
Pagi ini nampak begitu cerah, meskipun hanya ada Jeff dan Mika di ruang makan. Semua orang sudah pergi karena ada urusan masing-masing, jadi Mika memutuskan untuk memasak.
Benar, mereka sudah berbaikan. Kalau ujungnya menjadi soal ranjang ya pada akhirnya semua masalah terselesaikan. Mika memanglah remaja labil, kalau pada akhirnya dia mendapatkan afeksi ya sudah. Itu cukup baginya.
"Kamu cantik banget pagi ini," ucap Jeff memuji.
"Harus cantik, kamu kan jarang di rumah kalau nanti kalah saing sama yang di luar aku makin dinomor sekiankan," ucap Mika jujur.
Jeff terkekeh, kenapa juga Mika bicara seperti itu. Mempunyai satu istri saja Jeff tidak punya banyak waktu apalagi dua sekaligus. "Kamu aja."
Mika menggelengkan pelan kepalanya, terkadang dia juga tidak mengerti. Pria yang ada di hadapannya ini bisa menjadi sangat manis, tapi bisa juga menjadi seseorang yang tidak bisa disentuh oleh siapapun. Dan Mika tidak menyukai sisi kedua yang ada pada diri Jeff.
Hari ini Mika memasak nasi goreng putih lengkap dengan sayuran seperti brokoli, buncis dan jagung. Tidak lupa juga dengan chiken katsu yang kata bi Inah adalah kesukaan Jeff.
Tentu saat melihat itu Jeff semangat untuk sarapan. Entah kenapa ada kesenangan tersendiri yang Mika rasakan sekarang. Mika hanya duduk di samping Jeff sambil memperhatian dia makan.
Jeff menatap Mika, lalu perlahan sedikit menipiskan bibirnya. "Kenapa diliatin? Kamu juga makan."
Mika menggeleng. "Aku gampang, kamu dulu aja yang makan. Aku suka liatin Mas makan."
Jeff menghela napas lalu kembali menyantap makanannya. Bisa-bisanya dia digoda oleh gadis kecil seperti Mika. Bukan baper, tapi ya ini pengalaman pertamanya. Kehidupannya yang monoton mana pernah merasakan cinta. Terakhir kali ya waktu SMA dulu, itu pun sudah sangat lama.
Jeff menyelesaikan makannya, setelah membersihkan mulutnya dia berdiri dan menghadap ke Mika. Apalagi kalau bukan untuk memasangkan dasinya. Mika memang sudah terbiasa sih dengan kebiasaan yang satu ini, jadi dengan perhatian dia memasangkan dasi itu pada suaminya.
Kali ini warna kemeja yang Jeff pakai senada dengan dress yang Mika gunakan. Sengaja saja, namanya juga Mika masih remaja. Menurutnya hal berbau couple itu manis. Tapi namanya juga Jeff, dia bahkan tidak sadar. Dia hanya memakai yang sudah disediakan istrinya tanpa memperhatikan hal lain.
"Mas, temen-temen aku mau ke sini boleh?" Tanya Mika.
"Boleh, kamu pasti bosan juga sendirian."
"Heem." Mika mengangguk sambil tetap fokus pada pekerjaannya.
__ADS_1
"Mereka gak akan bawa kamu kabur dari sini, kan?" Tanya Jeff tiba-tiba.
Mika terkekeh, apa karena kemarin Mika mengatakan ingin pulang ke rumah jadi Jeff takut Mika dibawa kabur? Memang ada-ada saja, kalau memang Mika ingin ya pergi saja sendiri tanpa menunggu siapa-siapa. "Engga."
Jeff mendengar itu sedikit tersenyum lalu mengangguk-nganggukan kepalanya perlahan. Setelah selesai Mika merapikan dan membersihkan jas Jeff seolah ada debu di sana. Sepersekian detiknya dia tersenyum. "Udah rapi."
Jeff tersenyum lalu merangkul pinggang istrinya yang biasa mengantarkan dia ke depan. "Jaga diri." Jeff mencium kening istrinya dengan lembut, setelah itu dia lanjutkan dengan mengecup bibir Mika.
Mika mengangguk dan melambaikan tangannya. "Hati-hati, dadah."
Jeff mengangguk pelan setelah itu masuk ke dalam mobil. Mika kali ini ini tersenyum menatap kepergian suaminya. Ya dia memutuskan untuk pelan-pelan mengontrol dirinya sendiri. Semoga saja dengan begitu Jeff akan berubah menjadi lebih peduli.
.
.
.
Mika, Tessa dan Caca kini sedang berada di balkon kamar Mika dan Jeff. Mereka menatap kagum, pasalnya kamarnya saja mewah. Beruntung sekali Mika menikah dengan Jeff, sudah kaya, tampan lagi.
"Kenapa lo nanya gitu?" Mika menghela napasnya, sambil menatap fokus ke arah kedua sahabatnya.
"Gue ngerasa lo gak baik-baik aja," lanjut Tessa.
Caca menatap ke arah Mika. Bodoh sekali dia baru menyadari kalau raut wajah Mika seperti ada yang salah. Kalau Tessa tidak memulai sepertinya Caca tidak akan sadar. Pasalnya Mika pandai sekali menyembunyikan perasaannya.
"gue lagi mencoba, Sa," ucap Mika jujur.
"Om-om itu gak bikin lo bahagia? Dia ngapain lo?" Tanya Caca sedikit panik, takut-takut kalau Jeff melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
Mika paham sih mereka khawatir dan takut kalau sampai dia kenapa-kenapa. Tapi Jeff memang tidak melakukan hal di luar batas. Hanya saja dia dan Jeff berbeda dunia. Seperti apa yang Elang katakan.
Mereka mendengar itu merasa kesal, bagaimana pun menurut mereka Mika harusnya menjadi alah satu prioritas. Jeff yang memaksa Mika masuk ke dalam kehidupannya, tapi Jeff juga yang mengacuhkan sahabat mereka seolah Mika yang memaksa dia untuk menikah.
__ADS_1
"Tapi dia salah sih, Mik. Walaupun gue atau pun kita semua belum se-dewasa dia, tapi kalau dia se-gila kerja itu ya siapa sih yang gak bakalan ngerasa dicuekin? Berimbas juga untuk kesehatan dia," kata Caca.
"Gue gak ngerti juga, Ca. Kaya yaudah gue jalani aja semuanya. Kalau dia gak berubah gue mau ambil kuliah aja tahun depan. Anggap aja gue wanita bayaran yang numpang hidup sama dia," ucap Mika miris.
"Heh gak boleh bilang gitu, lo itu berharga. Gue yakin kok suatu saat suami lo yang gak ada akhlak itu sadar kalau lo berharga. Lo masih punya kita. Jangan nempatin diri lo di sudut yang paling gelap," ucap Tessa.
Mika terkekeh mendengar penuturan mereka. Memang merekalah yang selalu menganggap Mika berharga. Dari banyaknya orang mereka juga yang paling tulus untuk berada di samping Mika.
"Si bebek masih suka gak baik sama lo?" Tanya Tessa.
"Alhamdulillah cuma kaki doang sejauh ini yang jadi korbannya," jawab Mika enteng.
"Eh dia ngapain?!!" Tanya Caca kesal.
"Biasalah, gue berantem sama dia, terus dia lempar vas. Hasilnya kaki gue kena pecahannya. Tapi gue bisa handle si bebek, gue juga gak akan tinggal diem kali kalau dia keterlaluan," ucap Mika.
"Awas aja kalau dia apa-apain lo, belom aja kena bogem gue," kesal Tessa.
Namun tiba-tiba Caca memikirkan saat tadi dia bertemu Elang di bawah. Nampak Elang terlihat memperhatikan Mika. Dia kan tau kalau selama ini Mika menyukai Elang. Bagaimana perasaannya ya saat Elang harus menjadi adik iparnya sendiri?
"Btw lo sama kak Elang gak canggung?" Tanya Caca.
"Gue doang yang canggung kayanya, emang gue doang kan yang suka sama dia. Dianya gak pernah mandang gue," jawab Mika sembari memutar-mutar ponselnya.
"Apasih jadi galau gini," sungut Tessa.
"Gak galau, gue udah ditampar kenyataan, Sa di sini. Kalau gue sama dia emang gak bisa lebih dari seorang adik kakak. Lagian juga gue udah sama Mas Jeff. Gue harus menghargai pernikahan gue walaupun gak munafik kadang masih kepikiran sama kak Elang," ucap Mika.
"Ya udah berhenti bahas yang gak penting, mending kita seneng-seneng aja," ajak Caca.
Mika dan Tessa mengangguk. Mereka mulai memikirkan apa saja yang akan mereka lakukan hari ini. Mereka ke sini untuk menemani Mika, jadi mereka harus bersenang-senang agar Mika tidak sedih lagi di dalam sangkar emas ini.
Sejujurnya Mika sedikit lega, meskipun Elang pernah mengajaknya bicara, tapi tidak sebebas saat sudah bicara dengan Tessa dan Caca. Untuk sekarang mereka adalah rumah paling nyaman ketika Mika butuh tempat untuk pulang.
__ADS_1
Ya walaupun mereka sama saja dengan Mika yang selalu dikuasai emosi. Tapi dalam beberapa hal mereka juga bisa bijak menanggapi. Seperti sekarang, meskipun mereka emosi tapi tetap saja mereka menenangkan pikiran Mika. Tidak mau membuat gadis itu tenggelam dalam kesedihannya.