
Pagi ini mendadak sangat panik, karena Regan menangis karena badannya demam. Ini yang Mika takutkan, dia takut sekali kalau membawa Regan ke alam. Karena dia sendiri masih percaya kalau mereka hidup berdampingan. Masih sangat rawan untuk Regan dibawa ke tempat-tempat seperti itu.
"Mass, ayok kita ke rumah sakit aja, aku gak mau Regan kenapa-kenapa." Ajak Mika yang kini memakaikan segala hal yang hangat untuk Regan.
Tanpa banyak bertanya, tanpa banyak kata lagi Jeff mengambil kunci dan mengikuti Mika dari belakang. Karena dia sudah meminta agar Regan bersamanya, tapi Mika menolak. Jujur ini pertama kalinya Regan sakit dan serewel ini, Mika sangat cemas.
Mereka langsung menuju rumah sakit, saat itu juga ternyata ada drama pasang infus karena memang tubuh Regan yang agak gempal membuat uratnya tidak kelihatan dan membuat perawat agak susah menemukannya. Regan sudah menangis-nangis, hampir kehilangan suaranya sangking jarum beberapa kali ditusukkan di tangannya.
Bukan hanya di tangan, urat juga dicari di kaki dan pilihan terakhir adalah kepala, tapi Mika dengan tegas menolak Regan diinfus di kepala karena menurutnya lumayan berisiko, akhirnya kembali lagi ke kaki dan setelah Mika berdoa di dalam hatinya akhirnya infus bisa dipasang di tangan, karena di kaki jauh lebih sulit.
Mika lega sekali, sepanjang waktu dia bersyukur dan membisikkan kata-kata positif di telinga Regan, hati Mika benar-benar hancur saat melihat Regan tidak berdaya dengan kondisi tubuh yang panas sekali. Perut Regan kembung dan itu membuatnya memuntahkan susunya pagi ini. Sepertinya bayi kecil itu masuk angin.
Mika jadi merasa bersalah karena egois tetap pergi untuk menyenangkan dirinya sendiri. "Maafin Mama," ucap Mika di telinga Regan. Infus terpasang dan akhirnya Regan bisa tenang, mungkin perasaan Mika juga pada akhirnya tersalurkan ke Regan dan Regan bisa tenang.
Mika berdiri dengan Regan yang berada di dalam pelukannya, Regan sudah diperiksa dan sudah diberi obat, sekarang yang harus dilakukan ya menenangkan Regan, membuatnya merasa aman dan nyaman sekarang ini.
"Sini gantian," ujar Jeff, karena ya Mika juga pasti sedang sangat kelelahan sekarang ini, mereka habis perjalanan lumayan jauh, bobot tubuh Regan juga tidak kecil, jadi Jeff Tahu kalau Mika keberatan sekarang ini.
Mika menggelengkan kepalanya, karena dia benar-benar ingin menghabiskan waktu berdua dengan Regan, ingin menerangkan pada Regan kalau ini adalah pelukan seorang ib untuk anaknya.
Jeff menghela napasnya, dia kemudian merasa bersalah karena ya Mika memeluk Regan seolah tidak mau melepaskannya, artinya Mika juga merasa begitu sangat bersalah pada Regan.
Sementara Mika akhirnya mengajak Regan untuk pergi ke beberapa tempat karena Jeff merasa bahwa mereka harus quality time, karena quality time yang mereka butuhkan malah membuat keadaannya begini.
Walaupun sebenarnya tidak ada yang mau begini, karena sakit adalah sesuatu yang tidak bisa diprediksi, tetap saja sebagai orang tua mereka merasa bersalah ketika anak mereka mengalami hal semacam ini. Mika bahkan seolah lupa dengan liburan yang sudah mereka lalui, sangking sekarang mereka hanya fokus pada Regan.
__ADS_1
"Maafin aku." Akhirnya Jeff membuka suara karena ketidak tendangannya memikirkan Mika dan juga Regan.
"Bukan saatnya kita mikirin rasa bersalah sekarang, Mas." Dan Mika benar-benar tidak punya waktu untuk itu, hanya mari lakukan semua yang terbaik untuk Regan, karena memang itu adalah apa yang paling Regan butuhkan.
.
.
.
Setelah situasi agak tenang, Regan juga sudah bisa tidur tenang, akhirnya Mika juga bisa tidur dan Jeff juga sama. Jeff memeluk tubuh Mika, Mika memeluk tubuh mungin Regan, keadaan yang membuat siapa pun sungkan untuk masuk ke dalam kamar rawat Regan, keluarga ini soalnya sedang kelihatan hangat.
Suster juga sungkan saat akan memeriksa keadaan pasien karena dia sendirian di sana di antara keluarga yang sekarang sedang harmonis ini.
Regan merengek tidak nyaman dan akhirnya Mika terbangun, membuat suster akhirnya bisa menghela napas lega, ya paling tidak, tidak ada pemandangan keluarga bahagia yang sedang kelelahan lagi di hadapannya.
Mika menganggukkan kepalanya, dia kemudian menepuk tangan Jeff agar suaminya itu terbangun.
"Hah? Ada apa sayang?" Tanya Jeff yang langsung panik, ya tidur di rumah sakit, tiba-tiba dibangunkan apa tidak kaget?
"Gak ada apa-apa, pindah, sempit." Karena mereka malah menempati kasur Regan, walaupun lebar ya sebenarnya bukan untuk tempat mereka, Mika juga manusia yang sadar diri kalau malu juga kalau sampai suster atau dokter melihat mereka mesra-mesraan.
Jeff kemudian menganggukkan kepalanya, dia akhirnya berjalan menuju sofa dan menidurkan diri di sana, soalnya dia masih ngantuk jujur saja, pagi-pagi panik dan langsung harus mengemudi, Jeff benar-benar butuh tidur.
Tengah malam, di tengah temaram lampu ruang rawat Regan, Mika dan Jeff duduk berhadapan, mereka mungkin harus melakukan pembicaraan lebih dalam soal menjadi orang tua.
"Ternyata kita masih belum siap ya jadi orang tua," ujar Mika, karena banyak waktu di mana sebenarnya mereka mengorbankan Regan. Mereka masih sangat egois, merasa bahwa ketika mereka sudah memberikan yang terbaik, tapi ternyata tidak. Regan siap dengan kemewahan dan liburan menyenangkan.
__ADS_1
Regan butuhkan adalah keberadaan orang tuanya saja yang bermain dengan dia. Itu rasanya mungkin cukup. Jeff menatap istrinya, dialah yang lebih dewasa di sana, seharusnya dia yang lebih bisa membimbing Mika dan bertanggung jawab atas Regan, bukan malah membawa Mika sesuka hatinya.
"Regan jadi korban padahal ya dia sama sekali nggak tau apa-apa," ujar Mika, mereka memesan ayam goreng tapi kemudian ayam goreng tersebut menjadi tidak menarik di hadapan Mika.
Jeff sama sekali tidak tahu harus menanggapi bagaimana dan yang ada hanya rasa bersalah yang ada di dalam dirinya.
"Regan salah pilih orang tua atau kita yang salah karena terlalu cepat memutuskan untuk punya anak?" Tanya Mika, karena rasa bersalah yang ada benar-benar sesuatu yang menyakitkan untuk Mika.
Jeff menggelengkan kepalanya, ada beberapa hal yang salah, tapi satu yang pasti bahwa mereka tidak boleh menyesali apa yang sudah terjadi, karena semuanya sudah terjadi.
"Hidup adalah tentang belajar, kita masih belum terlambat untuk belajar dan memahami semua ini," ujar Jeff, dia menepuk puncak Kepala Mika, tidak boleh ada satupun hal yang mereka sesali, mereka sudah sampai sejauh ini, Regan adalah anugerah terbaik yang pernah mereka miliki.
Mika menghapus sudut matanya, membayangkan betapa berat hidup Regan hanya karena terlahir sabagai anaknya, terlahir dari ibu yang tidak bisa menjaganya dan masih ingin bermain-main. Pokoknya semuanya menjadi sangat sensitif.
Setiap Mika menangis, Jeff yang merasa terluka, Jeff selalu merasa bersalah kalau sampai Mika sedih.
"Sayang..."
"Kasihan Regan Mas, sejak awal dia nggak pernah meminta untuk dilahirkan ke dunia ini," jelas Mika, perlahan Mika terisak, jujur semua ini berat untuk Mika, menyadari bahwa dia sendiri banyak kurangnya.
"Sayang, gak gitu!" Jeff Menggelengkan kepalanya, tidak begitu seharusnya karena memang yang harus mereka lakukan adalah memperbaiki apa-apa yang salah, agar mereka siap bukan menyesali apa yang sudah terjadi.
"Tapi..."
Jeff menggelengkan kepalanya, dia maju kemudian memeluk tubuh Mika, dia memang sadar kalau mereka tidak sempurna, tapi sekarang bukan saatnya menyalahkan diri sendiri.
"Kita punya banyak kesempatan untuk memperbaiki semuanya, jadi mari kita perbaiki."Jeff berusaha menenangkan Mika, karena memang mereka harus tenang menghadapi semua ini.
__ADS_1
"Diantara banyaknya ketidaksempurnaan, mari kita jadi sesuatu yang gak sempurna tapi gak bikin Regan menyesal juga gak ada kata terlambat untuk minta maaf sama Regan."