
Setelah pengumuman dan pembagian ijazah, mereka sangat lega. Kini mereka sudah bukan anak SMA lagi. Mereka juga sudah lepas dari seragam putih abu.
Mika mendapat peringkat tertinggi dari semua kelas. Bohong sekali kalau Jeff tidak bangga dengan gadisnya itu. Jauh melebihi ekspetasinya sendiri. Namun ya itu berimbas pada Selena. Jadilah Mona yang harus sabar-sabar menghadapi kerewelan anak bungsunya itu.
Banyak juga yang bangga dengan seorang Mika. Di tengah kehidupan tersulitnya dia bisa membuktikan pada dunia kalau dia mampu. Dia bisa membiayain sekolahnya sendiri, dia juga berprestasi, tentu itu bukan hal yang mudah.
Mika bersama ketiga temannya asik berphoto, tidak jauh dari sana juga terlihat Jeff, Elang, Selena dan Mona yang sedang berphoto merayakan kelulusan si bungsu. Mika tersenyum sih, nampak seperti keluarga harmonis. Dia iri tapi tidak sampai membuatnya lost.
Dia selalu diajarkan untuk bersyukur dalam hal apapun. Jadi dengan berada di antara teman-temannya seperti ini sudah cukup membuat Mika bahagia. Bahkan jauh dari kata bahagia karena banyak sekali yang menyayanginya.
Tiba-tiba seseorang datang menghampiri mereka. Mika cukup kaget sih, tapi ya dia juga sudah berdamai dengan mantannya itu. Jadi tidak ada salahnya bertegur sapa. "Happy gradu, Mik," Edgar sembari memberikan bouquet bunga mawar berwarna merah pada Mika.
Mika menerimanya dengan ragu. Mereka nampak asing dua tahun kebelakang setelah putus. Setelah itu Mika fokus mengagumi Elang dan sekarang dia dan mantannya bertegur sapa lagi, cukup canggung sebenarnya. "M-makasih loh Kak Ed, lo datang ke sini buat gue?"
Ya Edgar satu tingkat di atas Elang, jadilah Mika bertanya demikian. Karena ya untuk apalagi Edgar ke sini?
"Iya, gue harap kita bisa jadi sahabat sih, Mik. Gak enak juga canggung karena putus," ucap Edgar jujur.
"Ekhm." Tessa dan Caca malah senyum-senyum sendiri. Ya bagaimana pun mereka pernah menjadi couple goals pada masanya. Tentulah sulit untuk move on dari pasangan ini.
"Makasih loh, iyalah. Gak enak banget jauhan karena putus. Kita masih bisa temenan kok, Kak. Lagian kita juga udah punya kehidupan masing-masing. Jadi enjoy aja." Mika sih simpel orangnya, kalau orang itu sudah mengakui kesalahannya dan berniat merubah keadaan ya Mika terima.
Edgar tersenyum senang, sejauh ini Mika memang teman terbaik sih untuknya. Dia bisa menjadi tempat berbagi apapun, tapi dulu memang mereka masih labil saja, jadi harus berpisah.
Jeff melihat itu semua, dia sedikit bertanya-tanya dengan pria yang bersama Mika sekarang. Mereka nampak dekat, bukan cemburu. Hanya wajar saja jika dia penasaran dengan orang-orang di sekeliling calon istrinya. Tapi tidak mungkin juga dia menghampiri Mika di saat Selena sedari tadi menahannya.
Selena tentunya tidak akan membiarkan Jeff menemui Mika. Sudah cukup dengan Mika yang kini dibanjiri ucapan dan banyak bunga. Apalagi ada Edgar di sana yang sangat Selena sukai. Tapi tidak dengan Jeff, dia adalah kakaknya.
__ADS_1
Mona juga melihat itu, di satu sisi dia paham posisi Jeff, tapi di satu sisi dia juga paham posisi putrinya yang merasa hanya memiliki keluarganya. Jadi dia memutuskan untuk diam saja, membiarkan mereka memilih apa yang harus dilakukan.
Untuk sesaat pandangan Mika dan Jeff bertemu, namun Mika memutuskan kontak mata itu begitu saja dan kembali berphoto bersama teman-temannya. Banyak sekali bouquet yang dia dapat.
Membuktikan sekali kalau dia sosial butterfly. Tapi itu bukan kebanggan untuk ajang pamer sih menurut Mika. Sebenarnya dia juga tidak pernah ada niat seperti itu untuk membuat Selena iri. Tapi ya yang namanya orang iri akan tetap begitu tanpa Mika pamerkan pun.
.
.
.
Setelah mengabiskan waktu berphoto bersama orang yang mendatanginya. Kini hanya tersisa Mika dan kedua temannya di depan masjid sekolah sambil menatap ke arah lapangan.
Mereka pasti akan merindukan masa-masa ini, kan? Sekarang mereka punya jalan masing-masing. Meskipun berjanji akan terus bersama, pasti akan ada waktu di mana mereka juga sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri.
"Lo bakalan kangen gak sih sama kita yang sering gila-gilaan sepanjang jalan ke kantin?" Tanya Caca.
"Eh iya sih itu epik banget hahaha. Pasti lah kangen. Tapi gue bakalan pastiin kalau kita bakalan sahabatan sampe lama sih. Sampe kita menikah, hamil bareng, punya anak bareng," ucap Tessa.
Mika tersenyum miris dalam batinnya. Dia memang yang lebih dulu menikah tapi belum tentu gambarannya akan seperti apa yang Tessa bicarakan.
Mereka mungkin akan menikah dengan pria yang mereka cintai, memiliki kehidupan bahagia dan bisa membangun rumah tangga mereka sesuai apa yang mereka impikan.
Berbeda dengan Mika yang harus dengan terpaksa menikah muda. Dari caranya saja sudah tidak menyenangkan. Seharusnya dia bisa menikmati masa mudanya, tapi dia harus menikah.
"Iya pasti seru," sahut Caca.
Mika hanya terkekeh, tidak mungkin juga mengubah suasana senang menjadi sedih seketika. Namun, pembicaraan mereka seketika terhenti ketika melihat seorang pengantar paket menghampiri mereka.
__ADS_1
"Weh bouquet sultan," gumam Caca.
"Dengan mba Aphrodite?" Tanya kurir itu.
Mika maju dan disuruh memberikn tanda tangan. Setelah itu dia menerima bouquet yang lumayan besar itu. Sedikit mengerutkan dahinya. Siapa yang memberikannya?
Bouquet uang ini nampak lain. Karena yang ditancapkan di sana bukan lembaran, tapi gepokan uang 10 juta yang berjumlah 5 gepokan. Ditambah sebuah kotak kalung dan juga diberi beberapa tangkai bunga mawar putih.
"Katanya bunga mawar putih itu lambang ketulusan. Jangan-jangan ini orang yang suka sama lo lagi?" Tebak Caca.
"Mik, ini kayanya dari Om kaya lo deh," lanjut Caca.
"Iyalah, siapa lagi yang bisa kaya gini kalau bukan Jeffrico Rasendria Dirgantara," timpal Tessa.
Mika berpikir sejenak, untuk apa juga Jeff memberikannya bouquet ini? Ya dia senang sih, tapi ya masih ada kata kenapa dalam kepalanya sekarang. Apalagi tadi pagi dia dan Jeff sempat membahas tentang bouquet dan ketulusan. Apa ini pembuktian dari Jeff atas ucapannya?
Suara derap langkah terdengar, menampilkan seorang Jeffrico yang tengah berdiri di hadapannya. Membuat Mika menghampiri pria itu dan menatapnya penuh tanya.
"Happy graduation," ucap Jeff meski dengan wajah dinginnya.
Memang bukan ucapan yang romantis sebenarnya seperti apa yang Mika harapkan dari seorang pria yang mencintainya. Namun entah kenapa Mika merasa ini sederhana tapi sedikit romantis.
"M-makasih, Om. Tapi kamu gak perlu beliin aku boquet sebagus ini," ucap Mika.
"You deserve it. Kamu gak malu-maluin saya dengan datang sebagai wali kamu, jadi itu hadiahnya."
Sebuah alasan memang yang Jeff ucapkan, tapi itu memang salah satu alasan kenapa dia memberikan bouquet itu untuk Mika. Mereka berdua masih terdiam, sementara Tessa dan Caca sudah senyum-senyum sendiri.
Ya bagi mereka ini romantis. Mereka berdua sampai mengatur Mika dan Jeff untuk berphoto berdua. Meski keduanya menolak, tapi akhirnya mereka mengalah. Jantung Mika tidak berhenti berdetak sih. Aneh sekali. Tapi dia tidak mungkin baper, kan?
__ADS_1
"Senyum! Nanti kalian menyesal seumur hidup kalau gak senyum," peringat Tessa.
Lagi-lagi mereka menurut, kini keduanya sama-sama tersenyum ke arah kamera. Dan yap, beberapa bidikan berhasil diabadikan. Tanpa sadar Mika menatap ke arah Jeff. Ada sebuah harap di mana dia setidaknya memiliki satu alasan untuk yakin menikah dengan Jeff. Karena sampai sekarang dia belum menemukan alasan yang tepat.