10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Sehari Menjadi Anak Kecil Part 1


__ADS_3


Saking lamanya menghabiskan waktu dengan orang tuanya, Mika sampai lupa kalau dia sudah memiliki anak sekarang. Sembari menunggu Ayah dan Ibunya bergantian ganti, Mika ke ruang tengah menemui semua orang.


Terlihat juga Regan sedang rewel di gendongan Ayahnya. Mungkin merasakan kalau tadi hati Ibunya sedang tidak baik-baik saja. Perlahan Mika mengambil Regan dari gendongan suaminya. "Maaf ya aku lama."


Jeff mengangguk lalu mengecup puncak kepala Mika. Setelah itu Mika menciumi Regan dan menenangkan anaknya agar tidak menangis lagi. Mereka belum berani bertanya sih, mengingat juga mungkin Mika masih kaget Tapi jujur, mereka sangat bahagia Mika bisa mendapatkan orang tuanya kembali, terlebih Tessa dan Caca yang memang tahu betul bagaimana perjuangan Mika saat ditinggal pergi orang tuanya.


Memang banyak sekali pertanyaan kalau mau diutarakan. Tentang kenapa mereka tidak menghubungi Mika, tentang apakah mereka memikirkannya setiap hari, tentang siapa yang dikuburkan di dalam sana. Mika sebenarnya tidak tahu, apa dia begitu lugu hingga tak menyadari kalau itu bukan kedua orang tuanya? Lalu siapa? Memang sih pada saat itu dia tidak melihat pemakamannya, tapi kenapa bisa Mika kemarin menerima saja kalau orang tuanya sudah tidak ada, padahal di negara sana mereka kesusahan.


Mika memeluk Regan dengan erat, perasaan tidak enak ini sedikit lebih baik saat mendekap putranya seperti ini. Regan juga yang terheran-heran melihat Ibunya menangis hanya pasrah menerima perlakuan sang Ibu.


Mika duduk di sofa, Mona yang memang dekat dengannya pun mengusap-usap punggung menantunya. "Sudah bicara dengan Mama Papa?"


Mika mengangguk. "Udah, Ma. Cuma memang ada beberapa hal yang gak bisa aku pahami dan aku terima. Maksudnya aku ngerasa gagal jadi anak karena gak mengetahui keberadaan orang tuanya."


"Kamu gak salah, Sayang. Semua memang sudah diatur seperti itu oleh yang di atas. Kita cukup berdamai dengan semuanya dan melanjutkan hidup dengan baik, kamu juga pasti senang, kan?"


Mika kembali mengangguk, dia tentu senang. Senang sekali bahkan, karena hal ini memang jauh dari ekspetasinya. Sesuatu yang dia sudah ikhlaskan beberapa tahun, kini kembali padanya. Mika terkekeh. "Regan pasti bingung liat Mamanya masih cengeng kaya gini ya, Ma? Liat dia ngeliatin aku bingung gitu."


Mona mencubit pelan pipi cucunya dengan gemas. "Iya, katanya kenapa Mamaku nangis, khawatir dia sama Mamanya."


Mungkin jika Regan bisa bicara, dia ingin bertanya kenapa Ibunya menangis. Mika selama ini selalu menunjukan sisi hangat dan senyum manis di hadapannya. Jadi saat Mika menangis Regan hanya diam memandangi sembari sesekali mencium dan mengemut pipi Mika. Gemas sekali memang Regan kalau seperti ini.

__ADS_1


Melihat Mika tersenyum, Jeff juga ikut tersenyum di sampingnya sembari bergantian melirik ke arah Mika dan Regan. Anaknya ini ternyata pintar membujuk Ibunya, bahkan lebih jago daripada Jeff sepertinya. Tapi Jeff bersyukur, karena memang dia mempersiapkan ini lumayan lama.


Semua do'a baik yang dia ucapkan juga mengandung makna, ya ini salah satunya. Dia tidak mau Mika berpikir kalau hidupnya penuh ketidakberuntungan dengan merasa sebatang kara. Karena kedua orang tuanya masih hidup dan akan selalu ada di sampingnya lagi mulai hari ini.


Semua luka, rasa sakit, pengorbanan dan kekuatan Mika rasanya hari ini dibayar tuntas seolah Tuhan berkata : Nih, rasa sakitmu sudah dibayar habis dan nikmatilah kebahagiaan yang aku beri mulai saat ini. Iya, begitu yang Mika rasakan sekarang.


.


.


.


Malam ini semua orang berkumpul, selain untuk merayakan ulang tahun Mika, ya mereka semua juga merayakan kepulangan orang tua Mika. Tessa dan Caca juga sampai menginap di rumah ini untuk ikut merasakan kebahagiaan Mika.


Mika duduk di antara Widia dan Firman, persis seperti remaja yang masih ingin bermanja dengan kedua orang tuanya. Widia juga tidak keberatan, karena memang kalau Mika sedang ingin begini, dia akan menyuapi Mika agar dia mau makan.


Jeff menatap istrinya seraya menggelengkan kepala. Heran saja, tapi dari sini dia menyadari kalau dia memang menikahi bocah. "Mama kamu mau makan juga, Sayang. Makan sendiri."


"Tidak apa-apa, Jeff. Mika sudah biasa seperti ini kalau di rumah, Mama juga rindu menyuapinya seperti ini," ucap Widia.


Mika menjulurkan lidahnya ke arah Jeff seolah meledek. Dia memang harus sadar kalau istrinya ini bocah, jadi harus dia perlakukan dengan baik dan tidak menyakitinya lagi. Apalagi sekarang ada superheronya : Sang Papa.


Jeff menghela napasnya, sementara Elang dan Selena juga ikut meledek ke arahnya. Aduh kasian juga Jeff kalau Mika sedang mode anak kecil seperti ini.

__ADS_1


"Maaf ya Jeff, Mika memang seperti ini anaknya. Dari dulu bandelnya minta ampun, pernah satu waktu papa marahin, dia malah manjat pohon sampai ketiduran di atas sana semalaman.


Semua orang terkekeh, terutama Tessa dan Caca. "Hahhahaha bener Om, Om tau gak Mika pernah jailin pak botak sekolah sampai manjat ke pohon juga. Terus Pak botak encok karena bujuk Mika yang gak mau turun-turun."


Lagi-lagi itu mengundang tawa semuanya, ya Mika sih cuek. Karena memang seperti itu, tapi percayalah : Mika yang saat itu masih banyak kebahagiaan, dia bisa banyak mengekspresikan diri dan mempunyai segudang cita-cita. Berbeda dengan sekali dengan sekarang, Mika memang sudah ada di titik bahagianya tapi untuk sampai ke sini banyak luka yang dia alami sampai mengubah dirinya juga perlahan-lahan.


"Regan, kamu jangan tiru Mamamu ya? Papa gak bandel waktu kecil," gumam Jeff yang melirik Regan di troller.


Mika tergelak. "Mendingan dia jadi kaya aku, daripada jadi kaya bapaknya. Kulkas 12 pintu."


"Betull!!" Sahut Elang, Selena, Tessa dan Caca.


Jeff lagi-lagi hanya menghela napas, susah memang berhadapan dengan remaja. Jadi lebih baik yang waras mengalah. Widia dan Firman tersenyum melihat banyak orang yang menyayangi putrinya, meskipun ya tetap saja masih ada perasaan bersalah karena meninggalkan putrinya dalam waktu yang sangat lama.


"Sayang, malam ini mau tidur sama Jeff atau sama Mama dan Papa?" Tanya Mona.


Mika dan Jeff saling melirik, namun setelah itu dia mengeluarkan puppy eyesnya pada Jeff. Tidak bicara apa-apa, hanya menatapnya saja. Tapi jangan salah, itu membuat Jeff deg-degan karena tingkah laku Mika yang seperti itu.


Jeff berdeham lalu menggendong Regan. "Boleh, ASI kamu juga ada di kulkas kan, nanti biar aku yang urus Regan. Tapi cuma sehari!" Tegas Jeff.


Mika mengangguk senang, ahh akhirnya. Setelah berkutat menjadi Ibu rumah tangga dia sekarang bisa merasakan kembali kehidupan menjadi anak kecilnya. Dia senang sekali dan berlari ke arah Jeff yang tengah berdiri untuk memeluk Jeff dari belakang. Mika mencium-ciumi punggung suaminya. "Makasih, Mas. Makasih suami, makasih Om. Makasih Papanya Regan. Regan malam ini sama Papa ya,oke? Jangan bandel ya, Sayang? Kalau mau apa-apa teriak aja ke Papa gapapa."


Mika dengan senang menciumi anaknya, Regan yang nampak sedari tadi tidak mengerti hanya tertawa saja karena melihat Ibunya sangat senang, seperti mengajaknya bermain. Padahal dia tidak tau saja kalau malam ini akan ditinggal oleh sang Ibu.

__ADS_1


__ADS_2