10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Hamil Anak Kedua?


__ADS_3


Dalam situasi seperti ini yang tidak ingin Mika lihat adalah fakta bahwa dia hamil, karena sebenarnya dia masih ingin fokus membesarkan Regan bersama Jeff, memberikan waktu sebanyak mungkin untuk Regan menikmati dunianya.


Terlebih Mika pernah bertanya beberapa bulan lalu pada Regan mengenai adik dan jawabannya Regan tidak ingin, dia tidak mau berbagi apapun dengan orang lain dan menurut Mika itu sangat wajar apalagi Regan masih kecil. Dia berhak untuk menjadi anak tunggal seperti yang dia inginkan.


Mika mau kalau Regan benar-benar merasakan kasih sayangnya dulu, tapi ternyata memiliki anak kedua bukan sesuatu yang bisa dia hindari, karena sekarang alat tes kehamilan yang ada di tangannya menunjukkan dua garis merah.


Mika sudah mengalami hal semacam ini sebelumnya. tapi baru kali ini Mika merasa takut, ya meskipun untuk apa juga takut, Jeff adalah ayahnya dia kan tidak hamil di luar nikah.


Tapi langsung tergambar di kepalanya bagaimana dengan Regan? Entahlah, Mika tidak tahu bagaimana mendeskripsikan semua ini, soalnya dia bahagia memang, tapi juga merasa bersalah dengan Regan, di sisi lain kalau dia tidak bahagia dengan kehadirannya, bagaimana dengan perasaan anak yang ada di dalam kandungannya?


Semua ini benar-benar membuat Mika merasa dilema, sebenarnya sudah beberapa hari belakangan ini Mika merasakan ada yang aneh di dalam dirinya, tapi dia berusaha untuk tetap berpikir positif bahwa ketika dia pusing ya karena memang dia kelelahan, ketika dia mual muntah ya karena salah makan.


Sampai Akhirnya fakta bahwa dia sudah lama tidak datang bulan akhirnya membuat Mika memutuskan untuk melakukan tes dan jelas bahwa dia memang hamil anak kedua. Karena garisnya sudah jelas saat dia memasukkan alat tes ke dalam urinnya, jadi dia benar-benar hamil sekarang.


"Sayang ... " Jeff memanggil, ini masih pagi dan Mika lama sekali berada di dalam kamar mandi sementara Jeff harus bersiap untuk berangkat ke kantor, jadi dia mau pakai kamar mandi juga.


Mika menatap pintu kamar mandi, tapi ya semuanya memang harus dihadapi apa pun yang terjadi, Jeff perlu tahu karena ini adalah anaknya, Mika akhirnya melangkah untuk membukakan pintu, dia juga sudah selesai sebenarnya.


Mika langsung menyodorkan alat tes kehamilan yang baru saja dia gunakan ke arah Jeff. Jeff menatap benda pipih panjang tersebut sebelum akhirnya dia sadar bahwa istrinya sedang hamil.


Jeff langsung menatap Mika. "Kamu?" Tanyanya. Mika menarik napasnya kemudian menganggukkan kepalanya, anak yang ada di dalam kandungannya sama sekali tidak salah, jadi mau tidak mau, siap atau tidak dia harus menerima keadaan ini.


Jeff langsung menarik Mika ke dalam pelukannya, ini adalah kabar bahagia yang harus mereka rayakan. Mika pernah mengalami ini, tapi kemarin dia tidak dapat mengekspresikan apapun, dia masih terlalu kaku. Tapi sekarang dia malah merasa paling bahagia saat mengetahui Mika hamil lagi.


"Ya ampun sayang, kamu hamil?!" Jeff menggoyangkan bahu Mika, ya walaupun dia tahu kalau Mika pasti sadar kalau dirinya hamil, Jeff tetap masih ingin menyadarkannya lebih-lebih lagi.


Sekali lagi Jeff memeluk tubuh Mika, karena memang ini adalah kabar bahagia untuk Jeff. Mika hanya diam bahkan saat Jeff memeluk tubuhnya sampai beberapa kali, karena dia sendiri masih berusaha untuk mencerna semua ini, apa ini nyata?


Jeff menatap sang istri. "Kita akan punya anak kedua," ujar Jeff mengingatkan, karena terkesan hanya dia yang excited dengan semuanya, sementara Mika masih konsisten kelihatan biasa saja.


"Kamu gak happy?" Tanya Jeff.

__ADS_1


"Aku takut merasa bersalah sama Regan, kita dalam situasi yang sebenarnya gak siap untuk anak kedua, apalagi aku," jelas Mika, karena Mika juga sama sekali tidak mau gegabah, dia tidak mau kalau diantara anaknya tidak mendapatkan keadilan, karena mereka berada di dunia ini bukan karena kemauan mereka, sementara sudah jelas kalau yang mau punya anak adalah Mika dan Jeff, bukan anak mereka yang meminta dilahirkan.


Jeff kembali menarik Mika ke dalam pelukannya, dia paham bagaimana perasaan Mika dan ketakutan apa yang ada di dalam diri Mika, semua itu sangat wajar, semua itu manusiawi.


"Tenang, ada aku, kita hadapi sama-sama." Jeff malah langsung kepikiran kalau mereka mungkin harus konsultasi ke psikolog untuk kemudian mempersiapkan diri agar bisa menjadi orang tua dengan dua anak.


Karena ya tidak mungkin juga mereka menghilangkan yang sudah ada sekarang ini, sementara mereka sudah berada dalam hubungan pernikahan yang sah dan halal. Jeff pernah sangat menyesal karena pernah mengabaikan Regan saat dalam kandungan dan dia tidak mau kalau penyesalan itu terulang kembali, dia tidak mau kalau sampai terjadi apa-apa pada kandungan Mika karena kondisinya yang seperti ini.


"Tapi Mass ... "


"Ssst! Kita pasti bisa."


.


.


.


Mika menangis pagi ini setelah dia tahu kalau dia hamil, dia sama sekali tidak siap, dia masih merasa perlu menjadi ibu yang baik untuk Regan, masih harus banyak belajar memahami anak seusia Regan, jadi ya dia agak bingung atas semua hal, atas banyak hal yang terjadi sekarang ini.


Tapi, meskipun sedih, meskipun merasa tidak siap dengan situasinya yang sekarang ini, Mika tetap melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan baik, dia tetap memasakkan sarapan pagi dan menyiapkan anak dan suaminya yang akan memulai kegiatan masing-masing hari ini. Lebih tepatnya Regan akan ikut Jeff ke kantor karena bosan di rumah.


Lagi dan lagi hanya ada keluarga kecil mereka karena yang lainnya juga sedang berlibur, Mika memutuskan tidak ikut kemarin ya karena dia merasa tidak enak badan, tapi ternyata dia hamil. Padahal di saat seperti ini dia membutuhkan Ibunya untuk berkonsultasi, apa dia pulang ke rumah Ibunya saja dulu ya untuk membicarakan hal ini?


Jeff melirik Mika sekilas sebelum akhirnya dia kemudian menatap Regan.


"Regan suka gak sama bayi?" Tanya Jeff, Mika langsung menarik napasnya, karena dia tidak siap dengan pembicaraan yang semacam ini.


Regan menatap papanya, dia sendiri bingung mau menjawab, sampai Mika sadar kalau Regan belum pernah berinteraksi dengan bayi, hanya pernah sekedar melihat, itu juga bayi yang tidak sengaja mereka temui, bukan bayi saudara atau orang terdekat mereka. Secara kan dia cucu tunggal.


"Regan belum pernah ketemu bayi, Mas," jawab Mika.


"Ah iya, kalau gitu Regan mau gak punya adik Akan ada bayi di rumah ini," ucap Jeff.

__ADS_1


Regan tampak berpikir sejenak, sejauh ini dia memang lumayan kesepian sih, dia lumayan merasa bahwa dia butuh teman. Regan akhirnya menganggukkan kepalanya. "Mau, Regan suka ada teman."


Itu juga yang mendasari Kenapa Regan suka ke kantor Jeff atau sesekali ikut kelas menggambar, karena dia akan bertemu banyak orang. Dia sangat suka di keramaian.


Jeff langsung tersenyum, itu seolah menjadi jawaban yang bisa menenangkan Mika, ya karena akhirnya Regan sendiri yang mengatakan bahwa dia mau punya adik.


"Jadi, Regan mau punya teman di rumah?" Tanya Jeff. Peran Jeff di sini memang sangat penting, mengingat istrinya yang sedang down, berarti dia yang harus lebih bijak. Pokoknya Jeff akan mengusahakan yang terbaik agar semuanya juga berjalan dengan baik.


Dengan polosnya anak tiga tahun tersebut menganggukkan kepalanya.


"Di perut mama ada adik sekarang, nanti bakal jadi teman Regan, kalau udah lahir berteman ya sama Regan?" Tanya Jeff. Regan langsung menatap sang mama, bagaimana mungkin?


Konsep terbentuknya bayi masih sangat tabu di kepala anak seusia Regan. Dan lagi Regan memang anak yang cukup kritis dan ingin tahu banyak hal, sudah resiko mereka kalau memberitahu Regan berarti harus menjelaskan juga konsep yang bisa dipahami oleh anak itu.


"Kok bisa ada di perut mama?" Tanya Regan dengan polosnya, ya salah Jeff sendiri tidak mempertimbangkan pertanyaan ini sebelumnya, jadi dia sama sekali tidak tahu jawabannya.


Mika tersenyum dan memilih meninggalkan meja makan, ya biar Jeff sendiri yang memikirkan jawabannya. "Karena sebelum dilahirkan ke dunia, kita harus ada di perut mama dulu," jawab Jeff.


"Kenapa ada di perut mama? Memangnya dia bisa bernapas? Dia bisa makan nugget buatan Mama juga? Bisa main mobil-mobilan di dalam sana? Kenapa harus di perut? Kenapa gak di keluarin aja, Pa?" Tanya Regan, semakin bingung dia karena perut mamanya kelihatan rata, sama seperti sebelumnya.


"Emm ... Karena karena memang harus ada di perut Mama, Sayang. Dulu Regan juga ada di perut Mama sebelum lahir ke dunia."


"Tapi Regan gak ingat," jawabnya lagi.


Jeff menghela napas, dia suka memang kalau anaknya pintar tapi kalau Regan terus bertanya seperti ini dia juga yang kehabisan akal untuk menjelaskannya.


Apalagi Regan masih kecil, masih banyak hal yang harus dia tau tapi banyak juga yang belum boleh dia tahu. "Karena waktu kecil ingatan kita masih sedikit, jadi Regan gak ingat."


"Lalu adeknya mana? Bisa liat sekarang?"


"Gak, Sayang. Kita harus tunggu selama 9 bulan untuk ketemu adik," jawab Jeff.


"Kenapa harus 9 bulan? 9 bulan itu berapa hari?"

__ADS_1


Sudah, Jeff tidak sanggup dengan rasa ingin tahu Regan. Dia sampai tersedak karena ya kenapa anaknya ini begitu kritis, lebih kritis dari anak-anak lain. Ahh bocah, tapi dia sangat menggemaskan di mata Jeff. "Nanti Papa jelaskan lagi, sekarang kita makan lalu berangkat ke kantor papa, oke boy?"


Regan mengangguk, walaupun dia belum puas dengan jawaban sang papa tapi tidak apa-apa, Papanya sudah berjanji akan menjelaskan, jadi dia pasti akan mendapat jawaban dari semua pertanyaannya.


__ADS_2