10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Cincin Pernikahan


__ADS_3


Pulang sekolah, seperti biasa Mika dan kedua temannya berkumpul di gerbang. Mereka sudah puas menghabiskan waktu lebih lama di sekolah dari yang lainnya. Apalagi kalau bukan untuk saling curhat.


Namun seseorang tiba-tiba saja menghentikan mobil di depan mereka. Siapa lagi kalau bukan Jeff. Dia menunggu lama dan dia tau kalau Mika masih belum pulang. Meninggalkan beberapa pekerjaan hanya demi pernikahan mereka.


"Lama," ucap Jeff saat turun dari mobilnya.


Mika memutar bola matanya malas, tidak ada yang menyuruhnya untuk menunggu di sini, kan? Lagian untuk apa? Bagi Mika Jeff hanyalah menambah masalah saja pada hidupnya.


Tessa dan Caca tidak berani komentar juga sih. Terlihat sangat jelas kalau Mika memang tidak menyukainya. Jadi salah jika orang-orang berpikir kalau Mika mendekati Jeff. Karena pada dasarnya Mika sendiri yang tersiksa.


"Masuk," perintahnya.


"Gue balik ya, nanti besok gue ke sekolah lagi. Hati-hati," ucap Mika pada keduanya.


"Lo yang harusnya hati-hati." Kini malah Caca yang terlihat sewot, benar apa kata Mika. Selain kaku Jeff ini memang suka memaksa.


"Aman, lo tau gue. Ya udah bye." Mika sedikit tersenyum lalu masuk ke dalam mobil Jeff tanpa bicara sepatah kata pun.


Kalau Jeff irit bicara ya biarkan saja mereka menjadi dua orang asing, karena pada kenyataannya mereka memang orang asing. Setelah Jeff masuk, Gerda melajukan mobil itu menjauh dari sekolah.


Mika sudah memutuskan untuk tidak banyak bicara, jadi akan dibawa kemana dia sekarang oleh Jeff, dia tidak peduli. Biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, karena Mika memang tidak bisa membantah, kan?


"Nangis karena Selena?" Tanya Jeff sembari mengeluarkan iPadnya.


"Bukan urusan Om."


Jeff lalu kembali diam, kalau gadis itu tidak ingin ditanya ya sudah. Tapi jika jawabannya seperti itu, kemungkinan besar jawabannya iya. Memang harus dia akui sih kalau Selena sudah keterlaluan.

__ADS_1


Lebih parahnya Jeff baru mengetahui kelakuan adiknya jika di sekolah ya seperti itu. Meskipun dia tidak pernah tega memarahi Selena, tapi tadi dia benar-benar menindak tegas Selena sampai membuat Selena diam dengan emosi yang terpendam.


Mika sedikit melirik ke arah Jeff yang sibuk dengan iPad di tangannya, memperlihatkan grafik keuntungan perusahaan yang harus selalu dia pantau. Dia jadi membayangkan, akan sebosan apa dia nanti menjadi istri dari seorang Jeffrico Rasendria Dirgantara.


Apakah dia nantinya akan menjadi sebuah pajangan saja yang selalu menatap Jeff dengan sejuta kesibukannya? Ini tentu bukan pernikahan yang dia bayangkan seumur hidupnya.


"Kenapa? Kamu perlu sesuatu?" Tanya Jeff tiba-tiba. Membuat Mika memalingkan wajahnya dan menatap ke luar jendela.


"Engga."


Jeff menyimpan iPadnya, mereka sudah sampai di sebuah Mall besar. Untuk apalagi kalau bukan mencari cincin pernikahan. Selain itu dia sedikit sadar kalau mereka memang saling tak acuh, jadi dialah yang harus paham di sini.


Sepanjang jalan Jeff menggenggam tangan Mika, bukan karena apa-apa. Hanya saja dia merasa bertanggung jawab atas Mika, kalau sampai hilang dia juga yang pusing. Sementara Mika dia merasa malu, sampai-sampai dia menaikan maskernya agar tidak dikenali.


Coba bayangkan, dia yang masih SMA kini harus jalan di sebuah Mall dengan seorang Om-Om. Konotasi penyebutannya saja sudah buruk, apalagi pemikiran seseorang? Meskipun Jeff tidak terlihat tua, bahkan dia terlihat sangat tampan. Tapi tetap saja, siapa yang tidak mengenali seorang Jeffrico? CEO ternama diusianya yang sekarang menginjak 29 tahun.


Mereka memasuki sebuah toko berlian. Mika tidak kaget juga sih masuk ke sini, seperti yang kalian tau. Mika memanglah bukan orang tidak mampu. Dulu orang tuanya sering mengajak Mika ke sini.


Mika menatap ke arah Jeff. "Kan Om yang mau menikah. Kenapa aku yang harus pilih? Pilih aja sendiri!"


Seperti biasa, jika sedang bersama Mika Jeff memang harus banyak mengalah. "Keluarkan koleksi terbaru kalian."


"Baik, Pak. Sebentar."


Karena Mika tidak bisa diajak diskusi, jadilah Jeff harus berdiskusi dengan Gerda. Menjadi asisten pribadi seorang Jeffrico, membuat Gerda harus menjadi serba bisa.


Jeffrico yang perfeksionis dan tidak ingin ribet, membuatnya harus memiliki keahlian yang tidak membuat Jeff kecewa. Akhirnya dengan pertimbangan berat, Gerda menawarkan salah satu model cincin pada Jeffrico.


"Kenapa harus ini?"

__ADS_1


"Cincin menjadi tanda pernikahan karena ada harapan kalau hubungan itu tidak akan pernah putus, Pak. Satu berlian di tengah memang terlihat sederhana, tapi harganya jauh lebih mahal dibandingkan yang lain. Menandakan calon istri anda kedepannya adalah hal yang paling berharga dalam hidup anda, meskipun anda terlihat susah mengungkapkan isi hati anda, tapi dia harus tau kalau dia sangat berharga untuk anda."


Mika dan Jeff sama-sama terdiam mendengar penuturan Gerda. Jeff bahkan tidak pernah memikirkan soal itu, tapi Gerda dalam setiap langkahnya bisa sedetail itu. Sementara Mika malah terpesona dengan kata-kata Gerda.


Tentu saja, untuk remaja seperti Mika. Sebuah kata dan pengakuan adalah hal yang penting. Masih hal yang selalu diharapkan sebagai bukti cinta. Kenapa tidak Gerda saja yang menikah dengannya ya?


Jeff lantas mengambil satu cincin, perlahan dia membawa tangan Mika dan memakaikan cincin itu di jari manis Mika. Jujur saja ada perasaan aneh yang dia rasakan. Cincin itu nampak pas di jari Mika. Jeff juga menyukainya, karena dia juga tidak suka dengan hal yang terlalu ramai.


"Baik, kita ambil yang ini." Jeff melepaskan kembali cincin itu dan memberikannya pada karyawan toko.


Jeff mengeluarkan blackcard lalu membayar cincin yang sudah dia pilih untuk acara pernikahannya. Sebenarnya cukup kaget juga untuk karyawan di sana saat melihat calon seorang Jeffrico masih menggunakan seragam SMA. Tapi mereka nampak terlihat serasi. Mika yang cantik dapat mengimbangi ketampanan Jeff.


Sebenarnya Mika cukup risih ditatap seperti itu. Dia sudah overthingking kalau orang-orang berprasangka buruk padanya. Jangankan mereka, dia saja berburuk sangka pada dirinya sendiri karena begitu mudah menerima Jeff masuk ke dalam hidupnya.


Selesai dengan cincin, mereka harus kembali pulang. Namun sebelum pulang mereka harus mengurus kembali surat-surat pernikahan mereka dengan cepat. Ya kalau ada uang memang semuanya bisa berjalan dengan cepat. Karena besok mereka harus melakukan fitting baju dan juga photo prewedding.


Mika cukup kaget juga sih saat mendengar jadwal Jeff untuk besok dari Gerda. Pernikahan mereka masih satu bulan lagi, tapi semuanya hampir selesai hanya dalam waktu seminggu? Benar-benar kekuatan seorang Jeff tidak main-main.


Saat sampai di mobil, mereka kembali diam. "Senin nanti kelulusan dan ambil ijazah?"


"Ya."


"Biar saya yang ke sekolah kamu. Pernikahan kita akan dimajukan Minggu depan."


Mika kaget. "Kenapa harus gitu loh, Om!"


"Saya banyak pekerjaan, kalau semua sudah beres lebih baik langsung saja. Jangan buang-buang waktu," ucapnya tanpa berpaling dari iPad yang dia gunakan.


Tidak habis pikir sebenarnya, tapi berhubung Mika sudah pasrah ya sudah. "Aturlah!"

__ADS_1


Sedikit senyum terpancar dari Jeff. Bukan karena senang, tapi dia tidak perlu sampai beradu mulut dengan Mika. Karena itu membuatnya pusing. Baguslah kalau dia menjadi gadis penurut seperti ini. Jeff suka jika Mika terus menurut, dengan begitu semuanya akan berjalan sesuai kehendak dan rencananya.


Mika memang harus belajar dari sekarang untuk menghadapi Jeff. Karena kedepannya dia harus selalu menuruti apa kata Jeff dan kemungkinan akan selalu mutlak.


__ADS_2