
Terbangun tanpa busana, akhirnya menjadi pemandangan indah untuk Jeff di pagi hari, apalagi melihat wajah marah Mika kala dia menggodanya. Itu adalah kesukaan untuk dirinya sendiri.
Bahkan wajah Mika rasanya mendominasi pikiran sekarang saat Jeff sudah berada di kantor. Dia membalik kursi kerjanya dan menatap gedung-gedung yang ada di luar kantornya, berada di kursi kerja yang bisa dibawa ke mana-mana begini, membuatnya kembali teringat dengan apa yang terjadi dengan dirinya dan Mika.
Jeff benar-benar tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum. Karena situasinya benar-benar gila sih, Jeff sendiri tidak menyangka kalau dia bisa sebegitunya, karena ya sebenarnya Mika meski sudah punya anak satu, dia tetaplah seorang wanita muda yang sama sekali tidak punya pengalaman apa-apa, masih polos dan Jeff yang menguasai permainan di antara mereka.
Jadi, mungkin kalaupun nanti mereka mau eksplore banyak hal maka Jeff yang harusnya bertindak, Jeff jadi sadar bahwa istrinya ternyata memang masih sangat bocah, tapi bisa-bisanya Jeff kecanduan tubuh Mika, karena walaupun bocah tetap mampu memuaskan Jeff, ibarat kata bocah bukan sembarang bocah. Tapi, kenapa Jeff malah jadi kepikiran ya?
Ah sial! Mika sudah mulai masuk ke dalam kepalanya, mengakuisisi pikirannya, bahkan Jeff yang sebelumnya gila kerja, sekarang malah gila Mika, malah kepikiran soal Mika terus.
Jeff menggelengkan kepalanya berusaha untuk kembali waras, karena situasinya menyebalkan sekali, bagaimana mungkin dia bisa kerja karena kepikiran soal Mika terus? Mika benar-benar menjadi penguasa kehidupan Jeff, kenapa ya Jeff baru sadar sekarang kalau dia kecanduan Mika?
Saat Jeff menggelengkan kepalanya sambil tertawa, mentertawakan dirinya sendiri, seseorang masuk ke dalam ruangannya, tentu saja sekretaris Jeff yang selalu membutuhkan Jeff dan tanda tangannya. Jeff langsung berusaha untuk kelihatan cool di depan orang itu, karena ya malu juga kalau kedapatan membawa urusan pribadi ke kantor.
"Saya mengganggu, Pak?" Tanya Kathrine.
"Kamu memang selalu mengganggu kehidupan saya," jawab Jeff, tentu saja dengan nada jenaka, karena memang dia bercanda.
"Maaf kalau begitu."
"Tapi, kalau kamu tidak mengganggu saya, pekerjaan kita tidak akan selesai." Jeff kemudian tersenyum, dia mengatakan fakta soal semuanya.
Sekretarisnya kemudian mengangguk dan membawa berkas ke hadapan Jeff dan mulai menjelaskan dari mana saja asal berkas-berkas tersebut. Karena sebenarnya dia juga ingin cepat-cepat pulang agar bisa bertemu dengan Mika.
.
.
.
Memiliki Mika di sisinya adalah sesuatu yang semakin ke sini membuat Jeff yakin bahwa hanya Mika yang pantas menjadi ibu dari anak-anaknya, Mika sebaik itu walaupun mentalnya mungkin belum stabil, hal yang Jeff simpulkan adalah bahwa Mika tidak mau kalau sampai yang terjadi pada dirinya terjadi juga pada anak mereka.
Mika pernah merasa sendirian dan Mika tidak mau kalau sampai Regan merasakannya, dia maunya, dia dan Jeff selalu ada dalam tumbuh kembang si kecil sampai dia dewasa nanti. Karena itu lah yang akan menjadi kebahagiaan Regan nantinya.
"Kalau suatu saat aku meninggal kamu bakal nangis gak?" Entah kenapa semakin ke sini Jeff semakin menjadi manusia random yang selalu suka mengajak Mika membicarakan hal-hal yang sangat tidak jelas begini.
Mika menghela napasnya, untuk apa menjawab sesuatu yang Jeff sendiri sebenarnya sudah tahu jawabannya?
"Jawab, Sayang," ucap Jeff.
"Ya menurut kamu aja? Ada gitu yang gak nangis suaminya meninggal?" Tanya Mika, masuk akal dia baik-baik saja ditinggalkan saat bahkan hidupnya mulai merasa butuh?
Jeff kemudian terkekeh, memang sukanya mencari penyakit. "Padahal warisannya banyak
__ADS_1
buat kamu," kata Jeff dengan seenaknya, warisannya banyak, tapi apa itu penting untuk Mika?
Sementara sejak awal yang Mika butuhkan adalah figure, bukan materi. "Ya kalaupun sejak awal yang aku mau adalah harta kamu, ya mending aku gugat cerai dan minta harta gono-gini aja. Sempit banget pemikiran kamu kalau kamu mengira aku sampai sejauh ini hanya karena aku butuh uang dan harta benda kamu, aku butuh kamu, more than everything!"
Mika menjelaskan, katakanlah Mika bucin, tapi pada faktanya Mika memang sebucin itu, dia sesayang itu dengan Jeff, semakin ke sini rasanya untuk membayangkan sebuah kehilangan saja Mika benar-benar tidak sanggup, Mika tidak pernah sanggup membayangkan hidupnya jika tanpa Jeff di dalamnya.
"Dalam berandai-andai pun aku gak akan siap kalau harus tanpa kamu." Jeff malah terdiam mendengar itu, tidak pernah menyangka kalau perasaan Mika atas dirinya sampai segitunya.
Mika menundukkan kepalanya." Apalagi bayi kecil ini, dia akan jadi yang paling gak siap kalau gak ada kamu di sini. Regan akan selalu butuh Papanya dalam apapun. Dia akan selalu butuh kontribusi Papa dalam hidupnya," jelas Mika.
Dia hidup dengan orang tua yang lengkap saja masih merasa bahwa ada beberapa hal yang terasa tidak adil, apalagi jika dunia membiarkan Regan kecil harus tumbuh tanpa seorang ayah, Mika tidak bisa membayangkan itu. Jeff malah jadi terharu dan tanpa sadar air matanya langsung meluruh,
Obrolan kosong di atas kasur setelah pulang kerja seperti ini ternyata cukup mampu membuatnya melow. Dia tidak menyangka bahwa sosok di sampingnya ini menyentuh begitu dalam relung hatinya, membuatnya kemudian merasa bahwa dia sangat beruntung.
Jeff kemudian melihat ke belakang tubuh Mika.
"Kenapa?" tanya Mika. "Enggak, memastikan kamu manusia atau bidadari," kata Jeff.
Mika terkekeh, dia kemudian mengulurkan tangannya untuk menepuk bahu Jeff, berusaha membantu Jeff untuk merasa tenang.
"Gila ya! Aku manusia yang hidupnya fokus sama dunia dan Tuhan kasih aku gambaran betapa indahnya surga di diri kamu."
"Apa sih perumpamaannya." Mika dan surga? Tentu saja adalah dua hal yang jauh berbeda.
"Kamu terlalu bidadari untuk berada di dunia."
Jeff kemudian mendekat dan mencium pipi Mika, Mika harus tahu bahwa sebersyukur itu Jeff memilikinya.
.
.
.
Saling melengkapi adalah kata yang tepat untuk mereka sekarang ini, Jeff selalu ada untuk menjadi backup Mika dan Mika juga selalu berusaha menjadi tempat ternyaman untuk pulang.
Jadi, bagaimana mungkin Jeff bisa meninggalkannya, sementara yang selalu Mika berikan adalah sajian dari tempat ternyaman untuk pulang?
"Sayang ... "
Mika kemudian menoleh, dia sedang sibuk membersihkan meja makan tempat Regan makan, ini hari Minggu, jadi kemungkinan besarnya Jeff akan di rumah terus.
"Kenapa? Butuh sesuatu?" Tanya Mika seraya menatap ke arah suaminya.
Jeff menggelengkan kepalanya, karena dia memang suka sekali rasanya mengganggu Mika, ada sensasi menyenangkan yang tidak bisa dia jelaskan pada siapa pun, intinya ya dia bahagia hanya karena Mika berada di sisinya.
__ADS_1
"Butuh kamu," kata Jeff.
Mika memutar bola matanya malas, ya kalau itu juga Mika tahu, mereka selalu saling membutuhkan, itu sialnya. Mika kembali melanjutkan membersihkan meja Regan dari sisa makanan, dia sama sekali tidak punya waktu untuk menanggapi Jeff.
"Sayang!" Jeff kembali memanggil, oke, ini sudah mulai sangat menyebalkan di telinga Mika. Nampak lebih rewel ternyata papanya Regan ini.
"Apa sih?!" Tanya Mika. Jeff maju kemudian mendaratkan ciumannya ke bibir Mika, hal yang selalu ingin dia lakukan adalah melakukan hal-hal random, Mika yang niatnya mau marah langsung terdiam, bahkan seluruh kemarahannya kemudian menguar begitu saja, dia sudah tidak bisa marah lagi.
"Suka kan kamu? Suka dicium aku ya? Atau mau olahraga pagi?" Tanya Jeff.
Mika menaikkan sudut bibirnya, merasa bahwa semua ini menyebalkan, tapi juga perlakuan manis dan hal-hal kecil yang Jeff lakukan cukup membuatnya merasa tidak mampu berkutik.
"Apa sih!"
"Apa sih! Apa sih!" Bukan Jeff namanya kalau tidak meledek apa yang Mika jawab, Jeff menjadi sangat aneh sekarang.
"Aneh banget kamu sekarang, padahal dulu aja sok cool." Mika ikut meledek Jeff, semua orang juga tahu bagaimana seorang Jeff bersikap bak kulkas 12 pintu, nah, sekarang apa?
"Emang iya?" Tanya Jeff.
"Iya banget! Sok cool, sok keren!" Ungkap Mika, dulu bahkan untuk sekadar berbicara dengan Jeff Mika harus mengumpulkan keberaniannya, tapi sekarang? Beuh, bobrok!
Jeff tertawa. "Jadi, suka aku yang cool, atau aku yang hangat?" Tanya Jeff, beruntung loh Mika karena kehangatan yang Jeff tunjukkan, hanya dia tunjukkan pada Mika, dalam hidupnya dia hanya berusaha untuk kelihatan tidak peduli dengan manusia lain, dengan Mika? Dia sangat peduli.
"Suka kamu yang Jeff, suka kamu karena kamu. Sangking kayanya kamu gak pernah pacaran, cuma fokus sama pekerjaan juga pula, jadi kentara banget kalau kamu tuh jadi kekanakan," jelas Mika.
"Emang iya gitu?" tanya Jeff.
"Iya! Kaya remaja yang baru kasmaran dan jatuh cintanya sama aku. Karena aku emang cantik sih, aku mewajari hal itu. Jadi gapapa." Mika bicara dengan penuh percaya diri.
"Dih!"
"Dih!" Gantian Mika yang meledek.
"Karena lagi bucin kayanya, makanya gitu, semua ini terjadi secara gak sadar," jelas Jeff, dalam hidupnya, kebetulan saja dia ingin selalu memberikan yang terbaik untuk Mika.
"Halah, picisan!"
"Cium lagi gak nih?" Tanya Jeff.
"Apa sih!" Mika membuang pandangnya, mau sih sebenarnya, tapi kan gengsi ya? Jeff kemudian maju dan kembali mencium bibir Mika, ada banyak hal yang memang pasti akan Mika sembunyikan. Karena kalau rasa sayang Mika diibaratkan setinggi Monas, maka gengsinya setinggi Burj Khalifah.
Mika hanya melirik ke arah Jeff yang kini menggeleng-gelengkan kepalanya tidak jelas. Kenapa lagi manusia ini?!
"Bahaya nih!"
__ADS_1
"Kenapa?" Tanya Mika dengan cepat.
"Aku kecanduan kamu." Jeff mengatakan itu tanpa beban dan tanpa sungkan, Mika adalah istrinya dan menurut Jeff itu sama sekali tidak masalah, malah bagus, tidak mungkin kan dia menggoda istri tetangga?