
Jeff aneh sudah semalaman Mika diacuhkan, padahal Mika sudah beberapa kali membujuk tapi pria itu tetap diam. Bukannya dia yang harus marah ya karena kemarin ditinggalkan begitu saja?
Pagi ini seperti biasa mereka sedang sarapan di bawah. Tidak ada Selena kali ini, karena beberapa hari ini Selena pergi sangat pagi sekali dan tidak bisa ikut sarapan.
"Selena kemana?" Tanya Jeff pada Ibunya.
"Katanya harus ke perpustakaan pagi sekali untuk mencari referensi buku, biasalah akhir-akhir adikmu itu lagi giat-giatnya ke kampus," jawab Mona.
Jeff hanya mengangguk-nganggukkan kepalanya. Sementara Elang kini menatap ke arah Mika. "Udah mendingan kamu, Mik?"
"Udah, Kak. Pas kemarin pake kantong hangat itu gak keram lagi, ya sedikit-sedikit ada tapi gak lama kok," jawab Mika yang membalas dengan senyum.
Belum juga selesai dengan perkara tadi malam, kini Jeff harus melihat keakraban Elang dan Istrinya. Dia menghela napas, ya Jeff mana mau terus terang kalau dia sekarang sedang merasa panas karena ulah Elang dan Mika.
"Oh yaudah nanti kalau butuh apa-apa panggil aja, aku gak ada jadwal kuliah kok," kata Elang berbaik hati.
"Oh oke deh, Kak nanti-"
"Kamu ikut aku ke kantor," ucap Jeff tiba-tiba.
"Loh kenapa emang di kantor ada apa, Mas?" Tanya Mika, lagian memang tidak ada tempat lain apa selain di kantor? Pasti sangat membosankan di sana.
"Iya emang ada apa, Jeff?" Tanya Mona keheranan.
"Bawaan anak."
Mika mengerutkan dahinya, masa sih? Perasaan dia tidak ngidam aneh-aneh, apa Jeff yang ngidam? "Kamu ngidam kah? Soalnya aku gak ngerasa mau ikut kamu ke kantor."
"Ya ikut aja, naluri seorang ayah," ucap Jeff asal.
"Enggak loh! Lagian aku ngapain ikut kamu ke kantor kaya gak ada kerjaan, gak mau!" Kesal Mika.
"Ikut, aku gak suka dibantah."
Mika menghela napasnya, ada apasih dengan Jeffrico pagi ini? Aneh sekali memang om-om yang satu ini. Inginnya selalu dimengerti, tapi tidak bisa mengerti orang lain. Bikin kesal saja jadinya. Jadi dia hanya mengiyakan saja, daripada dia bertengkar dengan Jeff di meja makan.
Setelah selesai makan, benar saja Jeff langsung menggenggam tangan Mika dan menariknya lembut untuk ikut bersamanya.
__ADS_1
"Mas aku males kemana-mana asli, aku di rumah aja ya. Masa seharian liatin kamu kerja aku pusing nanti," rengek Mika.
Jeff tidak mendengarkan dan langsung saja membukakan pintu untuk Mika. Membuat gadis itu menggerutu kesal karena merasa tak didengarkan.
"Mass!!!" Ucap Mika sedikit meninggi.
"Di ruangan aku ada kamar pribadi, kamu kan bisa di sana." Akhinya satu kalimat keluar dari mulut Jeff dan bersamaan dengan itu Gerda melajukan mobilnya.
"Ya kalau di ruangan kamu aku tidur, mending aku di rumah. Ada hiburan juga main PS sama Kak-"
"Jangan bicara soal Elang saat kita berdua."
Mika jadi memikirkan sesuatu. "Kamu cemburu ya?" Mika mendekatkan wajahnya pada Jeff.
"Gak."
"Eemmmmm bohong, ngaku. Kamu pasti cemburu karena panas liat aku sama Kak Elang," goda Mika lagi.
"Gak Mik. Jangan sebut nama Elang!"
Namun Mika adalah Mika. Menurutnya adalah larangan sama dengan perintah. "Kak Elang, Kak Elang, Kak Elang, Kak Elang."
Jeff menarik napasnya kasar, apa menikah dengan bocah seperti ini ya? Berisik sekali, langsung saja dia menyerang bibir Mika. Tidak peduli ada Gerda di sana dia tetap menyesap bibir itu lalu mengigitnya pelan.
"Mas!"
"Itu hukuman kamu karena gak bisa dibilangin."
Mika mendengus kesal, akhirnya dia memilih bungkam dan mengalihkan pandangan ke luar jendela. Susah memang memiliki suami yang pikirannya di luar nalar seperti Jeffrico.
.
.
.
Sudah Mika bilang, menemani Jeff di kantor hanya akan membawa dirinya dalam kebosanan. Dia sedari tadi sibuk menonton dan Jeff sendiri sibuk dengan pekerjaannya.
Sesekali dia memperhatikan Jeff yang sedang bekerja, duduk di kursi CEO sambil sesekali membenarkan dasi yang sedang dia pakai. Sudah persis sekali dengan CEO yang sering dia baca di novel-novel.
__ADS_1
"Mas kamu kok ganteng?" Tanya Mika random.
"Dari dulu."
Mika sedikit mencibir, memang selain menyebalkan Jeff ini percaya dirinya tinggi sekali. Untung saja dia memang tampan, kalau tidak ya mika akan mengumpat habis-habisan.
Tiba-tiba pesanan Mika datang, sekretaris Jeff sendiri lah yang membawakan semua yang Mika pesan ke hadapannya.
"Makasih Mba Nana," ucap Mika sambil tersenyum manis.
"Iya sama-sama, Nona Muda. Apa ada yang ingin diinginkan lagi?" Tanya Nana.
"Gak ada kok, Mba."
Menurut Nana, Mika sangat lucu. Dia seumuran dengan adiknya. Herannya kenapa dia mau menikah dengan bossnya. Memang tampan sih tapi mereka terpaut jauh usianya. Apalagi Nana tau keseharian Jeff ya begini. Sibuk dengan pekerjaannya sebagai CEO.
Setelah Nana berpamitan, Mika fokus dengan makanan yang dipesannya. Jeff tidak mau makan, yasudah biar dia saja yang menghabiskannya sendiri. Lagi pula kalau Jeff lapar dia katanya akan meminta sendiri. Jadi yasudah, terserah Jeff saja maunya bagaimana.
"Kamu gak akan kekenyangan makan sebanyak itu?" Tanya Jeff yang keheranan, pasalnya Mika banyak sekali membeli makanan. Memang perutnya akan kuat?
"Engga, kalau kekenyangan gak akan sakit. Paling gak bisa bangun, coba kalau kelaparan kaya kamu, nanti jatuhnya sakit. Nanti siapa yang rawat? Mika lah," cibir Mika.
"Ya kalau bukan kamu siapa? Kamu istri aku," ucap Jeff realistis.
"Ya salah, harusnya kamu mulai sadar sama kesehatan. Mikir kalau sekarang kamu ada istri, gak mau bikin dia kecapean, gak mau istrinya khawatir, atau gimana kek."
"Biar kamu ada kerjaan."
"Ck susah emang punya suami gak ada romantis-romantisnya," celetuk Mika sebal. Memang Jeff saja yang tidak memiliki effort sebesar itu untuknya. Padahal menurut Mika mudah.
"Makanya kamu jangan kebanyakan baca novel atau nonton drama. Di dunia nyata suaminya kaya aku, kamu harus kembali ke dunia nyata," peringat Jeff.
"Dih nyalah-nyalahin. Harusnya kamu belajar, Mas biar bisa treat istrinya like a queen. Cewek tuh suka diromantisin, nih aku gak akan kode-kodean aku bilang langsung!"
"Buat apa? Nanti aku romantis kamu ketar-ketir."
Mika membulatkan matanya, menatap Jeff yang kalau bicara sekenanya sambil tetap berpokus pada pekerjaannya. Memang super duper menjengkelkan. Tapi ya memang benar juga.
Jeff menciumnya saja dia sudah gemetar, belum lagi jika Jeff menyentuhnya. Mika menggelengkan kepalanya pelan. Memang Jeff ini perusak imajinasi saja. Jeff melirik Mika yang sudah terkoneksi dengan alur yang dia bawa. Salah sendiri sih Mika memancing seorang Jeff, pada akhirnya dia juga yang kelimpungan.
__ADS_1
"Kenapa? Aku benar?" Jeff mengeluarkan smirknya, jujur Mika seram melihat itu.
Mika langsung saja menyuapkan eskrimnya, pasalnya dia tau obrolan ini akan bermuara di mana nantinya jika bicara dengan Jeff yang memang tidak bisa nyambung jika diajak bicara seperti ini.