10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Ditinggal Jeffrico


__ADS_3


Usia kehamilan Mika semakin hari semakin membesar, terkadang Mika merasa kalau dirinya begitu sensitif. Banyak sekali pertengkaran kecil, seperti tadi malam. Jeff bilang kalau dia akan ke luar kota selama seminggu, tentu Mika tidak mau di tinggal. Jadilah dia hanya diam selama di meja makan.


"Saya akan ke Kalimantan selama seminggu, tolong titip Mika," ucap Jeff saat sudah menyelesaikan sarapannya.


"Loh Jeff harus kamu yang turun tangan? Kasian atuh itu Mika kamu tinggal-tinggal, kalau dia ngidam atau butuh kamu gimana? Mama kan juga sedang sering lembur, yang nemenin Mika saha? Meuni sok kitu budak teh," omel Mona.


"Auya Mas Jeff. Marahin, Ma," kesal Mika yang memang belum selesai ngambek dari semalam.


"Tidak bisa, Ma. Semuanya harus dikontrol saya tidak mau ada miss komunikasi," jelas Jeff.


"Apa sih, lo harusnya dukung kerjaan suami lo! Kebanyakan nuntut ini itu, masih mending lo dibuat hidup enak, gak tau diri!" Ketus Selena.


Mona membulatkan matanya, lagi-lagi Selena memperkeruh keadaan. Masih saja bersikap kasar dan belum bisa menerima keadaan. Mona sampai lelah menasehatinya lama kelamaan. Tapi untungnya Mika tidak terpancing, dia sudah terbiasa. Sekarang prinsipnya adalah : Yang waras ngalah.


"Gak boleh gitu," peringat Elang.


"Loh emang bener lagi pula ngapain larang-larang, dia kan baru di kehidupan Kak Jeff. Kita aja keluarganya gak pernah tuh larang ini itu. Dia siapa? Baru istrinya aja udah sok!" Kesal Selena. Jujur saja napsu makannya sudah tidak ada pagi ini.


"Princess," panggil Jeff, yang seketika membuat Selena terdiam.


Selena mencengkeram sendoknya kuat, lalu berdiri dan membantingnya di lantai. "Semua orang udah gak ada lagi yang sayang aku, kalau kalian kehilangan aku. Jangan nyesel!"


Selena pergi meninggalkan meja makan, namun Jeff menahan lengan adiknya itu. "Selena!"


Dengan berani Selena berbalik dan menatap Jeff dengan tajam. "Apa? Mau belain istri miskin Kakak yang gak tau diri itu hah?"

__ADS_1


"Jaga bicara kamu, Selena. Kakak tidak mau kasar," peringat Jeff.


Mona mau menghampiri Putrinya namun suara instruksi dari Jeff membuat Mona terdiam. Jeff harus melakukan ini agar Selena bisa berubah. Dia tidak suka adiknya ini memiliki perilaku buruk yang bisa saja bukan hanya kepada Mika, tapi kepada sekitarnya.


"Hah kasar? Berani Kakak sama aku hah? Setelah Kakak bawa orang yang gak aku inginkan sekarang Kakak berubah cuma demi wanita murahan yang godain Kakak! Lagian kenapa sih, Kak? Kakak gak punya pilihan lagi karena wanita J A L A N G itu bisa Kakak pake dan manfaatin semau Kakak? Apa wanita murahan itu-"


Plakk ...


Satu tamparan mendarat di pipi Selena, membuat semua orang di sana kaget. Jeff tidak pernah sekasar ini pada Selena tapi kali ini menamparnya. Jeff tidak menyangka begitu banyak kata kotor yang Selena ucapkan. Benar-benar dia salah mendidik sang adik.


"KAKAK NAMPAR AKU?!"


"Iya, kamu tidak pernah diajarkan sopan santun untuk bicara dengan Kakak? Kamu menghina Mika sama saja kamu menghina Kakak karena menikahi wanita murahan yang kamu sebut!"


Mika menghampiri Jeff, berusaha menenangkan suaminya. Bukan bagaimana, tapi ini sudah di luar batasan. Mika tidak mau kalau sampai merusak hubungan kakak beradik itu. "Mas, udah."


"SELENA!" Bentak Jeff.


"APA?! STOP PANGGIL AKU! AKU BENCI KAK JEFF!" Selena berbalik dan mengambil tasnya tidak peduli Jeff semarah apa, yang pasti perasaannya sangat terluka sekarang.


"Fasilitas kamu kakak cabut, kunci mobil, ATM simpan di meja!" Suara itu membuat Selena berbalik.


"Mas!!" Peringat Mika.


Selena menghela napasnya, jadi kakaknya ini mengancamnya. Dia tersenyum remeh, Jeff pikir dia siapa? Selena tentu bisa melakukan apapun. Dengan emosi dia melempar kunci mobil dan kartu-kartu yang ada di dompetnya. "Aku gak butuh!" Selena kembali keluar dan menutup pintu besar itu dengan kuat.


"Mas kamu gak seharusnya tampar dan cabut fasilitas Selena loh, kamu tau dia kaya gimana. Sekarang dia pergi naik apa? Ayok kejar dia," pinta Mika.

__ADS_1


"Gak bisa, Mika. Sesekali dia harus diberi pelajaran, tolong diantara kalian jangan ada yang berani memberi Selena apapun terkecuali dia meminta ke saya," ucap Jeff sembari melirik arlojinya. Dia sudah terlambat untuk ke Bandara. Keberangkatannya sebentar lagi.


"Saya pergi dulu, tolong jaga Mika." Jeff memegang tengkuk Mika lalu mencium bibir Mika dengan lembut. "Jaga diri baik-baik."


Mika sebenarnya masih tidak mau ditinggal, tapi Jeff benar-benar harus pergi karena sudah memesan tiket pesawat. Mau tidak mau dia memang harus mengerti, ada benarnya juga apa yang dikatakan Selena kalau dia tidak boleh menghambat Jeff dalam karirnya sebagai CEO. Jadi perlahan dia menganggukkan kepalanya.


Setelah mendapati anggukan dari Mika Jeff pun keluar, tidak lupa juga membawa kunci mobil dan kartu milik Selena. Ancamannya tidak main-main, jadi kalau Selena menginginkannya kembali tentu harus berhadapan dulu dengannya. Karena Selena sekarang tidak akan dibiarkan seenaknya dalam melakukan apapun yang dia inginkan.


"Mama juga berangkat ya, Mama juga sudah telat. Elang jangan lupa hubungin Selena. Dia pasti butuh kamu sekarang," ucap Mona.


Mona juga segera ikut berangkat, sementara Elang ada kelas nanti siang. Elang menyanggupi permintaan sang Ibu. Jadi hanya tersisa Mika dan Elang sekarang. Mika duduk di sofa dengan lemas. Elang mencoba menghubungi Selena namun tidak diangkat. Jika Jeff marah, tentulah Elang yang harus menjadi paling peka untuk Selena.


"Kamu kenapa, Mik?" Tanya Elang yang melirik ke arah Mika sambil terus mencoba menghubungi Selena.


"Aku khawatir sama Selena, Kak. Ini pertama kalinya Mas Jeff sekasar itu sama dia dan aku gak mau dia jadi salah paham sama kakaknya sendiri," ucap Mika jujur.


"Kak Jeff udah benar, Mik. Jangan terlalu dipikirin, aku akuin juga kok dia keterlaluan. Tapi di sini aku yang harus jadi penenang buat Selena. Jangan khawatir, pikirin ponakan aku yang ada di perut sana," ucap Elang setengah bercanda, meskipun keadaan sekarang ya memang bisa dibilang berantakan.


"Tetep aja loh, Kak. Mas Jeff itu kesayangannya Selena. Aku kalau orang yang aku sayang kaya gitu juga sakit hati. Aku sama dia seumuran dan aku paham apa yang dia pikirin sekarang. Dia pasti sekarang juga kebingungan harus minta tolong sama siapa," kata Mika.


"Dia pasti sama temen-temennya kamu jangan khawatir," ucap Elang.


Mika bukan tidak percaya, tapi Mika tau sirkel pertemanan Selena dari dulu sampai sekarang. Kalau sampai tidak ada yang menemaninya bagaimana? Ada perasaan khawatir yang Mika rasakan. Entah kenapa dia merasa mempunyai tanggung jawab atas adik iparnya itu. Ya meskipun menyebalkan dia kan tetap adik iparnya.


"Jangan overthinking, inget kata kak Jeff harus baik-baik aja. Jangan stress berlebih, nanti keram dan masuk rumah sakit lagi. Selena nanti kita pikirkan, inu aku juga masih berusaha hubungin. Tenang aja."


Mika mengangguk, Elang benar. Dia tidak boleh stress, Jeff sedang marah. Mungkin nanti dia bisa bicara setelah Jeff tenang lalu membujuknya untuk bicara pada Selena. Di saat seperti ini kalau dia panik siapa yang akan menenangkan Jeff?

__ADS_1


__ADS_2