10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Biar Aku Peluk


__ADS_3


Waktu berlalu, Mika akhirnya banyak belajar. Ini akan menjadi hari pertama Regan makan, Mika belajar masak makanan bayi dan berdiskusi dengan mama mertuanya bagaimana baiknya dia memberikan makanan untuk Regan.


Dengan berusaha semaksimal mungkin, Mika membuatkan makanan terbaik untuk anaknya. Minimal kalau tidak enak banget, makanannya bisa dimakan oleh Regan dan di kesan pertama ini memberikan kesan baik untuk Regan dengan sebuah makanan masakan Ibu untuk anaknya.


Karena sekali lagi, anak tidak pernah bisa memilih siapa orang tuanya, maka dari itu orang tualah yang seharusnya punya pilihan untuk memberikan yang terbaik. Regan beruntung di beberapa hal semenjak dia terlahir di dunia ini, meskipun begitu Mika akan tetap memberikan yang terbaik yang bisa dia berikan. Mika tersenyum ke arah Regan, dia memberikan senyuman terbaiknya.


"Regan mau makan, soalnya udah enam bulan, rasanya mungkin agak sedikit aneh, Nak. Tapi dicoba ya, Sayang? Biar Regan tau, kalau di dunia ini makanannya bukan hanya susu doang," ucap Mika, dia memang paling senang mengajak Regan berbicara, membicarakan soal banyak hal.


Selena dan Elang terkekeh melihat Reaksi Regan yang sangat antusias, melihat senyumnya saja sudah membuat mereka candu dengan Regan. Entah kenapa tapi memang secandu itu Regan di keluarga ini, kalau menurut Mika, Regan malah jadi anak emas di sini.


"Kenapa sih Regan lucu banget, Aunty mana bisa pacaran kalau liat Regan setampan ini, sama Aunty aja yuk?" Ucap Selena.


Mika terkekeh. "Gak boleh dong Aunty, harus punya pacar biar Regan ada temennya. Emangnya gak kasian liat Regan sendirian gak ada temennya?"


"Om Elang sih yang harusnya duluan kasih Regan temen, Aunty Selen lagi mengejar orang yang sulit digapai. Jadi harap Om Elang sadar diri untuk maju duluan," sindir Selena.


"Kuliah dulu yang bener!" Peringat Elang.


"Tapi juga jodohnya jangan lupa dicari, Kak. Anggap aja sambil menyelam minum air." Mika lebih tepatnya yang paling ingin melihat Elang bahagia sih, dia tidak tau Elang sudah melupakannya atau belum, tapi Elang memang sebaik itu.


Mika selalu merasa bersalah kalau mengingat kemarin-kemari, itu sebabnya kebahagiaan Elang rasanya ditunggu-tunggu sekali oleh Mika. Ya setidaknya dia memiliki pacar, dia bisa memahami dunia bersama orang yang berada di sampingnya, itu pasti akan membuat Mika senang sekali.


Di sisi lain proses melupakan Mika bagi Elang memang membutuhkan waktu yang lama, dia bahagia dengan Mika dan Jeff. Tapi tetap saja, karena Elang memang anaknya begitu tulus, itu pasti tidak mudah.


Apalagi dia dan Mika juga masih satu rumah, ada perasaan di mana dia terkadang berandai-andai kalau yang di posisi Jeff adalah dirinya. Tapi dia cukup sadar diri, jadi kalau ditanya soal pacar dan hal lain sebagainya, Elang belum bisa memberikan jawaban apa-apa, karena dia masih ingin menikmati perasaan sendiri tanpa memikirkan cinta-cintaan.


"Regan happy?" Tanya Mika yang kembali fokus pada Regan. Kemudian Regan tertawa kegirangan, bukan karena dia mengerti dengan apa yang Mika tanyakan, ini lebih kepada dia ikut tertawa karena mendapati ekspresi bahagia yang bisa dia lihat di wajah Mama, Tante dan Omnya.


Mika, Elang dan Selena ikut tertawa, perasaannya selalu menghangat saat dia bisa melihat ekspresi bahagia Regan, terutama Mika karena perlahan kini Regan menjadi pusat dunianya, menjadi bagian yangbselalu membuat perasaan Mika menjadi lebih baik.


"Oke, mari berdoa." Mika kemudian mengangkat tangan Regan, membantu anaknya itu menengadah dan membaca doa makan sesuai dengan ajaran agama mereka.


"Ya Allah lutunaaaa," gumam Selena, dia benar-benar tidak menyangka kalau bayi itu sudah besar sekarang, sudah mau maka juga. Sementara Elang beda lagi, dia malah asik memotret keponakannya itu.


Percaya atau tidak kini ponsel Elang bukan lagi soal banyaknya pemandangan yang dia potret, tapi semuanya diisi oleh pertumbuhan Regan, dari dia kecil, sampai sekarang bisa makan. Semuanya dia abadikan di sana. Karena Regan selucu itu.

__ADS_1


"Bissmillah, kita makan ya, Nak." Mika kemudian mulai memasukkan makanan ke mulut Regan, sebenarnya dia sendiri takut sekali untuk memulai semua ini, takut kalau Regan menolak, takut kalau sampai Regan malah tidak suka dengan masakannya.


Tapi, ternyata Regan cukup antusias dengan suapan demi suapan yang Mika berikan, Regan terus membuka mulutnya seolah memang dia kelaparan, padahal sepertinya tidak, mungkin karena teksturnya dan itu menjadi hal baru untuk Regan.


"Pinter banget Regan, gemes," geram Elang. Dia tidak tahan godaan, apalagi godaannya adalah Regan. Dia menggemaskan sekali, ingin Elang uwek-uwek pipinya.


"Regan kayanya masih asing, tapi dia seneng sama semua hal baru, makanya dia lagi menganalisa, makanan apa nih yang Mamanya kasih." Mika terkekeh.


"Hahahaha ya Allah serius, ini kenapa sih Regan lucu banget? Mik, nanti spill gimana car abuat kaya Regan!" Ucap Selena asal.


Mika tertawa, bagaimana bisa dia memberikan tips, toh selama ini Mika juga mengikuti Jeff. "Kalau mau kaya Regan ya bapaknya harus modelan kakak lo."


"Jangan deh, Regan kalau Aunty inget papa kamu Aunty jadi takut. Takut nanti kamu jadi kaya papa yang kulkas 12 pintu."


"Gak deh, Regan murah senyum gini. Memang anaknya agak kalem, tapi kalau udah besar gak akan secuek itu." Elang tersenyum lalu mengusap puncak kepala Regan.


Mika tersenyum dan mengangguk dia juga kembali menyuapkan makanan pada Regan, ya semoga saja, semoga saja yang terbaik ke depannya. Mau seperti apapun Regan dia akan selalu menyayangi anaknya di masa sekarang atau masa depan.


"Selalu kaya gini ya, Nak makannya, mama seneng banget," ucap Mika, dia senang saat Regan makan dengan lahap, saat Regan tidak sungkan menghabiskan semua yang Mika suapkan.


.


.


.


"Kamu gak cape?" Tanya Jeff, karena Mika benar-benar menghabiskan waktunya menjadi seorang ibu rumah tangga. Ya, memang ada banyak pekerja di rumah mereka karena sangat besar dan memang Mika pasti tidak akan sanggup sendirian. Mika selalu tetap melakukan beberapa pekerjaan dengan alasan dia seorang istri, minimal dia bisa walaupun tidak sering melakukannya.


Maksudnya ya dia memikirkan seluruh pengeluaran di dapur yang pasti sangat banyak karena banyak juga yang perlu diberi makan, kemudian juga mengurus langsung semua sudut rumah, misal soal kebersihan Mika akan langsung tegur kalau ada sesuatu yang tidak beres.


"Kenapa emangnya, Mas?" Tanya Mika, karena tidak biasanya juga Jeff seperti ini.


"Ya, ngurus semua ini?" Tanya Jeff, ditambah sekarang Regan juga sudah makan, Mika pasti harus memikirkan menu yang berbeda-beda setiap harinya.


"Gak kok," jawab Mika, kalaupun iya dia lelah ya dia tetap akan mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Karena dia juga senang menjalankan perannya sebagai Ibu, apalagi Ibu untuk Regan.


<"Mau jalan-jalan gak? Kita keluar negeri, kita kemana pun yang kamu mau, pokoknya kamu bisa aja. Biar kamu bisa healing, mau?" Tanya Jeff.

__ADS_1


"Jalan-jalan mulu! Regan masih terlalu kecil, Mas. Aku nggak mau kejadian yang kemarin terulang lagi. Nanti aja kita jalan-jalannya kalau Regan udah mengerti banyak hal, biar dia juga bisa menikmati liburannya. Kalau sekarang yang Regan tau mungkin kebahagiaan karena melihat suasana baru," jelas Mika, dia tidak mau kalau sampai dia kembali merasa bersalah karena terjadi sesuatu dengan Regan.


Jeff mengangguk-anggukkan kepalanya. "Apa rumah ini terlalu besar untuk diurus?" Tanya Jeff, karena bagaimanapun ya ibarat kata mereka adalah nyawa untuk rumah ini.


"Gak, Regan bakal bebas main di sudut manapun kalau di sini," jelasnMika, karena dia memikirkan soal Regan kedepannya. Memikirkan soal Mama mertuanya juga yang memang hidup sendiri.


Dari jutaan keinginan Mika pokoknya selalu terselip hal-hal untuk orang di sekitarnya. Jadi sebisa mungkin apa yang harus di dulukan, akan Mika dahulukan. Terutama Mama mertuanya yang sudah dia anggap seperti orang tuanya sendiri.


Kalau soal pisah rumah tentunya Jeff jauh dikatakan lebih mampu untuk membangun rumah apapun yang dia inginkan, tapi sekali lagi dia tidak mau meninggalkan orang tuanya di sini. Kalau mama papanya kini sudah kembali berjaya dan tinggal di rumah lama mereka, mereka masih saling menjaga. Sesekali Mika menjenguk, berbeda dengan Mona yang memang sendirian. Elang dan Selana juga terkadang sibuk dengan kuliah mereka.


Jadi teman mengobrol yang baik di sini adalah Mika. Iya Mika. "Mama juga butuh temen ngobrol dan putra sulungnya untuk diajak berbagi banyak hal, aku rasa itu alasan paling tepat untuk kita gak kemana-mana. Mama kamu, Mama aku juga."


Jeff mengangguk-anggukkan kepalanya, benar juga apa yang Mika katakan, bahwa semua ini demi Regan dan Mamanya. Mika memang benar-benar sudah dewasa kalau soal pemikiran sekarang dan Jeff selalu bangga karena itu.


"Tapi kalau kamu cape bilang ya sama aku?"


"Kenapa?"


"Biar aku peluk." Mika cukup salah tingkah mendengar itu, mereka bukan pengantin baru tapi benar-benar hal yang sangat sederhana seperti ini cukup membuat Mika baper. Namanya juga masih bocah, masih terbawa perasaan meskipun sudah menikah lama.


"Apa sih!"


"Dih apa sih, ya biar aku peluk, biar perasaan kamu jadi lebih tenang lagi. Biar kamu sadar juga kalau di dunia ini kamu punya aku yang akan selalu peluk kamu dalam kondisi apapun, Sayang," jelas Jeff, salah dia memeluk istrinya?


Mika mengulum senyumnya, ya malu juga kalau dia harus terang-terangan baper di hadapan Jeff. Mika paling anti menunjukkan itu terang-terangan. Namun itu justru malah membuat Jeff gemas dan memeluk Mika dengan erat.


"Massss!!"


"Iya, Sayang ini aku peluk kamu erat ya. Gak akan aku lepas biar kamu selalu nyaman dan hangat."


"Mas nanti aku baper ih!" Omel Mika.


"Harus, kamu harus selalu terbawa perasaan sama aku. Harus sekali, karena cinta itu akan semakin tumbuh dari sana, Sayang. Aku mau egois kalau soal memiliki kamu seutuhnya."


"Aku milik kamu, cuma kamu."


Jeff mengangguk dan menciumi bibir istri kecilnya itu, sungguh Mika memang selalu berhasil kalau membuatnya luluh, berhasil juga membuat rasa lelah Jeff menjadi lebih baik.

__ADS_1


__ADS_2