10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Hak Mika


__ADS_3


Mika terbangun tengah malam, tubuhnya sakit sekali. Dilihatnya selang infus di tangannya. Ini kamar dia dan Jeff sih tapi apa yang terjadi padanya sampai harus di infus dan dipakaikan oksigen seperti ini? Mika melirik ke samping, Jeff juga tidak ada di sana. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 1 malam.


Matanya sembab sih, dia menyadari kalau seharian tadi dia menangis. Tapi dia memang tidak mengingat apapun setelahnya. Mika melepas selang oksigen dan membawa labu infusnya. Dia keluar kamar untuk mencari Jeffrico.


Lemas sebenarnya tapi ya dia tidak bisa tidur kalau Jeff belum pulang atau mendadak tidak ada seperti ini. Perlahan dia membuka sedikit pintu ruangan kerja Jeff. Terlihat Jeff memang sibuk mengerjakan pekerjaannya. "Mas."


Jeff membenarkan kacamatanya sembari menatap Mika yang kini duduk di kursi yang ada di hadapannya. Jeff beralih sebentar dari pekerjaannya. "Kamu butuh sesuatu?"


Mika menggeleng. "Kenapa aku bisa diinfus? Aku gak sakit."


"Asma kamu kambuh ketika perjalanan pulang, jadi mama memanggilkan dokter keluarga ke sini," ucap Jeff.


Mika menganggukkan kepalanya. "Kamu gak nanya kondisi aku sekarang gimana, Mas?"


"Kamu sudah bisa ke sini berarti kondisi kamu sudah membaik," jawab Jeff simpel.


Mika memajukan bibirnya, ya benar sih. Ya memang apasih yang dia harapkan dari seseorang yang berpikiran logis seperti Jeff. "Kamu kenapa masih belum tidur?"


"Sebentar lagi akan ada proyek besar dengan Irvine Co, ada beberapa yang harus dipersiapkan dan membuat perencanaan yang matang. Aku akan sibuk beberapa bulan ke depan."


Mika menghela napas lalu menaruh labu infusnya di meja kerja Jeff, perlahan dia menenggelamkan wajah di lengan yang bertumpu di meja. Sudah mengantuk, makin saja mengantuk Mika mendengar perkataan Jeff. Akan sesibuk apa Jeff jika dia bilang seperti ini.


Jeff menatap ke arah Mika yang kini memejamkan mata di hadapannya, Jeff yakin dia sedang merajuk sekarang. "Kenapa."


"Gapapa ngantuk aja, soalnya kamu bilang bakalan sibuk beberapa bulan ke depan. Kamu gak sibuk aja udah jarang di rumah apalagi sibuknya ya," gumam Mika.


"Ya sabar, aku mau kehidupan kamu terjamin."


"Tapi hatinya gak terjamin aman. Ngebatin."


Jeff terkekeh, ada saja lontaran dari mulut Mika memang. Tapi ya bagaimana, dia sudah membuat banyak planning kerja sama yang harus dia realisasikan sebagai goals dalam kariernya.


"Kembali tidur di kamar, kamu masih butuh perawatan sampai sembuh."

__ADS_1


"Mau di sini aja, nemenin kamu. Kali aja kamu butuh hiburan jadi sebagai istri yang baik dan berbakti pada suaminya ada aku buat hiburannya," ucap Mika asal.


"Memang kamu akan melakukan apa jika aku butuh hiburan?"


"Wajah aku cantik gini udah cukup bikin kamu terhibur seharusnya. Jadi aku dengan senang hati menghibur kamu malam-malam begini, biar bisa cuci mata juga," kata Mika dengan percaya diri.


"Yang ada makin tidak selesai apa yang sedang aku kerjakan."


"Kenapa?"


"Mau terkam kamu detik ini juga."


Mika memutar bola matanya malas, tidak akan benar memang mengajak Jeff bicara apalagi tengah malam begini. Urusannya kalau tidak soal bercinta ya apalagi. Mika jadi berpikir, apakah hiburan untuk orang dewasa seperti ini ya? Padahal hiburan Mika itu simpel, melihat wajah Jeff saja sudah hiburan.


Akhirnya Mika memilih tidur saja di sana, biar Jeff juga ada kerjaan untuk memindahkannya.


.


.


.


"Kamu makan ya yang banyak, biar cepet pulih. Kamu sedang hamil, gak baik kalau sakitnya kelamaan. Luka kamu juga nanti biar mama atuh ya yang obatin," ucap Mona.


"Makasih ya, Mas. Sebenernya mama istirahat aja loh, Mika bisa mempersiapkan sediri. Cuma lemes sedikit aja," kata Mika.


"Gak ada, selama kamu belum pulih biar Mama yang urus kamu. Kamu kan juga anak mama," balas Mona sambil tersenyum.


Mika mengangguk, dia beruntung sekali memiliki Mona sebagai Ibu mertuanya. Selain perhatian, Mona juga menganggapnya seperti anak, bukan menantu. Ya sedikit membuat rasa rindu Mika terobati pada Ibunya.


Saat Mika sedang asik memakan makanannya, tiba-tiba seorang pelayan datang dengan panik karena ada seseorang yang memaksa masuk ke dalam mansion.


Mendengar itu Mona dan Mika langsung ke depan dan melihat apa yang terjadi. Mika terkejut sih melihatnya, perlahan dia memundurkan langkahnya. "Tante ... Om?"


Yuda dan Lyra kini berlari ke arah Mika, mereka langsung bersujud di kaki Mika dengan wajah yang memelas. Mika tidak bisa berbuat apa-apa sama seperti sebelumnya.

__ADS_1


"Tante sama Om minta maaf, Mik. Tapi tante mohon izinkan Om tetap menjalankan perusahaan papa kamu. Kalau tidak, kami bagaimana?" Ucap Lyra dengan tangis yang sudah memenuhi wajahnya.


"Om juga minta maaf sama kamu, Mik. Om selama ini sudah tamak dan bersikap tidak adil pada kamu. Om khilaf, tolong jangan hukum kami seperti ini. Kamu apa? Mau tampar Om? Atau pukul Om? Om akan terima asalkan kamu membiarkan kami tetap hidup berkecukupan."


Mona yang memang sudah mengetahui semuanya geram, dia melepaskan tangan mereka dari kaki Mika dan menyuruh beberapa pengawal untuk melindungi Mika.


"Apa-apaan kalian?! Kalian pikir kalian bisa dengan mudah mengintimidasi menantu saya?! Kalian itu kejam, jahat! Sekarang terima akibat dari perbuatan kalian!"


"Nyonya, saya dan istri saya mengaku salah. Kami akan memperbaiki sikap kami kepada Mika. Mika hanya memiliki kami sebagai satu-satunya saudara dekat," ucap Yuda.


"Tidak, sekarang Mika memiliki kami. Jadi dia tidak butuh kalian! Pergi sekarang sebelum saya seret dengan paksa!"


"Tidak, kami akan-"


"Akan apa?" Suara barithon itu seolah menginstruksi semua orang menatap ke arahnya. Jeffrico ditemani oleh Gerda kini memasuki mansion dengan tatapan tajamnya.


"Apa perlu saya memblacklist nama anda berdua di semua perusahaan?" Tanya Jeff.


Mereka terdiam, Jeff hanya tersenyum licik. Salah mereka jika bermain-main dengan Jeff. "Saya masih berbaik hati agar kalian bisa mencari kerja dimana pun setelah ini. Jadi pergi sebelum saya berubah pikiran!"


Lyra dan Yuda dengan berat hati harus meninggalkan mansion keluarga Dirgantara. Sementara Mika masih mematung karena dia memang tidak mengerti apa yang terjadi. Dia tidak tau apa yang membuat kedua orang itu sampai memohon padanya.


"Mas, ada apa?" Tanya Mika yang kini menatap Jeff tak mengerti.


Jeff mengulurkan tangannya ke belakang pada Gerda, setelah itu Gerda memberikan beberapa berkas pada Jeffrico. Perlahan Jeff melangkahkan kakinya ke hadapan Mika. "Tadinya aku mau hancurin perusahaan mereka, tapi itu perjuangan papa kamu untuk kamu. Jadi sejak kemarin kami berusaha mendapatkannya kembali. Karena surat-surat yang asli di palsukan atas nama mereka."


"Ini milik kamu." Jeff mengulurkan semua berkas dan aset perusahaan Milik orang tua Mika.


Mika gemetar sih menerima berkas-berkas itu, dia tidak percaya kalau Jeff melakukan itu untuknya. Padahal semalaman dia marah karena Jeff sibuk bekerja, ternyata dia memperjuangkan ini untuknya.


Mika langsung berhamburan memeluk Jeff, tidak peduli jiga dengan infus yang masih menempel di tangannya, rasanya dia senang sekali. Apa yang dia punya kembali padanya, tapi yang paling penting untuk Mika adalah perjuangan papanya ini sekarang ada di tangannya. Mereka pasti tenang sekarang.


"Makasih, Mass. Aku gak tau harus bilang apalagi sama kamu, aku berhutang banyak sama kamu," ucap Mika di sela isakannya.


Jeff membalas pelukan Mika, dia hanya mengangguk dan mengusap pelan rambut istrinya itu. Begitu juga Mona yang kini mengusap punggung Mika. "Sudah sayang, jangan berterima kasih, ini semua memang milik kamu. Jeff hanya perantaranya saja. Kamu memang berhak."

__ADS_1


Sungguh, Mika tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya ingin memeluk Jeff sekarang untuk menikmati perasaan campur aduk yang sedang dia rasakan sekarang.


__ADS_2