
Mika terbangun di pagi hari dengan keadaan bingung, dia langsung mengecek perutnya dan teryata bayinya masih ada, perutnya masih besar, itu artinya bayinya baik-baik saja.
Elang yang merasakan pergerakan dari tangan Mika langsung terbangun dan mengecek keadaan Mika. "Gimana keadaan kamu? Baik-baik aja? Ada yang sakit?"
Mika menggeleng dan berusaha untuk duduk, Elang pun berusaha membantunya untuk duduk dan mengambilkan segelas air. "Minum dulu, kamu tidurnya lama banget, Mik."
Mika menurut untuk meminum air itu, namun perasaannya ada yang janggal. Kemana semua orang? Apa hanya ada Elang di sini?
"Mas Jeff gak datang ke sini?" Tanya Mika.
"Jangan pikirkan dia dulu, pikirkan diri kamu sendiri. Diri kamu sendiri butuh diperhatikan, Mika," jawab Elang berusaha selembut mungkin agar tidak menyakiti perasaan Mika.
"Dia gak datang ya?"
"Kamu hanya denganku di sini, di Jakarta. Aku yang bawa kamu lari ke sini dan Jeff tidak tau," jawab Elang jujur, dia tidak mau membohongi Mika. Kalaupun nanti dia meminta pulang tidak apa-apa setidaknya dia sudah mendapatkan ketenangan beberapa hari.
"Kamu serius melakukan itu, Kak? Mas Jeff bisa lakuin apapun ke kamu nanti!" Peringat Mika.
"Luka di mukaku ini salah satunya, kemarin kami bertengkar hebat," ucap Elang santai.
Mika membulatkan matanya tidak percaya, ini gila. Mereka bertengkar hanya karena dirinya? Tidak masuk akal menurut Mika. Seharusnya mereka tidak boleh bertengkar seperti itu apalagi saling adu jotos.
"Kamu gila, Kak."
Elang menatap ke arah Mika. "Iya aku gila, katakan saja begitu. Tapi aku akan lebih gila kalau masih biarin kamu hidup dengan pecundang seperti kakakku, Mik."
"Kakk, jangan gitu! Dia kakak kamu loh," nasehat Mika.
"Kamu ingin pulang? Biar aku antar kamu kembali ke sana kalau memang iya."
__ADS_1
Mika terdiam memikirkan kata-kata Elang, kejadian kemarin kembali memutar di kepalanya. Kejadian di mana Jeff benar-benar tidak peduli dengan kondisi Mika dan anaknya sedang kritis namun Jeff tetap pergi.
Elang menatap Mika yang kini meneteskan air mata, tidak akan pernah tega dia membiarkan Mika seperti ini. Perlahan dia duduk di tepi ranjang dan menghampus air matanya. "Ayok, aku antar kamu pulang. Tapi setelah kamu sembuh dan diperbolehkan pulang sama dokter."
"Kamu yang pulang, aku tetap di sini, Kak. Kamu punya keluarga, aku bisa cari kerja di sini nanti atau cari pinjaman sama keluarga Mamaku yang ada di sini untuk sewa kost."
Elang berdecak. "Kalau kamu tetap di sini, aku juga aka tetao di sini, Mik. Aku udah beli Villa di sini dan bisa kita pakai. Gak berdua, aku sewa pembantu biar gak menimbulkan fitnah apa-apa. Anggap aja aku Kakak yang mau menjaga adiknya sendiri," balas Elang.
"Tapi, Kak-"
"Pilihannya cuma dua, kita di sini atau kita sama-sama pulang," tegas Elang.
"Yaudah kita di sini, aku gak mau pulang. Aku gak mau ketemu Mas Jeff."
Elang menghela napasnya lega, setelah itu mengangguk. Bukan apa-apa, tapi Mika memang tidak mau bertemu Jeff dia akan benar-benar membuktikan pada Jeff kalau dia bisa lelah.
Setelah apa yang dia alami, dia tidak bisa terus bertahan seperti ini. Hatinya sakit sekali, kalau tau menikah dengan Jeff akan seperti ini, Mika memilih untuk hidup di jalanan saja kemarin. Tidak ada bedanya, sama-sama tidak dipedulikan.
Jeff hanya menikahinya karena kewajiban menikah, bukan karena mencintainya. Jeff juga tidak pernah menyatakan perasaannya pada Mika. Jadi seharusnya kalau Mika menghilang dari Jeff tidak apa-apa, kan? Jeff akan kembali dengan rutinitasnya bahkan lebih bebas. Jadi sekarang memang ini keputusan terbaik untuk dirinya dan Jeff. Meskipun dia tidak tau apakah kedepannya dia akan siap tidak membesarkan anak seorang diri.
Mika menatap ke arah Elang yang dengan telaten mengurusnya. Heran kenapa yang lebih peduli malah Elang. Padahal yang suaminya adalah Jeff. Tapi jujur saja, baru sebentar meninggalkan Jeff dia sudah rindu.
"Kak, istirahat. Kamu jagain aku beberapa hari ini, yang ada nanti kamu ikut tepar. Kata dokter juga aku sebentar lagi pulih dan boleh pulang.
"Sebentar lagi, berarti sekarang belum sembuh," jawab Elang.
"Aku gak enak apa-apa disiapin sama Kak Elang, aku ngerepotin Kakak banget. Bahkan kakak harus sembunyi-sembunyi kaya gini karena aku."
"Aku melakukannya karena mau, Mik. Bukan karena kamu, jadi kamu jangan ngerasa gak enak. Aku akan mempertanggung jawabkan pilihanku sendiri dan pilihan aku menjaga kamu sekarang."
Mika menghela napasnya, ya meskipun begitu ada perasaan tidak enak di hati Mika karena telah melibatkan Elang di dalam rumah tangganya, dia yang ribut tapi Elang seolah ikut menanggungnya.
__ADS_1
"Udah, jangan dipikirin. Kamu lari ke sini untuk bahagia, bukan tambah stress. Kasian anaknya ngebatin nanti kalau Ibunya ngerasa stress terus," ucap Elang.
"Makan dulu." Elang menyuapkan sesendok makanan pada Mika.
Mika menatap Elang perlahan. "Kak aku bisa sendiri."
"Lama, tinggal mangap kan gak susah. Jadi adek bandel banget, harus nurut sama Kakaknya. Karena di sini kau tanggung jawab aku, Mik. Kalau aku gak jaga kamu dengan baik, apa bedanya aku dengan Jeff?" Tanya Elang.
Benar sih, Elang bertanggung jawab untuknya di sini. Kalau dia sakit yang ada nantinya semakin merepotkan Elang. Mika menurut dan akhirnya memakan makanan yang Elang suapkan. Elang tersenyum, Mika memang penurut Bodoh sekali Jeff menyia-nyiakan Mika yang sebaik ini.
"Salam dari Tessa, kapan-kapan dia ke sini," ucap Elang.
"Dia tau aku sama kakak?" Tanya Mika tak percaya.
"Tau, Caca juga tau. Aku cuma ganti nomor untuk keluarga dan Jeff. Teman-teman kamu janji akan tutup mulut jadi kami bisa berkomunikasi. Hp kamu aku tinggalin di rumah karena udah pasti Jeff bisa melacak. Nanti aku belikan yang baru ya?"
"Gak usah, Kak. Aku punya tempat tinggal aja udah bersyukur," balas Mika sembari memakan suapan dari Elang lagi.
"Pokoknya nanti aku belikan."
"Kenapa Mas Jeff gak tau keberadaan kita? Dia kan bisa segalanya? Kamu kenapa bisa lolos dari intaiannya? Kalau tau kamu bisa begini, kenapa aku gak minta tolong aja ya waktu aku mau kabur dari pernikahan," ucap Mika tersenyum getir.
"Karena aku bisa melakukan apapun meski tidak sekuat Jeff. Kalau aku sudah bertekad semuanya akan berjalan sesuai yang aku mau, Mik. Aku pastikan sama kamu kalau Jeff gak akan menemukan kamu lagi kalau kamu memang mau. Maaf karena aku membiarkan pernikahan kamu terjadi."
"Kenapa jadi kakak yang minta maaf sih? Aku bercanda loh, aku cuma kepikiran aja. Makasih ya, Kak. Memang ini yang aku butuhkan sekarang. Nyatanya kamu yang selalu ada buat aku. Kamu kakak paling baik di dunia," ucap Mika sungguh.
Elang tersenyum, ya meskipun ada sedikit rasa sakit juga karena Mika hanya menganggapnya sebagai seorang Kakak. Tapi tidak apa-apa, bersama Mika seperti ini saja rasanya Elang sudah bahagia. Sangat bahagia. "Makanya cepet sembuh, biar kita bisa pulang."
Mika menurut saja, membiarkan Elang mengatur semua. Dia lega berada di sini, tapi ada perasaan tidak enak. Apa dia egois ya dengan meninggalkan Jeff? Tuh kan dalam kondisi seperti ini saja dia masih memikirkan Jeff, entah bagaimana dengan Jeff.
Namun dengan cepat Mika menggeleng, tidak boleh. Dia mulai sekarang harus menjadi Mika yang kembali berani dan tidak lemah. Dia dulu bisa berjuang sendiri bertahan hidup, sekarang juga dia pasti bisa. Iya, Mika memang harus berani melangkah sekarang melawan ketakutannya.
__ADS_1