
Akhirnya setelah banyak pertimbangan dengan situasi dan kondisi yang memang sudah dipikirkan, mereka memutuskan membawa Regan kembali ke Bandung begitu dinyatakan boleh keluar dari rumah sakit dan boleh melakukan perjalanan.
Mika sama sekali tidak melakukan tes apa pun, dia bahkan seolah mengabaikan dirinya sendiri atas apa yang terjadi, Jeff sendiri juga jadinya sama sekali tidak bisa berbuat banyak, tubuh Mika adalah miliknya, ya Mika pasti akan mengerti dengan sendirinya apa pun yang terjadi pada dirinya, Jeff tidak boleh memaksakan sesuatu yang Mika tidak mau.
Untuk urusan Regan pokoknya mereka sama-sama melakukan yang terbaik, tetap melakukan kerjasamantim di dalam pesawat memastikan kalau Regan bisa tenang dan tidak mengganggu penumpang yang lain.
Sampai di Bandung juga langsungbke rumah sakit untuk kembali cek kondisi Regan, dokter sudah memastikan kalau Regan sudah sembuh dan boleh keluar dari rumah sakit, tapi apa Mika sebagai ibu bisa puas begitu saja? Jawabannya tentu tidak.
Sekarang Regan benar-benar sudah baik-baik saja, dibawa perjalanan jauh juga sama sekali tidak ada yang berubah, keadaan Regan sudah sangat baik.
"Kamu harus banyak istirahat," ucap Jeff mengingatkan, karena jam tidur Mika sangat kurang pasti, Mika juga harus memikirkan dirinya sendiri, dia harus paham kondisinya, jangan sampai tumbang dan malah membuat keadaan semakin rumit.
Regan masih akan terus membutuhkan ibunya sampai kapan pun. Mika hanya diam, Regan masih berada di dalam pelukannya, ya kalau masih ada banyak waktu luang maka dia akan istirahat, tapi kalau tidak? Ya, Mika akan melakukan apa yang menurutnya benar.
"Kamu ibunya Regan, ikatan batin yang ada di antara kalian kuat banget, kalau sampai kamu kenapa-kenapa, Regan juga pasti bisa kerasa," jelas Jeff, karena ya hidup mereka bukan hanya soal Regan.
Boleh memikirkan Regan, tapi kalau sampai mengabaikan diri sendiri juga bukan begitu konsep manusia menjalani kehidupan ini.
"Sayang..." Jeff hampir frustrasi mengingatkan Mika soal menjaga kesehatannya sendiri.
"Iya, Mas. Aku dengerin aku selalu denger apa yang kamu bilang, tapi memang sekarang kan harus kita pikirin Regan. Mama aja khawatir sama Regan. Banyak yang sayang Regan, kalau dia kenapa-kenapa nanti juga banyak yang sedih." Mika akhirnya menjawab.
"Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa."
"Aku juga gak mau aku kenapa-napa, aku cuma mau memastikan kalau Regan cukup, cukup atas segala hal, Mas. Setelah semuanya bisa aku pastikan tuntas, aku pasti istirahat. Mas jangan khawatir banget gitu, akunya jadi panik." Mika bersikeras, tentu saja karena dia seorang ibu makanya dia mau kalau semuanya baik-baik saja.
Jeff hanya menghela napasnya, ya sudahlah, wajar sekali sebenarnya Mika berusaha melakukan yang terbaik, sekali lagi, dia adalah seorang ibu.
"Regan butuh kamu dan akan selalu butuh kamu, jadi pikirkan ulang mau menemani Regan sampai kapan?"
__ADS_1
"Iya, Mas. Nanti aku istirahat. Udah ya?" Pinta Mika, terlihat sekali dia lelah, jadi dia tidak bisa berdebat dengan Jeff.
Benar saja, kan? Sesampainya di rumah semua orang sudah menunggu di sana. Kedua orang tuanya dan juga Mona begitu khawatir dengan Regan. Belum lagi Elang dan Selena.
"Aaaa kasian ponakan Aunty. Regan, jangan sakit lama-lama, Aunty sedih." Selena menciumi Regan yang masih ada di gendongan Mika.
Berbeda sekali dengan Ibunya yang terlihat lelah, Regan yang sakit malah sudah bisa tertawa saat melihat orang-orang di sekitarnya. Jeff yang merasa lega melihatnya, dia juga berharap kalau rasa cemas Mika segera berakhir karena, Regan memang kuat, dia adalah Jeffrico kecil, jadi sudah pasti dia akan sama dengan Jeff.
"Regannya udah gapapa, hanya mamanya aja yang masih banyak takut," ucap Jeff sembari memeluk pinggang Mika.
"Kamu keliatan kurang tidur loh, Sayang," ucap Widia.
"Iya nanti aku istirahat, Ma. Setelah Regan udah tidur aku pasti tidur." Mika mencoba menenangkan semua orang yang kini malahjadi mengkhawatirkannya, padahal Mik sendiri tidak apa-apa.
"Yasudah, sekarang kalian istirahat. Nanti baru kita mengobrol lagi ya. Mama senang kalau liat Regan sudah sembuh, tidak seperti kemarin atuh, Mama rasanya mau susul kesana," kata Mona.
"Kami masih bisa handle, ya sudah kalau begitu kami istirahat dulu ya, Ma, Pa?" Pamit Jeff.
Mereka semua mengangguk, ya memang mereka terlihat lelah, jadi lebih baik menunda semua pertanyaan sampai mereka pulih dan fresh. Itu akan lebih baik.
Jeff langsung sibuk di ruang kerjanya begitu mereka sampai di rumah, Mika tidak menahannya dan malah membiarkan Jeff memiliki ruang untuk itu, membiarkan Jeff mengurus apa-apa yang memang perlu untuk diurus, Jeff si gila kerja pasti stress sekali saat dirinya harus meninggalkan pekerjaannya, sekarang sudah ada waktu kembali sibuk jadi ya wajar kalau dia kembali menyibukkan dirinya.
Jeff juga jabatannya tidak main-main, meninggalkan pekerjaan pasti akan membuatnya menumpuk, bukan selesai. Meskipun sudah ada beberapa yang dia serahkan pada Gerda. Tapi tetap ada yang harus Jeff urus sendiri.
Di sisi lain Mika menatap wajah tenang Regan yang masih terlelap, ya lumayan menenangkan lah wajah anaknya, soalnya yang Mika butuhkan selama ini adalah ketenangan, kenapa ya dia terlambat menyadari kalau sebenarnya yang butuh dia lihat hanya wajah tenang Regan, bukan yang lain?
Jeff masuk ke dalam kamar dan akhirnya ikut bergabung dengan Mika ke atas kasur, dia memeluk tubuh Mika dari belakang kemudian memandangi wajah Regan bersama-sama.
"Ganteng banget anak aku," ucap Jeff, masih bayi dan Regan sudah memiliki paras yang sangat tampan.
Mika menganggukkan kepalanya. "Menenangkan juga melihat wajahnya, aku selalu ngerasa baik-baik aja kalau liat wajah Regan yang tenang begini," balas Mika, karena ya namanya juga bayi, apa pun yang dia tampilkan adalah sebuah perasaan paling tulus yang pernah ada.
__ADS_1
"Mirip banget sama kamu sebenarnya. Walaupun aku Ibunya, tapi dia lebih mirip kamu. Gak adil emang, padahal aku yang ngandung dia 9 bulan. Tapi semuanya mirip kamu," lanjut Mika, sebenarnya Mika terlalu malas mengakui, tapi sayangnya mereka harus berenang di tengah lautan fakta, mereka harus mengakui itu.
Jeff terkekeh, dia kemudian mencium pipi Mika, ya ada benarnya juga, mereka memang sangat mirip, namanya juga ayah dan anak, malah aneh sekali kalau sampai mereka tidak mirip.
"Dia jadi pusat dunia aku, jadi pas dia gak baik-baik aja seolah dunia aku juga jadinya nggak baik-baik aja. Regan yang ngerasain sakit, tapi aku juga sakit. Regan yang demam, tapi aku juga yang rasain apa yang dia rasain," jelas Mika.
Jeff menganggukkan kepalanya, lagi-lagi hal itu adalah hal yang sangat wajar, mengingat mereka adalah ibu dan anak, jelas Regan adalah dunia Mika, karena begitu Regan lahir fokus mereka memang ke Regan, fokus mereka hanya berusaha menjadi orang tua terbaik untuk Regan.
Jeff mengeratkan pelukannya, dia tidak bisa memaksa Mika untuk menjadi sosok yang egois, dia hanya bisa terus berusaha meyakinkan Mika bahwa sama sekali tidak masalah kalau Mika memikirkan dirinya sendiri walaupun mungkin dia juga seorang ibu, sama sekali tidak masalah jika dia sedikit egois, seorang ibu juga manusia, dia tidak akan bisa memperlakukan Regan sebaik Tuhan.
"Tapi, kamu juga harus memikirkan diri kamu sayang, semuanya harus seimbang. Aku udah bilang berkali-kali, kalau kamu punya aku. Seharusnya gak ada yang kamu takutin, aku juga ayahnya. Akan jaga dia sebaik mungkin semampu yang aku bisa."
Jeff sekali lagi mengingatkan, sama seperti apa yang dia katakan sejak awal bahwa dia takut kalau Mika kenapa-napa, itu adalah kalimat nyata, bukan hanya sekedar gombal-gombal tidak jelas, Jeff Benar-benar tidak mau kalau sampai Mika kenapa-napa.
Mika kemudian berbalik menatap Jeff, dia melingkarkan tangannya ke tubuh Jeff dan menenggelamkan wajahnya di dada Jeff.
Walaupun belakangan dia berusaha menjadi manusia yang kuat, berusaha sebaik mungkin mem-protect Regan sebagai seorang ibu, tetap ada waktu di mana dia merasa bahwa dirinya butuh perlindungan dan perlindungan itu hanya bisa dia dapatkan dari sang suami.
Jeff mengelus punggung Mika, mereka bisa sedikit lebih tenang sekarang karena Regan sedang tertidur pulas di hadapan mereka, anak itu tampak tenang di tempatnya, ya Jeff selalu berharap kalau mereka bisa membesarkannya dengan baik, menjadi orang tua yang dia inginkan.
"Kamu udah cukup baik merawat Regan, kamu udah kasih semua yang terbaik buat dia, aku sayang banget sama kamu, aku bangga sebagai suami kamu, kamu keren," ucap Jeff. Karena apa
yang paling Mika butuhkan adalah dukungan untuknya, diyakinkan bahwa dia sudah melakukan yang terbaik.
"Kamu udah melakukan yang terbaik, udah pernah aku bilang, kan? Jadi aku bilang lagi agar selalu tertera diingatan kamu." Jeff juga mencium puncak kepala Mika, seolah mempertegas bahwa apa yang dia katakan bukan sebuah omong kosong, Jeff mengatakan semuanya karena memang dari hatinya yang paling dalam dia berusaha untuk meyakinkan Mika atas semuanya, Mika sudah melakukan semuanya dengan baik jadi sama sekali tidak perlu merasa bersalah.
Regan beruntung karena lahir dari seorang ibu yang seperti Mika. Jeff mengelus punggung Mika, dia hanya akan selalu memberikan yang terbaik yang bisa dia berikan, dukungannya sebagai seorang suami tidak perlu diragukan lagi, dia hanya akan melakukan yang terbaik.
"Kamu tidur, karena kamu pasti butuh tidur. Kamu udah jagain anak aku dengan baik, jadi sekarang biar aku yang jagain mamanya dengan baik." Jeff membelai belakang kepala Mika, Mika harus tidur di dalam pelukannya. Mika hanya diam, dia berusaha mencari kenyamanan dalam dekapan sang suami, karena memang apa yang paling dia butuhkan sekarang adalah rasa aman dan nyaman.
Regan juga sedang tertidur pulas, jadi Mika tidak perlu memikirkan yang lain-lain, Regan juga pasti akan selalu aman di tempatnya. Jeff juga mulai memejamkan matanya, mereka butuh waktu di luar fakta bahwa mereka adalah orang tua, Regan pasti akan aman selagi mereka tidak lalai.
__ADS_1