
Malam hari, Mika masih berkutat dengan drama Korea. Kakinya masih sangat sakit untuk berjalan kemana-mana. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar dan masuk.
Mika langsung mengubah posisinya dengan sedikit meringis karena di terlalu spontan. Mona yang melihat itu langsung duduk di tepi kasur dan menatap menantunya.
"Are you okay?" Tanya Mona khawatir saat melihat perban yang dibalut di kaki mika cukup lebar juga. Pasti itu menyakitkan.
Mika tersenyum dan berusaha menenangkan Mona. "I'm oke kok, Ma."
Mona sudah mengetahui semua kejadian tadi dari para pelayan. Dia jadi merasa bersalah pada Mika karena perlakuan putrinya. "Maafin anak Mama ya, Sayang." .
Mika mengangguk lalu setelahnya tersenyum tipis. "Jangan terlalu dipikirin, Ma. Mika baik-baik aja, sebentar lagi juga sembuh."
"Tetap saja atuh Mama ngerasa gak enak. Mama juga sudah tidak tau lagi harus bagaimana membuat Selena berubah.".
"Gapapa, Ma. Kita pelan-pelan lakuin itu lagi ya. Mika juga salah kok tadi malah kebawa emosi sedikit. Jadinya dia makin emosi. Mama jangan banyak pikiran, kasian tubuhnya juga diforsir dalam segala hal. Nanti Mama sakit."
Mona memeluk Mika dengan hangat. Dia sekarang merasa memiliki putri yang bisa diajak bicara dan berdiskusi apapun. Mika nyatanya lebih mengerti kondisinya dari pada Selena, meskipun Elang bisa diajak bicara namun rasanya berbeda jika bicara dengan anak perempuan. Tapi memang pada dasarnya juga Mona tau kalau Selena butuh sandaran, jadi dia tidak pernah menunjukkan atau menceritakan keluh kesahnya pada Selena.
Mika sebenarnya ingin bicara soal memberi waktu luang untuk Selena. Mungkin faktor kesepian juga yang membuat Selena seperti itu. Tapi dia belum berani bilang apapun. Jadi dia hanya mencoba menguatkan mama mertuanya itu.
Harus Mika akui kalau Mona adalah Ibu yang baik. Dia bahkan menanyakan kabarnya hari ini, makannya dan lain-lain. Tapi menurut Mika kehadiran dalam setiap momen tumbuh kembang seseorang ya itu pasti akan lebih berharga. Selena pasti membutuhkan itu.
Setelah Mona keluar dari kamarnya dia jadi sedikit lebih berpikir. Apa dia tidak mencoba membuat Selena berubah ya? Menjadi kakak ipar untuk Selena membuat dia merasa ada tanggung jawab juga.
Apalagi dia sangat paham dengan kondisi mental health. Kenapa setelah menikah membuatnya jadi lebih dewasa dari sebelumnya? Padahal baru satu hari.
"Kenapa gue jadi mikirin si bebek sih? Biarin aja, kan? Dia aja kurang ajar jadi adik ipar. Lo ini terlalu mikirin orang, Mik," kesal Mika pada dirinya sendiri.
Beberapa jam pun berlalu, Mika sudah mulai ngantuk. Waktu sudah menunjukkan pukul 11 Malam. Semalam ini Jeff belum pulang? Yang benar saja. Apa seorang CEO sesibuk itu? Tapi dalam novel yang Mika baca tidak begitu.
Baru saja dipikirkan, pintu kamar sudah terbuka. Menampilkan Jeff yang pulang dan menatap ke arahnya. "Kenapa belum tidur?"
__ADS_1
Mika yang ditanya malah turun dari kasur dan menghampiri Jeff meski dengan tertatih. Mika mengulurkan tangannya. Namun Jeff malah menariknya ke dalam pelukan lalu mengecup bibirnya.
Mika mengerjapkan matanya, tuhkan di saat seperti ini jantungnya kembali berdebar kencang. Bisa gila kalau ini terus menerus terjadi.
"Aku mau salam, Om bukan mau peluk sama cium. Tadi baca di google katanya harus salam," protes Mika.
"Ya itu aku ajarkan bagaimana salam yang baik saat aku pulang."
Mika masih melongo, namun dia tidak menanggapi Jeff lalu membantunya melepas jas dan ikatan dasinya. "Di kantor emang sibuk banget ya, Om?"
"Aku bukan Om kamu."
"MAS!" Mika menatap kesal pada Jeff.
"Iya sibuk. Rindu hm?"
Mika hanya menaikan bahunya. "Bersih-bersih dulu. Bajunya udah aku siapin di kamar mandi."
Mika kembali duduk di kasur sembari merapikan kuku-kukunya. Tidak buruk juga ternyata kalau dia menjalankan hubungan ini ketika Jeff bersikap manis seperti tadi. Ya walaupun sederhana sih. Tapi saat Jeff mengecup bibirnya, entah kenapa Mika menyukai itu.
Apalagi saat Jeff menyentuhnya. Mika tersadar, pikirannya kenapa sih? "Kenapa pikiran gue jadi kotor gini sih?" Gumamnya pelan. Tapi salah Jeff sendiri yang memperkenalkannya dan kebetulan Mika suka.
Memang semakin kacau pikiran Mika memikirkan itu. Dia berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak lebih jauh. Menurut Mika ini sudah melewati batas.
Beberapa menit berlalu Jeff melihat Mika yang sedang sibuk menata kukunya agar mengkilap. Matanya tertuju pada perban yang ada di kaki kanan istrinya itu.
"Ini kenapa?" Tanya Jeff saat duduk di tepi kasur.
"Berantem sama bebek." Mika tidak pernah mengadu, tapi kalau dia ditanya pasti akan menjawab.
"Jangan sama-sama keras."
"Aku gak emosi loh, dia yang kesel sendiri sampe lempar vas." Mika menatap Jeff kesal, kalau sampai Jeff menyalahkannya lihat saja. Dia akan benar-benar mengamuk detik itu juga.
__ADS_1
"Tahan sampai dia masuk kuliah, dia pasti akan sibuk dengan kegiatannya," ucap Jeff bijak lalu berbaring di kasur.
Sungguh? Jeff tidak bertanya mengenai dirinya? Perasaannya atau apa gitu? Dia tidak tau cara memperlakukan wanita atau memang ekspetasinya terlalu tinggi sih dengan Jeff?
"Ini aku luka loh, kamu gak nanya aku sakit atau engga?" Tanya Mika dan melirik ke arah Jeff.
"Kalau sudah diperban kan cukup. Memang kalau aku tanya lukanya langsung pulih?" Jawaban logis dari seorang Jeffrico membuat Mika bungkam.
Mika menggigit bibirnya perlahan, iya tau tidak akan sembuh seketika. Tapi ... Sudahlah. Seorang Jeff yang kaku mana paham soal bahasa cinta. Bahkan dia mencintai Mika atau tidak pun sepertinya jawabannya adalah yang kedua.
Jeff menarik Mika ke dalam pelukannya. "Ada cerita apa hari ini?" Tanya Mika. Jangan tanya kenapa dia bertanya seperti itu. Dia sedari tadi selain sibuk menonton, dia juga mencari tau hal apa saja yang harus dilakukan seorang istri.
"Gak ada, semuanya seperti biasa."
"Seperti biasa gimana?" Mika baru memasuki kehidupan Jeff, dia belum tau kata seperti biasa itu seperti apa.
"Aku ngantuk, lebih baik kita tidur."
"Besok aku ada meeting penting," lanjutnya sambil mengeratkan pelukannya pada Mika.
Mika mengadahkan wajahnya pada pria itu. Berusaha mencerna kata-kata Jeff ke otaknya. Jeff yang merasa ditatap langsung mengecup bibir Mika dengan lembut. "Good night."
Mika masih mematung, menatap pria yang kini sudah memejamkan matanya lebih dulu. Apa kehidupan Jeff se-monoton ini? Bangun pagi, berolahraga, setelah itu dia di kantor seharian, pulang ke rumah hanya basa-basi sebentar, setelah itu tertidur dan besoknya dia harus mengulang rutinitas yang sama.
Bahkan saat di tatap seperti ini pun dia tidak terbangun. Apa karena melelahkan? Tapi kenapa dia harus memforsir dirinya sendiri. Dia bahkan lupa dengan dunianya. Untuk apa dia kaya kalau tidak bisa menikmatinya?
Bahkan, tidak ada tawaran bulan madu untuk Mika? Bukan karena ingin juga, tapi biasanya begitu? Mika tidak mengerti, kalau begini tujuan Jeff menikahinya apa? Untuk menjadi salah satu pajangan di rumahnya?
"Mik, ini baru awal," batinnya.
Seperti sebuah novel, Jeff adalah novel yang tidak menarik kalau dibaca melalui sinopsisnya. Covernya juga monoton, tapi entah kenapa ada rasa penasaran untuk membaca isinya. Itulah yang Mika rasakan sekarang.
Apakah dia akan membaca novel yang tidak menarik ini? Iya tapi ini bukan soal novel, melainkan seorang Jeffrico Rasendria Dirgantara.
__ADS_1