10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Perhatian Kakak Ipar


__ADS_3


Waktu sudah menunjukkan pukul dua malam, Mika masih mondar-mandir bersama Elang di ruang tengah. Ibunya tidak pulang dan Selena juga belum pulang. Pasalnya Selena tidak seperti ini karena Selena takut dengan peraturan yang Jeff buat untuknya.


"Kak aku takut Selena kabur, kita cari aja sekarang ya? Aku bener-bener khawatir," ucap Mika.


"Jangan, Mik. Biar aku yang cari, kamu gapapa di rumah sendiri?" Tanya Elang.


"Banyak pelayan kok, Kakak cari Selena aja. Aku beneran gak bisa tenang," jawab Mika mantap.


"Yaudah kalau kaya gitu." Elang mengambil jaket dan kunci mobilnya di kamar, setelah itu dia mengusap kepala Mika dengan lembut dan segera keluar rumah. Namun belum sempat keluar tiba-tiba dua orang penjaga masuk membawa Selena yang tengah mabuk berat.


"SELENA." Teriak Mika dan Elang bersamaan.


Elang mengambil alih Selena dari para penjaga, setelah itu memapahnya ke kamar karena dia tidak mau digendong. "Kak Jeff jahat! Kak Jeff lebih belain si Kuman daripada aku."


Mereka tidak mempedulikan ocehan Selena dan tetap membawa Selena ke kamar dan membaringkannya. Dia meracau tidak jelas dan membuat Mika terhenyuk, kalau dibilang dia ikut bertanggung jawab ya memang iya. Jeff marah pada Selena karena membelanya. Dia tidak tega sebenarnya.


"DAN LO KUMAN! GUE BENCI SAMA LO!"


Selena tiba-tiba saja menangis, Mika yang memang sensitif malah ikut menangis saat Selena memegang kedua bahunya dan menatapnya seolah musuh terbesar dalam hidupnya.


"Gue benci karena lo dapetin semua yang gue mau! Gue benci lo juara kelas, gue benci lo jadi idola semua orang, gue benci karena meskipun lo gak punya keluarga tapi lo ketawa yang bikin gue menyebalkan! Gue benci lo ambil Kak Edgar dari gue! DAN SEKARANG LO AMBIL KAK JEFF SAMA KAK ELANG!"


Elang kaget sih dengan pengakuan Selena, melihat Mika menangis membuatnya tidak tega, bagaimana pun beban emosional Selena ini bukan karenanya. Tapi karena diri Selena sendiri.


"Sel, udahhh istirahat dulu. Ada Kak Elang." Elang memeluknya dengan erat, meski gadis itu berontak karena menatap Mika. Entah dalam ketidaksadarannya saja Selena bisa mengenali Mika dengan jelas.


Mika menyeka air matanya, dia tida boleh cengeng. Yang harus dia pikirkan sekarang adalah Selena. Dia mengambil Air dan susu steril dari dapur, setelah itu memberikannya ada Elang. Katanya itu akan membuat orang mabuk akan lebih cepat sadar, tapi tidak tahu juga.

__ADS_1


Setelah itu Elang diam di luar, sementara Mika membantu Selena untuk mengganti pakaiannya karena Mika yakin kalau Selena tidak akan nyaman. Selesai mengganti baju Selena, Mika duduk di tepi kasur.


Memikirkan apa-apa saja yang membuat Selena tersakiti membuat Mika merasa banyak bersalah karena itu. Kalau bisa juga Mika memang tidak menginginkannya. Cukup memiliki ayah dan ibu di sampingnya saja sudah cukup sebenarnya.


"Segitu bencinya lo sama gue ya? Padahal kita bisa saling sharing kalau lo emang mau berteman sama gue." Dengan lembut Mika mengusap rambut Selena, menatap gadis yang memang tidak pernah memancarkan kehangatan pada dunianya.


"Gue akan ubah itu perlahan, semoga aja lo bisa diajak kerja sama," ucap Mika.


Elang melihat itu dari balik pintu, dia tau kalau Mika sebenarnya tidak akan mungkin menganggap Selena musuhnya, apalagi dia lebih banyak diam saat menghadapi Selena.


.


.


.


Selena mengerjapkan matanya, dia merasa pusing sekali dan kepalanya juga sangat berat. Tapi dia lebih kaget saat Mika berada di kamarnya dan menatapnya seperti mengintimidasi.


"N-Ngapain lo di sini?! Keluar! Jangan pernah masuk ke ruangan pribadi gue, karena gue gak mau ada jejak lo di sini!"


Mika tidak mendengarkan Selena, dia malah duduk di tepi kasur dan tidak mendengarkan omelan Selena. Mika memberikan teh jahe pada Selena agar pengaruh alkohol semalam benar-benar hilang. "Minum."


"Gak mau! Jangan sok peduli!"


"Gue emang peduli kalau lo mau tau," balas Mika.


"Gue gak butuh!"


"Walaupun gak butuh lo harus minum kalau ga gue bilangin Kakak dan Mama lo, semalem lo mabuk berat dan diantar cowok yang ciuman sama lo di depan pintu kemarin!" Ancam Mika.

__ADS_1


"NYEBELIN LO YA!"


"Emang nyebelin, jadi lebih baik lo nurut." Mika kembali mengulurkan gelas itu pada Selena. Tidak peduli kalau gelas itu akan melayang nantinya.


Namun ternyata Selena menurut dan meminumnya. Sebenarnya dia juga masih ada rasa takut pada Jeff meskipun kemarin dia benar-benar seolah berani.


Mika tersenyum, ya sekiranya Selena menurut dan tidak berbuat lebih. Dengan perlahan dia menyuapkan makanan pada Selena. "Lo harus makan."


"Gak mau! Pergi!"


"Ancaman gue masih berlaku."


Lagi-lagi Selena menurut sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kasur, tubuhnya memang lemas sekarang. Dia tida bisa melawan, tapi apa benar-benar harus Mika yang mengurusnya?


"Kalau lo benci sama gue, jangan sakitin diri lo sendiri. Lo bisa marah sama gue sampe lo puas," ucap Mika sembari menyuapkan makanan pada Selena lagi.


Selena terdiam, terlalu gengsi lah dia untuk menanggapi perkataan Mika. Jadi dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa karena kepalanya juga pusing. Mika juga begitu, setidaknya dia sudah mengatakan apa yang dia ingin katakan dan lanjut menyuapi Selena.


Mona melihat itu dari balik pintu. Entah kenapa dia merasa kalau Mika dan Selena terlihat lucu jika seperti itu. Andai saja Selena mau berdamai dengan beban emosinya pasti Mika dengan senang hati menjadi apa-apa saja yang Selena butuhkan.


Mona juga tersadar karena Mika juga. Dia tidak punya banyak waktu untuk Selena, jadilah Selena menjadi seperti ini. Mona pasti akan memperbaiki perlahan dan dia juga inginnya membuat Selena dekat dengan Mika.


Mika mengulurkan air putih pada Selena. Ingin tetawa sebenarnya melihat Selena menjadi penurut. Dia merasa memiliki adik, ya tapi kan Selena memang adik iparnya. Mungkin Mika juga harus beradaptasi jika kejadian ini terulang lagi atau untuk hal apapun kedepannya.


"Anak pinter, yaudah gue cuma mau mastiin lo gak lapar. Selebihnya lo mau marah-marah lagi juga silahkan. Tapi jangan mabuk-mabukan lagi kaya semalem, gak baik buat tubuh lo. Gue gak akan bilang Kakak lo, asal lo beneran gak ngelakuin hal bodoh." Mika merapikan piring dan juga gelas, setelah itu dia keluar dari kamar Selena. Cukup lega karena dia berhasil menahan egonya sendiri.


Selena merasa ada yang aneh, kenapa dia menjadi penurut seperti ini pada orang yang sangat dia benci. Sebenarnya besar keinginan Selena menjambak bahkan menampar Mika detik ini juga. Tapi dia terdiam.


"Lo pasti karena takut aja sama ancaman dia, lo gak boleh lemah. Lo harus tetep berhasil buat dia gak betah di rumah ini.!" Gumam Selena.

__ADS_1


Dia menarik kembali selimutnya dan menenggelamkan diri di sana. Ah semua ini membuatnya pusing, belum lagi dia memikirkan kejadian tadi malam kalau dia bersama Rio hampir saja melakukan di luar batas.


Kalau Mika sampai tau hal ini, itu akan lebih mudah untuk mengancamnya. Akan semakin lemah juga dia, pokoknya hubungannya dengan Rio harus tetap menjadi rahasia. Karena dia hanya punya Rio dalam hidupnya untuk mengerti apa yang dia rasakan.


__ADS_2