10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Hari Kelulusan


__ADS_3


Pagi ini Mika sudah nampak rapi di depan cermin. Rambutnya yang diurai dan menambahkan sedikit aksen curly hair di bawahnya membuat Mika terlihat cantik.


Dia juga tidak suka berdandan terlalu tebal, secukupnya saja tapi enak dilihat. Sederhana memang, tapi itu yang membuat Mika disukai banyak pria di sekolahnya.


Saat keluar dari rumahnya, dia kaget karena Jeff sudah berdiri di depan mobilnya dan menatap ke arah Mika. "Om ngapain ke sini?!"


"Saya bukan Om kamu."


"Terserah, jadi ngapain di sini sih, Om?!" Kesal Mika.


"Bukankah saya sudah bilang akan mengambil kelulusan dan ijazah kamu?" Tanya Jeff berbalik.


"Gak usah, gak perlu!"


Mika melenggang pergi namun Jeff menahan lengannya. "Kamu yang menyetujui waktu itu. Jadi, konsisten!"


"Apasih, Om! Aku gak mau!" Mika mencoba melepaskan lengannya dari tangan Jeff.


"Saya sudah meninggalkan meeting penting untuk ini, jadi kamu harus menghargai effort itu," ucap Jeff.


Mika mehentakan keras tangannya agar bisa terlepas dari Jeff. Setelah itu tanpa disuruh dia masuk ke dalam mobil Jeff. Kali ini Jeff sendirian, jadi Mika duduk di depan.


Paginya seketika mendadak buruk karena harus bertemu dengan Jeff. Ini baru dijemput, apalagi nanti yang setiap membuka mata Jeff akan menjadi objek pertama yang dia lihat. Mungkin setiap hari harinya akan terasa buruk.


Perlahan mobil itu menjauh dari pekarangan rumah Mika. Jeff memperhatikan wajah Mika yang tidak bersahabat itu. "Jangan ditekuk wajahnya, kamu harus terbiasa dengan ini." Terdengar cukup perhatian dari Jeff yang menang datar-datar saja.


"Diem."


"3 hari lagi kita menikah."


"Udah tau jadi gak usah banyak bicara, aku juga gak akan bisa kabur," cibir Mika.


"Memang berencana kabur?"


"Ada dan sangat besar. Tapi aku yakin Om bisa nemuin aku di mana aja," jawab Mika asal.


"Itu kamu tau, jadi diam saja. Daripada repot kabur."


"Ya."

__ADS_1


Hening lagi, sebenarnya Mika pembangun topik pembicaraan yang baik. Tapi dia tidak ingin melakukannya di depan Jeff. Biarkan saja orang tua itu yang memang harus memulai dalam segala hal.


"Jangan malu-maluin saya, nilai kamu harus bagus," ucap Jeff.


Telat kalau Jeff bilang seperti itu. Ujian sudah berlangsung beberapa bulan yang lalu. Sekarang ya tinggal terima hasilnya saja. Memang benar-benar terlihat basa-basi. Membosankan.


"Kenapa kamu gak dampingi Selena aja sih, Om? Aku bisa ambil sendiri dan emang udah sering kaya gitu. Gak perlu sampai diantar kaya gini. "


"Karena saya ingin." Itu bukan jawaban. Memang tidak akan menang kalau Mika beradu argumen dengan Jeff.


Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di sekolah Mika. Banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Sudah banyak juga di surat kabar kalau mereka akan menikah, kebanyakan dari mereka menatap kagum sih. Meskipun umur mereka terpaut jauh, tapi mereka nampak serasi.


Tidak mungkin ada yang mencela. Jeff tampan dan tidak terlihat tua. Bahkan sepertinya dia adalah idola para kaum remaja. Memang Mika saja yang aneh. Pandangan Jeff lurus ke depan. Begitu juga dengan Mika.


"Semua orang terlihat mengagumi saya, seharusnya kamu beruntung bisa menikah dengan saya," ucap Jeff tiba-tiba.


Mika tersenyum sinis. "Aku bukan bagian dari mereka."


"Justru karena kamu bukan bagian dari mereka, itu kenapa saya pilih kamu."


"Terserah."


Saat membuka lokernya, Mika tidak heran lagi jika banyak surat atau bunga yang ada di sana. Mika memang memiliki banyak secret admirer. Meskipun dia belum bisa membuka hatinya lagi setelah putus dari sang mantan, tapi ya hiburan juga sebenarnya.


Jadi Jeff tentu bukanlah apa-apa. Pria kaku dan dingin bukan termasuk dalam tipenya yang lebih menyukai pria humoris dan romantis. Sangat berbanding terbalik dengan Jeff.


"Secret admirer kamu?" Tanya Jeff di belakang sana.


"Jangan suka kepo," jawab Mika singkat dan memasukan surat yang sudah menumpuk itu ke dalam tasnya. Tidak lupa juga dia mengambil beberapa tangkai bunga mawar yang terdapat ucapan happy graduation itu.


Jeff kembali mengikuti Mika ke kelas. "Kalau kamu mau juga saya bisa belikan bouquet bunga besar, bukan hanya satu."


"Bukan soal besar kecilnya, tapi ketulusan seseorang buat ngasihnya, Om," balas Mika.


"Memang saya tidak tulus?" Tanya Jeff.


"Tanya sama diri sendiri, Om yang lebih tau soal itu. Bukan aku," balas Mika yang langsung saja memasuki kelasnya yang sudah penuh dengan banyaknya orang tua.


Selena menatap Mika dan Jeff, kenapa kakaknya itu harus bersama Mika? Apalagi melihat beberapa bunga yang Mika bawa di tangannya, dia jadi semakin panas. Bahkan belum ada yang memberikannya bunga hari ini sebagai ucapan.


Mika dan Jeff menghampiri Mona yang kini tersenyum melihat ke arah keduanya. Dia senang melihat keduanya sudah mulai dekat seperti ini.

__ADS_1


"Mika, gimana kabar kamu sayang?" Tanya Mona sembari membalas salaman dari Mika dan memeluknya sekilas.


"Baik kok, Tante. Tante sendiri gimana kabarnya?" Tanya Mika berbalik.


"Tante juga baik kok. Jeff tadi jemput kamu, kan?"


Mika mengangguk lalu tersenyum. "Iya, Tante tadi dijemput Om Jeff."


Selena mencebik, sok baik sekali menurutnya si kuman ini. Kalau tidak ada Jeff dia pasti akan mendorongnya hingga tersungkur.


Mika yang mendapat tatapan sinis dari Selena biasa saja. Terkecuali kalau dia diusik ya barulah dia melawan. Selama dia dalam batas wajar, Mika tidak akan melakukan apa-apa.


Dia sedikit memperhatikan kedekatan Jeff dengan Selena. Memang mereka sangat dekat, bahkan sisi yang tidak pernah dia lihat dari Jeff kini bisa dia lihat saat dia sedang bersama Selena. Meskipun Selena keras kepala, ya Jeff sangat menyayangi Selena.


"My bouquet?" Tanya Selena pada kakaknya.


"On prosess, Princess." Jeff mengusap puncak kepala adiknya dengan lembut, setelah itu dia tersenyum. Bahkan sepertinya Mika baru melihatnya hari ini.


Namun dia tidak ingin berlama-lama memandanginya. Dia memilih untuk fokus pada acara saja.


"Mikaaa!!" Panggil Tessa dan Caca.


Mereka berdua langsung berhamburan memeluk Mika. "Ihh gemes banget bestie," ucap Mika sambil terkekeh.


Mika juga bersalaman dengan orang tua Caca dan Tessa, mereka juga saling bertanya kabar. Ya mereka memang dekat. Mereka juga sudah tau tentang pernikahan Mika dengan Jeff itu pun sudah mereka bicarakan kemarin-kemarin. Jadi tidak heran jika Jeff ada di sini. Mereka juga menyempatkan diri untuk menyapa pria itu.


Selena iri sebenarnya dan Mona bisa merasakan apa yang dirasakan putrinya. Pasalnya sampai sekarang saja teman-teman Selena begitu tak acuh padanya. Tidak seperti teman-teman Mika.


"Gue ada sesuatu buat lo," ucap Caca.


"Gue juga," timpal Tessa.


"Ih gue juga ada tau buat kalian," kata Mika terkekeh.


Mereka pun mengeluarkan bunga dari tas mereka. Mika menambahkan coklat di sana dengan ucapan, Tessa menambahkan sebuah boneka kecil dan Caca menambahkan sebuah gelang persahabatan di sana.


Mereka terkekeh, lalu memakai gelang yang Caca berikan. Terlihat sangat akur memang.


"Keren banget, pokoknya kita harus bestian selamanya!" Ucap Tessa sambil memeluk keduanya.


Jeff melihat mereka bertiga mengulum senyumnya. Mika ternyata dikelilingi banyak orang yang sangat menyayanginya. Berarti Mika memang adalah sosok yang hangat. Itu membuat dia semakin yakin untuk menikah dengan gadis itu. Meskipun belum mencintainya, tapi entah kenapa ada keyakinan dalam dirinya untuk melanjutkan semua ini.

__ADS_1


__ADS_2