
Liburan menyenangkan akhirnya membawa mereka menetap di rumah sakit, mungkin mereka akan menghabiskan beberapa hari di sana. Karena sekarang memang kondisi Regan naik turun, panasnya tinggi kemudian turun sedikit, begitu terus.
Jadi keadaannya masih akan terus dipantau oleh dokter, tentu saja sebagai orang tua Jeff dan Mika harus mengalah, bukan harus memang wajib dan memang sebagai orang tua harus bertanggung jawab atas apa yang sudah ada di dalam hidup mereka.
Karena mungkin tubuhnya terasa tidak nyaman, jadi Regan memang lebih tenang saat dirinya dipeluk, jadi Mika dan Jeff bergantian menggendong, Mika sebisa mungkin memperkenalkan perasaannya sebagai ibu, jadi benar-benar hanya dia yang mengurus Regan, Jeff hanya membantu sedikit-sedikit.
"Kamu dua hari belum tidur, Sayang," ujar Jeff, ya maksudnya jangan sampai Mika sakit juga karena dia menjaga Regan, Mika menggelengkan kepalanya, apa yang dia lakukan justru karena dia merasa bahwa dia harus melakukan penebusan rasa bersalahnya.
"Regan masih butuh aku," ujar Mika, karena selama ini juga semuanya salah Mika, tidak mungkin juga Regan tiba-tiba sakit tanpa alasan.
"Iya Regan butuh kamu, selamanya dalam hidupnya dia akan butuh kamu. Makanya kamu harus sehat, jangan sampai kamu jaga Regan tapi kamu malah sakit," ujar Jeff, karena dia juga memikirkan Mika, dia melihat sendiri bagaimana Mika Berusaha untuk menebus segala rasa bersalahnya, dia malah kelihatan terlalu memaksakan diri.
Mika menatap Jeff, kemudian menghela napasnya, Mika memutuskan untuk tidak mendengarkan Jeff. Karena sekarang ini Mika sedang berusaha menggantikan seluruh rasa bersalahnya yang sebelumnya, jadi Mika mau egois sekarang ini, dia benar-benar mau menuntaskan seluruh perasaannya.
"Aku yakin kalau aku gak bakal sakit." Karena Mika juga mengafirmasi dirinya sendiri kalau dia pasti selalu sehat. Karena meski Jeff juga menjaga tangan yang diinfus, tetap saja sebagai ibu naluri Mika lebih besar, ketika Regan bergerak sedikit saja Mika sudah langsung sadar.
Jeff kemudian menghela napasnya, namanya juga Mika, agak aneh juga kalau dia bisa dengan mudah mendengarkan Jeff, dia pasti membantah dulu, dia pasti melawan dulu, setelahnya nanti saat semuanya terbukti tubuhnya tidak sanggup baru dia bisa sadar.
Kemudian benar, saat malam ketika Regan sudah berhasil tidur di dalam pelukan Jeff karena gantian, akhirnya Mika muntah-muntah, kesimpulannya adalah Mika masuk angin, karena terlalu sibuk mengurus Regan jadi lupa makan.
Jeff sama sekali tidak bisa berbuat banyak, dia tidak bisa menemani Mika masuk ke dalam kamar mandi dan memijat tengkuknya, dia masih harus memeluk dan mendekap tubuh Regan karena Regan sendiri juga perlu ditenangkan.
"Sayang aku udah bilang kamu istirahat!" Jeff mengingatkan, karena memang ya jangan sampai mereka juga tumbang, nanti Regan bagaimana?suster yang tadinya akan mengganti labu Regan kini membantu Mika kembali membawa Mika ke kasur yang kosong, kasur yang tidak ditempati Regan.
"Aku baik-baik aja." Karena Mika akan terus mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Di keadaan ini dia tidak akan pernah menyampaikan kalau dia tidak baik, Jeff harus tahu kalau Mika sedang baik-baik saja. Jeff menghela napasnya karena dia tahu kalau Mika hanya tidak mau membuatnya khawatir, padahal sama sekali tidak masalah.
"Ibunya sedang hamil ya?" Tanya suster.
__ADS_1
Mika dengan cepat menggeleng, tentu tidak. Dia dan Jeff sudah lama tidak melakukannya. Baru beberapa hari lalu, jadi tidak mungkin juga dia hamil.
"Oh maaf, Bu. Mungkin Ibu kelelahan. Kalau begitu saya permisi dulu, Bu."
Mika mengangguk seraya tersenyum. Namun sepertinya alih-alih istirahat dia jadi teringat kemarin tidak memakai pengaman. Bukan masalah takut jadi, tapi dia takut kalau dia akan menduakan Regan di usianya yang masih kecil.
"Mas, kalau nanti aku hamil gimana?" Tanya Mika.
Jeff yang menidurkan Regan kini beralih menatap ke arah Mika. "Kamu kepikiran kata-kata suster?"
"Harus dipikirkan. Kita jaga Regan aja belum bener gimana kalau nanti aku hamil lagi? Aku bakalan bener-bener ngerasa bersalah sama Regan kalau aku hamil."
"Gak akan, Sayang. Jangan berpikir kemana-mana dulu. Sekarang mending kamu istirahat. Regan juga gak akan tenang kalau Mamanya gelisah."
Mika menghela napas, tapi menurutnya pembicaraan seperti ini memang penting. Mereka harus memikirkannya sebelum terjadi, kan? Mereka harus punya persiapan.
Sekarang Mika benar-benar tidak siap dengan semuanya. Mika melirik Jeff yang juga menatapnya, sama sekali tidak ada perencanaan tapi bukan tidak mungkin untuk terjadi, mereka tidak pernah tahu bagaimana cara Tuhan bertindak atas hidup seorang hamba.
Mika punya waktu untuk memikirkan semua ini, memikirkan soal dirinya sendiri karena memang dia merasa bahwa dia harus fokus dengan Regan.
"Memangnya kamu gak mau punya anak lagi?" Tanya Jeff. Baik kalau yang Mika butuhkan adalah bicara tentu dengan senang hati Jeff akan bicara panjang lebar dengan Mika.
"Gak usah ngaco! Kita harus fokus sama Regan sekarang. Aku lagi khawatir tau, Mas!" Mika mengingatkan, bahwa memang mereka tidak boleh memikirkan yang aneh-aneh dulu.
Lebih baik dia makan makanan yang ada di hadapannya. Dia memang belum makan juga, tubuhnya terasa lemas sekali karena belum menyantap karbohidrat apapun.
Mika mengabaikan Jeff dan kemudian mulai menyantap makanan yang ada di hadapannya, dia tidak mau kalau pikirannya sendiri dihantui dengan rasa tidak nyaman, tidak mau kepikiran, maunya jalani saja semua ini dengan baik.
Jeff menghela napasnya, jadi mereka mau lalai ke anak kedua mereka kalau ternyata Mika benar hamil nantinya? Hanya karena Mika tidak ingin, lalu dia tidak akan berani memeriksakan jika suatu saat nanti dia hamil, begitu kah?
__ADS_1
"Kalau ternyata nanti kamu hamil dan kamu mengabaikan dia karena memang tidak ingin hamil, terus baru tahu setelah kehilangan, apa kamu tetap mau egois dan fokus ke Regan?" Tanya Jeff.
Mika diam, sendoknya masih menggantung di udara, Mika jadi berpikir keras sekarang. "Kamu ngerasa jahat sama Regan, bukan berarti kamu bisa mengabaikan yang lain. Jangan dulu bicara soal anak. Kita bicara dulu saja soal kesehatan kamu. Itu saja kamu lalai sama diri sendiri."
"Ya karena aku ngerasa ber-"
"Bersalah gak akan menuntaskan semuanya, Sayang. " Jeff menghela napasnya, dia berusaha tetap tenang menghadapi Mika yang sensitif akhir-akhir ini.
"Ambil waktu untuk istirahat dan pikirkan semuanya. Jangan terlalu fokus pada kesalahan. Kehidupan kita terus berjalan. Kamu, aku dan semua orang pasti melakukan kesalahan dalam menjaga anak, tapi bukan berarti terus nyalahin diri sendiri."
"Aku salah ya, Mas?" Tanya Mika.
Jeff memeluk Mika dengan erat, membawanya dalam pelukan terbaiknya. Jujur dia memang lelah saja beberapa hari ini, lelah pikiran, lelah fisik dan juga mentalnya. Mika benar-benar tersiksa dengan perasaannya yang seperti ini..Dia merasa tidak ada yang mengerti posisinya padahal dia punya Jeff untuk diajak berbagi apapun.
Memang benar apa kata orang tua. Mungkin ada benarnya juga untuk tidak menjadi Ibu di usia muda, karena memang begini. Akan banyak kekhawatiran, banyak hal yang dipikirkan, banyak hal yang masih dipikirkan mengikuti perasaan.
Sangat beresiko mengalami hal-hal sensitif, baik sebelum hamil, setelah hamil dan melahirkan. Kalau soal mental tentu pasti belum sempurna menjadi orang tua. Terkecuali Jeff yang memang sudah dewasa, tapi dia juga ternyata masih sama saja seperti Mika.
"Kamu gak salah, hanya saja kamu masih terlalu banyak berpikir hal yang tidak penting. Aku katakan sama kamu, kalau kamu udah menjadi Ibu terbaik untuk Regan."
"Kamu menikah diusia muda, kamu melahirkan, menjaga Regan dan bahkan gak bisa tinggalin dia barang sedikit pun. Itu kenapa kita selalu bawa Regan kemana-mana, karena kamu menyayangi dia."
"Kalau dia sakit itu memang mungkin di luar ekspetasi kita, memang ada orang tua yang sengaja ingin membuat anaknya sakit, gak ada, Sayang," lanjut Jeff. Bukan ingin memarahinya, tapi ingin memberikan sudut pandang lain agar Mika tidak berhenti di pemikirannya yang itu-itu saja.
Mika yang mendengar itu semua hanya bisa menangis, menumpahkan seluruh perasaannya pada Jeff hari ini. Memang perjalanan menjadi Ibu yang Mika hadapi tidak mudah. Dia masih terlalu muda untuk ini, tapi dia memang selalu ingin yang terbaik untuk Regan. Dia pasti akan melakukan segala hal untuk Regan, tapi ternyata begini susahnya.
"Maafin aku, Mas ... "
Jeff menangkup pipi Mika dengan lembut dan menatap istrinya dengan lamat. "Jangan salahin diri kamu lagi atas apapun, aku gak suka. Kamu udah terbaik, sangat terbaik. Kamu punya aku, kita harus kompak menjadi orang tua terbaik untuk Regan. Setelah ini, aku gak mau denger pikiran-pikiran yang gak penting untuk kamu pikirkan."
__ADS_1
"Dengan ini sekarang, kamu Ibu dan Istri terbaik. Oke?" Jeff tersenyum lalu mengecup bibir Mika dengan lembut.
Membuat perasaan Mika menghangat, iya dia leg sekarang telah menumpahkan apa-apa saja yang bersarang dalam pikirannya beberapa hari ini, nyatanya Jeff memang penenang yang paling bisa diandalkan.