
Mika dan Jeff berada di kamar mereka, setelah selesai makan malam memang mereka langsung pergi ke kamar untuk beristirahat. Sembari menunggu Jeff dari kamar mandi, Mika mengambil kembali berkas-berkas yang tadi sore Jeff berikan.
Dia duduk di tepi ranjang sembari memperhatikan map-map yang cukup tebal itu. Saat Jeff keluar dari kamar mandi, dia menatap Mika yang sepertinya masih nampak kebingungan soal ini. Ya bagaimana pun dia masih remaja, mana paham Mika soal perusahaan atau surat-surat seperti itu.
Jeff menghampiri Mika dan berdiri di hadapannya. "Ada apa?"
Mika mengadahkan kepalanya dan menatap Jeffrico. Perlahan dia berdiri dan kembali menyerahkan berkas itu pada Jeff. Membuat Jeff tidak mengerti juga apa yang ingin dia lakukan. "Kenapa?"
"Aku gak paham soal perusahaan, aku juga gak ngerti bagaimana menjalankannya."
"Bisnis papa kamu sukses dan termasuk salah satu perusahaan besar. Kamu akan mengembalikannya pada mereka?"
Mika menggeleng, bukan itu maksud Mika. Ya walaupun sebenarnya dia tidak tega membiarkan anggota keluarganya susah, tapi sejujurnya Mika bukan malaikat yang akan mudah memaafkan begitu saja atas apa yang terjadi.
"Aku mau kamu aja yang jalanin perusahaan Papa aku. Kamu suami aku, kamu juga CEO ternama, aku gak ngerti bagaimana nanti kamu akan menjalankannya, tapi aku tau kamu pasti bisa aku percaya," ucap Mika.
"Ini milik kamu, aku tidak akan menganggu gugat apa-apa yang menjadi milik kamu. Apalagi ini tanggung jawab besar karena perusahaan Papa kamu juga nilainya tidak sedikit," jelas Jeff.
"Aku yakin kamu lebih bisa menjalankannya, Mas. Kalau kamu serahin ke aku, aku harus gimana? Aku gak ngerti."
"Bagaimana kalau setelah anak kita lahir, aku ajarkan kamu menjalankann perusahaan. Perusahaan Papa kamu akan tetap ada dengan namanya, tapi untuk sekarang dalam naungan Dirgantara Group?"
Mika mengangguk. "Aku gak paham, tapi aku serahin semuanya sama kamu."
Jeff menerima berkas-berkas dari Mika. Meskipun ini sebenarnya berpeluang membuat perusahaannya semakin besar, tapi Jeff tidak serakah. Dia tidak mau mengambil alih apapun apa-apa yang sudah menjadi hak Mika. Dia akan menghargai usaha dan kerja keras mertuanya.
Mika jadi lega sih setelah memberikan semuanya pada Jeff, setidaknya sekarang semuanya berada di orang yang tepat. Meskipun Jeff juga masih terlalu asing, tapi untuk sekarang memang hanya Jeff lah yang bisa dia percaya.
__ADS_1
"Ya sudah sekarang kita tidur, kamu butuh istirahat. Aku juga besok masih kerja," ucap Jeff.
"Besok aku cek kandungan, kamu bisa temenin?" Tanya Mika dengan wajah yang memelas.
"Maaf, Mik. Sepertinya besok akan banyak pekerjaan, jadi tidak bisa. Tapi aku akan kirim pengawal untuk mengantar kamu ke rumah sakit agar selamat."
Mika menghela napas, setelah apa yang Jeff lakukan untuknya hari ini, dia jadi tidak bisa marah. Padahal dia berharap sekali kalau besok Jeff bisa menemaninya cek kandungan. Karena selama kehamilannya, Jeff belum pernah mengantarnya sama sekali. Tapi yasudah, mungkin memang sebatas ini saja yang bisa Jeff berikan.
.
.
.
Siang ini Jeff mengantar Mika ke rumah sakit, ini adalah rutin kontrol Mika setiap satu bulan sekali. Sebenarnya Jeff tidak bisa, tapi Mika memelas dan datang ke kantor Jeff secara langsung. Dia bilang pada Jeff kalau hanya meminta waktunya 1 sampai 2 jam saja.
Karena Jeff tidak mau semakin pusing dengan rengekan Mika, akhirnya dia mengiyakan Mika untuk menemaninya ke rumah sakit. Memang kalian pikir Mika akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan? Salah besar, semalaman dia sudah merencanakan bagaimana caranya membuat Jeff mau mengantarkannya untuk cek kandungan dan rencananya sukses!
"Sekarang kita USG ya, Pak, Buk," ucap sang dokter.
Mika dan Jeff hanya mengangguk, ini pertama kalinya Jeff menemani Mika cek kandungan. Apa tidak senang Mika kalau seperti ini. Jeff yang menghamilinya, tentu harus dia juga yang bertanggung jawab menemaninya seperti ini.
"Mas ini mau di cek jenis kelaminnya, kamu mau cewek atau cowok?" Mika mencoba mengajak Jeff interaksi, ya Jeff sangat kaku sih. Seharusnya dia antusias ya mengantarkan istrinya pertama kali cek kehamilan, ini malah kaku seperti kanebo kering.
"Apa saja yang ada," jawab Jeff enteng.
"Mas ini kita mau diskusi soal anak, bukan belanjaan! Masa apa aja yang ada," kesal Mika. Ya Mika bebas mengomel sekarang, karena dokternya sedang bersiap-siap di ruangan lain.
"Apa saja Mika, mau dia laki-laki atau perempuan dia akan lahir sebagai anak aku."
__ADS_1
"Ya kali aja kan kamu punya keinginan!"
"Tidak ada."
Wajah Mika sudah sangat bete, Jeff yang melihat itu sepertinya menyadari kalau ada yang salah dari ucapannya. "Maksudnya aku akan mensyukuri apapun jenis kelamin anak kita. Karena yang terpenting dia lahir dengan selamat dan bisa ketemu aku," ucap Jeff meralat ucapannya.
Mika mengulum senyumnya, setelah itu memalingkan wajahnya. Ya dia salting dengan ucapan Jeff, tapi terlalu gengsi karena sudah bete duluan.
Dokter datang, setelah memakai peralatan steril dokter mulai melakukan USG. Jeff dan Mika dengan seksama mendengarkan penjelasan dokter megenai anak mereka. Ternyata bayi yang Mika kandung juga berjenis kelamin laki-laki.
Mika berbinar sih, walaupun sebenarnya dia ingin anak perempuan. Tidak masalah jika memang laki-laki. Dia hanya berharap, semoga anaknya mewarisi ketampanan Jeff tapi tidak dengan sikap cueknya Jeff. Dia ingin anaknya tumbuh dengan kebaikan dan menjadi sosok yang hangat pada sekitarnya.
Meskipun Jeff hanya diam, tapi sebenarnya Jeff memperhatikan layar monitor dengan seksama. Sesekali dia kagum, karena ternyata perut Mika yang sekecil itu bisa terisi seorang bayi. Ajaib ternyata. Ada perasaan berdesir pada darahnya ketika melihat secara langsung anaknya yang masih di dalam kandungan Mika. Tapi dia tidak bisa mengungkapkan apapun selain sesekali tersenyum tanpa sadar.
Karena pemeriksaan sudah selesai, Mika jadi menatap Jeff. Jeff yang merasakan dirinya di tatap malah keheranan, Mika memandangnya seperti penuh harap. Dia juga seperti menelisik ke arah wajah Jeff. Jeff kan jadi merasa salah tingkah. "Kenapa liatin kaya gitu?"
"Anak kita pasti mirip papanya," ungkap Mika secara tiba-tiba membuka suara.
"Kalau mirip Elang akan aneh," jawab Jeff logis, ya kalau mirip orang lain justru dia akan curiga, kan? Memang aneh sekali Mika kalau bicara.
"Gak gitu maksudnya, apasih kok jadi kak Elang. Ya maksud aku dia nanti akan mirip kamu banget sesuai harapan aku, tapi aku gak mau dia kaya kamu juga," kata Mika jujur.
"Maksudnya?" Tanya Jeff tak mengerti dengan ucapan Mika.
"Wajahnya boleh mirip kamu karena kamu tampan, tapi aku gak mau dia jadi orang yang sulit buat mamanya jangkau. Kaya papanya." Mika berucap dengan senyum getir. Tapi dia langsung mengalihkan pandangannya pada perut yang kini sudah mulai membesar. Ya, ini namanya harapan seorang Ibu untuk anaknya kelak.
Katanya bayi akan mendengarkan setiap orang tuanya bicara meskipun masih di dalam perut. Jadi Mika selalu berusaha memberikan afirmasi positif sejak anaknya masih dalam kandungan, karena dia mau nanti anaknya terlahir dengan sisi positif juga.
Jeff terhenyuk sih dengan apa yang Mika katakan, tidak tersinggung juga. Karena ya apa yang Mika katakan benar. Tapi di balik harapan Mika dia juga mengaminkan. Dia juga tida ingin kalau anaknya seperti dia.
__ADS_1
Hidup dalam rasa bersalah dan penghukuman atas apa yang terjadi dalam hidupnya.