
Hidup malah terasa garing saat tidak ada masalah, tapi Mika berusaha enjoy setiap momen yang dia lalui di dalam hidupnya, karena bagaimanapun ya dia akan stress kalau ada masalah, jadi lebih baik untuk enjoy setiap hal yang bisa dia nikmati sekarang ini.
Jadi, selama hidupnya masih tidak ada masalah, Mika berusaha memberikan yang terbaik untuk Regan, mencoba sebaik mungkin menjadi orang tua yang supportif apa pun yang anaknya lakukan.
"Sayang mau buka kado?" Tanya Mika, karena kemarin masih ada yang dia tinggalkan untuk dibuka bersama Regan dan sekarang Mika ingin buka lagi, menyenangkan soalnya.
200
"Mau," jawab Regan. Usianya sudah tiga tahun dan kadang Mika tidak percaya kalau Regan sudah sangat jelas setiap kosa kata yang terlontar dari mulutnya.
Anaknya tumbuh dengan baik, badannya sudah tidak segemuk saat dia masih bayi, tapi memang Regan tumbuh sehat dan pintar, tinggi juga, soal berat badan ya standar anak seusianya dan Mika sudah sangat bersyukur karena itu.
Mika menganggukkan kepalanya. "Sekarang yuk," ajak Mika, karena jujur hanya Regan yang bisa dia ajak bermain, jadi ya harus Regan yang dia temani dalam situasi apa pun di rumah.
"Yuk," jawab Regan seraya menganggukkan kepalanya. Ini malah terlihat mamanya yang sangat antusias, karena sejatinya Regan tetap turunan Jeff dan mewariskan genetika kulkasnya, walaupun tidak se-kulkas ayahnya, tapi tetap saja kalem kalau digolongkan dengan anak seusianya.
Mika langsung saja mengambil tangan Regan dan bergandengan tangan menuju ke kamar Regan karena memang sebelumnya Regan tidur bersama mereka dan bersiap-siap juga di kamar mereka.
Sama seperti sebelumnya, Mika langsung sibuk dengan bungkusan-bungkusan kado hadiah milik Regan. Mika memutuskan untuk tidak mencatat kado-kado dari teman-teman yang memberi hadiah untuk Regan, karena nanti dia sendiri akan memberikan hadiah yang lebih juga, yang kiranya pantas menurutnya.
Regan ternyata banyak mendapatkan barang-barang untuk sekolah, seperti tas, pencil warna, bahkan buku gambar dan buku belajar. Ah, Mika jadi melow, bukan karena hadiahnya yang murah, tapi karena dia merasa bahwa Regan sudah sangat besar, sebentar lagi Regan akan masuk sekolah.
Mika menatap anaknya itu, kini kelihatan Regan antusias dengan hadiah-hadiah yang dia dapatkan, ah benar-benar sudah besar sekali anaknya, benar-benar kelihatan tinggi dan wajahnya juga semakin mirip dengan Jeff. Wajahnya semakin membentuk wajah anak-anak, bukan lagi bayi.
"Kenapa mama?" Tanya Regan, karena memang mungkin usianya memang sedang begitu, jadi apa pun selalu Regan tanyakan.
"Anak mama udah besar banget," jawab Mika, soalnya dalam setiap fase tumbuh kembang Regan dia selalu merasa terharu. Regan pertama kali bisa pup di toilet saja Mika merasa sangat terharu, apalagi sekarang Regan sudah akan masuk sekolah, Mika benar-benar sulit mendeskripsikan perasaannya.
__ADS_1
Regan tersenyum kemudian diam, karena dia sendiri tidak mengerti jawaban yang mamanya berikan. "Mama boleh peluk nggak?" Tanya Mika.
Regan menganggukkan kepalanya, anak itu langsung bangkit dari posisi duduknya dan memeluk tubuh Mika, satu hal sih yang selama ini selalu membuat Mika merasa bahwa Regan adalah bayinya, Regan masih enggan pisah kamar, jadi kadang-kadang masih suka tidur bersamanya dan Jeff.
Tapi, Mika sama sekali tidak masalah dengan itu, dia tidak masalah saat Regan sedang berada di situasi yang sangat manja, saat Regan maunya hanya dekat-dekat dengan kedua orang tuanya, sama sekali tidak masalah. Mika memeluk tubuh Regan seolah dia hanya punya waktu hari ini bersama Regan, Regan juga menepuk bahu ibunya, tahu-tahuan anak umur tiga tahun menepuk bahu ibunya untuk menenangkan.
"Makasih udah bikin mama jadi mama," ucap Mika, dia mau kalau Regan selalu merasa bahwa kehadirannya adalah apa yang terbaik yang pernah Mika dapatkan di dalam hidupnya. Regan hanya menganggukkan kepalanya, karena pada dasarnya sebenarnya dia masih belum mengerti, hanya berusaha memberikan apa yang mamanya minta, mamanya minta dipeluk maka dia akan memberikan pelukannya, kalau mamanya minta cium maka itu juga akan dia lakukan.
"Selalu jadi anak baik, banggain papa dan keluarga." Karena tanpa Regan melakukan apa pun, Mika sudah bangga menjadi mama, dia bangga hanya karena Regan terlahir dari rahimnya.
Karena yang paling penting adalah membuat Jeff dan keluarganya bangga, urusan perasaan Mika, biarkan itu menjadi urusan Mika sendiri. Dia tidak akan pernah membiarkan ekspektasi menguasai dirinya, dia menyayangi Regan dan semua itu cukup untuk tidak menjadi apa-apa.
"Seharusnya membanggakan untuk kamu juga dong!" ingatkan Jeff, akhirnya Jeff bergabung dengan anak dan istrinya.
Mika menatap sang suami, dia kemudian tersenyum dan berusaha untuk tetap tenang di tempatnya, dia tidak akan membiarkan dirinya punya ekspektasi yang tinggi pada Regan karena Mika tidak mau ada hari di mana di tengah-tengah antara dirinya dan Regan ada sebuah kekecewaan.
"Sejak dia lahir, aku udah merasa semua yang ada di dalam dirinya adalah sesuatu yang membanggakan. Jadi, aku gak akan pernah meletakkan ekspektasi apa pun sama Regan." Mika adalah seorang ibu, cintanya pada Regan adalah sesuatu tanpa syarat, jadi Mika akan tetap dengan perasaan terbaiknya pada Regan.
Jeff adalah yang paling tahu bagaimana selama ini Mika berusaha untuk baik-baik saja dengan semua yang terjadi di dalam hidupnya.
Mungkin karena terlalu banyak rasa sakitnya, jadi Mika berusaha untuk tidak menyakiti dirinya dengan ekspektasi dan harapannya sendiri. Jadi, sebelum Mika kembali menyakiti dirinya atau mungkin dia bisa saja menyakiti Regan, hal yang harus dia lakukan adalah menekan semuanya dan menjalani semua ini dengan baik, menahan dirinya dari banyaknya rasa sakit yang bisa saja dia rasakan tanpa terduga.
Jeff bangkit kemudian berjalan dan memeluk tubuh Mika, dia mendengar Mika meminta Regan menjadi kebanggaannya dan kebanggaan keluarga secara tanpa sengaja, maka dari itu Jeff selalu bangga dengan sang istri.
Mika menerima pelukan Jeff, Jeff mencium puncak kepala Mika, seringkali memang dia melakukan hal-hal sederhana hanya karena dia merasa bahagia bahwa seorang Mika menjadi bagian dari hidupnya.
"I love you, sayang," ucap Jeff.
"Love you too," balas Mika. Jeff selalu suka dengan bagaimana cara Mika memandang kehidupan ini, bagaimana cara Mika memperlakukannya dengan sangat baik.
__ADS_1
Regan juga mendekat ke arah mereka, anak itu meminta dipeluk juga, dengan senang hati Mika kemudian memeluknya dan membiarkan anak itu mendapatkan dekapan darinya, dekapan terbaik yang bisa dia berikan.
.
.
.
Jeff harus kembali ke kantor, karena dia memutuskan pulang ke rumah, jadi sebelum kembali ke kantor dia harus main dulu bersama Regan karena tidak mungkin setelah bertemu dan langsung pergi begitu saja. Ada banyak waktu di mana Regan menginginkan Jeff meluangkan waktu untuknya, jadi di banyak kesempatan Jeff akan meluangkan waktu untuk anaknya itu.
"Yah, padahal pasti kerjaan kamu banyak di kantor, malah udah sore gini baru harus balik," ujar Mika agak menyayangkan.
Jeff terkekeh, dia menepuk puncak kepala Mika, padahal kalau Mika mau tahu ya sebenarnya dia malah senang ketika punya banyak waktu yang bisa dia habiskan bersama dengan Regan.
"Gak masalah, aku malah senang main sama Regan," jelas Jeff. Jeff malah akhirnya di rumah sampai semua kado dibuka oleh Regan, sampai mereka memainkan beberapa mainan dari kado kemudian akhirnya Regan tertidur dan sekarang Jeff sudah bersiap untuk kembali ke kantor.
Situasi yang jarang sekali terjadi, maka Jeff hanya akan enjoy the moment. "Tapi, kerjaan kamu pasti jadinya numpuk banget," kata Mika agak menyayangkan apa yang terjadi sekarang ini.
Jeff hanya tersenyum, tidak ada yang lebih penting dari menghabiskan waktu dengan Regan, karena fase Regan menuntutnya untuk menemaninya bermain tidak akan lama, jadi sebisa mungkin Jeff harus memanfaatkan waktunya dengan baik, dia harus bisa menjadi ayah yang memang selalu ada untuk Regan.
"Ya gak apa-apa, bisa dikerjain satu per satu kok," jawab Jeff. Dia masih memberikan senyuman
terbaiknya. Dia memandang Mika ya sama seperti wanita muda lainnya, karena memang dia sadar kalau selama ini dia menikahi gadis belia. Jadi, vibesnya memang hubungan mereka seperti hubungan pacaran.
Jeff kembali mengulurkan tangannya untuk menepuk puncak kepala Mika. "Ya udah kalau gitu, aku balik ke kantor dulu ya," ucap Jeff.
Mika menganggukkan kepalanya, sama seperti rutinitas yang biasanya, dia kemudian mengambil tangan Jeff dan mencium punggung tangan sang suami. "Iya, hati-hati ya," ucap Mika memberikan pesan.
Jeff menganggukkan kepalanya, dia agak berlari kecil masuk ke dalam mobil, bahkan sebelum mobilnya meninggalkan halaman rumah, Jeff melambaikan tangannya untuk berpamitan dengan Mika.
__ADS_1