
Pagi ini seperti biasa mereka sarapan pagi sebelum memulai rutinitas. Tapi berbeda dengan Selena dan Mika yang memang memiliki rencana pergi bersama untuk menemui Tessa dan juga Caca. Mika dan Selena sudah membicarakan soal agenda mereka. Tentulah kalau soal labrak melabrak mereka sangat semangat, meskipun mereka juga kemarin sempat memaki-maki Selena karena adik iparnya itu begitu bodoh.
"Hari ini aku pinjem Mika buat aku ajak main," ucap Selena sembari menatap Jeff.
"Mau kemana?" Tanya Jeff.
"Pergi ke mall? Ke salon? Ya melakukan kegiatan wanita aja. Boleh, kan?" Tanya Selena berbalik.
"Dia sedang hamil besar, Princess," jawab Jeff.
"Gak aku ajak lari-larian kok, Kak. Beneran, janji. Aku cuma gak ada temen aja buat ke luar rumah," balas Selena dengan sungguh.
"Memangnya kamu mau?" Tanya Jeff pada Mika.
Mika mengangguk, sementara Selena senyum penuh kemenangan. Ya karena sudah berkoalisi jadi Mika mengiyakannya. Jeff terlihat ragu, meskipun Selena telah bersikap baik, tapi ada ketakutan tersendiri kalau sampai nantinya Selena malah melukai Mika.
Memang sedikit jahat jika Jeff sebagai Kakak Selena mencurigai adiknya. Tapi mereka sama-sama tau kalau Selena sangat membenci Mika dan tidak mungkin berubah secepat itu kalau tidak apa-apanya.
"Please," ucap Selena memohon.
Jeff mengangguk, mungkin tidak ada salahnya juga mempercayakan Mika pada Selena. Jadi setelah selesai sarapan Jeff dengan diantar Mika ke depan langsung pergi ke kantor.
Setelah dirasa aman, akhirnya Mika dan Selena pergi dari mansion. Mereka juga menjemput Tessa dan juga Caca ke rumahnya untuk pergi bersama. Sekarang lengkap, mereka siap beraksi. Selena melajukan mobilnya sedang sambil tetap berdiskusi bersama yang lainnya.
"Segini hari dia biasa nongkrong di mana?" Tanya Tessa.
"Di basecamp deket perempatan jalan ini," jawab Selena.
"Apal banget, gagal move on ya lo?" Tebak Caca.
"Gue sering ke sana," jawab Selena.
Mereka hanya menganggguk, tak lama setelah itu mereka sampai di tempat tujuan. Mika menghela napas sembari mengusap-ngusap perutnya.
"Sayang, akan Mama tunjukan sekarang kalau Mamamu ini jagoan sekolah," batinnya sambil tersenyum miring.
Namanya juga anak baru gede, ketika mendapat masa tentu lah mereka akan langsung menargetkan dan mengeksekusinya sampai beres. Seperti sekarang, saat melihat Rio sedang asik bercumbu dengan wanita Mikda yang lainnya langsung menendang meja dan mengenai tubuh Rio.
"BANGSAT! MAU APA LO SEMUA!" Ucap Rio dengan kemarahan dan menghampiri Mika seraya menatapnya tajam.
Plak ...
Satu tamparan berhasik Mika layangngkan di pipi Rio. Mika terkekeh, Rio pikir dia akan takut padanya. Harus dia perjelas, kalau Mika tidak pernah takut dengan siapapun.
__ADS_1
"Apa maksud lo tampar gue anjing!" Bentak Rio.
"Apa maksud gue?! Itu belum ada apa-apanya ya, lo udah apa-apain adek gue dan sekarang lo main cewek di belakang dia tanpa ada dosa?! Mikir lah, punya otak gak lo hah?!" Balas Mika membentak.
Rio tersenyum meledek. "Maksud lo adek yang ini?" Tanya Rio sembari menunjuk Selena.
"Dia murahan, gampang ditipu, gue gak memaksa dia tapi dia yang mau sendiri. Salah gue di mana? Gue tidak melakukannya secara paksa gu-"
Plak ....
Ucapan kotor dari Rio membuat Mika muak, bisa-bisanya dia merendahkan wanita yang sudah dia rusak. Mika memang berani, tapi Selena kini bergetar di belakang Mika. Dia tau kalau Rio bisa berbuat apa saja pada Mika dan Selena takut kalau itu terjadi.
"Anjing!"
Plakk ...
"Sekali lagi lo ngumpat gue bisa lakuin hal yang lebih buruk dari ini. Tanggung jawab, lo datengin Jeffrico setelah itu lo minta maaf. Akui kesalahan lo!"
"Lo gila? Gue gak sebodoh itu kali mau menyerahkan diri pada seorang Jeffrico, adek lo yang murahan gue yang disalahin dan di suruh bertanggung jawab. Kurang ajar lo!"
"Anjing lo! Seenaknya ya lo kalau ngerendahin cewek padahal lo pemakai. Ngotak dikit lah bego!" Sungut Tessa.
"Lo berani sama gue, Hah?" Rio mendekati Tessa, namun bukan Tessa namanya jika dia mundur. Dengan sekuat tenaga dia mendorong dada pria itu sampai tersungkur dan menginjaknya dengan kaki.
Rio geram, dia menyingkirkan kaki Tessa dengan dengan paksa. Bisa-bisanya harga dirinya diinjak seperti ini oleh wanita seperti mereka.
Rio mengangkat tangannya pada Tessa, namun Mika menghalangi. Tapi tamparan itu tidak mengenai pipinya karena seseorang mencekal tangan Rio.
Mika mematung melihat Jeffrico yang kini menatapnya tajam, kalau begini berarti Jeff mengikutinya dan mengetahui semuanya. Selena semakin takut melihat Jeff ada di sini, tidak hanya Jeff tapi juga Elang.
Dimakan emosi, Jeff memukuli Rio dengan tangannya, begitu juga Elang. Bagaimana bisa dia melakukan itu pada Selena, terlebih lagi tadi akan menampar Mika.
"KAKKKK, JANGANN NANTI DIA MATI-" Teriak Selena berusaha melerai mereka.
"KAKAK KECEWA SAMA KAMU SELENA JADI DIAM!" Jeff mengecam Selena dengan telunjuknya. Dia semakin histeris karena mereka seolah dimakan oleh emosi.
Mika juga berusaha menenangkan mereka, tapi sia-sia. Mereka benar-benar tidak akan memberi ampun pada orang yang sudah merusak adik mereka. Cukup, Selena tidak bisa berada di sini, dia berlari keluar dan dikejar oleh Mika, Tessa dan juga Caca.
"SEL TUNGGU!"
"JANGAN KEJAR GUE MIK, GUE MAU MATI!"
"SEL!!" Mika kaget saat Selena membawa dirinya ke tengah jalan dengan spontan Mika berlari dan mendorongnya ke tepi, persis apa yang dia lakukan 11 tahun lalu pada Jeffrico.
"MIKAAAA!!"
__ADS_1
"Akkhhhh, Sell sakitt bangett." Mika mengaduh saat perutnya terasa sakit yang teramat sakit. Terlihat juga ada ada darah yang mengalir dari balik dressnya.
Tessa segera berlari menyusul Mika sementara Caca memanggil Jeff dan Elang untuk segera membawa Mikake rumah sakit.
"AKHH SELL," teriak Mika sembari mencengkeram tangan Selena.
"KENAPA SIH LO BODOH BANGET NYELAMATIN GUE? LO GAK MIKIRIN ANAK LO?" Bentak Selena yang kini menangis histeris.
Mika menggelengkan kepalanya, ini sakit sekali. Dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Mikk, kita harus ke rumah sakit!" Tessa berusaha membantu Mika namun tenaganya tidak jauh lebih kuat.
Sampai akhirnya Jeff dan Elang datang dengan wajah yang khawatir, mereka belum tuntas sebenarnya, tapi mendengar Mika kecelakaan seperti ini itu tidak penting lagi.
"Mikk, bertahan! Tahan sedikit kita ke rumah sakit.Jeff langsung menggendong Mika ala brydal dan mobil Elang ternyata yang lebih dekat, karena panik Jeff memasukan Mika ke sana.
Namun saat dia akan menutup pintu tiba-tiba ponselnya berdering. Tertera sekretarisnya di sana, Mika dalam kesakitan mencengkeram tangan Jeff berharap kalau Jeff tidak mengangkatnya dan segera menyelamatkan anak mereka. "Mass, ini sakit banget."
Tapi Jeff malah mengangkatnya.
"Apa? Sekarang?"
"..."
Jeff menatap ke arah Mika lalu menghela napasnya. "Baik saya ke sana 30 menit lagi."
Mika membulatkan matanya, begitu juga Elang dan Selena. Tidak habis pikir apa yang ada di pikiran Jeffrico sekarang.
"LO GILA? ISTRI LO KAYA GINI LO PERGI KERJA HAH?" Bentak Elang penuh kemarahan.
"Akhhhh, Mass tolong anak kita dulu, aku mohon." Mika menangis, demi apapun sebegininya kah Mika harus mengemis pada suaminya sendiri?
"Maaf, Mik. Kamu sama Elang ya." Jeff segera berlari dari sana.
"KALAU KAMU GAK KEMBALI AKU BENER-BENER PERGI DARI KAMU! AKU BENCI KAMU!" Teriak Mika sekuat tenaga.
Jeff berhenti mendengar itu, dia sedikit berbalik. Namun tidak ada waktu lagi, dia kembali berlari menuju mobilnya untuk segera ke kantor.
"BANJINGAN!" Elang menendang ban mobilnya.
"Masuk, Sel. Kita ke rumah sakit, gak ada waktu!" Selena mengangguk, dia memberikan kunci mobilnya pada Tessa setelahnya dia masuk ke mobil Elang dan mereka segera ke rumah sakit.
Tessa dan Caca bergemuruh melihat apa yang terjadi barusan. Jadi ini kehidupan yang dijalani Mika? Mereka bersumpah tidak akan membiarkan Jeffrico mendekati Mika lagi.
Dengan cepat Tessa dan Caca masuk ke mobil, setelah itu mereka menyusul mobil Elang untuk menemani Mika.
__ADS_1