10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Welcome Baby Boy


__ADS_3


Semakin malam, rasanya semakin dekat dengan persalinan. Sudah berbagai macam gaya untuk membantu Mika merasa nyaman, dari mulai berjalan, duduk, tengkurap sampai mencoba berbagai posisi duduk di gym ball miliknya, tapi rasa mulai itu malah semakin bertambah. Tak jarang juga Jeff terkena omelan sang istri untuk melampiaskan rasa sakitnya. Tapi Jeff menerimanya dengan senang hati, dengan sabar dia tetap berada di samping Mika karena menurut Elang sang mama akan sampai nanti pagi.


Dan sekarang Mika sudah mengganti pakaiannya dengan dengan baju steril yang akan mempermudah proses persalinannya nanti. Tinggal tunggu beberapa menit lagi dia akan bertemu dengan si buah hati. Anak yang selama ini selalu dia ajak bicara dan berbagi suka dukanya. Mika tidak sabar tentunya untuk itu meskipun ada banyak ketakutan.


"Masih sakit, Mik?" Tanya Tessa.


"Sakit, tapi sakitnya hilang timbul gitu. Gak ngerti," ucap Mika pada Tessa yang ada di hadapannya. Tentu dengan Jeff yang berada di belakangnya seraya mengusap-ngusap punggung bawah istrinya.


"Ini lahiran sekarang gak sih?" Tanya Caca.


"Kata dokternya nanti," jawab Selena.


"Kamu atur napas coba Mik, jalan-jalan sebentar tadi kata dokternya itu bisa mempercepat pembukaan," ucap Elang.


Ya sedari tadi Jeff juga sudah mengingatkannya, tapi rasa sakit itu membuat Mika tidak kuat berlama-lama berjalan, apalagi dipikirannya sudah random. Bagaimana saat berjalan tiba-tiba anaknya keluar dan jatuh ke bawah, pokoknya Mika ngeri sendiri, jadi dia bermain aman saja dengan duduk seperti ini meskipun sakit sekali.


Kini pembukaannya sudah hampir sempurna, waktu juga sudah menunjukkan pukul setengah 4 pagi. Mika yang tadinya hanya merasakan sedikit samar-samar kesakitan di bawah perutnya, kini malah semakin terasa sakitnya. Memang sepertinya anaknya ini sudah tidak sabar ingin keluar dan memeluk Ibunya.


Jeff menggenggam tangan Mika yang nampak sangat kesakitan. "Kamu tenang, atur napas lebih dulu sambil menunggu dokter. Kamu pasti bisa, aku yakin kamu bisa."


Jeff terus memberikan afirmasi positif untuk istrinya, tapi kalau sedang kesakitan seperti ini ya rasanya mau disemangati satu dunia pun rasanya tetap sakit, mungkin hanya hatinya saja yang menghangat karena merasakan kasih sayang dari Jeff.

__ADS_1


Tak selang beberapa lama dokter kembali datang, kini dokter sudah menginstruksi Mika untuk mulai menarik napas dan mengejan. Mika mencoba mengikuti instruksi dengan benar, dia mencoba mengejan untuk pertama kali, tapi rasanya seperti masih ada yang tertahan.


"Enghhhh!! Huhh huhhh, Mass sakittt," ucap Mika seraya menatap suaminya.


Jeff mengangguk lalu mencium kening Mika dengan lembut, dia juga menciumi punggung Mika dan terus memberikan afirmasi positif pada Mika. Dia tidak peduli lengannya dicengkeram erat oleh tangan Mika yang satunya, dia hanya berharap kalau Mika dan anaknya selamat.


Sejujurnya Jeff panik, apalagi saat melihat ekspresi kesakitan Mika terpancar dengan jelas. Keringat juga mulai membasahi pelipisnya. Wajahnya memucat menandakan kalau Mika merasakan sakit yang luar biasa. Jeff jadi merasa bersalah.


"Maafin aku, Sayang. Ayok, kamu pasti bisa. Demi anak kita, demi ketemu baby," bisik Jeff.


Mendengar itu Mika terharu, baru kali ini Jeff mengucapkan sayang padanya dengan tatapan yang setulus itu, dia tidak kuat sampai rasanya air matanya tidak bisa dia tampung lagi. Jeff mengusap air mata Mika dengan lembut, dia tau Mika sangat butuh dirinya saat ini. "Ayok coba sekali lagi ya, bismillah."


Mika mengangguk, setelah itu dia kembali mengejan untuk kesekian kalinya. Sampai akhirnya suara tangis bayi menggema di ruangan ini. Bersamaan dengan itu Jeff langsung mengecup bibir Mika dengan lembut. "Kamu hebat, kamu ibu yang hebat."


Mika mengalami pendarahan dan harus segera dibersihkan agar tidak terjadi kangker. Sakit sekali memang tapi melihat Jeff yang kini menggendong anaknya membuat Mika tidak merasakan apapun. Pandangannya terfokus pada Jeff dan buah hatinya sekarang.


Pagi ini, tepat saat adzan subuh berkumandang. Seorang anak laki-laki lahir dengan berat 3,3 kilo gram dengan panjang 47 centi meter. Ukuran yang ideal untuk seorang bayi laki-laki.


Setelah Mika dibersihkan, kini hanya ada Jeff, Mika dan anaknya di ruangan ini. Dengan rasa haru, Mika menyeka air matanya tak kala melihat Jeff menggendong putra mereka dan mengadzankannya. Hatinya menghangat, rasa kesal dan benci pada Jeffrico seolah menepi untuk sesaat, apalagi saat anak mereka lahir Jeff langsung menangkapnya dan melakukan skin to skin untuk pertama kali. Ini sungguh di luar ekspetasi Mika sekali tentunya.


Jeff yang melihat Mika menatapnya dengan inisiatif mendekat seraya membawa putra kecilnya kepada gendongan sang Ibu. Jujur saja, Mika masih kaku soal ini. Tapi entah kenapa Jeff malah terlihat lebih siap darinya. Mungkin memang karena Jeff sudah dewasa kali ya.


Perlahan Mika mengusap pipi anaknya dengan jari telunjuk. Bayi itu sedang terlelap atau memang matanya masih terlaku berat untuk terbuka dan melihat dunia. "Ini Mama sayang."

__ADS_1


Untuk sejenak Mika menghapus air matanya dan terkekeh. "Ini Mama katanya, padahal Mamanya juga masih bocah. Masih suka nangis dan cengeng. Aneh ya, Sayang?"


Melihat anaknya seperti ini, rasa takutnya semakin bertambah. Dia takut tidak bisa menjadi Ibu yang baik untuk bayi ini, dia takut anaknya menyesal karena lahir dari Ibu sepertinya, dia juga takut kalau anaknya tidak bisa bertumbuh kembang dengan baik karena dia yang memang rasanya belum siap menopang tugas sebagai Ibu.


Jeff mencium puncak kepala istrinya seolah tau apa yang ada dipikirannya. Dia tau apa-apa saja yang menjadi ketakutan Mika saat ini dan Jeff tentu tidak akan membiarkan ketakutan itu menjadi kenyataan. Dia akan menjaga Mika dan putranya dengan baik. "Dia pasti bangga punya Mama kaya kamu, kamu sekuat ini. Mana mungkin dia akan membuat kamu sedih nantinya?"


Mika menatap Jeff sendu. Sebenarnya apa yang Mika pikirkan sekarang? Semua yang Jeff lakukan membuat hatinya tersentuh, dia jadi mempunyai pandangan lain soal Jeff. Semuanya berlalu begitu saja seolah kejadian kemarin-kemarin sirna tanpa ada kata kenapa. Perasaannya bersatu padu, ada lega, sedih, bahagia. Apa dia memang harus memberikan kesempatan kedua untuk Jeff?


"Namanya siapa?" Tanya Mika.


"Kamu lebih berhak karena kamu Mamanya, yang mengandung dan melahirkannya."


"Aku gak tau."


"Regan."


Mika menyerngit, kenapa bisa terpikir nama Regan dalam pikiran Jeff. "Regan apa?"


"Untuk sementara itu dulu, kepanjangannya akan aku pikirkan nanti." Jeff tersenyum lalu mengecup kening Mika dengan lama.


Memang aneh sih sebenarnya kondisi seperti ini, seharusnya mereka memang harus bicara dulu mengenai kelanjutan kedepannya. Tapi saat melihat Regan yang ada di pangkuannya Mika malah lupa untuk membicarakan hal itu pada Jeff.


Mungkin nanti dia akan bicarakan setelah waktunya tepat.

__ADS_1


__ADS_2