
Sayang Kamu Akhirnya setelah banyak perderamaan kehidupan di dalam hidup Tessa, hari ini dia melakukan lamaran, bersama Elang. Mik sebenarnya lelah sekali dengan dua manusia itu, tapi juga bahagia karena akhirnya mereka memiliki kedewasaan untuk melangkah ke arah yang lebih serius tanpa mendengarkan apa pun dari luaran sana. Apalagi mengenai masa lalu.
Mik ikut senang dan tanpa sungkan ikut mempersiapkan acara lamaran yang akan dilakukan di rumah keluarga Tessa. Tugasnya dengan Aqiqah Kemala sudah selesai, jadi dia bisa lebih tenang sekarang, bisa lebih melakukan sesuatu yang lain.
Tessa berada di kamarnya sedang make up. "Deg-degan banget gue, gila!" Tessa mengatakan itu sembari menatap pantulan dirinya di cermin. Mik terkekeh, dia senang sih melihat Tessa begini.
"Gue gak nyangka kalau cewek kaya Lo bisa serius," gumam Caca.
"Bisa lah! Apalagi cowoknya Kak Elang!"
"Bucin!" Cibir Mika.
"Nyonya Dirgantara tolong sadar, anda lebih bucin!" Balas Tessa, sontak saja mereka bertiga terkekeh.
"Tinggal gue nih, gimana nih gue?!" Kesal Caca.
"Tenang, Pak Gerda lagi usahain kok. Tenang, kalem. Dia orang yang bertanggung jawab kok." Mika mencoba mengafirmasi positif Caca. Dia harus percaya kalau kehidupan baik juga akan datang kepadanya.
Caca mengangguk, dia juga percaya kok. Selama ini dia selalu mendapat kebaikan, sekarang juga pasti akan mendapatkannya, meskipun memang harus sabar.
"Asli ini masih deg-degan." Tessa terus menghela napas, dia gugup sekali.
Caca mengelus bahu Tessa." Nanti pasti lega," ucap Caca, ini memang hanya baru lamaran. Tapi, memang wajar kalau Tessa deg-degan, untuk sampai di titik ini Tessa dan Elang punya perjuangan yang tidak mudah, jadi pasti sedikit banyaknya ada ketakutan di dalam hati mereka masing-masing.
Tessa menganggukkan kepalanya, melawan arus di mana dia memilih seorang pria bernama Elang Arjun Dirgantara yang notabenenya pernah cinta mati pada sahabatnya, makanya sampai di titik ini seperti sebuah mimpi untuknya.
Dia kemudian memegang tangan Mik dan Caca mengelus punggung tangan sahabatnya itu, Mik dan Caca adalah yang paling tahu bagaimana perasaan Tessa selama ini, bagaimana usaha Tessa untuk bertahan tanpa tumbang diterjang badai.
"Lo udah ngelakuin yang terbaik dengan semuanya, lo udah berhasil lewatin banyak hal yang sejak awal kita sama-sama tau kalau itu pasti berat, terima kasih udah mau bertahan, bahagia selalu ya, Sa," pesan Mika.
Mika semakin mengelus bahu Tessa, ah rasanya kalau diingat-ingat, hampir keseluruhan dari hal berat yang Mik lalui di dalam hidupnya semua dia lalui bersama Tessa dan Caca
Tessa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, semoga saja mereka selalu bisa sebaik ini, mau apa pun yang akan mereka hadapi kedepannya.
.
__ADS_1
.
.
"Saya bukan pria yang menaiki kereta kuda dari emas, saya bukan pria yang memiliki karir mentereng yang bisa dibanggakan, semua yang punya sekarang masih sokongan Kakak saya."
"Rasa sayang saya juga mungkin rasa yang bisa kapan saja kamu dapatkan dari orang lain. Tapi, langkah saya ke sini,menemui kedua orang tua kamu, memutuskan untuk meminang kamu adalah langkah paling besar yang pernah saya ambil di dalam hidup saya." Elang menghela napasnya.
"Teruntuk kamu Tessa, izinkan saya menyampaikan niat baik saya, bersediakah kamu menjadi istri saya? Menemani saya dalam suka dan duka, menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya dan menjadi alasan pertahanan dalam hidup saya?" Ucap Elang dengan sungguh.
Semua orang bertepuk tangan mendengar seluruh pernyataan Elang, Mik sendiri sudah tidak bisa menahan air matanya, semua ini membuatnya melow, karena dia merupakan salah satu yang mengikuti perkembangan hubungan Tessa dan Elang, jadi ketika keduanya sampai di titik ini, Mik benar-benar sangat terharu.
Elang juga sudah menemukan kebahagiaannya, seseorang yang pernah sangat dia cintai. Seseorang yang pernah menjadi alasannya untuk selalu menjadi pemenang, seseorang yang menemani Mika di masa sulit. Ah sulit sekali digambarkan kebahagiaannya sekarang.
Jeff juga memeluk istrinya itu dari samping, berusaha menenangkan perasaan Mik, mereka bersahabat dan sekarang Tessa menemukan bahagianya, sangat wajar jika Mik sampai begini. Apalagi Mika pernah bilang pada Jeff kalau dia ingin sekali Elang bahagia.
MC langsung beralih, dia mendatangi Tessa dan menyerahkan mikrofon pada Tessa. Wanita itu kelihatan menarik napasnya, kemudian menghembuskannya perlahan, dia memfokuskan pandangannya pada Elang yang ada di depannya, berusaha memfokuskan dirinya pada sosok yang berkemungkinan menjadi pusat dunianya.
"Saya juga bukan perempuan sempurna, saya hanya seorang anak manja yang kebanyakan situasi di dalam hidup saya mengandalkan orang lain terutama orang tua saya, Mika dan juga Caca."
"Selamat datang di dalam kehidupan saya yang berkemungkinan akan banyak merepotkan kamu, menyusahkan kamu dan mengandalkan kamu. Dengan izin Tuhan dan restu dari mama papa saya dan juga sahabat saya, saya menerima lamaran Kamu wahai mas Elang Arjun Dirgantara," ucap Tessa membalas seluruh kalimat yang Elang lontarkan, entah sejak kapan dia belajar.
water proof, jadi walaupun Mik menangis tidak jelas begini dia tetap kelihatan cantik dan elegant.
Tangan Jeff sama sekali tidak melepaskannya, seolah menerangkan pada Mik bahwa dia akan selalu berada di sana, memberikan yang terbaik untuk Mik.
"Gak nyangka kalau Tessa sama Kak Elang bakal sampai ke titik ini," ucap Mik.
"Elang terlalu sulit ditebak apa maunya, dia juga sulit untuk memutuskan sesuatu. Tapi memang dia akan memperjuangkan apa-apa yang dia mau. Cuma masih di luar dugaan, Tessa meminta pisah dia malah datang melamar." Jeff terkekeh.
"Tapi biar begitu, aku belajar banyak dari Elang, sampai akhirnya kamu bisa kembali sama aku untuk sampai di titik ini."
Mik menipiskan bibirnya."Lucu ya mereka, akhirnya berhasil menurunkan ego masing-masing dan sampai di titik ini, sampai di waktu di mana akhirnya mereka punya kesempatan untuk bisa bersama," kata Mik, bibirnya tersenyum dengan bangganya dengan semua hal yang sudah terjadi, Tessa dan Elang melakukan semuanya dengan sangat baik.
Jeff menganggukkan kepalanya, perlahan dia akhirnya mengerti bahwa semuanya menjadi sangat baik, manusia memang didesain untuk menyelesaikan masalah-masalah di dalam hidupnya dengan baik, begitu juga Tessa dan Elang.
"Hidup Elang dan Tessa sempurna, kemudian akhirnya mereka diuji dalam memiliki perasaan, lalu belajar banyak hal soal makna cinta dan akhirnya sampai pada titik di mana mereka benar-benar memiliki cinta," jelas Jeff.
__ADS_1
Mik menganggukkan kepalanya, semua hal yang Tessa dan Elang dapatkan adalah apa-apa yang memang sejak awal sudah mereka perjuangkan, Mik hanya merasa bahwasanya sangat wajar ketika mereka mendapatkan semua ini.
Jeff membawa tangan Mik ke bibirnya dan mencium punggung tangan tersebut. "Semua orang punya masa-masa sulit di dalam hidupnya dan semua orang pasti punya waktu untuk bisa menjadi dewasa dan menyelesaikan masalahnya sendiri dengan baik, termasuk kita, " jelas Jeff.
Mik setuju dengan itu, karena secara otomatis pada dasarnya ya manusia hidup dengan masalah dan manusia juga yang pasti akan bisa menyelesaikan masalahnya. Tuhan tidak mungkin menciptakan sesuatu tanpa alasan.
Tuhan tidak mungkin memberikan ujian tanpa kekuatan, manusia dengan segala rencananya dan biasanya Tuhan yang akan sempurnakan seluruh rencana tersebut.
Mik mengangguk, dia senang sekali karena punya suami yang dewasa, karena sudut pandang Jeff soal kehidupan, Mik juga jadi punya sudut pandang baik soal kehidupan tersebut.
"Aku sayang sama kamu," ungkap Jeff.
Mik menganggukkan kepalanya. "Aku juga," balasnya tanpa sungkan, malah kalau bisa segala yang ada di dalam hati Mik, dia ungkapkan langsung pada Jeff agar Jeff tahu.
"Tapi tetep aja aku masih ngerasa terharu. Kita nikah lagi yuk, Mas? Aku mau lamaran kaya gini, mau tau euforianya nikah sama orang yang aku sangat cintai." Mika menatap Jeff dengan sungguh.
"Memang sekarang kamu mencintai aku sebanyak apa?" Tanya Jeff yang nampaknya ingin puas mendapatkan jawaban dari Mika.
Jangan salahkan Regan kalau dia banyak bertanya, karena Ayahnya sendiri yang mewariskan hal itu pada Regan, sehingga dia tumbuh menjadi anak yang kritis.
"Emangnya harus dijabarkan ya sebanyak apa?" Tanya Mika.
"Iya harus, karena aku ingin selalu tau kamu mencintai kamu volumenya sebesar apa, sebanyak apa, aku selalu ingin tau."
Mika terkekeh. "Seujung kuku di jari tangan aku dan seujung rambut di kepalaku."
"Sedikit banget," protes Jeff.
"Kamu tau, kalau aku bilang aku cinta sama kamu seluas samudra tetap aja, akan ada surutnya, ada meluapnya, ada menguap."
"Kalau aku mencintai kamu seujung kuku atau rambutku. Memang terlihat kecil tapi akan selalu tumbuh. Walau dipotong dia akan tumbuh lagi, kalau dipangkas dia juga akan tumbuh lagi setiap harinya. Aku sangat mencintai kamu tanpa perlu aku sebutkan berapa banyaknya. Yang terpenting kamu bisa merasakan."
Jeff terhenyuk sih mendengar pernyataan Mika, selama menikah ini ungkapan paling menyentuh yang pernah Mika lontarkan padanya. Meskipun dia sudah sangat dewasa tapi euforianya bukan main-main, dia salah tingkah!
"Aku sangat mencintai kamu, Aphrodite Mikaella Disera." Jeff tersenyum ke arah Mika, membuat hati Mika menghangat melihatnya.
"Aku juga sangat mencintai kamu, Mas Jeffrico Rasendria Dirgantara. Aku sangat mencintai kamu kalau kamu mau tau."
__ADS_1
Jeff mengangguk, setelah itu dia membawa Mika ke dalam pelukan terbaiknya. Dia berjanji kalau dia akan selalu mencintai Mika sampai mereka dipisahkan semesta.