukin ke orang lain," kata Mika miris.
"Kamu tau sendiri aku baru pulang kerja," ucap Jeff.
"Ya aku tau dan akan selalu memahami kalau kamu sibuk kerja dan kerja. Sejujurnya aku cape ngemis-ngemis waktu kaya gini ke kamu, boleh gak aku nyerah aja?" Kali ini Mika menatap Jeff dengan sungguh.
__ADS_1
"Aku gak ngerti kamu itu gimana, kamu gak bisa aku tebak perasaannya. Sikap kamu juga kaya narik ulur aku kesannya, kadang kamu manis, kadang kamu cuek, kadang kamu bisa jadi orang paling pengertian tapi kadang juga kamu jadi orang yang gak pernah paham apa yang aku butuhin. Apa karena aku masih muda banget ya jadi kamu bisa mainin aku sesuka hati kamu kaya gitu?" Tanya Mika sedikit menyindir.
Mata Jeff membulat, langsung saja dia menarik Mika untuk duduk di pangkuannya. "Nyerah?"
Ditatap dari dekat seperti ini membuat Mika malah tidak bisa tegas, dia malah merasa aneh dan mendadak kaku. Bagaimana dia bisa marah pada Jeffrico. "Kenapa kalau aku nyerah, aku juga cuma pajangan kamu buat kamu? Kehilangan aku bukan sesuatu yang penting juga buat kamu."
"Kita udah sering bahas ini, Mika."
"Tolong kasih aku satu alasan yang emang bisa aku terima di logika anak 19 tahun kaya aku."
Jeff terdiam, sudah Mika duga kan kalau Jeff akan selalu seperti ini. "Jawab aku."
Jeff memeluk Mika dengan erat, dia benar-benar memeluk Mika sekarang. Membiarkan gadis itu tenang karena amarahnya dan membiarkan pikirannya rileks karena menghirup aroma tubuh Mika yang memang dia butuhkan sekarang. "Maaf udah bawa kamu ke kehidupan aku, Mik."
"Tapi kenapa kamu gak bisa ubah itu sedikit? Aku gak mau maaf, kamu aku maunya kamu!" Ucap Mika yang mencoba menjauhkan tubuhnya dari Jeff.
Jeff tidak mengindahkan apa yang Mika katakan, dia tetap memeluk Mika agar gadis itu berhenti bertanya. Dia benci dengan pertanyaan Mika yang tidak bisa dia jawab.
"Kenapa kalau aku lagi marah kamu selalu peluk aku? Kenapa kamu gak biarin aku luapin semuanya? Emang aku gak boleh ya luapin semuanya sama kamu?" Tanya Mika kesal.
"Aku benci pertanyaan kamu."
"Kenapa?"
"Karena aku gak punya semua jawaban dari pertanyaan kamu." Jeff menggenggam kedua tangan Mika lalu menciuminya.
Selalu seperti ini memang, seolah tidak ada yang terjadi. Membuat Mika dalam dilema berat karena perlakuan Jeff yang bisa mendadak semanis ini.
"Tangan kamu kenapa?" Tanya Jeff yang melihat luka gores cukup besar di pergelangan tangan Mika.
"Tanpa aku jawab kamu seharusnya paham apa masalah aku di rumah ini. Kalau kamu gak paham sama hati aku ya udah pahami itu aja."
__ADS_1
Jeff tersenyum lalu mengecup bibir Mika sekilas. "Nanti kita selesaikan."
Mika mengangguk, ya kalau sudah begini mana bisa dia melanjutkan amarahnya. Terkadang Mika benci mengenai fakta kalau Jeff bisa meluluhkan hatinya dengan cepat. Tapi bagaimana pun dia mencintai suaminya.