10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Keputusan Jeff Untuk Pulang


__ADS_3


Kelahiran seorang anak perempuan yang memang sejak awal sudah dia harapkan tapi ternyata keadaan memaksa Jeff untuk tidak berada di sana, tidak masalah karena pada akhirnya ya si bayi diadzankan oleh papanya yang langsung ikut mengecek lokasi saat dapat kabar kalau Mika sudah lahiran, karena Widia juga sudah di sana.


Mereka semua berkumpul sebagai keluarga agar Mika juga tidak merasa sendirian. "Anak kamu udah lahir," ucap Mona memberitahu anaknya yang sudah menikah, sudah punya anak dua, tapi masih gila kerja itu.


Jeff tidak langsung merespons karena dia terdiam dulu, berusaha mencerna bahwa dia benar-benar tidak salah dengar, kan? "Perempuan, cantik banget, mirip sama Regan." Mona tetap melanjutkan cerita walaupun Jeff hanya diam, seolah dia sedang tidak tersambung dengan siapa pun.


"Cepat pulang, sebelum dia gak kenal sama kamu." Mona masih sempat bercanda, dia kesal kalau Jeff gila kerja, jadi Jeff harus tahu bahwa ya tidak selamanya gila kerja itu baik.


"Mama lagi gak bercanda sama saya kan, Ma?" Tanya Jeff, soalnya sama seperti keluarga pada umumnya kadang-kadang mamanya itu masih suka sekali menjahilinya.


"Ngapain bercanda." Mona kemudian membuat panggilan berubah menjadi panggilan video dan menunjukkan wajah seorang bayi dan ya benar, m mirip Regan. Kalau ada bayi lain yang mirip Regan, itu artinya anaknya juga.


Tubuh Jeff langsung lemas, bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin Mika melahirkan tanpa dirinya di sisinya?


"Gimana sama keadaan Mika?" Tanya Jeff. Bukan dia mengabaikan anaknya, dia memikirkan soal Mika ya karena untuk yang kedua kalinya Mika mungkin merasakan kesendirian, saat proses hamil Regan, dan lagi ini anak mereka yang kedua saat melahirkan tidak ditemani Jeff, Mika kuat sekali.


"Sama kaya biasa, dia jadi wanita yang kuat dan hebat, udah bisa ngenalin adiknya ke Regan, udah bisa ngasih asi juga. Lahirannya di rumah sama bidan dan perawat yang emang udah ada di sini." Mona menjelaskan, Jeff sendiri pasti tahu kalau Mika adalah wanita yang kuat, rasanya Mona tidak perlu menjabarkan lebih lanjut.


Jeff agak lega karena akhirnya tahu kalau Mika sedang baik-baik saja, Mika memang sekuat itu.


"Mana dia? Aku mau bicara sama dia." Jeff berusaha untuk tenang, dia harus terlihat bahwa dia percaya dengan apa yang sudah Mika lakukan, Mika melakukan semua yang terbaik.

__ADS_1


Kemudian Mona menyerahkan ponselnya ke Mika. Hal pertama yang Mika lihat adalah mata memerah milik Jeff, sebaik itu suaminya khawatir dengan dirinya.


"Sayang..."


"Iya? Anaknya mirip kamu lagi, tapi cantik." Mika kemudian terkekeh, dia baik-baik saja, sama sekali tidak merasa bahwa dia harus menyalahkan Jeff atas semuanya, karena memang untuk kelahiran anaknya Mika mana mungkin bisa tunda itu.


"Maafin aku, maafin karena gak ada di setiap kehamilan kamu," jelas Jeff, yang Mika kandung adalah anaknya, namun di beberapa moment dia malah tidak berada di sana, di sisi Mika.


"Apa sih Mas! Ya udah, kamu sibuk sama kerjaan kamu, aku juga di sini berjuang buat anak kita, gak ada yang harus dipaksakan," jelas Mika, bahwa mungkin memang sudah begini jalannya, Jeff tidak salah kok walaupun mungkin yang Mika kandung adalah anaknya, karena begitulah kehidupan, beberapa hal berjalan di luar kendali.


"Tapi ... "


"Selesaikan pekerjaan kamu dan temui anak kita pas kamu udah lega sama semua tanggung jawab kamu, aku, Regan dan adek, semuanya baik-baik aja di sini," jelas Mika.


"Selesaikan semua yang harus kamu selesaikan, aku penting, tapi aku gak mau kalau kamu sampai lalai sama tanggung jawab kamu," ujar Mika, dia adalah seorang istri, dia adalah prioritas utama seorang Jeff, tapi tentu sebagai sesosok yang mendampingi Jeff, dia hanya mau memberikan yang terbaik, memberikan pengertiannya atas semuanya.


"Maafin aku."


"Kamu gak salah apa-apa."


.


.

__ADS_1


.


Kemudian Jeff benar-benar mencari tiket yang penerbangannya paling cepat, timnya masih ada yang ditinggal untuk pertemuan dan cek lokasi. Tapi tentu dia harus segera kembali untuk melihat bagaimana kondisi Mika, anak-anaknya dan rumahnya.


Jeff sebenarnya cukup agak panik, tapi berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang, karena pasti dia akan selamat sampai tujuan.n"Saya meminta maaf sebesar-besarnya karena memutuskan untuk pulang duluan, istri saya baru lahiran dan itu lebih penting dari apa pun."


Jeff menjelaskan itu pada seluruh timnya, dia seorang Bos tapi dia juga harus memiliki etikanya. Ketika memang dia dibutuhkan ya harus ada. Meskipun ya memang sulit juga.


Tentu saja dia juga tidak bisa mengabaikan kelahiran sang anak. Ah, Jeff sudah punya keputusan sebenarnya, ya kalau yang kali ini dia juga berpotensi pemutusan hubungan kerja, maka Jeff menerimanya dengan lapang dada.


"Baik, kami akan lanjutkan pekerjaan di sini." Jeff kemudian langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menggeret kopernya secepat mungkin, dia bahkan bergerak sendirian untuk pulang sangking tidak maunya ribet kalau ada orang lain.


Jeff bolak-balik melihat jam, penerbangannya masih setengah jam lagi dan Jeff sudah mengumpat beberapa kali, ini semua menyebalkan sekali untuknya, benar-benar tidak


sangka kalau dia akan menjadi bapak dari dua anak dan anaknya yang kedua bahkan belum dia lihat tapi dia sudah sangat merindukannya.


Jeff langsung melangkah cepat saat sudah akan boarding, dia tidak mau lagi lama-lama, andai maskapainya adalah miliknya maka sudah pasti akan dia suruh langsung terbang, sayangnya Jeff tidak bisa berkuasa di beberapa kesempatan, waktu dan tempat.


Dia seorang bos, tapi kalau di tempat umum tetap manusia biasa, yang memiliki hak yang sama dengan penumpang lain, khususnya di penerbangan kali ini. Di sepanjang jalan pesawatnya di udara, dia hanya menatap foto bayi mungil yang wajahnya masih merah padam, tubuhnya mungil sekali. Mamanya juga mengirim foto bayi bersama abangnya, yaitu Regan, keduanya kelihatan sangat lucu, apalagi Regan yang kelihatan sekali kalau sebenarnya dia sangat menyayangi adiknya.


Jeff terharu, dia yang selama ini tidak pernah siap dengan komitmen, dia yang selalu merasa bahwa dia bisa hidup sendiri, bisa menjalani semua ini sendirian akhirnya malah menjadi ayah dari dua anak yang lucu.


Jeff tidak pernah menjalani kehidupannya dengan baik, tapi di waktu-waktu dia hidup, dia hanya mendapatkan yang terbaik dalam hidupnya, dia bersyukur dengan itu. Dia kemudian menghapus sudut matanya, usianya hampir 40 tahun dan dia menangis karena akhirnya punya keluarga kecil, keluarga yang hangat dan tempat terbaik untuk pulang.

__ADS_1


__ADS_2