
Mika membuka ponselnya beberapa kali, meskipun Jeff pernah bilang kalau dia akan menghubunginya ketika senggang, nyatanya dia tidak melakukan itu. Kalau begini jadi Mika yang serba salah, mau menghubungi juga takut.
Memang masih sore sih, tapi ya entahlah apa yang dia rasakan. Jadi dia memutuskan untuk keluar mansion, mencoba mencari udara segar di luar sana. Namun matanya terhenti kepada dua orang yang kini ada di hadapannya.
Dia kaget, ini di luar dugaannya. Tapi dia mencoba menetralkan perasaannya dan kembali masuk ke dalam. Sialnya Selena menyadari saat sebuah suara pintu tertutup. Setelah bicara dia pamit masuk ke dalam dan langsung mengejar Mika yang hendak naik ke atas.
"KUMAN!" Selena menarik kasar lengan Mika sampai membuat gadis itu meringis kesakitan. Dengan sekali hentak dia mampu melepaskan cengkraman dari Selena.
"Apasih lo?! Bisa baik-baik kan kalau ngomong?!" Kesal Mika.
"Apa yang lo liat tadi di depan hah?!" Tanya Selena setengah berbisik karena takut ada yang mendengar.
"Lo ciuman."
Selena kaget, dia lebih tepatnya takut kalau Mika akan melaporkan ini semua kepada keluarganya. "Kalau sampe lo bilang sama yang lain, gue akan pastiin lo lebih menderita dari ini!"
"Tenang, gue bukan orang yang suka jatuhin orang lain kaya lo, kok," ucap Mika santai.
"Maksud lo apa hah?!"
Selena emosi, rasa takut, cemas, semuanya juga menjadi satu dalam pikirannya. Kalau sampai yang lain tau, bukan hanya perhatian mereka saja yang akan berkurang, tapi bisa-bisa dia dijauhkan dengan kekasihnya. Tidak, dia baru saja mendapatkan kebahagiaannya.
"Gue gak akan bilang siapa-siapa, tapi gue cuma mau bilang. Kalau cowok lo gak bener, kalau dia bener dia gak akan rusak lo dengan ciuman kaya tadi," ucap Mika.
"Jangan sok suci deh, lo juga jual diri ke kakak gue, kan? Gak mungkin kak Jeff tergila-gila sama lo kalau bukan karena itu!" Balas Selena.
"Lo kalau ngomong gak mikir apa ya? Kalau gue serendah itu, sama aja lo raguin kakak lo dan nyangka dia main sama wanita murahan. Gue diem bukan berarti lo bisa seenaknya ya, Sel! Gue gak pernah ngusik kehidupan lo, jadi lo gak usah usik kehidupan gue!"
__ADS_1
Mika langsung melenggang pergi meninggalkan Selena. Berdebat dengan dia terus menerus rasanya melelahkan juga. Bahkan kakinya saja masih belum sembuh. Mau seberapa banyak luka di tubuhnya kalau terus begini?
Mika terdiam, katanya kalau sedang emosi dia harus diam beberapa saat. Dengan begitu dia akan tenang dengan sendirinya. Ternyata memang cukup ampuh. Namun tetap saja dia kembali memikirkan Selena.
Ada sedikit perasaan takut ketika dia memikirkan hubungan Selena dengan pria yang tadi dia lihat. Bagaimana pun dia adik dari Jeffrico, kalau sampai kenapa-kenapa juga Jeff yang akan merasa bersalah.
Dia bimbang untuk memberitahu Jeff atau tidak. Namun dipikir-pikir lagi, kalau dia bilang bukankah akan melanggar privasi Selena? Jadi kalau begitu biarkan saja mereka tau dengan sendirinya. Dengan begitu bukannya akan lebih mudah untuk menasehati selena?
"Udah, Mik. Kehidupan lo aja udah stress. Ngapain lo mikirin orang lain. Mending sekarang diem, nikmatin waktu lo dan udah, selesai."
Mika tersenyum sebentar lalu merebahkan dirinya di kasur, sepertinya dia butuh tidur 1 sampai 2 jam untuk menghilangkan beban pikirannya.
.
.
.
"Apa gak sebaiknya kamu tidur saja, Sayang? Jeff pulangnya lama loh, kamu nanti kurang tidur," peringat Mona sembari mengelus rambut menantunya itu.
"Engga, Ma. Aku nunggu Mas Jeff aja. Kita udah jarang bicara, jarang ketemu, masa iya Mika duluan tidur," ucap Mika jujur.
Mona sedikit terhenyuk dengan perkataan Mika. Saat baru menikah seperti ini pasti dia membutuhkan banyak waktu dengan Jeff untuk memahami pernikahan yang mereka jalani. Tapi sayangnya Jeff memang tidak paham dan sibuk dengan dunianya sendiri.
Elang sedikit melirik ke arah kedua perempuan yang kini nampak sedikit mellow. "Parah banget, cewek macam apa kaya gitu. Gak bener nih film."
Mika dan Mona melirik ke arah Elang yang fokus menonton sebuah sinetron. Dia suka sinetron sampai se-begitunya? Pikir Mika sambil terkekeh, begitu juga dengan Mona.
"Kenapa sih, Lang. Serius banget nontonnya. Itu cuma film atuh," peringat Mona.
__ADS_1
"Gak tau ya kak Elang, padahal cuma sinetron doang," kata Mika sambil tertawa.
"Parah aja sih parah." Elang menggeleng-gelengkan kepalanya, padahal ya itu akal-akalan dia saja untuk memecahkan kesunyian diantara mereka.
Beberapa jam berlalu, Mona sudah pamit untuk tidur duluan. Mika juga suka ketiduran di sofa panjang. Dan Elang masih sibuk menonton. Lebih tepatnya dia menemani Mika sih, kasian juga dia kalau ditinggal sendirian.
Elang sedikit menguap, tidak salah juga karena ini sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Namun saat matanya akan terpejam suara langkah terdengar.
Elang menatap datar ke arah Jeffrico dan begitu juga sebaliknya. "Ngapain di sini?" Tanya Jeff pada Elang.
"Lain kali kalau kerja inget dunia, liat istri lo nungguin sampe sebegitunya. Gue ngantuk mau tidur." Elang berdiri dari tempatnya lalu melenggang masuk ke kamar.
Setelahnya Jeff menatap ke arah Mika yang kini tertidur pulas di sofa. Jadi Mika menunggunya pulang? Jeff terdiam sejenak, tapi ini bukan salahnya, kan? Jeff tidak pernah menyuruhnya untuk menunggu.
Dengan perlahan Jeff merapikan helaian rambut Mika, dia benar-benar pulas. Setelah itu dia menyelipkan tangan diantara lengan dan lutut istrinya lalu membawanya ke kamar.
Sesekali Jeff memandangi istri kecilnya, ada sebuah perasaan yang tidak bisa dia utarakan. Apalagi perkataan Elang menggema di telinganya. Kenapa ada perasaan terpojokkan tapi tidak merasa juga?
Lagi-lagi dia hanya bisa menghela napas sembari membaringkan Mika di kasur. Dia duduk sambil menatap Mika dari jarak yang sangat dekat. Dengkuran halus pun terdengar dari sana, namun Jeff merasa kalau ada kegusaran di balik pulasnya Mika.
Perlu dia akui kalau istrinya ini sangat cantik, kulit putih, mata yang cantik, hidung bangir dengan bibir pink natural yang dia punya, sudah sangat menggambarkan seperfect apa seorang Mika. Dengan lembut Jeff mengecup bibir itu singkat dan beranjak dari tempatnya. Namun saat dia akan menjauh tiba-tiba ....
"Ma, Mika sedih. Mika mau pulang aja," gumam gadis itu dengan matanya yang masih terpejam. Tangan Mika memegang lengannya erat seolah tidak ingin dilepaskan, membuat Jeff kini kembali fokus menatapnya.
Jeff menatap wajah Mika, dalam tidurnya dia bisa melihat kalau ada pacaran kesedihan di sana. "Ma, Pa. Mika gak mau di sini, Mika mau pulang." Kali ini suaranya lebih parau dan ada setetes air mata yang keluar dari sudut matanya. Dengan cepat Jeff menyeka air mata Mika yang kini mengalir di sana.
Dia terdiam, apa Mika merasa tidak nyaman di sini? Apa dia kembali bertengkar dengan Selena? Tanpa Jeff tau, kalau sebenarnya dirinyalah yang membuat Mika tidak nyaman. Mika merasa diabaikan, tidak dianggap dan tidak memiliki hak apa-apa di sini. Tapi Mika tidak bisa mengutarakannya.
Jeffrico mengusap wajahnya gusar. Tidak ada waktu untuk memikirkan ini sekarang. Dia terlalu lelah hari ini, lebih baik sekarang dia bersih-bersih dan bersiap tidur. Besok dia harus kembali lagi menjalankan rutinitasnya seperti biasa.
__ADS_1