
Menemani Mika seharian membuat Jeff terlelap, ya bagaimana tidak? Mika yang katanya ngidam dipeluk kini malah dia yang memeluk Jeff dengan erat dan membuat pria itu tidak bisa kemana-mana.
Mika menatap wajah suaminya ketika tertidur, ternyata dia lebih tampan jika tidur seperti ini. Tidak se-menyebalkan ketika dia bangun. Tapi akan seru sepertinya kalau anaknya nanti mirip Jeffrico. Karena Jeffrico tampan.
Namun tiba-tiba Jeff dilanda gelisah, tubuhnya berkeringat sambil meracau hal yang tidak jelas. Mike mengerutkat dahinya. Apa yang terjadi pada Jeff.
"Mas, kamu kenapa ... Mass." Mika mencoba membangunkan Jeff sampai akhirnya Jeff sadar.
Dia duduk dan langsung mengambil segelas air di nakas. Membuat mereka keheranan, apa Jeff mempunyai pengalaman buruk ya? Pikirnya.
"Kamu kenapa?" Tanya Mika.
"Aku boleh ke kantor?" Tanya Jeff.
"Tapi kenapa ke kantor, kamu udah seharian di rumah emang di kantor ada apa jam segini?" Tanya Mika.
"Ada urusan, nanti aku cepat pulang." Jeff mengecup kening Mika dengan lembut, membuat gadis itu keheranan dibuatnya.
"Mas tapi kamu kenapa loh kamu belum jawab!" Teriak Mika yang kini hanya melihat punggung Jeff yang semakin menjauh sembari memakai jasnya.
Mika menyusul Jeff keluar dan sedikit berlari, sampai saat dia di bawah perutnya terasa keram. "Akhhhh ck."
"Mik, kenapa?" Tanya Elang.
Mika menggeleng, dia akhirnya memilih untuk duduk di sofa. Untuk beberapa saat dia masih terasa sakit, tapi elang membawakannya kantung hangat agar keramnya menghilang.
"Udah enakan?" Tanya Elang.
Mika mengangguk, "Kak aku boleh tanya sesuatu?"
"Tanya Aja."
"Tadi Mas Jeff kaya gelisah gitu tidurnya, setelah dia bangun malah mau ke kantor. Dia kenapa, Kak?" Tanya Mika tak mengerti.
Elang terdiam, ini belum saatnya Mika tau. Lagi pula dia takut kalau Mika akan kepikiran dan membahayakan kandungannya yang masih rawan. Tapi dia bimbang, Mika kan istrinya Jeff pasti dia harus tau.
"Ada kerjaan mendadak kali, kak Jeff kan emang gitu. Yang penting kamu jaga kandungan aja. Itu lebih penting."
__ADS_1
"Tapi aku penasaran loh, Kak. Aku ngerasa ada yang ditutupin dari aku. Aku butuh tau karena bagaimana pun aku mau bikin dia nyaman, gak bisa dia seenaknya pergi gitu, kan?"
"Iya tapi untuk sekarang ada baiknya kamu gak mikirin itu dulu. Kalau Jeff mau cerita pasti dia akan cerita dengan sendirinya sama kamu," ucap Elang memberi pengertian.
Mika hanya mengiyakan, tapi sebenarnya ada perasaan yang belum tuntas dalam hatinya. Dia masih membutuhkan penjelasan soal ini. Baru kali ini Mika melihat ada raut wajah ketakutan dalam diri Jeff.
Di sisi lain Jeff benar-benar tancap gas ke kantor. Ini lah yang membuat dia tidak betah berlama-lama di rumah, perasaannya akan tidak karuan.
Sambil menghela napas Jeff memejamkan matanya sejenak. Ingatannya kembali memutar pada hasil diagnosis psikiater.
Paranoid disorder, rasa takut berlebih yang ada pada diri Jeffrico. Tiga bulan setelah kematian ayahnya dia didiagnosis seperti itu oleh psikiater.
Maka dari itu Jeff selalu mengalihkan pikiran dan perasaan tidak tenangnya pada pekerjaan. Bahkan hingga over, tidak ada yang mengetahui ini selain dirinya, bahkan keluarganya pun tidak ada yang tahu. Mereka hanya tau Jeff menghukum dirinya karena dia penyebab sang ayah meninggal.
Tidak sepenuhnya salah, memang itu salah satu alasannya. Mengapa Jeff bisa menjadi seperti sekarang ini. "Maafin aku, Mik yang udah bawa kamu ke kehidupanku."
Jeff bergumam, dia benar-benar merasa bersalah pada Mika, dia tidak bisa menjadi suami yang Mika inginkan, tapi dia selalu berusaha. Meskipun tetap saja dia tidak bisa melakukan sepenuhnya.
Dia juga tidak bisa memberitahu Mika apa yang terjadi sebenarnya, apa jadinya jika Mika tau masa lalu kelam seorang Jeff? Apa Mika akan pergi dari dirinya?"
Gerda menatap sang boss yang terlihat sangat uring-uringan, raut wajahnya juga gelisah. Tiba-tiba saja Jeff memanggilnya untuk berangkat ke kantor sore ini. Sangat aneh menurutnya.
"Apa bapak butuh sesuatu?" Tanya Gerda.
Jeff menggeleng, yang dia perlukan sekarang adalah ketenangan. Tidak ada yang lain, setelah meminum obat dia juga harus mengalihkan perasaannya agar lebih tenang.
Pukul 23.00, Mika dan Elang masih berada di ruang tengah sembari bermain PS. Mika sangat banyak berpikir, jadi elang memutar cara agar dia bisa membuat Mika tertawa.
"Ih curang banget Kak Elang, aaahhh aku mati!" Kesal Mika sambil merengek.
"Bukan curang, kamunya aja yang gak bisa-bisa, hahahaha." Elang tertawa saat melihat Mika seperti itu, menurutnya sangat menggemaskan seperti anak kecil yang sedang merengek.
"Tau ah kesel banget harusnya-"
"Ekhm."
Mika dan Elang yang mendengar suara itu langsung menaruh stik PS mereka dengan cepat. Sebegitunya memang pengaruh suara Jeff bagi mereka.
"Mas kamu-"
__ADS_1
"Tidur, kamu lagi hamil," ucap Jeff dingin.
Mika melirik ke arah Elang. "Emm Kak, besok kita main lagi ya. Mas Jeff udah pulang," ucap Mika ragu.
"Iya kalem aja, selamat istirahat," balas Elang sambil tersenyum.
Jeff tidak suka, entah apa yang dia rasakan tapi dia tidak suka saat melihat Elang dan Mika akrab seperti itu. Dia jadi merasa kalah dengan Elang.
Mika merinding sih melihat tatapan Jeff apalagi sekarang Jeff merangkul pinggangnya posesif apa dia sedang marah ya?
Saat sampai di kamar, Mika membantu Jeff melepaskan jasnya, hari ini dia tidak memakai kemeja, karena ya tadi juga buru-buru. Mika merasa risih saat Jeff menatapnya seolah Mika ada salah.
"Kenapa kamu liatin aku kaya gitu?" Tanya Mika keheranan."
"Jangan deket sama Elang," jawabnya singkat.
"Kenapa? Kan Kak Elang baik, dia aja tadi kasih aku kantong hangat biar perut aku gak keram, dia juga-"
"Dia orang yang kamu cintai," ucap Jeff lagi.
Mika terdiam, kenapa Jeff membahas soal perasaannya pada Elang yang sudah lama dia kubur rapat-rapat. "Kenapa bilang gitu?"
"Karena kenyataan."
"Pernah bukan berarti sampai sekarang, lagian kamu ngaco. Dia adek kamu sendiri, mana mungkin juga aku selingkuh sama dia," kesal Mika.
"Tapi kamu ketawa sama Elang," balas Jeff.
"Ya karena aku suka bicara sama orang yang bikin aku ketawa, emang di rumah ini aku harus cemberut aja apa gimana sih, Mas?"
"Jangan ketawa sama Elang," ucapnya lagi.
Mika tidak mengerti dengan pemikiran Jeff, yang benar saja Jeff cemburu pada adiknya sendiri? Tidak masuk akal menurut Mika.
"Yaudah kalau gitu kamu yang bikin aku ketawa, ajakin aku bicara, ajakin aku ngobrol," kata Mika.
Kini malah Jeff yang terdiam, tentu saja itu tidak bisa dia lakukan. Dia tidak tau caranya bagaimana membuat Mika tertawa seperti yang Elang lakukan.
"Tuh kan kamu diem. Udah ah aku gak mau bahas hal yang gak penting, aku istri kamu dan Kak Elang adik kamu. Hubungan kita gak akan lebih dari itu. Kita-"
__ADS_1
"Mik aku bisa memang dapetin kamu dari banyaknya orang yang mencintai kamu, tapi aku gak akan bisa menang dari orang yang kamu cintai," ucap Jeff yang setelahnya dia pergi meninggalkan Mika ke kamar mandi.
Mika terdiam, jadi Jeff ini beneran cemburu? Yaampun tinggal bilang apa susahnya, Mika senang sih, itu artinya Jeff mulai menyayanginya, kan? Tapi Jeff harus tau kalau sekarang dia tidak mencintai Elang lagi. Bagaimana mungkin dia mencintai Elang kalau Jeff selalu bersamanya, bahkan satu ranjang.