10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Rasa Kecewa


__ADS_3


Hari-hari mereka jalani sebagai sepasang suami istri. Mika merasa hari-harinya tidak ada yang spesial, sementara Jeff merasa kalau dia telah memberikan semua kebahagiaan untuk Mika. Memang sih Mika tercukupi, apalagi dia diberi sebuah blackcard. Namun bukan itu yang dia butuhkan.


Tapi hari ini tidak biasanya Jeff mengajak Mika untuk makan di luar, karena ini weekend jadi dia tidak pergi ke kantor. Mika pada awalnya senang saat diajak pergi bersama, tapi nyatanya meskipun Jeff libur pun dia tetap fokus pada layar di hadapannya.


"Kita pulang aja gak sih?" Ucap Mika tiba-tiba.


"Kenapa?" Tanya Jeff sembari memalingkan wajahnya pada sang istri.


"Ya pulang aja. Mau keluar atau di rumah pun sama aja rasanya. Sama-sama sunyi," jawab Mika jujur.


Jeff menghela napas, rupanya gadis kecilnya ini sudah bisa protes sekarang. Dia menarik Mika ke dalam pelukannya lalu mengecup puncak kepala istrinya itu dengan lembut. Namun tetap saja pandangannya terfokus pada layar yang masih setia di tangannya.


Mika terdiam, dia marah sebenarnya. Tapi entah kenapa saat Jeff menyentuhnya dia seolah tak bisa berkutik. Dia mendadak menjadi pendiam saat Jeff sudah melakukan itu.


"Aku ada project besar dengan La Défense, jadi harus tetap memonitoring progressnya."


Jawaban dari Jeff tidak ada pengaruhnya pada Mika. Seorang presiden saja mampu untuk meluangkan waktunya. Kenapa Jeff tidak? Bahkan di saat-saat seperti ini pun Mika hanya sebuah pajangan saja sepertinya.


Mereka sampai di sebuah resto yang memiliki pantai buatan, berhubung di kota ini tidak ada pantai jadilah Jeff mengajaknya ke sini. Karena kalau ke luar kota Jeff besok masih harus bekerja. Mika sangat suka di sini. Melihat pemandangan pantai sambil memakan pasta kesukaanya.


Jeff yang memandangi wajah senang istrinya hanya sedikit menipiskan bibirnya. Ternyata kebahagiaan istrinya ini sangat sederhana. "Kamu suka?"


"Suka, aku suka pantai. Kamu suka, Mas?" Tanya Mika.


"Aku lebih suka liat kamu gak pake apa-apa," jawabnya santai. Mika menelan ludahnya kasar, bukan pertama kalinya memang Jeff berkata ngawur saat ditanya. Tapi apa pembahasan setelah menikah memang seperti ini ya?

__ADS_1


"Porno!" Kesal Mika.


"Kamu nanya, aku hanya menjawab sesuai pertanyaan kamu," ucap Jeff yang kembali menyuapkan makanannya.


"Tapi maksud aku bukan gitu! Lagi di pantai juga," kesal Mika yang menyuapkan kembali pasta miliknya.


"Bagus juga di pantai, mau sewa private beach untuk coba hal baru?" Tanya Jeff.


Mika lagi-lagi mendengus, percuma meladeni Jeff. Jawabannya tidak akan pernah sinkron dengan apa yang Mika pikirkan. Resiko dia juga sih menikah dengan pria dewasa. Jeff hanya terkekeh melihat respon Mika, tapi inilah pernikahan. Dia harus belajar dan realistis.


Tak selang beberapa lama Jeff izin mengangkat telfon dari salah satu staffnya, Mika hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Jeff sedikit menjauh, Mika tidak curiga juga karena di ponselnya tertera nama Bian di sana. Berarti dia pria.


Beberapa menit berlalu, dia merasa Jeff sangat lama. Saat melihat ke arah Jeff berada, dia malah berdecak karena ternyata dia sedang mengobrol dengan seorang pria paruh baya.


Mika masih bersabar menunggu mereka selesai bicara, dia juga tidak ada niat menghampiri. Sepertinya sangat penting. Sampai akhirnya dia muak sendiri karena 1 jam menunggu Jeff yang tidak selesai-selesai.


"Yang lagi bicara sama Mas Jeff itu siapa?" Tanya Mika.


"Salah satu investor Dirgantara Group, Nona," jawab Gerda jujur.


"Jadi mereka membicarakan soal pekerjaan gitu?" Tanya Mika jengkel.


Gerda mengangguk, membuat emosi yang Mika tahan seketika malah bertambah. Jadi dia mendiamkan Mika menunggu 1 jam di sini hanya demi bicara dengan seorang investor yang sering dia temui juga? Setidak berharga itu kah Mika untuk Jeffrico?


Mika menarik napasnya dalam, dia berusaha menahan tangisnya dan berdiri menatap Gerda. "Kalau Mas Jeff tanya, bilang aku bisa pulang sendiri."


"Jangan, No-"

__ADS_1


"Persetan sama semuanya, aku mau pulang! Jangan ikutin aku!" Ancam Mika yang kini sudah meninggalkan Gerda di sana.


Gerda mengehela napas, harus dia akui sih kalau kali ini Jeff keterlaluan. Siapa yang akan tahan jika didiamkan terus menerus dengan urusan pekerjaan? Dia jadi serba salah, harus menahan Mika atau tidak. Tapi dia menuruti kata Mika agar tidak mengejarnya, itu adalah perintah dan pasti gadis kecil itu butuh ruang sendiri.


Mika mengehentikan sebuah taksi dan bergegas masuk ke sana. Seketika air matanya tumpah ruah. Apa dia egois ya jika meminta waktu Jeff sebentar saja?


Dia benci dengan dirinya yang seperti ini. Bukannya kalau begini sama saja dia mengemis perhatian dari seseorang ya? Namun rasanya sakit sekali. Mika menggeleng beberapa kali, apa yang dia lakukan ini salah. Dia sejak awal sudah memperingatkan dirinya untuk tidak menyentuh kehidupan seorang Jeffrico, tapi berjalannya waktu dia malah mencoba membuka lembaran demi lembaran kehidupan Jeffrico.


"Lo gak boleh kaya gini, Mik. Masa sih lo mulai jatuh cinta sama dia? Gak boleh, lo sendiri yang bakalan jatuh," gumamnya dalam hati.


Katakan saja Mika terlalu kekanak-kanakan, tapi sebenarnya dia tidak menuntut banyak hal dari Jeff. Padahal kalau tadi Jeff menyelesaikan makan siang bersamanya sampai selesai, lalu dia kembali ke kantor atau mengadakan pertemuan lainnnya mungkin Mika tidak akan merasa kesal karena terabaikan dan Mika juga pasti tidak akan melarangnya.


Benar kata Elang, pemahaman mereka berbeda. Dan Mika tidak pernah menjelaskan soal pemahamannya pada Jeff, jadilah mereka miss komunikasi seperti ini.


Jarak tempat mereka makan memang tidak jauh dari rumah, jadi tidak sampai 1 jam dia sudah sampai di mansion keluarga Dirgantara. Sebelum masuk ke dalam, Mika menghapus air matanya agar tidak membuat yang lain khawatir. Dia harus terlihat tidak terjadi apa-apa.


Perlahan dia masuk dan berjalan melewati ruang keluarga. Mika menyalami Ibu mertuanya sambil tersenyum. Di sisi lain ada Selena yang menatapnya sinis dan di sisi lain ada Elang yang menatapnya curiga. Elang tau kalau Mika habis menangis.


"Loh Jeff kemana, Sayang? Bukannya tadi kalian makan di luar?" Tanya Mona dan melihat ke belakang yang menyadari kalau Jeff tidak bersama Mika.


"Mas Jeff ada pertemuan dengan investor, jadi Mika pulang dulu. Kalau gitu Mika izin ke kamar ya, Ma? Jarang keluar rumah jadi sedikit sakit badannya," pamit Mika, sementara Mona menatap Mika bingung namun tetap mengiyakan menantunya itu.


Mika berjalan ke atas dan masuk ke kamarnya, sementara mata Elang tak lepas dari Mika. Dia merasa kalau ada yang tidak beres antara Mika dan juga kakaknya. Apa mereka bertengkar? Namun Elang menahan dirinya agar tidak ikut campur lebih dalam.


Di sisi lain Mika membenamkan wajahnya di bantal. Mencoba menenangkan dirinya, di usianya yang memang terbilang muda sudah pasti masih sering labil. Dan itu yang dia rasakan sekarang. Dia menolak pernikahannya, tapi dia merasa kesal saat tidak mendapatkan afeksi yang seharusnya dia dapat dari Jeff.


Mika melirik ponselnya yang sudah beberapa kali berbunyi, dia sedikit terkekeh. Ternyata Jeff baru menyadari dia meninggalkannya sekarang. Memang Mika hanyalah 1% saja dalam kehidupan Jeff. Mika memilih untuk mengabaikannya, dia tidak mau membuat dirinya semakin terluka dengan bicara dengan Jeff sekarang.

__ADS_1


__ADS_2