10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Memulai Kehidupan Tanpa Jeff


__ADS_3


Hari ini Mika sudah boleh pulang, ternyata benar kata Elang kalau dia sudah menyiapkan asisten rumah tangga untuk Mika. Selain untuk membantu pekerjaan rumah, ya untuk menemani Mika juga.


Namaya, Bi Mirna. Usianya sudah cukup tua tapi nampak sehat bugar dan cekatan. Elang yakin, Bi Mirna bisa menjadi teman sekaligus sosok Ibu yang Mika butuhkan karena terbukti Bi Mirna sudah menyayangi Mika sejak datang tadi.


Sekarang bahkan Bi Mirna menemani Mika yang sedang istirahat di kamar sembari mengobrol banyak hal. Ya hiburan juga untuk Mika karena Bi Mirna ini lucu orangnya.


"Kemarin Bibi cuma liat non tertidur, jadi Bibi gak tau Non gimana. Teryata si Non baik sama Bibi," ucap Bi Mirna.


"Santai aja kalau sama Mika, Bi. Mika malah seneng karena ada Bibi di sini buat temenin Mika. Apalagi Bibi tadi mau dengerin cerita Mika. Mika jadi sedikit lega."


"Si Non jangan sedih terus. Kalau mau cerita sama si Bibi, Bibi siap mendengarkan sampai Non Mika gumoh. Bibi akan merawat Non Mika seperti anak Bibi sendiri."


Mika tersenyum dan mengangguk, menurutnya di sini tidak buruk. Setelah kepergian Bi Mirna ke dapur, Mika mengitari kamar ini. Elang memang mempersiapkannya dengan cukup baik. Bahkan kamar ini terlihat bagus sekali, jauh lebih cukup.


Di sini suasananya sejuk, apalagi di belakang Villa ada perkebunan. Katanya Jakarta adalah kota dengan polusi yang tinggi, tapi sepertinya tidak berlaku di sini. Mika berjalan ke balkon kamar dan menatap pemandangan yang ada di sana.


Perasaannya selalu tenang saat kembali ke alam. Dia pikir kemarin adalah hari terakhirnya menatap dunia, ternyata Tuhan masih baik padanya dan membiarkan Mika masih bisa bernapas hingga detik ini.


Matanya tertuju pada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pernikahannya dengan Jeff, setelah selesai melahirkan nanti, dia akan benar-benar mengakhiri semua ini. Tapi apakah dia bisa melihat anaknya tumbuh tanpa seorang ayah?


Dilema memang, sampai-sampai memikirkannya membuat Mika kembali meneteskan air mata. Kalau dipikir-pikir dia kuat juga berjalan sejauh ini, walaupun bisa dibilang pernikahan yang masih seumur jagung, tapi menurut Mika ini perjalanan panjang sekali dan menguras emosi.


Dengan lembut dia mengusap perutnya. "Kamu kuat banget, Sayang. Mama pikir Mama akan kehilangan kamu. Kemarin Mama takut banget, karena cuma kamu yang Mama punya."

__ADS_1


"Kamu sedih ya karena Papa ninggalin kita kemarin?" Mika terkekeh sembari menyeka air matanya. "Sama, Mama juga sedih banget. Tapi kamu gak menyerah sama keadaan, kamu kuat banget dan sekarang kamu yang jadi kekuatan buat mama."


"Mama gak tau harus bilang apa soal Papa kamu, kamu udah bisa mendengar ya di dalam? Sayang, maaf ya Mama gak bisa kasih afirmasi positif, maaf karena sampai sekarang kamu belum diajak bicara sama Papa kamu. Maaf karena Mama masih terlalu kekanak-kanakan untuk menjadi seorang Ibu yang sempurna buat kamu."


"Tapi yang harus kamu tau, kamu berharga banget buat Mama, Sayang. Sangat berharga, kuat-kuat ya di dalam sana. Mama akan berusaha menjadi orang tua terbaik untuk kamu nanti meskipun dalam keterbatasan apapun. Mama juga akan pastikan kamu tumbuh dengan baik meskipun tanpa Papa di masa pertumbuhan kamu."


"Mama janji!"


Mika sedang berusaha menguatkan dirinya sendiri, namun ternyata dia tidak sekuat itu. Di sini, di tempat ini akhirnya dia menangis sejadinya. Membiarkan perasaannya lepas tanpa perlu takut ada orang yang melihat.


Sesak rasanya, dia sampai harus memukul dadanya berkali-kali karena sesakit itu. Dia selalu berpikir kalau Jeff akan berubah, tapi ternyata semakin lama dia menggenggam sebuah mawar, dia juga yang akan terluka.


Tangisnya kini mulai tersedu, tapi percayalah ketika Mika sudah menangis sampai tersedu-sedu seperti itu perasaannya benar-benar lepas. Dia benar puas menangis rasanya.


Tanpa dia sadari kalau Elang menatapnya dari dalam kamar Mika. Tadi Elang datang karena ingin memberikan vitamin, tapi melihat Mika menangis dia berhenti karena merasa kalau Mika butuh waktu sendiri.


Mika mengangguk dan menerima sapu tangan dari Elang, dia malu sekali Elang melihatnya dalam keadaan rapuh seperti ini. "Makasih, Kak."


Elang tersenyum lalu berdiri di samping Mika sembari menatap pemandangan di hadapannya. "Kadang kita emang harus menangis buat bikin perasaan yang terpendam itu jadi lega Mik. Nangis juga bikin beban kita jadi hilang. Jadi jangan malu kalau kamu nangis."


Mika mengatur napasnya lalu melirik ke arah Elang. "Tapi menangis bikin orang keliatan lemah, kamu jadi mandang aku kaya gitu kan, Kak?"


"Engga, aku malah memandang kamu sebagai wanita yang berhati lembut. Karena kalau kamu menangis berarti kamu punya perasaan, berarti kamu memang penyayang dan yang paling penting berarti kamu memang manusia."


Mika sedikit terkekeh. "Tapi manusia yang lemah. Aku cuma ngerasa sedih aja kok. Ini kan pertama kalinya aku memulai lagi kehidupan Mika yang memang harus berjuang sendiri. Kemarin aku udah terbiasa ada Mass Jeff dan sekarang aku juga harus mulai terbiasa tanpa dia."

__ADS_1


"Kamu gak ada rencana kembali memang?" Tanya Elang penasaran.


"Setelah anak aku lahir ada baiknya aku memang pergi dari kehidupan Mass Jeff, Kak. Aku sadar aku punya limit dan aku gak boleh memaksakan itu, kalau aku terus memaksa aku yang akan terluka."


"Emang anak aku pasti akan terluka kalau tau ibunya pisah dengan ayahnya, tapi dia akan jauh lebih terluka kalau dia punya ayah tapi gak pernah menganggap dia ada dalam kehidupannya," lanjut Mika.


"Tapi Jeff akan memberikan apapun untuk anak kalian," ucap Elang realistis.


"Gak ada jaminan dia bisa bahagia, aku pun merasakan itu sekarang. Aku gak bahagia bisa membeli apapun yang aku mau, aku gak bahagia tinggal di mansion tapi aku merasa kesepian. Aku gak bahagia sama sekali, Kak."


"Aku lebih bahagia hidup sederhana tapi penuh banyak cinta buat aku dan akan aku pastikan anak aku nanti mendapatkan itu meskipun cuma dari Mamanya. Aku pastikan dia akan bahagia dan tumbuh dengan kebaikan walaupun yang dia punya cuma aku."


"Dan Omnya," lanjut Elang sembari tersenyum.


"Aku gak akan biarin kamu sendirian menjaga anak kamu, Mik. Aku pastikan kalian bakalan baik-baik aja. Entah sampai kapan tapi aku akan menyayangi dia juga nantinya," ucap Elang dengan sungguh.


Mika terharu mendengarnya, ternyata Elang benar-benar peduli padanya. Sampai kapan pun Mika akan mengingat ini dan Elang akan menjadi sosok yang baik di mata anaknya kelak.


"Tapi aku gak akan egois, Kak. Aku akan tetap perkenalkan dia dengan papanya dari sudut yang paling baik, meskipun dia tidak tau akan bertemu dengan mas Jeff atau engga nantinya. Kalau soal itu aku serahkan sama waktu."


"Bagus, karena memang harus seperti itu. Aku yakin kamu bisa laluin ini semua dengan baik, aku juga yakin kamu ke depannya akan menjadi Ibu yang baik juga untuk anak kamu."


Mika tersenyum, kalau dia bisa mengucapkan banyak terima kasih pada Elang, akan dia lakukan detik ini juga. Entah sudah berapa banyak terima kasih yang dia ucapkan hari ini pada Elang.


"Aku tau Kak Elang bosen dengernya, tapi gak ada apa-apa lagi yang bisa aku kasih dan ucapkan ke kamu selain terima kasih. Terima kasih atas kontribusinya dalam hidup aku, Kak."

__ADS_1


Elang terkekeh dan mengusap puncak kepala Mika dengan lembut. "Sama-sama. Aku juga berterima kasih ke kamu karena udah bertahan sejauh ini."


__ADS_2