
Ada begitu banyak drama sebelum mereka memutuskan untuk pergi berlibur. Mengingat Mika baru bertemu kembali dengan keluarganya. Memang agak sedikit sulit apalagi si kecil Regan ini sangat meresahkan. Semua orang jadi ter-Regan-Regan semuanya tidak mau jauh dari bayi kecil itu.
Tapi karena memang Mika dan Jeff perlu waktu untuk berlibur, jadi mereka semua terpaksa mengiyakan, walaupun sempat menawarkan untuk Regan jangan dibawa. Tapi ya tidak mungkin kalau untuk Mika melakukan perjalanan tanpa Regan. Dia tidak akan bisa meninggalkan anaknya.
"Kamu bahagia?” Tanya Jeff, memang apa yang penting setelah mereka menjadi satu kesatuan sebuah keluarga adalah kebahagiaan untuk Mika?
Jeff akan usahakan itu sebagai penebusan rasa bersalahnya selama ini, karena sebelumnya dengan peduli pada pekerjaan dan dirinya sendiribadalah secara sadar Jeff sudah menyakiti Mika.
Ada banyak air mata Mika yang sebenarnya harus Jeff tebus, Jeff harus bisa menjadi pria yang bertanggung jawab, termasuk harus bertanggung jawab atas perasaan Mika selama ini.
Mika menoleh untuk menatap yang ada di sebelahnya, mereka sudah berada di dalam mobil menuju bandara, karena hari ini harinya, mereka akan berangkat liburan keluarga.
"Aku selalu bahagia sama kamu." Mika menjawab jujur, dia pernah hampir menyerah dengan hubungan ini, tapi kalau dipikir-pikir ulang mungkin kehilangan Jeff akan menjadi kehilangan yang sangat menyakiti perasaannya sendiri.
Jeff senyum tidak bisa menyembunyikan perasaannya, karena memang tidak ada yang lebih membuatnya merasa bahagia selain Mika mengakui bahwa dia bahagia karena Jeff menjadi alasannya bahagia.
Mika juga heran, kenapa ya dia bahagia bersama Jeff? Padahal kalau diingat-ingat lukanya banyak sekali ketika dia bersama Jeff, ada banyakbwaktu di mana dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri hanya karena dia menjadi bagian dari kehidupan Jeff.
Tapi, kalau tidak bersama Jeff,ndia tidak akan pernah memiliki Regan di dalam hidupnya, jadi diantara banyaknya luka, ada banyak hal juga yang membuat Mika merasa bersyukur karena dia menjadi bagian dari hidup Jeff.
__ADS_1
"Jangan bosan buat bahagia ya sama aku." Jeff meminta karena ya dia tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu dengan sangat sempurna, tapi dia akan usahakan untuk melakukan yang terbaik, dia akan selalu memastikan kalau Mika bisa bahagia bersamanya.
Mika menganggukkan kepalanya, bagaimana mungkin dia bisa merasa bosan sementara Jeff seolah selalu tahu apa yang Mika butuhkan? Seolah selalu paham dengan sesuatu yang menjadi keinginan Mika?
"Gak akan pernah bosen, aku suka kebahagiaan yang aku dapetin ketika aku sama kamu," jelas Mika, karena menurutnya kebahagiaan yang dia dapatkan bersama Jeff adalah sesuatu yang tidak akan pernah dia dapatkan bersama dengan orang lain.
Jeff mau tenggelam saja rasanya, tenggelam dalam sorot mata indah yang selalu sepasang mata di hadapannya tampilkan, ah apa jatuh cinta pada orang yang sama selalu seindah ini?
"Walaupun hubungan ini banyak usaha untuk mempertahankannya, tapi karena sama kamu aku ngerasa jadi baik-baik aja, aku ngerasa bahwa ya gak ada yang sia-sia dari cinta, dari perasaan yang dikasih buat orang lain." Mika menjelaskan, dia sebenarnya punya gengsi setinggi langit, tapi selalu banting harga di hadapan Jeff, namanya juga cinta, kadang buta dan tuli, bego juga.
Jeff full senyum, mungkin terdengar seperti sebuah kalimat yang biasa, tapi karena disampaikan oleh Mika, jadi terasa luar biasa. Membuat Mika terlihat sosok sempurna yang memang Jeff butuhkan dalam hidupnya.
.
.
.
Jeff mendorong stroller dan Mika berjalan di sebelahnya, keduanya benar-benar kelihatan seperti sepasang selebriti, tapi tenangnya perjalanan kali ini karena tidak ada yang mengenali Jeff, jadi mereka bisa dengan tenang,
"Gak pernah banget begini di Jakarta waktu aku kabur, Regan lahir dan kita fokus buat belajar jadi orang tua" ujar Mika, kalau di Jakarta mereka nampak biasa saja saat membawa Regan ke bandara, anehnya sekarang merasa canggung.
__ADS_1
Canggung, canggungnya Mika itu ya karena seperti dirinya dan Jeff itu terbanting. Maksudnya ya seperti mereka tidak cocok satu sama lain, Jeff dengan tubuh jangkungnya yang sangat proporsional tersebut dan Mika dengan tingginya yang hanya seratus enampuluhan tiga centi meter.
Pokoknya mereka kelihatan agak jomplang satu sama lain, kelihatan tidak cocok, tapi dengan bangganya seorang Jeff menggandeng tangan Mika, seolah menjelaskan pada seluruh dunia kalau yang berdiri dan berjalan di sebelahnya ini adalah istrinya.
"Gak panas ya," ujar Mika, ya maksudnya walaupun tidak ada penutupnya tapi jalanan ini sama sekali tidak panas, bahkan di kanan kiri ada banyak orang yang duduk di sana, menikmati sore menjelang malam.
Jeff menganggukkan kepalanya, dia akhirnya membelokkan stroller Regan kemudian memilih untuk duduk juga, karena memangnya mereka mau apa? Mau naik delman?
"Mau naik delman?" Akhirnya Jeff bertanya pada Mika, ya siapa tahu saja istrinya itu ingin mencoba hal baru, hal yang berbeda dan tidak pernah mereka temukan di dalam kehidupan mereka selama ini. Mika tampak berpikir sejenak,nseru juga kelihatannya, tapi agak malu karena ada banyak orang di sini.
"Gak ah, malu." Jeff bingung sekali, memangnya Mika melakukan apa hingga harus malu? Dia ditawari naik delman, bukan joget-joget di depan sana.
"Kenapa?" Tentu saja Jeff juga heran dengan istrinya, bisa-bisanya Mika malu.
"Ya malu aja, kaya pasti diliat orang." Penjelasan yang masih tidak masuk akal untuk Jeff, agak aneh sih, tapi dia sayang.
Jeff menarik napasnya kemudian mengembuskannya. "Ya kalau gak mau dilihat orang, jangan jadi orang." Mika langsung menoleh, dia langsung malas pada Jeff karena Jeff sama sekali tidak mengerti maksudnya, padahal ya Mika tidak mau saja, memangnya ada kewajiban Mika harus naik delman?
Bukannya apa-apa, dia pernah tuh hampir tertabrak delman saat dia berkunjung ke Jogja, setelah itu dia malah menginjak kotorannya. Tapi tidak mungkin juga dia jelaskan pada Jeff, lagian kenapa juga Jeff seolah mau sekali menaiki delman, Regan juga nampaknya seolah memihak Jeff karena senang ketika ada delman yang lewat di hadapannya.
"Ya udah sih, aku gak mau aja.” Mika mengedikkan bahunya, dia kembali memasang kacamata hitamnya, bukan mau sombong, tapi lebih kepada karena dia mau melihat Jeff dengan sorot mata tajamnya, sudah melakukan liburan begini juga Jeff masih menjadi sosok yang menjengkelkan.
__ADS_1
Jeff terkekeh, ya sudah, dia juga akan selalu mengalah dengan Mika, namanya juga perempuan, ada saja hal dalam dirinya yang sudah pasti egois, tidak mau salah atau disalahkan.
Sebenarnya Jeff juga tidak tahu setelah ini akan membawa Mika ke mana, tapi ya semoga saja setelah ini semuanya berjalan baik, jangan sampai Mika bete karena Jeff asal membawanya liburan.