
Menjadi Ibu rumah tangga membuat Mikaa memang sudah terbias bangun pagi, karena orang tuanya masih terlelap Mika memutuskan untuk menemui Jeff dan Juga Regan, mereka pasti sangat akur ditinggal oleh Mika.
Mika jadi merindukan mereka, padahal baru semalam saja mereka tidak tidur bersama. Perlahan Mika membuka pintu kamar, setelahnya mereka tersenyum. Bagaimana tidak?
Jeff dan Regan tidur di kasur dengan gaya tengkurap yang sama, gemas sekali. Memang benar ya buah tidak akan jauh dari pohonnya. Demi apapun Mika tidak bisa menahan kekehannya, sampai-sampai keduanya terusik.
Nahkan sama lagi cara bangunnya, Mika sadar kalau ternyata mau sedekat apapun dia dengan putranya, tetap saja gen Jeff lebih menurun pada Regan. Dengan perlahan Mika naik ke atas kasur lalu menggendong Regan yang menangis karena bangun tidur.
"Gantengnya mama, gimana tidurnya sayang? Gimana bobo sama papa berdua, gak bandel, kan?" Tanya Mika seraya menciumi Regan gemas.
"Tidak bandel, hanya saja senang mengerjai papanya." Jeff mengubah posisinya menjadi duduk lalu mengecup pipi Mika dengan lembut.
"Maaf ya, Mas kalau Regan nyusahin kamu. Ini sekali aja aku tidur sama mama papa, nanti malem sama kalian lagi," ucap Mika.
Jeff mengangguk seraya mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. "Senang?"
"Banget, aku gak nyangka kalau kamu kasih kejutan yang aku aku sendiri pun gak bisa tebak. Makasih ya, Mas?"
"Iya, Sayang. Makasih terus, udah kewajiban."
Mika mengangguk, memang dari banyaknya hal baik pada Jeffrico, dia selalu tidak ingin dibebani dengan ucapan terima kasih, dia memang bertanggung jawab, jadi apapun yang sudah menjadi tanggung jawabnya seharunya tidak perlu mengucap terima kasih. Tapi namanya culture kan beda ya dengan prinsip.
"Yaudah sekarang kamu cuci muka, Mas. Kita turun untuk sarapan bareng. Aku juga mau ajak Regan berjemur nanti. Oh iya, liburan kita besok, kan?" Tanya Mika.
"Iya, Sayang."
"Oke nanti sore berarti aku harus packing. Yaudah gih sana, cuci muka. Itu muka kamu kaya bangun tidur banget, Mas."
"Iya bawel." Jeff mengecup bibir Mika, setelah itu dia turun dari kasur dan memasuki kamar mandi.
Entahlah semenjak pernyataan cinta yang Jeff ucapkan, rasanya Jeff bisa menjadi orang yang lebih santai kalau diajak bicara. Bahkan sekarang rasanya dia tidak asing lagi kalau Jeff memanggilnya sayang. Sudah terbiasa saja dengan panggilan itu.
Sambil menunggu Jeff selesai membersihkan wajahnya, Mika mengecek keadaan Regan. Nampaknya Regan sangat merindukan Ibunya. Dia tidak berhenti tersenyum sejak tadi bangun tidur.
__ADS_1
"Regan semalam ngapain aja sama Papa, Sayang?" Tanya Mika seraya menggantikan popok Regan yang sudah penuh
Awwwuhhh pwahh pwahh
"Ohh, Regan ajak main papa iya? Kangen sama mama gak? Gak rewel kan semalem? Engga dong, kan anak mama pinter. Pinter banget." Mika gemas sekali dengan putranya ini, jadi dia menciumi terus Regan sampai bayi itu tidak berhenti tertawa.
Jeff yang melihat itu pun tertawa, meskipun Mika masih anak kecil ya tapi itu bagusnya. Dia bisa membayangkan, ketika nanti Regan tumbuh dewasa dia pasti akan bisa menjadikan Mika tempat berbagi apapun. Bisa dia jadikan Ibu dan juga teman atau mungkin teman untuk berdebat karena Mika keras kepala. Pasti sangat lucu dan saat itu Jeff lah yang akan menjadi paling dewasa dalam keluarga mereka untuk menengahi.
.
.
.
Selesai makan malam, Mika mengajak Regan berjemur sembari memperhatikan Jeff dan Ayahnya yang sedang mengobrol di taman belakang.
Mungkin karena memang pada dasarnya mereka sama-sama pembisnis jadi mereka cepat dekat dan nyambung. Banyak soal perusahaan yang mereka bahas namun ya Mika memang tidak mengerti.
Tapi melihat mereka berdua seperti ini Mika senang kok. Dulu Mika bercita-cita ingin menikah dengan orang yang mirip dengan ayahnya, atau minimal mereka berdua bisa akur sebagai mertua dan menantu. Sekarang itu terwujud.
"Ini apa, Jeff?" Tanya Firman tak paham.
"Perusahaan papa yang kemarin sempat diambil alih oleh Om Mika. Saya tidak menggunakan apapun apa yang menjadi hak kalian. Saya hanya menjalankannya di bawah naungan Dirgantara Group agar tetap berjalan."
"Karena papa sudah kembali, saya kembalikan perusahaan papa dengan utuh dan masih pada namanya dan juga rumah yang kalian tempati beserta kuncinya."
Firman menatap menantunya tak percaya, dia pikir semua yang dia miliki sudah hilang. Bahkan beberapa hari ini dia sudah memikirkan untuk mencari pekerjaan dan sekarang menantunya malah memberikan kembali apa yang sudah dia usahakan selama ini.
Sunggu Firman terharu dan memeluk menantunya seraya menepuk-nepun bahunya bangga. "Terima kasih, Jeff. Papa terharu sekali, papa merasa sangat berterima atas apa yang kamu lakukan kepada keluarga kami."
Jeff tersenyum dan menganggukan sedikit kepalanya. "Ini sudah menjadi hak kalian, saya hanya menjaganya. Semuanya tetap hasil usaha papa selama ini."
Kebahagiaan memang akan datang di saat yang tepat, begitu juga apa yang Mika peroleh saat ini adalah karena kesabaran dia dalam menghadapi cobaan beberapa tahun kemarin.
Mika tidak kaget juga saat Jeff mengembalikan semuanya pada sang papa, karena memang sebelum turun tadi Jeff sudah membicarakan soal ini dan Mika menyerahkan semuanya pada Jeff.
__ADS_1
Karena dari sejak awal juga Jeff yang mengurusnya, dia yang berusaha menyelamatkan kembali perusahaan papanya, dia yang membawa papanya kembali padanya. Jadi Jeff lah yang berhak memutuskan atas segalanya.
Setelah ayahnya masuk ke dalam untuk memberitahukan kabar ini pada Ibunya, Jeff menghampiri Mika yang terus tersenyum ke arahnya.
Tidak lupa juga dia mengambil alih Regan dari tangan istrinya dan menggendongnya menghadap ke arah cahaya matahari untuk dijemur.
"Atas semua kebahagiaan yang kamu kasih ke papa sama mama, aku mau bilang terima kasih ya, Mas?"
"Sudah berapa kali mengucapkannya?"
"Ya engga, aku seneng aja liat papa bahagia kaya gitu. Aku seneng karena pada akhirnya semua membaik."
"Terima kasih untuk diri kamu sendiri, karena sampai sekarang masih ada di sini. Terima kasih karena bertahan dari semua luka yang dunia kasih ke kamu dan terima kasih untuk tetap menjadi istri aku."
Satu kalimat yang membuat Mika terbentuk sebenarnya, memang benar dia kuat sekali untuk ada di titik ini. Namun Mika tersenyum akhirnya. "Iya aku juga udah berterima kasih sama diri aku di masa lalu."
"Ternyata keputusan yang dia ambil gak salah, meskipun waktu itu aku sakit tapi dia membawa aku ke titik ini, mungkin kalau Mika yang dulu bertindak gegabah ceritanya gak akan seperti ini ya, Mas?"
"Kamu tau? Sebenarnya walaupun kamu memilih apapun, kamu akan mendapat kebahagiaan yang sama meskipun tidak sama."
"Kenapa?"
"Karena yang sudah ditakdirkan untuk kamu, pasti akan menjadi milik kamu bagaimana pun jalannya. Begitu juga sebaliknya, apapun yang bukan menjadi milik kamu, mau seberapa keras kamu berjuang kamu tidak akan mendapatkannya."
"Karena semuanya sudah punya garis, sudah punya jalan dan takdirnya masing-masing. Sekarang takdir kamu mengatakan kalau inilah waktu yang tepat untuk bahagia," lanjut Jeff sembari mencium pipi putranya dengan sayang.
"Sekarang kamu banyak bicara ya? Aku suka, ternyata diskusi sama kamu bisa semenyenangkan ini aku gak nyangka," balas Mika.
"Karena, hidup sama kamu membuat aku banyak belajar tentang hidup, Mik. Jadi semua ini juga berkat kamu."
Mika mengangguk, setelah itu dia memeluk Jeff dan mengusap pipi suaminya. "I love you, Mas."
"I love you more, Sayang."
Jeff udah gak gengsi lagi nih bilang i love you? Jangan lupa like dan vote ya! ❤️❤️
__ADS_1