
Mika terdiam tepat di tepi kaca, melihat perkotaan dari atas gedung seperti ini ternyata menyenangkan. Orang tuanya apakah bahagia ya melihat anaknya sekarang sudah menikah dengan CEO ternama, tentu itu pasti menantu idaman para orang tua, bukan?
Sesekali dia menghela napas, Jeff juga sedang mengangkat panggilan. Mika membiarkannya, karena ya memang apa yang Jeff lakukan malam ini juga sudah cukup baginya. Jadi dia tidak ingin mengajak Jeff bertengkar atau memperdebatkan hal ini.
Tiba-tiba Jeff menghampiri Mika, melepas kalung Mika dan menggantikannya dengan sebuah kalung berlian keluaran terbaru yang sengaja dia belikan untuk Mika saat dia pulang. Mika memegang liontin yang terlihat kecil tapi begitu mewah. "Mas, aku gak ulang tahun."
"Gak selalu saat ulang tahun, kan?" Jeff sedikit menipiskan bibirnya, setelah itu dia melepas jasnya untuk dia pakaikan pada Mika. Dia hanya menggunakan dress lengan pendek, pasti suasana di sini membuatnya kedinginan.
Mika tersenyum, ini sisi Jeff yang tidak pernah dia pahami. Meskipun dia memang cuek dan super duper sibuk, tapi kadang ada kalanya dia memang orang yang selalu mengerti apa yang dia butuhkan dan bersikap menjadi seseorang yang paling manis.
Perlahan tangannya menyelip diantara lengan Mika untuk memeluknya sambil menatap pemandangan indah yang ada di hadapan mereka. Mika sedikit kaku sih, meskipun ya dia sangat suka diperlakukan seperti ini. "Kamu tumben romantis sama aku."
"Lagi mau aja, kalau engga ya gak akan dilakuin," ucap Jeff realistis.
Mika memajukan bibirnya, ya salah sih dia jika berharap kata-kata manis terlontar dari seorang Jeffrico. Jeff terlalu logis dan realistis untuk anak remaja menye-menye seperti Mika yang sukanya diberi kata-kata yang bisa membuatnya melambung tinggi.
"Masih ingin jadi polisi?"
Sebuah pertanyaan sensitif sebenarnya, ada beberapa hal yang membuatnya bisa sangat terluka jika menjelaskan apa yang ada dalam hatinya. "Kenapa nanya gitu, Mas?"
"Karena dulu kamu ingin sekali menjadi polisi, kalau memang ingin tentu aku bisa mewujudkannya," ucap Jeff.
Mika menggeleng. "Udah gak tertarik."
"Kenapa?"
"Aku gak suka polisi, mereka gak pernah adil buat orang kecil kaya aku atau bahkan di luaran sana," kata Mika sembari menghela napasnya.
"Ada kenangan buruk?" Entah kenapa, tapi Jeff ingin tau saja, sama seperti Mika yang menganggap Jeff penuh teka-teki. Begitu juga dengan Jeff memandang Mika.
"Bunda sama ayahku kecelakaan akibat ditabrak mobil ugal-ugalan, pengemudinya mabuk berat dan seharusnya dia ditindak pidana. Aku yang waktu itu masih anak sekolah mencoba mencari keadilan."
Mika kembali menghela napasnya. "Iya tapi aku gak punya power apapun, aku cuma dianggap anak kecil yang gak menerima takdir kalau orang tuanya udah gak ada. Padahal waktu itu juga aku memperdalam ilmu hukum. Ternyata penabrak itu adik petinggi yang bisa dengan mudah diselesaikan dengan cara apapun."
__ADS_1
"Dari situ aku gak mau jadi polisi, aku ngeri sih lebih tepatnya."
Jeff terdiam, banyak sekali ternyata luka yang Mika rasakan. Padahal itu belum sepersekian persen dari apa yang dia ketahui. "Kamu sedih?"
"Engga ada yang bisa aku sedihin lagi sekarang, kan udah lalu juga. Cuma ya lukanya masih ada, tapi aku juga gak harus stuck di sana. Cuma nyakitin diri sendiri."
Jeff mengeratkan pelukannya pada Mika, rasanya dia seperti merasakan apa yang ada di pikirannya sekarang. Mika kini malah berusaha menatap wajah Jeff. "Kalau kamu ada sesuatu yang bikin kamu trauma gak, Mas?"
"Ada."
"Apa?"
"Papa meninggal gara-gara aku."
.
.
.
Apalagi Mika yang merasa pertanyaannya belum tuntas, sebagain gen z milenial, Mika tentu pastinya akan selalu banyak bertanya, mencari hal-hal yang ingin dia ketahui lalu dia telisik lebih jauh. Tapi Jeff sama sekali tidak memberikan jawaban.
"Kenapa kamu gak mau cerita lebih jauh? Padahal aku juga pingin jadi tempat cerita kamu," ucap Mika memulai pembicaraan.
"Ya cukup aku aja yang nanggung semuanya, kamu gak perlu. Yang penting kamu tau, itu cukup," balas Jeff.
Mika hanya menghela napas, lagi yang penting Jeff ada kemauan untuk sedikit menceritakan masa lalunya. Mungkin Mika yang harus lebih ekstra berusaha merubah Jeff menjadi sosok yang terbuka dan hangat.
Jeff menghentikan mobilnya di pekarangan rumah. Tiba-tiba saja dia melihat pemandangan yang memancing amarahnya dan mencengkeram kuat stirnya. Mika mengikuti arah pandangan Jeff. Lagi dan lagi Selena tidak tau tempat kalau berciuman.
"Mas, jangan emosi," peringat Mika.
Jeff hanya diam dan turun dari mobil. Dia menggandeng Mika dan berjalan menghampiri Selena yang kini sudah kaget karena kedatangan kakaknya. Selena pikir Jeff masih di luar kota.
Jeff menatap pria yang kini menatapnya panik. Penampilam yang urakan dengan motor sport modif, bisa dipastikan pandangan Jeff pada pria itu sudah buruk. Jeff menatap Selena dengan tajam.
__ADS_1
"Temui kakak di ruang kerja!" Ucap Jeff datar lalu membawa Mika ikut masuk ke dalam
Mika was-was sih, dia berusaha keras menutupi semua ini tapi jika sudah seperti ini Mika tidak bisa membantu Selena selain membantu Jeff untuk tenang agar tidak emosi. Jeff memasuki ruangan kerjanya, sementara Mika memutuskan untuk membuat teh agar Jeff bisa rileks, namun di perjalanan dia berpapasan dengan Selena yang menatapnya tidak suka.
Mika mencoba acuh ya karena dia merasa tidak mempunyai salah apapun pada Selena. Jadi ya dia abaikan saja daripada sibuk memikirkan hal yang bisa membuatnya emosi sendiri.
Di satu sisi Jeff menatap Selena datar. "Duduk."
Selena menghela napasnya, dia selalu merasa terintimidasi jika Jeff mode seperti ini. Jeff tetap menatapnya, mencoba membuat Selena menjelaskan terlebih dahulu tapi sepertinya gadis itu memilih diam. "Siapa laki-laki tadi?"
"Just a friend," jawab Selena.
"But friend never kiss you on your lips!"
"Oke! He's my boyfriend! Emang kenapa sih, Kak? Istri Kakak aja umur segitu udah hamil, kenapa Kakak permasalahin ciuman doang?!"
"Beda, Selena! Mika itu sudah menikah dengan Kakak, kamu?"
"Kalau begitu izinkan aku menikah sama Rio!"
"Are you kidding me? Jangan bercanda soal pernikahan, Selena!"
Mika yang melihat itu pun berusaha biasa saja. Dia takut sih sebenarnya jika Jeff marah-marah seperti ini. Mika hanya berdiri di samping kursi Jeff sembari sesekali mengelus lengan sang suami.
"Aku gak bercanda, cuma dia yang bisa penuhin apa yang aku butuhkan. Aku gak peduli kakak setuju atau engga," ucap Selena mutlak.
"Kalau begitu kamu bisa angkat kaki dari sini sekarang juga kalau tidak mau mengikuti aturan Kakak."
Selena mengepalkan tangannya dan menatap Mika, pasti dia yang mempengaruhi Jeff. "Lo pasti ngadu kan soal kelakuan gue! Lo juga pasti ngadu soal gue mabuk malam itu! Katanya lo mau jaga mulut tapi ... Lo-"
"Apa?" Jeff menatap Mika.
Mika yang memang tidak pernah memberitahu apapun kini malah terdiam. Jeff menatapnya dengan tajam seperti ini sudah pasti dia marah.
"Mika tidak pernah bicara apapun dengan, Kakak. Kamu setelah ini!" Ucap Jeff tegas pada Mika.
__ADS_1
Mika hanya menghela napas, sebenarnya di posisinya ini serba salah. Niatnya tidak ingin membuat keributan, tapi justru menurut Jeff dia bersalah. Jadi Mika pasrah saja sudah jika Jeff benar-benar marah padanya. Padahal baru saja dia berbahagia hari ini.