
Pintu kamar Selena terbuka, sepertinya dia sedang ke dapur untuk mencari makanan atau mencari udara segar. Karena sudah mengurung diri beberapa hari di kamar, Mika akhirnya masuk ke sana tanpa sepengetahuan Selena.
Benar saja, tidak lama dari itu Selena masuk ke kamar dan menguncinya. Namun Selena kaget saat melihat Mika yang sudah berada di kamarnya. "Keluar!"
"Gak, mau. Lo ngapain sih ngurung diri di kamar?Lo berantakan banget tau gak, lo liat kamar ini udah gak ada bentuknya, lo kenapa?" Tanya Mika melembut.
"Gak usah sok peduli! Gue gak butuh lo!"
"Kalau lo gak butuh gue sekiranya lo harus selalu butuh Mama di saat lo kaya gini, bukan cuma berdiam diri dan gak menghasilkan solusi apapun," ucap Mika sekenanya.
"GUE GAK BUTUH CERAMAH LO, KUMAN PERGI!" Bentak Selena yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Kenapa sih lo benci banget sama gue, oke kalau lo benci sama gue tapi sekiranya lo gak kaya gini, Selena! Kalau lo kaya gini karena gue juga jadi ngerasa gak enak, bilang apa lagi kesalahan gue sampe lo marah kaya gini?"
"DIEM!" Selena tidak bisa membendung air matanya, dia benar-benar sedang kacau tapi Mika mencecarnya seperti ini.
"Ya kalau lo mau gue diem jelasin, Selena! Gue salah apa, gue selama ini gak ngerasa punya salah sama lo. Gue minta maaf karena udah bikin lo ngerasa di nomor sekiankan. Gue-"
"BERHENTI MIKA GUE MOHON BERHENTI, GUE PUSING!" Selena mencengkeram rambutnya kuat, dia juga menangis sejadi-jadinya.
Bukan soal Mika, bukan soal rumah. Dia memang sedang frustrasi beberapa hari ini dan tidak tau harus berbuat apa. Mika yang melihat Selena kacau begitu membatunya bangkit, entah kenapa Selena menurut dan tidak melakukan perlawanan. Dengan keadaan Mika yang sedang hamil besar, Mika membantu sekuat tenaganya untuk memapah Selena dan mendudukkannya di ranjang.
Selena masih menangis, Mika menuangkan segelas air yang berada di samping ranjang dan memberikannya pada Selena. Membiarkan dia tenang dulu adalah hal terpenting sekarang, setelah itu baru dia bisa mencari tau apa yang terjadi pada Selena.
Selena menatap Mika dengan sendu, sejujurnya dia butuh teman untuk bicara. Tapi dia terlalu gengsi dan sekarang dia terlalu takut kalau Mika akan melaporkannya pada Jeff.
__ADS_1
"Lo kenapa?" Mika yang memahami arti tatapan Selena kembali bertanya, dia tau Selena butuh seseorang untuk bicara hanya saja dia terlalu gengsi.
"Gue gak bisa bicara sama lo."
"Karena sebenci itu sama gue?"
"Lo istri kakak gue."
"Gue gak pernah cerita apapun sama Kakak lo, termasuk kejadian kemarin. Karena itu urusan lo sama kaka lo. Lo juga udah tau dari dia kalau gue gak bicara apa-apa."
"Gak bisa."
Mika menghela napas, ya kalau soal cerita begini memang tidak bisa dipaksa. Semua orag kan mempunyai tempat berbaginya masing-masing, begitu pun dengan Mika. Sangat wajar jika Selena tidak bisa berbagi padanya.
"Yaudah kalau lo gak bisa bicara, tenangin diri lo sendiri. Setelah itu cari tempat lo cerita dan ceritain semuanya sama dia biar lo lega. Gue cuma mau bilang itu, kalau gitu gue keluar ya."
Mika beranjak dari ranjang Selena, namun Selena menahan pergelangan tangannya. "Gue butuh lo, gue gak punya siapa-siapa lagi, jangan tinggalin gue."
Mika berusaha selembut mungkin untuk bicara dengan Selena, berusaha menjadi sosok seorang Kakak yang dia butuhkan dan membuatnya merasa nyaman. Selena perlahan memeluk Mika. "G-gue dipaksa ngelakuin itu sama cowok gue, Mik."
Selena semakin menangis, Mika mendengar itu berusaha tenang. "T-terus lo lakuin?"
Selena mengangguk. "Gue takut kehilangan dia, gue kemarin gak pergi karena ada acara kampus. Gue di apartemen Rio buat habisin waktu sama dia."
Mika tidak percaya sih, maksudnya ya sebagai seorang kakak dia kaget dengan keputusan yang Selena ambil untuk menyerahkan kehormatannya pada pacarnya sendiri. "Terus?"
Selena melepaskan pelukannya pada Mika, Mika menggenggam tangan Selena dengan erat karena terasa dingin. Dia benar-benar ketakutan sekarang. "Gue udah lama sebenernya ngelakuin hal itu, sekitar 2 Minggu yang lalu. Tapi kemarin kita ngelakuin lagi berturut-turut di apartemennya dia. Tapi, sebelum gue pulang ke rumah. Gue tau kalau dia cuma mau tubuh gue, dia selingkuh, Mik. gue gak tau harus apa!"
__ADS_1
"Kenapa lo bisa se-gegabah itu kasih masa depan lo ke dia, Sel?!'
"Iya, gue tau gue bodoh gue tau. Gue gak tau lagi harus giman, gue benci sama diri gue sendiri. Gue kotor! Semua orang malah ngetawain gue yang terlalu alay katanya, termasuk sahabat gue. Semua orang jahat, Mik gue takut."
Mika bingung jika sudah seperti ini, pasalnya Jeff perlu tau tentang keadaan adiknya. Tapi dia sudah berjanji untuk diam dan tidak bicara pada Jeff, Mika jadi bingung harus berbuat apa.
"Lo harus bilang kakak lo sih, Sel. Dia harus tanggung jawab sama perbuatan dia, lo gak-"
"Jangan! Lo udah janji gak akan bilang sama kak Jeff, gue mohon jangan, Mik. Gue takut kak Jeff marah besar sama gue dan udah pasti marah, gue mohon jangan." Selena semakin histeris karena perkataan Mika.
"Lalu sekarang lo mau gimana kalau gak bilang sama kakak lo? Lo mengurung diri kaya gini cuma menimbulkan kecurigaan orang rumah. Mereka pasti bertanya-tanya lon kenapa. Mereka juga khawatir, lambat laun juga pasti ini bakalan terbongkar."
"Ya biarin gue siap dulu untuk bicara sama mereka, gue cuma butuh lo. Butuh bicara sama lo, temenin gue buat selesain masalah ini, Mik."
"Tanpa lo minta gue pasti akan lakuin. Tapi gue tanya sama lo sekarang, apa lo punya solusi buat masalah lo sendiri? Apa lo udah tau apa yang yang mau lo lakuin ke depannya?"
Selena menggeleng, dia benar-benar buntu. Dia sekarang hanya menghindar dari seseorang. Dia tidak bisa berbuat apa-apa juga karena merasa tidak berdaya. "Izinin gue bicara sama Tessa dan Caca soal ini. Besok kita temuin dia."
"Jangann!! Gue taku mereka nyebarin ini semua ke orang-orang. Gue gak mau orang tau soal ini, Mik selain mereka yang udah tau. Keluarga ini bakalan tercoreng namanya karena gue!"
"Terus maunya gimana, Sel?! Lo gak bisa diemin bajingan itu hidup bebas di luar sana sementara lo di sini ketakutan."
"Gue gak berani nemuin dia, Mik."
"Gue yang temuin dia, dia gak bisa seenaknya sama lo. Tenang soal Tessa dan Caca mereka gak ember. Gue butuh mereka karena mereka ya lo tau sendiri gue sama mereka kenapa disegani di sekolah. Kita bakalan lindungin lo, kalau lo gak mau cerita sama kakak lo biarin gue yang turun tangan buat bantuin masalah lo. Kita buat dia bertanggung jawab dengan apa yang dia lakuin dan bicara sama kakak lo.
"Gue gak mau nikah sama dia."
__ADS_1
"Gak akan menikah, tapi dia harus minta maaf dan mengakui di depan kakak lo, emang lo mau tanggung sendirian? Engga kan? Kalau lo kena sanksi dia juga harus dapat yang sama. Meskipun kalian ya sama sama salah tapi lo korban."
Selena terdiam memikirkan kata-kata Mika. Mika benar, dia tidak boleh diam saja seperti ini. Dia harus berani menghadapi Rio. Selena kembali memeluk Mika, entah kenapa kini kebenciannya terasa menepi dahulu. Dia sangat berterima kasih pada Mika. Mika juga membalas pelukan Selena. Entah harus sedih atau senang, tapi bukannya ini awal yang baik untuk hubungan mereka?