10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Kamu Gak Pernah Punya Masalah Ya?


__ADS_3


Mona memasuki kamar Elang, terlihat anaknya itu sudah tertidur pulas karena kecapean. Sebenarnya Mona ingin membicarakan hal yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya, tapi ya kalau Elang sudah tidur dia tidak bisa apa-apa.


Perlahan Mona duduk di tepi kasur dan mengusap puncak kepala anaknya. Dari semua anak-anaknya, Elang pandai sekali menutupi perasaannya. Tapi karena dia seorang Ibu, pasti dia merasakan apa yang dirasakan oleh anaknya.


Tiba-tiba mata Mona tertuju pada sebuah pita yang menyembul dari dalam laci, saat Mona akan memasukannya dia menatap sebuah surat dan juga beberapa barang yang sepertinya sudah lama Elang simpan.


Bukan ingin mencampuri privasi, tapi sebagai Ibu pastilah ada rasa penasaran mengenai siapa yang sekarang sedang dekat dengan putranya. Mona membuka isi surat itu, surat yang pernah Mika berikan pada Elang. Sejujurnya perasaan Mona jadi tidak karuan setelah membacanya. Jadi selama ini Elang dan Mika saling mencintai? Lantas kenapa mereka tidak bersama?


Merasa terusik, Elang sedikit membuka matanya. Dia sedikit kaget saat melihat Ibunya sudah berada di sampingnya. Lebih kaget lagi karena Mona memegang surat dari Mika yang Elang berikan.


"Ma ... "


Mona tersenyum. "Kenapa bangun, Sayang? Mama ganggu tidur kamu ya?"


Elang perlahan menggeleng, tapi dia memang sensitif saja terkadang jika sedang tertidur lalu ada orang di sampingnya dia pasti merasa. "Ma soal ini ... "


"Mama memperhatikan kalian sejak kemarin, perasaan mama tidak enak. Karena cara pandang kamu ke Mika berbeda, Lang. Tadinya Mama mau membicarakan ini sama kamu, waktunya selalu tidak tepat."


"Kamu masih mencintai Mika sampai saat ini, benar?" Tebak Mona.


Elang menghela napas, setelah itu dia menaruh kepalanya di pangkuan sang Mama. Sejujurnya Elang paling tidak bisa berbohong jika sudah ditanya seperti ini. Terlebih lagi oleh Ibunya sendiri. "Elang salah, Ma. Elang minta maaf."


"Mama mau tanya, kalau kamu mencintai Mika dulu kenapa tidak kamu perjuangkan. Malah kamu menolaknya, kan?"


"Elang gak bisa ngelukain perasaan Selena yang saat itu gak suka sama Mika, Ma. Selena penting untuk Elang, dia sampai takut kehilangan Elang karena Mika. Jadi Elang berpikir untuk memperjuangkan Mika ketika waktunya tepat."


"Tapi ternyata Jeff menikahi Mika."


Mona mengusap rambut putranya dengan perhatian. "Ohh begitu. Maaf karena pola asuh Mama yang salah pada Selena, kamu jadi harus berkorban ya, Lang?"


"Mama gak salah, Elang yang salah. Seharusnya Elang melupakan perasaan Elang sama Mika. Tapi susah, apalagi kalau liat dia ngerasa gak bahagia, Elang gak bisa."


"Mama paham, perasaan kamu gak salah, Sayang. Hanya saja kamu tau kan sekarang keadaannya gimana? Mama gak mau nantinya menimbulkan perpecahan antara kamu dengan Jeffrico. Mama gak mau nantinya kalian bertengkar karena memperebutkan seorang wanita, terlebih lagi Mika memang istri kakak kamu."


"Elang paham, Elang juga jaga batasan kok, Ma. Tapi untuk membuat Mika senang itu udah jadi tanggung jawab Elang juga. Mama tau sendiri Jeff gimana perlakuin Mika. Setidaknya Elang lakuin sebagai adik ipar."


"Iya Mama paham , Sayang. Tapi ingat jangan melebihi batasan ya? Mama mohon sekali sama kamu, perasaan itu milik kamu, Mama tidak bisa mengganggu gugat, tapi sudah kewajiban Mama untuk memperingati kamu agar tidak terjadi kesalahan di masa depan."


Elang mengangguk, dia memahami situasinya. Dia juga paham kok apa yang boleh dan tidak boleh. Karena Elang juga tidak seburuk itu untuk menghancurkan pernikahan kakaknya meskipun sangat ingin.


.

__ADS_1


.


.


Mika menatap suaminya yang kini berbaring di sebelahnya. Memang ada beberapa hal sih yang ingin mereka tanyakan. "Mas."


"Kenapa?"


"Kamu gak bosen apa ya sama rutinitas kita yang gitu-gitu lagi?" Tanya Mika.


"Bosan, tapi kehidupan kan memang begitu?"


"Kamu udah tampan, kaya, punya segalanya-"


"Terima kasih sudah memuji," ucap Jeff dengan bangga.


Mika mengangguk-nganggukan kepalanya. "Tapi sayang gak bisa nikmatin apa-apa yang kamu capai."


"To the point, kamu mau apa?" Tanya Jeff yang sudah hapal kalau Mika seperti itu pasti ada sesuatu yang dia inginkan. Ya memang apa yang tidak Jeff berikan pada Mika kalau dia memang ingin.


"Gak pingin apa-apa, cuma bilang aja. Soalnya kehidupan kamu monoton, aku bosen. Kalau kita pacaran aku pasti udah minta putus."


"Berani?" Jeff membalikan kata-kata Mika.


"Kamu yang ngaco, pikirannya kemana-mana," balas Jeff santai.


"Ya emang apalagi sih yang bisa dibahas saat kita lagi berdua kaya gini? Kalau gak bahas apa-apa ya juga aneh orang kamu adanya jam segini doang, jadi sebagai istri dari seorang Jeffrico Dirgantara, Mika harus mencari banyak topik pembicaraan buat bicara sama suaminya," ucap Mika panjang lebar.


"Bahas kenapa bumi berputar, mau?"


"Gak ada yang lebih membosankan lagi kah? Kenapa gak sekalian mikirin kenapa aku bisa nikah sama kamu yang kaku kaya kanebo kering."


"Takdir."


Mika menghela napasnya, tidak akan benar memang jika bicara dengan Jeff. "Mass, kamu pernah ke rumah sakit mental atau ke psikiater?"


"Engga, kenapa?"


"Aku nemu amplop rumah sakit itu di laci, aku pikir itu punya kamu karena ada nama kamu yang tertera di sana. Tapi isinya gak ada jadi aku gak bisa tau."


"Itu formalitas buat di kantor karena aku buat pengecekan mental karyawan."


"Oh, aku kira kamu kenapa-kenapa. Bagus deh kalau engga, tapi kalau kamu kenapa-kenapa cerita sama aku ya, Mas. Walaupun aku kecil gini tapi aku bisa jadi temen kamu cerita," ucap Mika dengan mata yang berbinar.

__ADS_1


Jeff menatap Mika sekilas, lalu kembali memejamkan matanya. "Hm."


Mika memajukan bibirnya, padahal dia sudah berusaha loh mengajak Jeff bicara panjang lebar tapi balasannya hanya itu, kan menyebalkan ya? Untuk beberapa saat Mika menatap wajah suaminya, mencoba mencari keadaan Jeff dari raut wajahnya.


Aneh! Padahal Jeff bekerja seharian, dia juga sering mengeluh cape tapi untuk hal yang dia ketahui pasti saja Jeff tidak menunjukan apapun dari raut wajahnya. Malah dia nampak tenang dengan wajah tampan dan dingin itu.


"Mas kamu gak pernah punya masalah ya?" Tanya Mika tiba-tiba.


"Kenapa mikir gitu?"


"Gak tau kamu yang terlalu asing buat aku atau kamu emang gak bisa mengekspresikan apapun atau juga kamu memang gak pernah punya masalah. Aku gak bisa liat apapun dari raut wajah kamu. Gak tau kamu lagi ngerasain apa sekarang," ucap Mika.


"Gak sekalian baca garis tangan kaya peramal lainnya?"


Mika mencibir. "Aku bukan mau ngeramal, tapi aku bisa langsung tau perasaan seseorang dari raut wajahnya. Kamu aja yang gak bisa aku tebak."


"Pernah, aku pernah punya masalah."


"Tapi kamu gak pernah cerita ke aku tuh. Kaya misal gini : Mik aku tadi di jalan ketemu banci terus aku dipeluk dan dikejar, aku kesel deh atau aku marah deh."


"Aku gak pernah mengalami itu."


"MISAL MASS!!" Mika menarik napasnya, memang Jeffrico ini menyebalkan, bahkan dia malah tertawa sekarang.


"Emang gak ada yang mau diceritakan aja. Kalau ada masalah ya selesaikan, setelahnya lupain."


"Semudah itu? Pengalamannya gak mau kamu bagi ke aku gitu?"


"Untuk apa? Masalah jangan dipendam lama-lama kalau sudah selesai untuk apa dibicarakan lagi. Hanya akan menambah beban pikiran."


"Gimana cara kamu selesain masalah kamu dan lupain itu semua dengan mudah, bagi aku itu sulit loh. Aku lebih suka setelah selesai masalahnya ya aku cerita sama Tessa atau Caca."


"Ya karena berbeda Mika. Aku marah, aku kesal saat itu. Setelahnya aku lakuin apa yang memang perlu dilakukan. Ketika semuanya tertangani yasudah. Untuk apa diceritakan? Kamu akan kepikiran lagi kan?"


"Ya bener sih."


"Yasudah."


"Jadi kamu gak mau cerita sama aku nih beneran?" Tanya Mika.


Jeff menggeleng, Mika gemas sekali dengan suaminya. Spontan dia menjepit pipi Jeff dengan kedua tangannya. "Nyebelin!!!!" Setelah puas dia kembali berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Jeff kaget sih dengan apa yang Mika lakukan, setelah itu dia hanya menipiskan bibirnya lalu ikut Mika tertidur. Berbeda dengan Mika yang kini menahan kesal mati-matian. Entah kenapa Jeff benar-benar membuatnya kesal meskipun apa yang Jeff ucapkan benar.

__ADS_1


Ya sebagai seorang istri maunya Mika mengetahui semua yang dirasakan suaminya meskipun dia bisa mengatasinya sendiri. Tapi Jeff tidak peka, Mika jadi merasa benar-benar tidak berguna kalau seperti ini.


__ADS_2