10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Diskusi


__ADS_3


Mika dan teman-temannya selesai memasak, namun saat mereka akan ke taman tiba-tiba Elang muncul dari dalam kamarnya yang tidak jauh dari sana.


"Wih rame betul, kalian mau kemana?" Tanya Elang.


"Mau main UNO, Kak. Mau ikut?" Tawar Mika.


Elang berpikir sejenak, dia juga tidak ada kerjaan hari ini, jadi tidak masalah kalau mengiyakan mereka. "Emang boleh?"


"Boleh lah, ayok!" Ajak Tessa.


Mika tersenyum dengan respon teman-temannya. Ya karena dia tau betapa kesepian orang-orang di sini, jadi tidak ada salahnya juga berbagi kebersamaan.


Mereka saling bekerja sama untuk membawa makanan, jujur ini pertama kalinya sih untuk Elang. Biasanya dia dan teman-temannya hanya menghabiskan waktu di caffe. Dia juga tidak pernah melihat Selena membawa teman-temannya seperti ini.


Baru saja mereka duduk, Mona ikut bergabung bersama mereka. Mereka ya antusias saja, karena semakin banyak orang akan semakin ramai. Mika mencoba sekali lagi mengajak Selena ke kamarnya namun dia malah membentaknya, ya sudah yang terpenting Mika sudah menawarkan.


Mereka menikmati makanan sambil bermain UNO. Mona hanya melihat mereka saja, namun hatinya terasa hangat. Seolah-olah rumah ini hidup kembali.


"Ini teh gapapa Mama ikut sama kalian?" Tanya Mona.


"Gapapa, Ma. Kan biar seru juga, tapi ya Mika sama temen-temen Mika mainnya kaya gini. Soalnya kita suka jajan," jawab Mika sambil terkekeh.


"Betul, yang penting seru-seruan," timpal Caca.


"Kalian sering-sering dong mainnya, biar di sini rame," ucap Elang.


"Cielah si Kak Elang ketagihan nongkrong sama kita," kata Tessa sambil tergelak.


Semua orang tertawa di sana, mereka juga saling melempar canda tawa, tanpa sadar Selena melihat itu dari balik tembok. Ada perasaan marah, sedih, tapi tidak bisa dia luapkan. Kenapa seolah semua orang mengacuhkannya? Itulah yang tidak dia inginkan, keluarganya jarang ada di rumah, sekalinya ada mereka malah memilih menghabiskan waktu dengan Mika.


Jeff yang baru datang melirik ke arah Selena. Dia memang pulang lebih cepat hari ini. Bukan karena Mika juga, tapi memang pekerjaannya sudah selesai karena hanya ada pertemuan di luar kantor.

__ADS_1


Sepersekian detik berikutnya Jeff menatap ke objek yang Selena tuju. Dia paham apa yang Selena rasakan, tapi dia tau tidak mungkin juga Mika tidak mengajaknya. Ego Selena masih tinggi, dia juga sedang beradaptasi dengan Mika. Jadi dia putuskan untuk menghampiri Selena. "Princess."


Selena berbalik dan menatap kakaknya. Kali ini berbeda, tidak ada rengekan manja, pelukan hangat, atau pertanyaan kecil sederhana yang sering Selena ungkapkan. Dia kali ini menatap Jeff tak suka.


"Aku benci kak Jeff!" Selena menghentakkan kakinya dan berlari ke kamar.


"Selena ... " Jeff memanggil adiknya dengan lembut, tapi Selena tidak menggubrisnya dan malah membanting pintu kamarnya dengan keras. Sudah dipastikan dia marah besar kalau seperti itu.


Jeff menghela napas, ada masalah apalagi di rumah ini? Kemarin Mika yang marah padanya, sekarang Selena. Bukan karena dia kesal, tapi dia tidak tau bagaimana caranya membujuk seseorang apalagi remaja seusia Mika dan Selena. Apa sebaiknya dia bicarakan ini pada Mika agar mendapatkan solusi?


Dengan perlahan Jeff melangkahkan kakinya ke tangga, dia tidak akan mengganggu kebersamaan mereka, karena sejatinya juga Jeff tidak terbiasa menghabiskan waktu seperti itu, ada hal yang lebih berguna untuk dia selesaikan.


.


.


.


Setelah selesai bersenang-senang dengan temannya dan mengantarkan mereka ke depan. Mika kembali ke kamarnya, namun dia kaget saat masuk ke kamar, tiba-tiba ada Jeff yang sudah berdiri di hadapannya.


"Tadi," jawab Jeff singkat sembari mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut. Begini nih, Om-Om ini kalau mode romantis ya suka tidak tau waktu, bikin Mika melayang saja.


"T-terus mau kemana sekarang?" Tanya Mika.


"Menyelesaikan pekerjaan." Jeff tersenyum lalu berjalan ke arah sofa dan benar saja, sudah banyak berkas dan sebuah laptop di sana.


Mika pikir Jeff pulang karena keluh kesahnya didengar ternyata tidak. Sudah dibilang jangan berekspektasi pada Jeff, tapi Mika tetap saja melakukannya.


Ya sudah, akhirnya dia memilih untuk menemani bekerja di sampingnya sembari bermain ponsel. Pokoknya dia tidak akan memberi perhatian atau bertanya sebelum Jeff yang memulai duluan.


Tangannya dengan lincah mengescroll Instagram, memberi love pada setiap postingan yang lewat, ya karena apa lagi yang harus dia lakukan saat bersama pria kaku seperti Jeff?


"What do you thing about Selena?" Tanya Jeff tiba-tiba.

__ADS_1


Mika melirik ke arah Jeff yang masih fokus pada laptopnya. "My enemy."


Jeff menghela napasnya, bukan jawaban seperti itu yang dia mau. Dia maunya Mika menjelaskan pandangan dia pada Selena, tapi Mika tidak merasa salah. Pada kenyataannya memang begitu.


"Bukan itu maksud aku."


"Kamu nanya ya gak spesifik, kenapa nyalahin aku? Kalau nanya itu ya yang jelas. Biar jawabannya sesuai sama ekspetasi kamu," balas Mika.


"Pandangan kamu sama Selena setelah tinggal di rumah ini. Dia gimana? Sifat, perilaku, bukannya kamu pengamat?" Kali ini Jeff bertanya lengkap, dia tau soal Mika yang sering mengamati orang lain agar dia tau bagaimana cara berhadapan dengan orang itu.


"Dia kesepian, itu intinya."


"Kesepian?"


"Mas kamu sadar gak sih di rumah ini sibuk masing-masing? Mama, kamu, kak Elang. Kalian kaya menyibukkan diri masing-masing."


Jeff menelan ludahnya, salah sepertinya jika dia bertanya pada Mika. Karena ternyata dia memang mengamati semua orang. "Korelasinya?"


"Aku bukan anak psikolog kaya kak Elang, tapi sedikitnya aku paham tentang mental health. Di saat Selena butuh kalian, tapi kalian sibuk sama dunia sendiri, aku sebenernya gak mau judge semua orang, tapi kalau kalian gak ada di masa-masa keemasan seorang anak, atau masa dia bertumbuh, emosi anak itu gak akan pernah terkontrol dan terbawa sampai dewasa."


"Tapi kami selalu usahakan ada di masa-masa penting Selena."


Mika menghela napasnya. "Emang kamu pikir masa penting Selena itu kapan? Dia lulus sekolah? Acara ulang tahun dia? Gitu? Hitung aja dia hidup selama 19 tahun, udah berapa banyak luka yang dia rasain dan kamu ada di saat itu semua?"


Jeff terdiam, kenapa dia tidak pernah berpikir ke sana? Bahkan Mika yang jauh lebih paham soal ini, padahal dia yang lebih dewasa. Namun dia memilih untuk diam dan merenungkan kata-kata Mika karena tidak tau harus menjawab apa sebenarnya.


"Luangin waktu, Mas. Aku aja yang baru dateng di kehidupan kamu, butuh. Apalagi Selena, kamu gak akan tau apa yang akan terjadi kedepannya. Selagi kamu bisa bahagiain orang yang ada di sekitar kamu ya lakuin, karena kalau nanti mereka hilang kamu belum tentu punya kesempatan," nasehat Mika.


Deghh ...


Lagi-lagi perkataan Mika menusuk hatinya. "Hmm."


Mika memutar bola matanya malas, percuma saja dia bicara panjang lebar. Toh Jeff tidak menanggapi, hanya iya-iya saja tanpa bukti ya buat apa juga Mika kembali bicara? Tapi ya dia sedikit puas sih bisa me-roasting suaminya sendiri. Biar sekali-kali dia juga sadar, kalau ada orang yang butuh kehadirannya di rumah ini.

__ADS_1


Termasuk dirinya sendiri butuh dimengerti. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya tanpa mempedulikan kesehatan diri sendiri. Memforsir tubuh juga lama-lama akan berimbas pada kesehatan di masa depan.


Kali ini Mika benar-benar menghela napas. Tak habis pikir jika mempunyai suami seperti Jeff begini.


__ADS_2