
Di kehamilannya yang sebelumnya Mika harus melalui semuanya sendirian, sekarang dia akhirnya merasa punya teman karena ada Jeff dan juga Regan.
Mika main ke rumah mamanya karena memang dia butuh berkumpul dengan teman-teman perempuan lainnya selain Mona, terlebih yang sudah menjadi ibu juga, dia juga bersama Tessa perginya yang akan menjadi ibu suatu saat. Karena ya Jeff membawa Regan lagi ke kantor setelah kelas menggambar.
Widia malah hampir menangis saat mendengar kalau Mika hamil lagi, ya walaupun posisinya Mika sudah pernah hamil dan melahirkan, tapi sekarang dia ada di pertumbuhan janin kecil cucunya. Dia ada untuk Mika saat dia butuh konsultasi mengenai kehamilan.
Hal-hal yang selalu Widia impikan ya karena dia memang hanya mempunyai Mika sebagai anak. Dia sangat senang dan suaminya pun pasti senang mendengar kabar ini.
Perasaannya seolah pertama kali akan mendapatkan cucu, Widia memeluk tubuh Mika, dia juga mengelus perut Mika. " Selamat ya," ucapnya, karena memang dia sebahagia itu. Mika tersenyum dan mengangguk, kalau banyak dukungan begini dia jadi merasa bahwa dia tidak sendirian, dia jadi merasa bahwa dia akan kuat menghadapi semua ini.
"Sebenarnya Mika sempat stress Ma," ujar Mika, karena memang dia sempat menolak semua ini, sempat berusaha meyakinkan semuanya kalau ini nyata.
Widia menatap Mika. "Kenapa? Apa yang menganggu pikiran kamu, Sayang? Kenapa coba ceritakan sama Mama. Ada yang kamu khawatirkan?" Tanyanya, padahal seharusnya dalam situasi ini Mika bersyukur dong dengan apa yang dia dapatkan di dalam hidupnya?
"Ya karena merasa belum puas untuk jadi orang tuanya Regan," ujar Mika, dia akan jujur untuk bisa berbagi apa yang dia rasakan, tidak salah kan? Karena dia juga hanya manusia biasa.
Widia membawa Mika untuk duduk di ruang keluarga rumahnya, akan lebih nyaman mengobrol saat mereka duduk di sofa.
"Kenapa? Apa yang salah? Regan udah tiga tahun sekarang, ya walaupun usia yang ideal untuk punya adik di lima tahun, tetap kayanya Regan udah cukup siap untuk punya adik," jelas Widia, apa yang membuat Mika sampai merasa tidak bisa? Padahal Regan juga sudah cukup besar.
Mika menarik napasnya, dia kemudian menceritakan soal perasaannya selama ini, menceritakan bagaimana dia merasa bahwa Regan itu masih butuh banyak kasih sayang dari dirinya, dari Jeff, Regan harus benar-benar merasakan bahwa dia sebenarnya punya orang tua yang lengkap, Mika mau seperti itu.
Widia mengangguk-anggukkan kepalanya, perasaan tidak tega itu juga yang dulu membuat Widia akhirnya hanya punya Mika yang menjadi anaknya, karena takut Mika kekurangan kasih sayang malah membuat keadaan menjadi Mika terlahir sebagai anak tunggal.
"Mama juga dulu punya perasaan kayak gitu, wajar banget kamu ngerasa mau kasih yang terbaik sama anak kamu, tapi mama sama papa akhirnya terjebak, makanya sekarang cuma punya Mika, kamu jangan sampai terjebak lah. Kamu harus punya anak banyak, Jeff itu mapan secara ekonomi dan pemikirannya juga sudah sangat matang, gak ada sesuatu yang harusnya kamu takutkan secara berlebihan, karena Jeff pasti sudah siap," jelas Widia, karena pasti Jeff juga sudah paham dan sudah mempersiapkan banyak hal untuk anaknya.
Mika terdiam, dia kemudian mengangguk, benar apa yang dikatakan oleh Widia, karena
memang kelihatan kok Jeff begitu dewasa menanggapi semua ini, dia bahkan selalu memahami perasaan Mika dan seolah paham bahwa Mika terlalu muda untuk paham semua ini.
"Iya, makanya sekarang aku juga akhirnya menerima. Mas Jeff juga banyak komunikasi sama Regan, malah akhirnya Regan yang siap jadi abang," jelas Mika yang kemudian terkekeh, jujur dia merasa aneh sih dengan semua ini, karena ya dia salah kalau merasa tidak siap, dia memiliki banyak orang yang mendukungnya di sekitarnya.
Dia tidak merasa sendirian, mereka semua menerima Mika dengan sangat baik, lebih baik dari apa yang Mika sangka sebelumnya. Widia mengambil tangan Mika.
"Percaya soal rezeki anak, ini kita lagi gak ngomongin soal materi ya. Tapi percaya deh, saat anak kamu lahir kamu akan terus belajar jadi orang tua, akan terus berusaha untuk kasih yang terbaik dan itu juga merupakan bentuk rezeki untuk anak kamu," jelas Widia, bisa memberikan limpahan kasih sayang sebagai orang tua juga sudah merupakan rezeki seorang anak, Widia mengatakan semua ini agar Mika bisa yakin dengan dirinya sendiri.
"Kamu pernah melalui yang terberat, berjuang untuk Regan. Jadi, yang kali ini juga pasti kamu bisa lewati semuanya dengan baik, kamu pasti bisa." Widia menepuk punggung tangan Mika, berusaha meyakinkan anaknya itu.
Mika menipiskan bibirnya, tersenyum lebar, seharusnya sejak awal memang dia menemui Widia untuk menenangkan perasaannya sendiri, untuk merasa bahwa dia siap menghadapi semuanya.
.
.
__ADS_1
.
"Hamil doang galau lo!" ledek Tessa, hamil, ada suami, semuanya serba kecukupan. Dia muntah-muntah juga di rumahnya banyak pembantu, hamil muda hanya harus istirahat di atas kasur, tapi malah galau, siapa lagi kalau bukan Mika coba? Memang agak lain manusia satu ini.
Mika mengedikkan bahu. "Lo juga, perkara kak Kak Elang doang galau lo!" Mika balik meledek Tessa, umur memang tidak bisa berbohong, kedekatan mereka membuat keduanya lebih santai melontarkan candaan demi candaan.
Tessa tertawa. "Beda konsep anjir, gue emang belum jelas mau dapet atau gak, nah lo? Udah jelas banget hidup lo ke depannya bakal gimana, pake galau-galau segala, nggak jelas banget!" Cibir Tessa tidak mau kalah.
Mika kemudian mengedikkan bahunya lagi, Tessa sudah pasti akan terus punya opini dan tidak akan pernah mau kalah, jadi ya sudah yang harus Mika lakukan adalah mengalah padanya.
"Bersyukur seharusnya lo, ditiup hamil. Di luaran sana banyak banget yang mau hamil tapi belum dikasih, gue aja nih ya, ketar-ketir banget, bisa gak ya gue nanti nikah terus langsung hamil? Nah lo, yang belum nikah udah hamil malah merasa bersalah, apa-apa itu disyukuri," jelas Tessa, sekarang dia sudah mulai banyak omong, Mika jadi merasa bahwa lebih baik kalau Tessa galau saja, biar diam seribu bahasa, karena kalau banyak omong begini Mika jadi agak pusing juga.
Mika menganggukkan kepalanya, dia mengelus perutnya sendiri, sekarang dia juga sudah lebih bersyukur dengan semuanya, sudah lebih menerima keadaannya, tanpa Tessa minta dia sudah menjalani semua ini dengan sangat baik.
"Ya, gue juga udah bersyukur banget sekarang ini," jelas Mika, karena memang dia sudah lebih bisa menerima, agak aneh juga kalau hatinya masih batu padahal sudah mendengar suara detak jantung anaknya. Dia dan Jeff pernah salah sebelumnya, Mika sama sekali tidak ingin mengulangi semua kesalahan di masa lalu.
Tessa menarik napasnya. "Gue iri sama lo." Tessa tiba-tiba mengatakan itu, dari seluruh kesempurnaan di dalam hidup Tessa dan dia iri dengan Mika? Apa Mika tidak salah dengar?
"Lo menemukan kehidupan lo yang sebenarnya, sementara gue masih terjebak di sini dengan perasaan gue yang kayaknya cuma gue rasain sendirian," jelas Tessa, sebenarnya dia masih merasa suka insecure karena Elang pernah mencintai Mika sedalam itu, sedangkan mereka tidak bisa di compare.
Mika menghela napasnya, dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana. Karena kalau masalah Tessa dan Elang itu memang ribet, ribet sekali. Mereka baru saja pacaran tapi sering membahas hal-hal berat, hebat bukan?
"Tapi ... " Tessa menggantungkan perkataannya.
"Gue tau hidup lo berat sebelumnya, tapi dengan menemukan Om Jeff lo jadi sebaik ini sekarang, gue juga pengen menemukan seseorang yang bisa bawa gue ke kehidupan yang lebih baik."
Hanya saja mereka hidup di tengah lingkaran masa lalu yang membuat ini rumit, sebenarnya juga Tessa masih belum cukup dewasa untuk memahami kalau masa lalu ya masa lalu saja. Tapi tidak salah juga kalau dia merasa insecure dengan seorang Mika. Ini tinggal Elangnya saja yang harus ekstra keras berusaha meyakinkan Tessa.
.
.
.
Jeff mengulurkan tangannya untuk mengelus perut Mika, dia baru saja menjemput sang istri dari rumah mertuanya. Mungkin mengelus perut Mika akan menjadi kebiasaannya setelah ini, karena memang mereka akan punya anak, Jeff akan menemaninya, dalam kondisi apa pun.
"Ngomongin apa aja?" Tanya Jeff.
"Kepo!"
"Iya dong! Gak ngomongin aku, 'kan?" tanya Jeff kepedean, ya memang dia agak kepedean karena rasa penasarannya.
"Dih, Engga lah! Ya kali ngomongin suami sendiri!" Ucap Mika, seburuk-buruknya Jeff akan tetap menjadi suaminya.
Jeff terkekeh. "Kayanya kalau kamu stress, better aku anterin kamu ke rumah Mama Widia aja deh," kata Jeff, dia malah seolah menemukan solusi dari masalahnya selama ini.
__ADS_1
"Dih, terus kamu mau menghindar dari kemarahan aku gitu?" Tanya Mika.
Jeff terkekeh, istrinya ini pasti akan lebih sering marah-marah karena sekarang sedang sangat sensitif.
"Ya kalau bisa menghindar kenapa gak?" Tanya Jeff, dia kemudian tertawa, tentu saja bercanda, dia masih menjadi sosok yang sangat takut kehilangan, dia masih menjadi satu sosok yang takut kehilangan Mika lagi.
Mika meliriknya dengan tidak santai, karena memang selama ini Jeff selalu menyebalkan. Jeff kemudian mengulurkan tangannya, dia mengusap puncak kepala Mika.
"Bercanda sayang," ucapnya.
"Aku juga gak akan pernah marah kalau gak ada alasannya," kata Mika membela dirinya sendiri, ingatlah bahwa perempuan tidak akan pernah salah, kalaupun salah maka Jeff yang harus introspeksi diri.
Padahal belakangan Mika banyak marah tidak jelas karena memang ya Jeff juga paham kalau istrinya itu sedang hamil muda, wajar sekali kalau perasaannya sedang sangat sensitif.
"Iya, aku paham kok." Dan setiap hari Jeff harus menahan dirinya, menahan perasaannya dan menjadi sosok yang paling sabar di dunia ini.
.
.
.
Sampai di rumah yang Mika cari adalah Regan, perlahan Mika akhirnya mengerti arti dari tempat pulang yang sebenarnya, perasaan Mika menjadi sangat baik, setiap pulang selalu ada yang menyambutnya.
"Tadi Regan pulang kelas menggambar gak di jemput papa karena papa sibuk, maafin papanya ya. Tapi aman kan sama Om Bodyguard? Udah makan?" Tanya Mika, karena memang dia pulang agak sore dan belum sempat bertemu Regan sejak pulang kelas gambar.
Regan menganggukkan kepalanya. "Gapapa Regan berani. Udah makan juga, Mama."
"Makan pake apa?" Tanya Mika.
"Makan pake nugget, sama brokoli sama wortel," jawab Regan, kebetulan di usia yang sekarang memang agak sulit untuk makan, maka dari itu kebanyakan menu Regan didominasi nugget dan sosis, tapi Mika sudah membuat perjanjian kalau harus tetap makan sayur karena semua orang di rumah juga makan sayur.
Mika mengacak puncak kepala Regan. "Pinter banget anak mama." Tidak sungkan dia memberikan pujian.
Regan tersenyum, dia kemudian melangkah mendekat ke mamanya. "Boleh pegang adek?" Tanya Regan.
Mika menganggukkan kepalanya. "Boleh dong, boleh banget ." Mika kemudian sedikit berjongkok dan membiarkan Regan mengelus perutnya.
Regan tersenyum dengan senyum terbaiknya. "Gak ada apa-apa," ucapnya dengan sangat polos.
"Belum sayang, nanti akan berasa." Mika menjelaskan dengan sabar, sekarang memang masih rata, namanya juga masih kecil.
Jeff ikut bergabung dengan mereka, dia juga mengusap rambut Regan. "Nanti perut mama akan membesar, karena adek ada di dalam."
"Hah? Gak meledak?" Tanya Regan, masih dengan polosnya.
__ADS_1
Jeff terkekeh. "Engga dong sayang, karena perut mama jadi rumah sementara untuk adek."