
"Cuci muka sana, biar gak keliatan habis nangis. Setelah ini lo ke ruangan makan. Gue bikinin makanan."
Selena menurut dan turun dari ranjangnya, setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Mika tersenyum, perlahan dia bangkit dan membereskan kamar yang memang sudah tidak berbentuk ini.
Pertama dia mengambil pakaian kotor dan memasukannya ke keranjang, setelah itu membereskan kasur dan mengganti spreynya. Pokoknya dia akan membereskannya sampai bersih, karena dia tau kalau Selena tidak akan bisa membereskannya sendiri.
Tak lama dari itu Selena keluar dari kamar mandi dan melihat Mika yang membereskan kamarnya. Dia merasa bersalah sih, Mika sebaik ini tapi dia selalu bersikap buruk pada Mika. Kalau dipikir ya dia membenci Mika tanpa dasar. Dia hanya iri dengan kehidupan Mika yang menurutnya sempurna dan dia tidak memiliki itu.
Selena duduk di tepi ranjang dan menatap Mika. "Kenapa lo baik sama gue, gue selalu bersikap buruk sama lo. Kalau boleh jujur juga gue berniat bikin lo pergi dari mansion ini."
"Tau, apa yang gak gue tau tentang kebencian lo sama gue?" Tanya Mika berbalik sembari tetap fokus merapikan meja rias Selena.
"Lalu?"
"Karena gue gak pernah benci sama lo, lo juga udah jadi adik ipar gue meskipun lo gak mau kan kenyataannya kaya gitu. Mau diubah juga gak bisa."
"Tapi gue ga expect lo bakalan sebaik ini."
"Lo hanya belum kenal gue, sebenernya kalau lo mau gue bisa berteman sama lo dari dulu. Tapi lo selalu benci sama gue, jadi gue diemin."
"Gue nyebelin ya?" Tanya Selena.
"Kalau lo jawabannya kenapa nanya?" Mika menghela napasnya dan menatap Selena.
Selena memajukan bibirnya, ya memang menyebalkan sih tapi dia begitu karena salah Mika sendiri yang selalu lebih unggul darinya. Itu pikirnya.
"Ayok, keluar. Kasian Mama kepikiran anaknya belum makan dari kemarin," ajak Mika sembari mengulurkan tangannya pada Selena.
Selena menatap Mika ragu, tapi benar apa yang Mika katakan. Kalau dia terus berdiam diri itu akan membuat orang-orang curiga dan bertanya-tanya tentang apa yang sudah terjadi padanya.
Perlahan dia menerima uluran tangan Mika dan mengikutinya berjalan keluar. Jantungnya berdegup kencang sih, ya bagaimana pun dia sudah berbuat kesalahan. Pasti ada perasaan tidak nyaman pada dirinya.
"Lo tunggu di sini, gue masakin yang cepet aja ya?"
__ADS_1
Selena mengangguk pelan, tidak ada orang di sini selain dia dan Mika. Karena dia merasa bosan jadilah dia menghampiri Mika dan menemaninya memasak.
"Janji ya gak bilang kak Jeff," ucap Selena.
"Iya," jawab Mika sembari memotong-motong sayuran.
"Kak Elang sama Mama juga," ucapnya lagi.
Mika menghela napas. "Iya, Selena. Lo udah bilang beberapa kali soal itu sama gue. Diem atau lo gue laporin sekarang juga!"
Selena terdiam, setelah itu dia fokus memperhatikan Mika memasak. Dia kagum dengan Mika, padahal dia sedang hamil muda, pasti tidak mudah melakukan pekerjaan itu sambil membawa bayi dalam perutnya.
"Lo gak berat bawa bayi itu kemana-mana?" Tanya Selena random.
"Menurut lo gue harus taro dia dulu terus pasang lagi?" Tanya Mika berbalik.
"Ya engga, cuma pasti rasanya berat ya jadi Ibu diusia segini?"
Mika mengangguk. "Berat, tapi tergantung gimana lo nyikapinnya. Karena semua yang digariskan buat lo itu harus dijalani meskipun gak ingin. Karena kehidupan terus berjalan."
"Gue kira lo gak merhatiin, taunya lo tau kelakuan kakak lo sendiri," jawab Mika asal.
"Gue cuma gak suka sama lo, bukan berarti gue buta!"
"Ya mana gue tau!"
Mereka berdua terkekeh, ya lucu saja. Biasanya mereka bertengkar sekarang harus bicara seperti ini. Terasa asing memang pada awalnya, namun perlahan menikmatinya juga.
Mona melihat Mika dan Selena dari balik pintu kamarnya, dia tersenyum melihat kedekatan Selena dan juga Mika. Entah ada angin apa tapi ya memang lebih enak dilihat. Mona memutuskan untuk tidak menganggu mereka. Karena menurutnya ini awal yang baik untuk kedekatan adik dan kakak ipar itu.
Setelah selesai memasak Mika menghidangkan sepiring nasi goreng spesial dan jus mangga untuk Selena, Setelah itu dia duduk di sebelah Selena dan memperhatikan dia makan.
"Lo gak makan?" Tanya Selena.
"Udah makan, makan gih. Emang gak seenak buatan bi Inah tapi ya bisa dimakan lah," jawab Mika.
__ADS_1
"Lo gak racunin gue, kan karena gue jahat sama lo kemarin?" Tanya Selena lagi.
Mika berdecak. "Ck, lo sih tadi ke dapur. Gue kan jadi lupa buat naro racunnya, padahal kesepatan yang bagus, kan?"
Selena terkekeh. "Ishh jahat banget."
Mika tertawa melihat ekspresi Selena. "Engga, gue gak racunin lo. Kalau lo keracunan mereka bisa cari gue pertama kali. Apalagi kakak lo itu super duper tajir, gak akan susah cari gue kalaupun kabur."
Selena kembali terkekeh dan memakan makanan miliknya. Dia mengakui sih kalau masakan Mika tapi dia terlalu gengsi mengatakannya jadi dia hanya melahapnya saja tanpa bicara apa-apa.
Mika tersenyum, meskipun tidak mengatakan apa-apa tapi Selena memakannya. Setidaknya dia mau makan untuk saat ini, karena Mika juga khawatir dengan keadaannya. Apalagi melihat kondisi Selena waktu awal dia temui. Dia tidak tega sekalipun Selena suka marah-marah.
Elang dan Jeff datang bersamaan, kalau Elang tidak aneh datang jam segini nah Jeff? Ada angin apa dia pulang jam segini? Kan seperti angin topan di siang hari. Namun yang lebih aneh lagi ya mereka yang melihat Selena dan Juga Mika sedang mengobrol di ruang makan. Membuat mereka mematung ditempatnya.
Selena dan Mika menyadari keberadaan dua pria itu. Menatapnya sama-sama aneh karena ya pikiran mereka masing-masing. Selena mulai mengerucutkan bibirnya. "Kenapa sih liatinnya kaya gitu banget? Mau nasi goreng?"
Jeff dan Elang penasaran dan menghampiri mereka berdua. Jeff dan Elang kini menatap Mika dan Selena sembari duduk di hadapan mereka. "Kalian ngapain?"
"Kompak banget, ya makan lah. Mika yang buatin nasi gorengnya, mau?" Tanya Selena seperti tanpa ada beban.
"Kalian kesambet apaan sampe bisa ngobrol kaya gini?" Tanya Elang.
"Princess, are you oke?" Tanya Jeff.
"Kenapa sih kalian?! Aku sama Mika berantem salah, akur juga salah. Jadi maunya gimana?!" Kesal Selena.
"Ya bagus akur, cuma belum terbiasa aja." Elang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Benar-benar di luar dugaan, apa yang membuat Selena bisa sejinak ini? Mika benar-benar ajaib.
"Bagus dong kalau adik dan kakak iparnya akur. Selena jad mau makan tuh karena Mika. Jadi jangan ditumbenin, biarin mereka akur," ucap Mona yang keluar dari kamarnya karena mendengar kerecokan anak-anaknya di luar.
Mona berdiri di tengah-tengah Mika dan Selena dan memeluk keduanya. Dia merasa menjadi memiliki dua putri kembar kalau seperti ini. Selena juga kini menatap Mika dengan tersenyum. Mungkin ini kali ya rasanya memiliki teman berbagi, Selena tida pernah merasakan sebelumnya.
Sekarang aneh saja rasanya, tidak ada kecemburuan saat Ibunya memeluk Mika juga. Yang ada dia merasa senang karena memiliki saudara baru, ya meskipun Mika kakak iparnya.
Meskipun Jeff hanya terlihat diam, tapi jauh di lubuk hatinya dia senang melihat pemandangan ini. Pemandangan yang sudah lama sekali tidak dia lihat. Dan semua ini berkat Mika, entah harus bagaimana dia mengucapkan terima kasih pada istrinya itu.
__ADS_1
Berbeda dengan yang lainnya, Mika kini malah berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia merasa membohongi semua orang karena menutupi keadaan Selena. Dia tidak ingin Selena kecewa dengannya tapi dia ikut membohongi semua orang. Rasanya dilema sekali, tapi dia berusaha tersenyum dan tidak ingin merusak moment kebahagiaan ini. Terkadang memang ada kalanya untuk diam di saat mengetahui segalanya.