
Mika mengerjapkan matanya, kepalanya juga terasa berat. Belum lagi tangannya diperban. Iya, tadi dia pingsan di depan pintu dan tangannya mengenai pecahan gelas. Matanya tertuju ke arah Jeff yang kini tersenyum sembari menciumi punggung tangannya. "Kamu sudah sadar? Pusing? Masih sakit?"
Mika menggeleng, memang tangannya sedikit sakit, tapi bukan itu masalahnya. Matanya membulat dan mencengkeram tangan Jeff. "Mass, aku tadi liat Mama Papa. Mass aku mimpi ya? Mass aku mau ke makam Mama dan Papa aku kangen mereka."
Iya, mungkin saking rindunya mimpi itu terasa nyata. Membuat Mika kini menangis dan berhamburan memeluk Jeff. Dia sangat merindukan kedua orang tuanya sekarang.
Jefff membalas pelukan Mika dan mengusap punggung istrinya itu dengan lembut. Dia mengerti dengan perasannya istrinya yang sekarang mungkin tiba-tiba kacau, dia sangat paham. "Tenang, jangan panik begini. Lihat aku."
Jeff memegang kedua lengan Mika dan menatapnya dengan lembut. "Orang tua kamu masih hidup. Mereka memang masih hidup dan sekarang ada di lantai bawah bersama Mama."
"Jangan bercanda, Mas! Ini gak lucu!"
"Saya yang membawa mereka kembali ke Indonesia, ada beberapa hal yang aku rasa perlu kamu tanyakan pada mereka. Karena hanya mereka yang bisa menjelaskan."
Degh ...
Sungguh ini sulit dicerna pikirannya, tapi mendengar perkataan Jeff Mika langsung melepas pelan tangan Jeff dari kedua lengannya lalu turun untuk menemui kedua orang tuanya.
Dengan cepat Mika terus berjalan dan menuruni anak tangga, sampai akhirnya dia melihat orang tuanya yang kini tengah duduk mengobrol di sofa bersama Mama mertuanya. "Maa ... Paa."
__ADS_1
Mendengar panggilan sang putri kedua orang tua Mika berdiri dan menyambut pelukan anaknya. Mereka sangat merindukan putri kecilnya. Oleh karena itu, saat mengetahui Mika menikah dengan Jeff, mereka langsung menghubungi Jeff dan mengatakan kalau mereka kedua orang tua Mika.
Berat sebenarnya mengingat hampir 5 tahun setelah kejadian itu, memang orang tua mana yang tega membiarkan anaknya tinggal seorang diri, apalagi saat mereka menyadari kalau mereka menitipkan Mika kepada orang yang salah. Itu sangat menyayat perasaan mereka sebagai orang tua.
Widia bisa menyadari tatapan putrinya, pasti selama ini dia tersiksa menjalani masa remajanya, pasti dia hidup dengan sulit, entah apa yang dilakukan adik iparnya pada sang putri. Dengan lembut Widia menangkup kedua pipi putrinya. "Maafin Mama, Sayang. Maafin Mama, maafin Mama karena membiarkan kamu hidup dengan rasa luka."
Mika menggeleng dan kembali memeluk Ibunya dengan erat, dia ingin sekali mengutarakan banyak hal. Ingin sekali menceritakan perasaannya, tapi melihat mereka berdua ada di sini rasanya Mika hanya ingin memeluk mereka sampai perasaannya.
Kini Mika menatap ke arah ayahnya. "Papa jahat, Papa katanya gak akan tinggalin Mika."
Akhirnya satu kalimat itu berhasil keluar dari mulut Mika. Tentu pikirannya sudah kemana-mana sekarang, apakah mereka sengaja membuang Mika, apakah mereka tidak menginginkan anak seperti Mika. Semuanya terngiang-ngiang di kepala Mika.
"Maafin, Papa sayang. Papa terpaksa melakukan ini demi keselamatan keluarga kita. Tapi ternyata papa salah, Nak. Maafkan Papa," ucap Firman seraya memeluk putrinya.
Mika yang masih berkutat dengan pikirannya hanya bisa diam di tepi kasur, sementara Widia dan Firman mengambil kursi di hadapan Mika seraya menggenggam tangan putrinya.
"Gimana kehidupan kamu selama tidak ada Mama dan Papa, Sayang?" Tanya Widia.
"Aku gak baik-baik aja."
Mika menceritakan semuanya kepada orang tuanya, dari mulai dia sering disiksa, pernah hampir dibunuh dan juga bagaimana dia akan dijadikan seorang wanita malam oleh Om dan Tantenya. Dia juga menceritakan kalau selama ini dia banyak mengambil kerja part time demi menyambung hidup. Dia juga menceritakan tentang pertentangannya dengan polisi yang membuat dia tidak percaya lagi dengan polisi.
__ADS_1
Firman merasa gagal melindungi putrinya, setelah semuanya selesai akan dia pastikan kalau bertemu dengan kedua adiknya, mereka tidak akan pernah aman. Mika menyeka air matanya, ini benar-benar belum lega untuk dirinya. "Kalian sengaja ninggalin aku kah, sama Om dan Tante?"
Benci sekalu Mika dengan dirinya kalau memang itu benar, air matanya malah semakin deras, padahal kedua orang tuanya belum menjelaskan apa-apa. Dia memang sudah dewasa, tapi saat berhadapan dengan orang tuanya seperti ini dia malah seperti anak remaja berusia 16 tahun yang masih merajuk kepada orang tuanya.
Widia berpindah duduk dan membawa Mika ke dalam pelukannya. Ini tentu menyakiti hati Mika. Tapi Mika juga perlu tau kalau mereka melakukan ini tanpa sengaja. Firman berdeham, panjang sebenarnya kalau di ceritakan.
"Saat kami bilang akan pergi ke acara waktu itu, kami memang tidak ingin membawa kamu, Sayang. Keluarga kita dalam bahaya, pekerjaan papa yang merangkap sebagai pengacara pada saat itu menangani kasus besar dan membuktikan kalau salah satu pengusaha besar bersalah."
"Papa menjadi incaran mereka, sampai saat itu kami sadar diikuti oleh pembunuh bayaran. Mobil kami memang ditabrak dan akhirnya masuk ke jurang dengan status ditabrak oleh pemabuk, padahal mereka bersekongkol juga dengan polisi yang juga kakak dari orang yang menabrak mereka."
Firman terus menceritakan kejadian itu. Setelah dia dan Widia bisa meloloskan diri dari jurang, mereka menghubungi adik Firman. Mereka bilang untuk sekarang lebih baik Widia dan Firman pindah ke Sydney. Mereka akan membantu keberangkatan mereka dan menjaga Mika. Karena mereka juga takut kalau Mika akan menjadi incarannya.
Mereka juga bilang akan memalsukan kematian mereka untuk 1 tahun paling lama sampai mereka bisa membuktikan soal pembunuh bayaran dan menambah soal pasal berlapis. Tapi ternyata mereka salah menduga, setelah sampai di Sydney, seolah direncanakan mereka dicopet, semua pasport mereka ada di sana dan pada akhirnya mereka terjebak tidak bisa pulang dengan status penduduk ilegal.
Mereka meminta bantuan kepada adiknya, tapi mereka selalu menunda-nunda waktu karena katanya masih belum aman. Sampai saat itu 2 tahun berlalu. Mereka juga beberapa kali meminta bantuan kepada kedutaan tapi tidak pernah di proses, sampai akhirnya mereka menetap di sana dalam waktu yang lama. Terlebih setelahnya mereka mengalami krisis ekonomi yang sulit.
Sampai akhirnya satu waktu firman dan Widia berada di tempat penampungan gelandangan dan pada saat itu ada perusahaan baik dari indonesia yang berbagi makanan karena kelahiran putra mereka. Ternyata itu perusahaan Jeff, karena menampilkan photo anak dan juga istrinya, mereka mengenali putrinya dan akhirnya berusaha mengirim email ke perusahaan itu dengan susah payah dari warung internet yang masih tersedia di sana.
Akhirnya Jeff mencari tahu keberadaan mereka, tidak hanya itu dia juga mencari kevalidan soal pengakuan Widia dan Firman. Tanpa sepengetahuan Mika dia mengambil sampel rambut dan melakukan test DNA. Akhirnya mereka dibawa kesini sebagai hadiah ulang tahun untuk Mika dari Jeffrico.
Mika tertegun mendengar cerita kedua orang tuanya. Jadi mereka sama-sama sulit ya kemarin? Kenapa Mika bisa berpikiran jahat kalau kedua orang tuanya meninggalkannya sendiri? Dia benar-benar merasa bersalah
__ADS_1
Mika sangat merindukan kedua orang tuanya, dari semua doa baik dan hadiah terbaik. Sepertinya ini yang paling baik. Bisa berkumpul lagi setelah sekian lama dan akhirnya mereka kembali saling memeluk sebagai sebuah keluarga yang utuh. Mika sangat bersyukur untuk itu.