
Hari ini Mika memutuskan untuk tidak ke sekolah, ya memang tidak terlalu penting juga. Dia memilih untuk mengunjungi makam kedua orang tuanya. Biasanya Mika memang selalu ke sini setiap seminggu sekali untuk mengganti bunga yang sudah layu.
Namun langkahnya terhenti ketika melihat bunga di sana sudah terganti menjadi baru dan segar. Sepertinya baru hari ini, tapi siapa yang mengunjunginya?
Ayahnya hanya memiliki satu adik dan yang sekarang mengambil alih perusahaan. Keluarga dari Ibunya juga tidak mempedulikan Mika dan tinggal di Ibu Kota.
"Siapa yang ganti bunga di kuburan mama dan papa ya?" Gumamnya perlahan.
Tidak ingin ambil pusing, Mika kini duduk di antara kedua makan itu dan membuka buku Yasin nya. Katanya hadiah terbaik untuk orang tuanya sekarang adalah sebuah do'a jadi sering mengaji juga di sana.
Mika merindukan kedua orang tuanya, sampai-sampai air mata turun begitu saja di pipinya. Setelah selesai mengaji dan berdo'a kini Mika menyiramkan air do'a dan juga menabur bunga yang dia bawa.
"Pa, Ma. Mika gak kuat sebenernya," ucap Mika yang kini menenggelamkan wajahnya di telapak tangan.
Hanya ungkapan sederhana yang dia ucapkan namun siapapun yang mendengarnya akan terhenyuk. Apalagi mengetahui kehidupan apa saja yang dia hadapi setelah ditinggal kedua orang tuanya.
Sebuah sapu tangan terulur di hadapannya, membuat Mika mengadahkan wajah pada pria jangkung di hadapannya. Moodnya yang tidak baik, membuat dirinya semakin tidak baik-baik saja. Dan lagi kenapa dia bisa ada di sana? Jadi Mika benar-benar dimata-matai?
Dengan sekejap Mika menyeka air matanya sendiri dan menolak sapu tangannya yang Jeff berikan. Dengan tegak dia berdiri menatap Jeff tajam. "Mau apalagi, Om?"
Jeff menghela napas dan kembali menyakukan sapu tangan miliknya. "Ikut saya."
"Gak bisa, saya harus pergi kerja." Mika mengambil Tasya lalu berjalan melewati Jeff, namun Jeff dengan cepat menahan lengannya.
"Kamu tidak perlu lagi kerja di sana."
Mika berbalik dan menatap pria yang kini masih menatapnya dengan datar. "Kenapa? Apa karena sekarang cafe itu milik Om jadi Om mau pecat saya?"
"Kamu calon istri saya, kamu tidak perlu lagi bekerja."
Mika memejamkan matanya sejenak, jika dia mampu sudah bisa dipastikan kalau Jeff akan dia pukul habis-habisan. "Biarin saya menentukan apa yang mau aku jalani, Om! Om gak berhak untuk itu."
__ADS_1
"Saya berhak dan mulai sekarang kamu saya pecat."
"OM!"
Jeff menarik tangan Mika dan membawanya masuk ke dalam mobil. Meskipun gadis itu terus berontak Jeff tidak ingin ribet apalagi mendengar ocehan Mika yang membuatnya sakit kepala. Dia tidak memiliki banyak waktu karena sekarang dia meninggalkan beberapa pekerjaannya.
"Kenapa sih jadi orang pemaksa banget?"
"Kenapa kamu tidak menurut saja?" Ucap Jeff berbalik.
"Terserah deh Om. Susah ngomong sama orang tua," umpat Mika.
"Saya dengar."
"Baguslah kalau denger, biar sadar diri," ketus Mika yang memang sedang menyindir umur Jeff yang sudah tua tapi ingin menikah dengannya yang masih remaja.
.
.
.
"Kamu suka yang mana untuk tema dan dekorasinya?" Tanya Jeff.
Mika berdecak dan mengangkat bahunya tak acuh, kenapa harus bertanya padanya? Yang menginginkan pernikahan ini kan Jeff, jadi seharusnya dia saja yang mengaturnya. Mika sih tidak mau ikut campur dan merepotkan dirinya sendiri.
Jeff menghela napasnya, dia yang lebih dewasa di sini, bukan? Jadi dia harus ekstra sabar menghadapi bocah ingusan seperti Mika.
"Mika ..."
Mika melirik sinis ke arah Jeff, kalau itu mau Jeff ya sudah. Dia tidak tau saja sedang berhadapan dengan si Mika keras kepala. "Yang paling mahal, yang paling mewah dan gak pernah dibuat di pernikahan orang lain. Harus khusus, temanya royal wedding!"
Mika merasa puas dalam hatinya, mari kita buat Jeff sendirilah yang membatalkan pernikahan mereka karena pusing dengan ulahnya.
__ADS_1
"Kalian sanggup?" Tanya Jeff pada tim WO mereka. Tentulah itu bukan tamparan keras untuk seorang Jeffrico, dia akan mengeluarkan berapapun asal mereka menyanggupi. Salah sebenarnya kalau Mika menantang soal uang pada Jeff.
Mereka nampak cukup kaget sebenarnya, tapi mengingat Jeff adalah CEO ternama ya mereka tidak heran dan akhirnya menyanggupi. "Siap, Pak. Akan kami usahakan sebaik mungkin. Lalu untuk catering bagaimana?'
Jeff kembali menatap Mika yang kini fokus pada ponselnya. Sengaja sih memang ingin membuat Jeff kesal sendiri melihat tingkahnya yang seenaknya.
"Siapkan menu terbaik kalian," ucap Jeff. Tidak ada bedanya juga jika dia mengajak bicara, pasti jawabannya akan sama seperti ini. Nasib menikahi seorang remaja ya begini. Mereka mengutamakan emosi dan tidak bisa diajak diskusi.
Setelah selesai dengan Wedding Organizer, mereka tidak langsung pulang. Mereka sekalian makan siang di sana, sebenarnya juga mereka butuh pendekatan untuk saling bicara sebelum menikah. Itulah saran yang diberikan Gerda pada Jeffrico.
"Kamu harus banyak mengalah pada Selena kedepannya," ucap Jeff yang otomatis membuat Mika berhenti menyantap makanan miliknya.
"Kenapa? Dia adek kamu Om, bukan adek aku!" Tegas Mika.
Jeff menghela napasnya, dibutuhkan kesabaran tingkat tinggi menghadapi remaja yang ada di hadapannya. "Kamu calon kakak iparnya."
"Jangan atur! Kalau Om mau menikah sama aku, jangan pernah atur aku soal apapun. Aku udah bilang, kalau aku gak suka diatur!" Bagaimana bisa Jeff memintanya untuk berdamai dengan Selena. Dia sebenarnya tidak ada masalah dengan Selena, tapi sikapnya yang di luar batas tentulah tidak bisa Mika toleransi.
"Kamu juga lupa saya tidak suka dibantah?" Tanya Jeff santai dan kembali fokus pada makanannya.
Mika jadi tidak berselera makan, apa semua keinginan pria dewasa ini harus dia ikuti? Apa karena dia memiliki segalanya jadi Mika harus menuruti?
Mika mengeluarkan dompet dan mengambil beberapa lembar uang seratus ribu. Biarkan saja uang gajinya habis untuk ini. Dia tidak mau berlama-lama bersama pria pemaksa. "Terserah, aku mau pulang dan jangan larang atau susul aku!'
Setelah membayar bill, Mika beranjak dari tempat duduknya lalu meninggalkan Jeff di sana yang sekali lagi harus menghela napasnya melihat kelakuan Mika. Niatnya hanya ingin menyatukan Mika dan Selena, namun ya dia sedikit menyadari kalau dia salah langkah.
Mika memilih berjalan kaki di trotoar, meskipun jauh ya sudah uangnya juga habis karena sok membayar bill di resto mahal itu. Dia juga butuh waktu untuk sendirian sebenarnya. Kalau orang tuanya ada di sini, pasti dia tidak akan menikah dengan Jeff dan kalau orang tuanya ada di sini tidak mungkin banyak orang yang berperilaku seenaknya di hidup Mika.
Hidup memang terkadang tidak pernah adil untuk orang-orang yang lemah seperti dia. Kalau dikeluhkan juga tidak akan cukup hanya di gambarkan satu bab novel. Sungguh, semuanya bersatu padu di dalam pikiran Mika sekarang. Kalau orang-orang bahagia menyambut pernikahannya, itu tidak berlaku pada Mika.
Mika tidak mencintai seorang Jeffrico dan dia juga tau kalau Jeff melakukannya hanya karena kewajiban untuk menikah di usianya yang sudah dewasa. Memangnya bisa ya kedua orang asing menjalani hubungan yang dinamakan pernikahan?
Sampai akhirnya dia tidak sadar kalau hujan mulai turun dan semakin lama semakin deras. Untuk sesaat Mika berhenti, merasakan air yang membasahi tubuhnya tanpa permisi. Tanpa niat berteduh, Mika malah kembali melangkahkan kakinya dan memilih untuk menikmati guyuran air hujan.
__ADS_1