10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Pertemuan Menyakitkan


__ADS_3


Sepertinya mengerjai Jeff tadi malam Mika belum puas rasanya. Setelah Jeff berangkat ke kantor, siangnya dia sengaja ke kantor Jeff. Meskipun dia tidak ngidam, tapi akan berpura-pura ngidam. Memang se-menyenangkan itu ternyata.


Dengan percaya diri Mika memasuki gedung besar itu, par karyawan memang sudah akrab sekali dengan Mika karena memang beberapa kali Jeff membawanya ke sini. Jadi banyak yang menyapanya dan juga memberi salam. Namun tiba-tiba tangannya ditarik seseorang dan pipinya terkena tamparan.


"A-aww! Kenapa kamu-" Mika yang tadinya mengusap pipi kini malah mematung melihat seseorang yang ada di hadapannya. Seseorang yang selalu bisa membuat Mika dipenuhi ketakutan. "Tante Lyra ... "


Semua karyawan yang melihat kejadian itu kaget sih, bisa-bisanya ada orang yang menampar istri bos mereka di kandangnya sendiri. Tentu mereka berlomba-lomba untuk memberitahu Jeff tentang kekacauan ini.


"Apa?! Kemana aja kamu selama ini, hah?! Saya cariin kamu beberapa bulan untuk menandatangani berkas, ayok pulang!" Ucap Lyra emosi sembari menarik tangan Mika dengan kasar.


"Gak mau! Aku gak mau ikut!" Mika melepaskan tangannya dari cekalan Lyra, sakit sih sebenarnya tapi dia memang tidak mau ikut dengan Lyra. Dia tidak mau kembali ke tempat di mana semuanya terasa seperti di neraka.


"Anak kurang ajar! Tunggu, kamu hamil?!" Yuda kini menatap ke arah perut Mika yang memang terlihat seperti Ibu hamil.


"DASAR J A L A N G!" Yuda- Om dari Mika kini ikut menampar keponakannya itu. Mika merasakan nyeri sebenarnya, perih dan juga malu karena ini di depan umum. Tapi dia memang tidak bisa melawan.


Memang mereka tidak tau sepertinya kabar pernikahan Mika dengan Jeff, karena setelah menjual rumah kakaknya dia dan sang istri kabur ke Malaysia agar Mika tidak mencari mereka. Namun saat pulang ke Indonesia mereka tidak menemukan Mika di mana-mana dan lagi mereka taunya rumah itu sudah disita.


Ini yang Mika benci dari dirinya, dia selalu tidak bisa marah pada adik dari orang tuanya ini. Dia hanya bisa diam saat tubuhnya disakiti. Apalagi tamparan seperti ini memang bukan pertama kalinya.


"Emang bikin malu kamu! Kerjaan cuma nyusahin orang aja, pokoknya kamu sekarang harus pulang, tanda tangani beberapa berkas dan bekerja sama dengan baik!" Lyra kembali menarik tangan Mika namun saat menyeret Mika, Jeff menarik paksa Mika dan membawanya dalam pelukan Jeff.


"Mau kalian apakan istri saya?" Tanya Jeff dengan nada dinginnya.

__ADS_1


"I-istri?" Tanya Yuda tak percaya.


"Iya, Aphrodite Mikaella Disera adalah istri saya. Siapa anda berani menampar istri saya di kantor saya sendiri?!"


Lyra dan Yuda kaget, kini yang mereka hadapi bukan lagi Mika. Tapi juga Jeffrico Rasendria Dirgantara, pengucur dana terbesar di perusahaan mereka. Mereka mendadak gagu, sialnya kenapa mereka tidak mengetahui kabar ini terlebih dahulu. Bisa hancur mereka detik ini juga.


"Kerja sama kita batal, Pak Yuda dan saya akan berhenti mengucurkan dana saya di perusahaan sampah kalian. Ger, urus semuanya!" Perintah Jeff.


Jeff pada dasarnya malas menghadapi orang-orang seperti mereka. Apalagi harus berkelahi, tidak ada salahnya dia menggunakan powernya kali ini untuk membela istrinya sendiri. Jauh berlipat-lipat balasannya dibandingkan memukuli mereka hingga babak belur.


Lyra dan Yuda memohon, namun Jeff langsung menggendong Mika ala brydal dan membawanya ke ruangan Jeff. Jeff menatap Mika, setahunya Mika pemberani. Kenapa saat dirinya disakiti seperti ini dia malah diam. Bahkan pipinya lebam dan sudut bibirnya juga terluka. Dia juga tidak menangis, aneh sekali jika Mika tidak melawan seperti ini.


Jeff mendudukkan Mika di sofa, tidak lama Nana insiatif datang membawa kotak P3K ke ruangan Jeff. "Maaf, Pak sepertinya Nona Muda terluka. Jadi saya bawakan ini, apa perlu saya obati?"


Jeff mengambil kotak itu dan perlahan mengangkat tangannya. "Tidak perlu, biar saya yang mengurus istri saya sendiri."


Jeff duduk di samping Mika, setelah itu dia memegang dagu Mika dan mengarahkan wajah istri cantiknya untuk menatap ke arahnya. "Kenapa kamu diem? Kamu gak seperti ini Mika, bahkan kamu aja gak nangis, kenapa kamu jadi orang yang lemah di saat genting kaya tadi?"


Mika hanya menggeleng pelan. Jeff menghela napas dan berusaha bertanya kembali. Diamnya Mika ini tidak membuat rasa cemasnya berkurang, dia membutuhkan jawaban. "Kenapa?"


Lagi-lagi Mika menggeleng. Karena Mika tidak mau menjawab, Jeff mutuskan untuk membiarkan Mika terlebih dahulu. Dengan telaten Jeff mengobati lebam dan membersihkan sisa-sisa darah yang berada di sudut pipi Mika. Ahh dia tidak akan membiarkan kedua orang itu hidup dengan tenang karena sudah menyakiti Mika.


Selesai dengan lukanya kini Jeff masih betah menunggu Mika bicara. Mika perlu waktu untuk mencerna ini semua. Sudah lama tidak bertemu dengan mereka membuat Mika ya kembali merasa ketakutan, dia memang di kelilingi banyak trauma sebenarnya. Tapi untuk sekarang dia tidak bisa ungkapkan pada Jeffrico.


Mata Jeff tertuju pada pergelangan tangan Mika yang juga memar. Istri kecilnya ini jadi penuh memar, meskipun Jeff tidak pernah memberi waktu yang cukup, tapi dia tidak akan pernah tega membuat Mika seperti ini.

__ADS_1


Dengan lembut Jeff mengusap pergelangan tangan Mika dan mengecupnya sekilas. Membuat Mika terharu sebenarnya, tapi lebih ke baper. Tapi dia sedang sedih, jadi dia tidak bisa mengekspresikan apapun. "Maaf aku telat datang. Kamu jadi seperti ini."


Mika mengangguk dan tersenyum tipis. "Gapapa."


"Sakit ya tubuh kamu? Kita ke rumah sakit?" Tawar Jeff.


Mika menggeleng, karena ya menurut Mika perhatian seperti ini sudah cukup untuknya merasa lebih baik. Padahal yang Jeff lakukan adalah hal-hal sederhana, tapi menurut Mika ini cara paling ampuh untuk sekarang.


Gerda datang membawa berkas yang Jeff pinta. Dengan cermat dia membaca silsilah Yuda dan Lyra yang ternyata adik dari ayah Mika yang kini memimpin perusahaan yang dulunya dipimpin oleh Ayah Mika. Kenapa Jeff bisa melewatkan informasi sepenting ini dahulu, kalau tau begitu sudah Jeff urus dari lama keluarga Mika yang tidak tau diri itu.


"Seharusnya kamu yang berhak, kenapa-"


"Mereka yang rebut semuanya, saat itu gak ngerti apa-apa," jawab Mika yang kini mulai mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Dengan paksa?" Tanya Jeff.


Mika mengangguk. "Aku pernah hampir di jual, dibunuh, jadi hal kaya gini seharusnya gak kamu khawatirkan karena udh biasa. Aku cuma kaget, cuma ngerasa semuanya kembali ke masa lalu di mana aku gak pernah bisa melawan mereka berdua, karena yang aku punya cuma mereka sebagai pengganti Ayah dan Bunda."


"Dibunuh?"


"Aku pernah hampir didorong ke bawah jembatan, tapi saat itu Tessa sama orang tuanya datang tepat waktu, mereka yang nolong aku," jelas Mika menahan sesak karena harus memutar kembali ingatannya ke beberapa tahun lalu.


Jeff mengepalkan tangannya kuat, mendengar pernyataan Mika malah membuatnya semakin emosi. Namun, soal ini biar saja Jeff yang urus. Mika tidak boleh stress dan Jeff membiarkan Mika menyendiri di kamar pribadinya.


Saat Jeff sibuk mengatur siasat, di sisi lain Mika tidak bisa lagi menahan semuanya. Apa yang pernah terjadi padanya seolah berputar di otaknya. Makian, cacian, teriakan juga menggema di pendengarannya. Membuat dada Mika sedikit sesak dan tak mampu lagi membendung air matanya.

__ADS_1


Mika memeluk dirinya sendiri, merasakan air mata turun semakin deras dengan perasaan sakit yang ikut keluar secara bersamaan. Kalau begini rasanya Mika merindukan orang tuanya. Mika butuh pelukan mereka saat ini.


"Ayah, Bunda. Mika butuh kalian di sini, Mika gak kuat," lirihnya.


__ADS_2