
Tidak terasa Mika sudah 2 bulan menjalankan hubungan pernikahan dengan Jeff. Meskipun banyak pertengkaran tapi masih bisa dia hadapi. Dia juga mulai enjoy menikmati kehidupan sebagai Nona Muda Dirgantara.
Tapi meskipun begitu Mika tidak pernah foya-foya. Dia jika melakukan atau membeli apapun ya secukupnya. Yang penting-penting saja dan kalau memang dia butuh. Setidaknya dia tidak perlu susah payah menahan keinginannya karena memiliki suami seperti Jeffrico.
Seperti biasa, saat siang hari tidak ada seorang pun di rumah ini kecuali dia dan para pelayan. Apalagi Selena sekarang lebih sering pulang malam hari karena kegiatan kampus. Benar apa kata Jeff, Selena akan sibuk dan dia akan tenang tanpa bertengkar perlu setiap hari.
Mika yang pada awalnya sibuk menonton kini sudah bosan, dia memilih untuk tidur saja. Bahkan sepertinya kiloannya bertambah karena pekerjaannya ya begitu-begitu saja.
Namun saat dia beranjak, yang dia temui pertama kali adalah Elang. "Eh, Kak. Udah pulang?" Tanya Mika basa-basi.
"Udah hari ini cuma satu matkul, muka kamu kenapa pucat gitu? Sakit?" Tanya Elang sedikit khawatir.
Mika menggeleng pelan. "Cuma demam aja sedikit, terus masuk angin. Tapi gapapa kok, aku udah minum obat," jawab Mika santai.
"Beneran gapapa?" Mau aku antar ke rumah sakit? Atau suruh kak Jeff pulang aja?" Tanya Elang memastikan.
"Gak usah, Kak. Aku cuma sakit sedi-" Belum tuntas dengan perkataannya tiba-tiba Mika terjatuh pingsan, untung saja Elang menopang tubuhnya, kalau tidak dia akan membentur lantai.
"Mika ... Mikk!" Elang panik, tidak ada waktu untuk berpikir panjang sekarang, Elang dengan spontan membopong tubuh gadis itu dan keluar dari mansion.
Dia berlari ke arah mobilnya dan menidurkan Mika di jok belakang. Perasaannya tidak karuan sekarang, dia masuk ke dalam lalu melajukan mobilnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
Sesekali dia melirik ke belakang untuk memastikan keadaan Mika. Dia mencoba menghubungi Jeff namun Jeff memang tidak pernah mengangkat panggilan dari Elang. Itulah terkadang dia kesal pada kakaknya, bagaimana kalau keadaannya genting seperti ini? Mika itu istrinya.
"Ck, sial! Bodoh banget lo Jeffrico!" Kesal Elang sedikit mukul setirnya kencang, namun dia masih sedikit bisa menahan emosinya. Akhirnya yang bisa dihubungi adalah Ibunya.
Tidak apa-apa, setidaknya masih ada yang bisa Elang hubungi walaupun Mona bilang akan datang terlambat karena sedang meeting.
Sampai di rumah sakit, petugas UGD langsung menghampiri mereka. Elang memberikan kunci mobilnya pada satpam untuk diparkirkan, karena tidak mungkin dia meninggalkan Mika sendirian.
__ADS_1
Dengan sigap Elang menggenggam tangan Mika, mengikuti para petugas itu sambil terus berharap kalau Mika baik-baik saja. "Mik, kamu kenapa sih?" Gumam Elang dalam batinnya.
Mika di bawa masuk, sementara Elang terpaksa harus menunggu di luar. Sebelumya dia di tanyakan soal kondisi Mika sebelum pingsan, jadi dia menjawab kalau Mika demam dan masuk angin.
Elang mondar-mandir tidak karuan, dia juga masih berusaha menghubungi Jeffrico namun belum ada balasan atau respon. Ya sudah kalau begini, jangan salahkan dia kalau nanti Jeff sebagai suaminya Mika tapi tidak mengetahui apa-apa. Karena Elang sudah mencoba namun Jeff mengabaikannya.
Seorang perawat menghampiri Elang yang berada di luar. "Suaminya Ibu, Mika?"
Elang langsung menoleh. "Bukan, saya adik iparnya. Kakak saya sedang ada di luar kota, jadi biar saya yang wakilkan."
"Oh baik kalau begitu silahkan ikut kami ya, Pak. Ada yang perlu disampaikan kepada pihak keluarga."
"Baik."
Elang tadi memang melihat Mika di bawa ke ruangan lain, tapi entah kemana. Jadi dia mengikuti perawat yang menghampirinya tadi. Hingga sampailah dia di sana, ternyata Mika sudah siuman.
"Kamu gak kenapa-kenapa?" Tanya Elang saat menghampiri Mika.
"Suaminya?" Tanya seorang dokter perempuan yang Elang ketahui namanya adalah Ajeng.
"Bukan, Dok. Adik iparnya," jelas Elang.
"Kalau untuk pemeriksaan awal ada kemungkinan Ibu Mika sedang mengandung ya, Pak. Tapi untuk lebih meyakinkan maka kita akan lakukan USG."
"Hamil?" Tanya Mika tak percaya.
Mika dan Elang terkejut, terlebih lagi Mika. Hamil? Ya memang tidak heran juga sih kenapa, dia dan Jeff memang sering buat. Tapi sejujurnya dia belum siap untuk menjadi seorang Ibu.
Mika masih berkutat dengan pikirannya sendiri, dia mendadak blank seketika. Ada perasaan takut, cemas, pokoknya tidak karuan. Elang menawarkan untuk menelepon Jeff, karena jika iya Mika hamil ini adalah moment pertama bagi mereka, kan? Jeff harus menjadi orang pertama yang melihat anak mereka.
Namun karena lagi-lagi tidak mendapat jawaban, Mika pun melarang Elang dan meminta tolong padanya untuk menemani dia. Percuma juga Jeff akan tetap sibuk pada kegiatannya.
__ADS_1
Dokter mengarahkan alat transducer ke perut Mika. Membuat Mika otomatis mengeratkan genggaman tangannya pada Elang. Dia takut, benar-benar takut. Elang yang paham mencoba membuat Mika tenang dengan mengusap punggung tangannya. Bisa dia rasakan kalau tangan Mika sudah berkeringat di sana.
Dokter menggeser kan ke kanan dan ke kiri untuk mencari keberadaan janin dan seketika berhenti di satu sisi. Di layar, Mika dapat melihat jelas. Anak yang dia kandung kini sebesar kacang merah. Ada rasa berdesir dalam darahnya. "Selamat ya, Ibu memang sedang mengandung. Usia janinnya sudah 6 Minggu."
Dokter mengatakan itu dengan senyum mengembang, Mika hanya membalasnya dengan setitik senyum, lalu menatap Elang. "Kak ... "
Jujur dia ingin menangis, apalagi saat dokter memperdengarkan suara detak jantung anaknya. Membuat jantung Mika juga berdebar seolah mereka bertaut. Aneh memang rasanya, apa ini ya rasanya menjadi seorang Ibu? Pikir Mika.
"Selamat ya, Mik. Sebentar lagi kamu jadi Ibu. Aku seneng dengernya," ucap Elang tersenyum senang.
Matanya berbinar, bisa Mika rasakan asa kebahagiaan di sana. Tapi kenapa yang Mika rasakan berbeda ya? Dia senang, senang sekali. Tidak mungkin tidak senang. Tapi ada keraguan dalam dirinya yang membuat dia banyak berpikir.
Elang menemui dokter untuk bicara beberapa hal. Kini di tempat itu hanya ada Mika. Perlahan dia mengubah posisinya menjadi duduk dan mengelus perutya.
Di dalam sini, ada benih Jeff yang sudah tumbuh di rahimnya. Katanya kehadiran seorang anak akan mengikat keduanya semakin erat. Apa dengan adanya anak ini Jeff akan lebih memperhatikannya?
Tak selang beberapa lama Elang muncul dari balik tirai dan menatap Mika. "Kata dokter kamu boleh pulang."
"Jangan kasih tau dulu, Mas Jeff ya, Kak. Aku mau buat kejutan buat dia," ucap Mika.
Elang tersenyum. "Iya. Aku mau bilang, kalau usia kamu masih rentan untuk hamil sebenarnya. Jadi atur pola pikiran, pola hidup dan pola makan ya, Mik. Biar bayinya juga sehat."
Mika mengangguk patuh. "Iya, Kak. Siap! Makasih ya, Kak udah temenin."
"Sama-sama, Mika boleh pegang perut kamu?" Tanya Elang.
"Ya tentu boleh, kan Kakak juga Omnya," jawab Mika senang.
Dengan lembut Elang menunduk dan mengelus perut Mika. Ada getaran yang muncul dalam hati Elang, sebentar lagi akan ada manusia kecil yang akan memanggilnya Om. "Hai jagoan, ini Om Elang. Sehat-sehat ya, jangan bikin mama sakit."
Mika terdiam dan sedikit tersenyum, jujur saja perasaanya pada Elang kini sepertinya sudah tidak bersemi lagi. Bahkan dia mengakui kalau mulai mencintai Jeff. Perlahan ada sebuah harap yang muncul dalam benaknya. Kalau Elang saja sebahagia ini, apalagi Jeff yang notabenenya ayahnya?
__ADS_1
Ada rasa bahagia ketika dia membayangkan betapa bahagianya nanti Jeff ketika mendapatkan kabar ini. Mika harus memberikan sebuah kejutan setelah ini.