
Mika menunduk, ternyata kursi yang dia tempati ini terasa panas. Seperti main kuis millioner rasanya. Mika yang biasanya bisa menatap Jeffrico dengan songong, kini hanya bisa menunduk sembari memainkan jari-jarinya.
Keputusan Jeff untuk memberikan Selena bodyguard dan hukuman-hukuman lainnya membuat Mika berpikir, apa yang akan Jeff lakukan padanya? Melihat seberapa tajam Jeff menatapnya saat ini. Rasanya seperti akan dieksekusi mati.
"Sejak kapan kamu menyembunyikan ini?" Tanya Jeff yang kini pusing sembari mengurut dahinya.
"Sejak Selena masuk kuliah."
"Kenapa kamu gak memberitahu aku, Mika? Kelakuan Selena ini fatal! Kapan dia mabuk?" Tanya Jeff lagi.
"Waktu kamu pergi ke luar kota," jawab Mika jujur.
"Elang dan Mama tau soal ini?"
Mika mengangguk, membuat Jeff kembali menghela napasnya. Tidak habis pikir mereka bersekongkol untuk menutupi kesalahan Selena. Menurut Jeff ini fatal, karena dia merasa gagal menjaga Selena. Sekarang baru ciuman, besok-besok apalagi?
Mika tidak membantah, dia memang mengakui jika dia salah. Dia juga menjelaskan sudut pandang dia sebagai orang yang serba salah. Bukan ingin melindungi Selena saja, tapi kalau dia melapor pada Jeff sudah pasti Selena akan meledak-ledak.
"Ok aku salah, aku minta maaf. Aku mau hubungan aku sama Selena membaik tapi gak liat sudut pandang kamu sebagai Kakaknya. Aku minta maaf," ucap Mika mengalah.
"Aku gak akan mengulangi lagi kalau memang kamu gak suka. Mulai sekarang aku bakalan bilang apapun sama kamu," lanjutnya.
"Coba kamu bayangkan kalau sedikit aja aku lambat tau soal ini, apa yang akan terjadi sama Selena? Dia bisa kehilangan dirinya," jelas Jeff.
"Iya aku gak mikir ke sana. Aku cuma mikirin kalau aku mau jadi kakak yang baik dengan lindungin dia," balas Mika.
"Gak dengan cara melindungi kesalahannya, Mika."
Mika akhirnya diam saja, dia tidak mau salah bicara lagi. Ternyata Jeff dalam mode seperti ini padanya juga bisa menyeramkan sekali. Jeff mendekatkan wajahnya dan bertumpu di meja. "Kamu juga ada hukumannya."
Mika membulatkan matanya. "H-hukuman?"
Jeff mengangguk. "Sini."
Mika tidak mau beranjak, dia takut jika Jeff akan memukulnya atau menamparnya. Mika menggeleng cepat. "Gak mau, nanti kamu KDRT!"
__ADS_1
"1 ... 2 ... "
Mika mendengar itu langsung beranjak dan menghampiri Jeff takut-takut. Jeff tersenyum miring lalu membawa Mika duduk di pangkuannya. Mika langsung menahan napasnya. Posisi mereka berdua ini sangat intim, siapa juga yang tidak akan ketar-ketir.
Perlahan Jeff mencium bibir Mika dengan lembut, Mika masih terdiam dengan perlakuan Jeff, namun Jeff langsung memeluknya dengan erat. Dengan ragu Mika membalas pelukan Jeff. Mengusap punggung pria itu seolah menenangkan.
"Aku pusing, Mik."
"Maaf ya kalau aku juga bikin kamu tambah pusing, Mas," ucap Mika pelan.
Jeff tidak menjawab, dia hanya mengangguk lalu membenamkan wajahnya di ceruk leher Mika, menikmati aroma tubuh Mika dan memeluknya seperti ini membuat dia merasa jauh lebih baik.
Mika juga tidak berontak sih, dia paham. Jeff sudah pusing dengan pekerjaannya dan sekarang dia harus menghadapi Selena yang semakin hari ada saja kelakuannya yang membuat Jeff pusing. Pasti tidak mudah juga kalau dipikir-pikir menjadi seorang Jeffrico. Hidup dengan rasa bersalah lalu harus bertanggung jawab pada keluarganya. Sedikitnya Mika mulai memahami Jeff sekarang, walaupun masih tetap abu-abu.
.
.
.
Mika, Mona dan Elang terdiam. Mereka merasa bersalah kepada Jeff karena menutupi ini semua. Mereka hanya takut jika Jeff marah besar pada Selena.
"Seharusnya kalian tidak mendukung hal-hal yang membuat Selena akan bertindak semau dia. Untung saya pergoki tadi malam, kalau tidak apa yang akan terjadi pada Selena kedepannya?"
"Jangan marah pada Elang dan Mika, Jeff. Ini salah Mama, Mama yang terlalu memanjakan Selena sampai tidak mau kamu tau soal ini. Tolong maafkan Mama," ucap Mona.
"Kedepannya tidak ada lagi seperti ini!"
Yang lain hanya mengangguk. Jeff menyudahi sarapannya dan menyuruh Mika untuk ke kamar duluan. Ada beberapa hal yang ingin Jeff bicarakan dengan Mona sebagai Ibu dan anak. Mika menurut saja, mungkin Jeff dan Mona perlu ruang berdua untuk berdiskusi.
Mika mengigit Ibu jarinya, dia khawatir pada Selena. Pasalnya dia sangat memahami watak remaja seperti Selena. Kalau semakin dikekang ya justru dia akan semakin berontak. Takutnya jika Jeff bersikap seperti ini justru akan membuat Selena semakin berbuat nekad kedepannya.
Dia mondar-mandir sendiri, jika seperti ini yang dia butuhkan adalah Tessa dan Caca sih, tapi mereka tidak bisa bertemu hari ini. Mika bisa apa kalau begitu?
Tiba-tiba Jeff masuk ke kamar dengan membawakan susu hamil dan juga air putih untuk minum suplemen. "Minum dulu."
Mika menatap Jeff lalu menerima gelasnya sambil duduk di tepi ranjang. "Apa kamu gak terlalu keras sama Selena, Mas?"
__ADS_1
"Minum dulu," peringat Jeff yang kini mengambil kursi untuk duduk di hadapan Mika.
Mika mengangguk dan meminum susunya, sementara Jeff membuka laci dan mengambil suplemen untuk Mika minum pagi ini. "Ininya jangan lupa."
Mika kembali mengangguk dan melakukan apapun yang Jeff perintahkan. Apalagi seharian ini Jeff akan ada di rumah, dia tidak mau membuat Jeff marah saat berada di rumah seperti ini.
"Apa aku terlalu keras pada Selena?"
Mika berpikir sejenak mencoba mencari kata yang pas untuk bicara dengan Jeff. Dia takut juga kalau nantinya Jeff merasa diragukan keputusannya. "Hm, i think dia lebih butuh didengar daripada dihakimi. Maksudnya ya dia kaya gini pasti ada penyebabnya, Mas."
"Tapi dia salah."
"Iya dia salah, gak ada aku membenarkan perilaku Selena, Mas. Tapi dia gak mendapatkan itu di rumah, jadi dia mencarinya di orang lain."
"Aku udah suruh mama berhenti kerja," ucap Jeff.
"Lalu?"
"Mama setuju."
Mika lagi-lagi hanya bisa mengangguk-nganggukkan kepalanya. Bagus lah kalau begitu, lebih banyak di rumah seperti ini pastinya juga berpengaruh untuk Selena. Apalagi sosok Ibu kan lebih dekat dari apapun dengan putrinya.
"Kamu juga kalau bisa lebih sering di rumah, bukan buat aku aja. Tapi buat keluarga kamu. Yang terpenting aku gak mau anak aku gak mendapatkan sosok ayah di masa-masa golden childnya," ucap Mika jujur.
"Kenapa?"
"Tumbuh kembangnya bakalan beda, Mas. Anak yang terlahir dekat dengan ayahnya dan ayahnya menemani dia di masa emasnya bisa membuat anak lebih ngerasa punya kasih sayang yang utuh. Kalau dia tumbuh tanpa kasih sayang Ayahnya, emosinya gak akan stabil. Cenderung lebih pemarah. Dan lagi kalau kamu gak ada di saat itu pasti nyesel juga deh di masa depan kalau liat anak kamu udah gede."
Jeff terdiam, kenapa dia seperti diajari oleh anak kecil? Padahal sebagai yang lebih dewasa, dialah yang seharusnya mengajarkan Mika tentang ilmu parenting. Ini malah sebaliknya. Bahkan Jeff baru tau mengenai ini.
"Darimana kamu tau?"
"Aku suka belajar ilmu parenting, aku juga suka sama parentingnya orang tua aku dan aku mau nantinya anak aku tumbuh dengan baik. Aku juga mau dia tumbuh dengan kebaikan yang aku dapat dari orang tua aku juga," ucap Mika.
"Makanya aku bilang ini sama kamu, aku gak mengajari kamu buat jadi orang tua. Kamu lebih dewasa dari aku, aku tau kamu jelas lebih matang dari aku. Tapi aku cuma ngajak kamu belajar bareng, belajar buat jadi orang tua yang baik untuk anak kita di masa depan."
Mika tersenyum, meskipun Jeff hanya diam tidak apa-apa jiga untuk Mika. Karena Mika tau, Jeff pasti mendengarnya dan akan memikirkan kata-katanya. Berusaha kan tidak ada salahnya, lagian Jeff juga pintar. Tidak mungkin kalau dia tidak memahami maksud perkataan Mika.
__ADS_1