
Kehidupan kian membaik, apa-apa yang pernah terjadi di antara mereka memang tidak bisa di lupakan, tapi bisa mereka pendam dengan banyaknya kebahagiaan yang datang. Perubahan itu terasa sekali apalagi pada hidup seorang Jeffrico.
Tapi di balik kehidupan yang memang baik-baik saja seperti ini, selalu ada ketakutan tersendiri bagi manusia dan itu terjadi pada Mika. Seperti mitos kalau banyak tertawa esoknya akan menangis, begitu juga dengan kehidupan, kan? Tidak ada yang pernah tau apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi sebaik mungkin Mika tetap melanjutkan hidupnya tanpa ke khawatiran, karena Jeff sekarang bersamanya.
Pagi ini Mika sedang mempersiapkan Jeff untuk pergi ke kantor, dengan telaten Mika memasangkan dasi suaminya agar terlihat rapi dan semakin tampan. Jeff tersenyum jika sedang begini. Melihat Mika yang sudah cantik pagi-pagi dan penuh perhatian sungguh membuat hidupnya menjadi berwarna.
Untung saja Regan masih tertidur, karena semalam dia begadang sampai pagi mengganggu papa dan mamanya, hingga sekarang dia masih pulas. Jeff menyelipkan anakan rambut Mika. "Apa akhir-akhir ini kamu menginginkan sesuatu?"
Mika menggeleng, ya karena memang tidak ada. Sejatinya memang Mika bukan orang yang banyak mau kalau tidak kepingin sekali. Karena memang dari dulu hidup dengan sederhana, dia jadi menahan dirinya untuk boros dan akhirnya menjadi kebiasaan.
"Serius? Aku jarang liat kamu beli ini itu, kartu yang aku berikan tanpa limit, kamu bisa membeli apapun yang kamu mau," ucap Jeff.
"Engga, Mas. Apa yang aku punya sekarang jauh lebih cukup, bajuku, tas, sepatu, semuanya kamu selalu belikan dan itu aja jarang aku pakai. Untuk apa juga ditumpuk. Sekarang itu aku liat Regan sehat dan banyak bisanya, kamu sehat semua yang Regan butuhkan terpenuhi, aku udah ngerasa seneng," jawab Mika yang kini menatap Jeff dengan lembut.
"Tapi kalau ingin jangan ditahan, nikmati apa yang sudah aku usahakan. Tuntut aku semau kamu, aku pasti akan berikan semuanya."
Mika mengangguk tanpa menuntut pun sebenarnya apa yang Mika inginkan sudah dia berikan. "Iya, Mas. Tapi hari ini boleh gak aku ke salon?"
"Boleh, tapi jangan warnai rambut kamu!" Tegas Jeff.
"Memang kenapa? Bagus kalau rambutku warna ungu, atau warna merah, atau kuning?" Tanya Mika setengah bercanda.
"Sayang ... "
"Apa sayangku?" Tanya Mika seraya mengusap pipi suaminya.
"Jangan diwarna! Aku lebih suka rambut kamu hitam begini, cantik," ucap Jeff memberi pengertian seraya menciumi bibir gadis itu.
__ADS_1
"Aishh, suka banget bikin salah tingkah. Iya, Mas lagian aku cuma mau potong rambut aja sebahu. Regan udah mulai tarik-tarikin rambut aku nih. Nanti tangan dia luka gimana?"
"Boleh tapi jangan terlalu pendek," balas Jeff.
"Iya gak akan, Mas. Nanti kalau mau pergi aku izin dulu,tapi aku gak akan bawa Regan. Aku udah bilang ke Selena mau titip Regan. Sekalian aku quality time, boleh?"
Jeff nampak berpikir, entah kenapa kini dia malah overthinking. Ada ketakutan tersendiri kalau Mika keluar tanpa Regan. "Nanti kamu dikira single, aku ikut!"
Nahkan apalagi sekarang kelakuan Jeff? Memang sih akhir-akhir ini Jeff begitu posesif tapi sekarang dia malah merelakan jam kerjanya hanya karena ingin menemani Mika. Mika menggeleng cepat. "Apasih, Mas. Gak akan lah, lagian juga kan aku maunya juga sama kamu astaga. Kamu punya tanggung jawab, jangan lalai hanya karena kamu berpikiran macam-macam!"
"Kamu cantik, saya tidak suka jika ada yang melirik kamu barang sedetik saja. Tidak boleh!"
Mika menghela napasnya. "Gak akan! Nanti aku colok matanya pake ujung heels!"
"Sayang!"
Begini nih kalau mereka sama-sama sudah tukuh pada pendirian, untuk saja Regan tidak terbangun. Akhirnya Jeff yang memilih mengalah dan segera berangkat kerja. Lagian Mika bukan tipe orang yang suka dikekang, dia kalau apa-apa pasti melakukan sesuai kehendak yang dia mau.
.
.
.
Di ruangannya, setelah mengirim pesan pada Mika, Jeff mengetuk-ngetuk pulpennya di atas meja. Dan di hadapannya kini ada Gerda yang nampak sedang menunggu instruksi dari sang boss. Namun sudah 1 jam di sana, Jeff masih belum mengutarakan apa yang dia inginkan.
Selain karena masih kepikiran Mika yang sekarang pergi sendirian ke Mall, dia juga bingung harus mengutarakan apa yang dia inginkan pada Gerda. Akan terlihat turun harga dirinya kalau terlihat seperti remaja yang sedang kasmaran. Meskipun tanpa bicara apa-apa sebenarnya sudah sangat jelas terlihat. Maklum sama, ABG tua.
"Jika kamu wanita, apa yang kamu inginkan sebagai hadiah ulang tahun dari suami?" Tanya Jeff.
__ADS_1
"Tidak tahu, karena saya tidak pernah menjadi wanita. Saya tidak tahu mereka menginginkan apa," jawab Gerda jujur.
Jeff menghela napas, kenapa asistennya yang begitu pintar jadi bodoh begini? Tentu dia tidak akan pernah menjadi wanita. "Baik, saya ganti pertanyaan. Jika kamu mempunyai seorang wanita, hadiah apa yang akan kau berikan sebagai kado ulang tahun?"
"Ciuman?"
Jeff kembali menghela napas. "Maksud saya barang, otak mesummu silahkan disimpan dulu!"
"Anda tidak spesifik, Pak. Mungkin saya akan memberikan hal yang paling spesial. Liburan, sesuatu yang indah seperti kalung dan juga pernyataan cinta romantis?" Akhirnya Gerda mengutarakan apa-apa saja yang ada di pikirannya. Karena kalau dia diam nanti tentu akan menjadi bahan semprotan Jeff.
Jeff nampak berpikir, benar juga. Selama ini dia belum pernah menyatakan cinta pada Mika. Mika juga selalu nampak meminta pernyataan itu. Tapi apakah itu memang perlu? Bukannya cukup merasakan saling menyayangi saja itu sudah cukup ya? "Memang wanita senang jika lelakinya mengungkapkan perasaan?"
"Jangan bilang anda tidak pernah mengatakannya pada nona Mika?" Tanya Gerda berbalik.
"Belum pernah."
"Payah," gumam Gerda pelan, sangat pelan. Sudah dia duga kalau Jeff memang pintar dalam bisnis tapi bodoh soal percintaan. Terbukti, kan? Padahal peryataan cinta adalah hal yang sakral.
"Saya masih dengar!"
Kini giliran Gerda yang menghela napas, sudah diberi saran tapi merasa banyak pertimbangan. Menurutnya mengutarakan perasaan itu sangat penting, apalagi mengingat Nona Mudanya ini memang masih sangat muda. Jadi kalau Jeff menyatakannya, sudah pasti itu hal terindah untuk Mika. Jadi ya dia utarakan pada Jeff semua pikirannya. Terserah pria itu akan menerima nasehatnya atau tidak, yang terpenting Gerda sudah mengutarakannya.
Mendengar penjelasan Gerda mungkin dia ada benarnya, karena sejujurnya Jeff minim sekali memang kalau soal romantisme dan kepekaan. Jadi tidak ada salahnya jika kali ini dia mendengarkan saran Gerda. Pun Mika dan Jeff belum pernah berbulan madu juga, jadi sekalian saja, kan?
"Baik, siapkan tiket liburan dan sesuaikan jadwal saya!" Perintah Jeff.
Gerda mengangguk patuh, akhirnya setelah 2 jam berada di ruangan itu dia bisa bebas dan keluar dari ruangan Jeff. Jujur saja, kursi yang berada di ruangan Jeff begitu panas auranya. Jadi Gerda tidak nyaman kalau berada di sana, belum lagi kalau emosi Jeff tidak stabil. Tidak berani deh dia macam-macam.
Di sisi lain Jeff kembali dengan rutinitasnya. Dia nampak senang dengan senyum mengembang membayangkan reaksi Mika nanti. Pokoknya dia sudah mempersiapkan hadiah yang sangat banyak untuk istri kecilnya. Tahun kemarin, saat Mika genap 20 tahun Jeff mengucapkannya dengan asal, tapi kali ini tidak. Dia harus membuat ulang tahun Mika kali ini berkesan sepanjang hidupnya
__ADS_1