10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Kejadian Tak Terduga


__ADS_3


Keesokan harinya, Mika kembali ke sekolah. Dia juga sudah dipecat oleh Jeff, jadi apalagi yang harus dia lakukan kalau begini? Mungkin dengan bertemu teman-temannya akan membuat Mika jauh merasa lebih baik.


"Lo kenapa deh mukanya murung gitu?" Tanya Tessa.


"Kaya banyak beban banget hidup lo, cerita. Gunanya kita apa coba kalau lo stress sendirian," sambung Caca.


"Gapapa, lagi stress doang dikit. I can handle everything kok, nanti kalau udah chaos baru cerita." Ya jawaban yang sering Mika berikan pada Tessa dan Caca.


Tapi mereka paham sih, karena Mika memang seperti itu. Jadi mereka tidak memaksa, karena Mika juga bukan orang yang tertutup.


"Ya udah, sekarang mending makan aja. Biar stress lo juga berkurang." Caca tersenyum lalu mengusap lengan Mika perlahan, membuat Mika juga ikut tersenyum.


Brakk...


Tiba-tiba seseorang menggebrak meja mereka yang sontak membuat Mika menatap tajam ke arah si pelaku.


"Bisa sopan gak sih lo, Bebek!" Kesal Mika. Kedua teman Selena sontak mundur, jika berhadapan dengan Mika mereka tidak ingin ikut-ikutan deh, ampun.


"Lo yang harusnya sopan! Ngapain lo deketin kakak gue?!" Selena mendorong tubuh Mika, untung saja masih bisa ditangkap oleh Caca dan Tessa.


"Eh, Mak lampir! Mika aja udah gak pernah ketemu kak Elang ya, jangan ngomong sembarangan!" Ketus Tessa.


"DIA GAK DEKETIN KAK ELANG, TAPI KAK JEFF! DIA MAKSA DINIKAHIN SAMA KAKAK GUE!" Bentak Selena di hadapan Tessa.


Tessa dan Caca menatap ke arah Mika seolah meminta penjelasan, membuat Mika yang tadinya masih belum mau cerita terpaksa setelah ini harus menceritakannya. "Nanti gue jelasin."


Tatapannya kembali ke arah Selena, mereka sudah menjadi bahan tontonan satu kantin sekarang. Tapi Mika memang tidak pernah peduli selama dia tidak merasa salah.


Perlahan dia medekat ke arah Selena dengan posisi tangannya yang bersila di dada. "Denger ini baik-baik ya, Princess Selena! Pertama, gue gak tertarik sama kakak lo."


"Tap-"

__ADS_1


"Kedua gue jauhin kak Elang juga karena males berurusan sama lo!" Potong Mika.


Mika menghela napasnya sambil menunjuk tepat di wajah Selena. "Dan yang terakhir kakak lo yang maksa gue buat nikah sama dia!"


"HALAH! Jangan sok jual mahal, kak Jeff gak mungkin seleranya rendahan kalau bukan lo apa-apain! DASAR CEWEK MURAHAN!" Selena mengangkat tangannya saat sedetik lagi tangannua sampai di pipi Mika seseorang datang dari balik kerumunan dan menahan pergelangan tangan Selena.


Mika dan Selena sama-sama kaget dan menatap ke arah Jeff yang tiba-tiba saja ada di sana. Selena yang melihat Jeff menahan tangannya demi Mika merasa sangat marah.


"Kamu apa-apaan, Selena!" Kini suara Jeff meninggi. Membuat semua orang di sana termasuk Mika dan Selena semakin kaget dibuatnya.


Selena semakin emosi, tidak pernah tuh Jeff memanggil namanya seperti itu. Kenapa sekarang Jeff membentaknya di tengah banyak orang hanya demi Mika?


"Kakak bentak aku?" Tanya Selena tak percaya.


Jeff menghela napasnya, dia tidak bisa bersikap kasar pada Selena, namun jika dia keterlaluan seperti ini apa Jeff harus membiarkannya.


"Kakak-"


"Kakak bentak aku demi belain dia?!" Tunjuk Selena pada Mika.


Mika menarik kedua temannya dan meninggalkan kantin. Meskipun banyak yang penasaran dengan hubungan Jeff dan Mika yang Selena katakan, tidak ada yang berani bertanya atau menggosipkan tentang itu. Karena mereka juga tau karakter dari Mika.


Entah apa yang Jeff lakukan pada Selena setelahnya dia tidak peduli. Tessa dan Caca sebenarnya memiliki banyak pertanyaan, tapi berhubung Mika membawanya ke rooftop sekolah, sudah bisa dipastikan kalau Mika ingin membicarakan sesuatu.


"Lo beneran sama kakanya si Bebek? Yang Om-Om itu?" Tanya Tessa saat sampai di sana.


Mika menatap ke arah kedua temannya sambil duduk di sebuah sofa tak terpakai yang memang sering mereka pakai untuk berkumpul.


"Iya," jawab Mika singkat.


"Kok bisa?! Kalau lo sama kak Elang, masih bisa diterima akal sehat ya, Mik. Tapi Jefrico Rasendria Dirgantara?" Caca tidak habis pikir kenapa sahabatnya bisa berpikir untuk menikah muda seperti ini.


"Gue dipaksa."

__ADS_1


"Dipaksa gimana? Lo kan bisa nolak, Mik. Gue tau lo, kenapa lo malah jadi kaya orang lemah gini sih karena dipaksa sama seorang Jeffrico?" Kesal Tessa.


"Kalian harus dengerin gue dulu," ucap Mika.


"Ya udah jelasin, jangan bikin kita nebak-nebak yang akhirnya malah berpikir yang engga-engga ke lo, Mik." Caca berusaha menetralkan emosinya, jelas dia emosi. Mika menutupi hal sebesar ini dari mereka.


Mika mengeluarkan surat 10 tahun lalu yang memang dia bawa waktu itu. Membuat Tessa dan Caca tidak habis pikir. "Seriously, Mik? Ini gak make sense, lo bisa nolak loh."


"Iyalah, gue juga gak sebodoh itu kali. Gue udah nolak, bahkan gue nolak di depan orang tua dia. Tapi dia bersikeras kalau gak akan menikah seumur hidup dan lo pada tau? Gue gak suka dijadiin penentu nasib atau tumpuan kehidupan seseorang."


"Gue awalnya mikir ya udah gue gak peduli, tapi waktu itu Om dan Tante gue gadai rumah orang tua gue tanpa sepengetahuan gue, sampai akhirnya ada penyitaan."


"Saat itu gue lagi sama Om Jeff dan di saat udah chaos kaya gitu dia yang bayarin semua dan nyelamatin rumah gue yang di dalamnya ada banyak kenangan. Menurut kalian apa dia ngasih itu secara gratis? Engga, ya mau gak mau gue harus menikah sama dia."


Mika kini menangis, kalau sudah bersama Tessa dan Caca tidak mungkin dia menutupi beban emosionalnya sendirian. Dia juga tidak malu kalau harus menangis di depan mereka.


Tessa dan Caca duduk di sebelah Mika lalu memeluknya, berat memang. Kehidupan Mika memang selalu berat, mereka tau itu.


"Kenapa lo gak bilang sama kita, Mik," ucap Caca lirih.


"Gue gak tau gimana harus cerita sama kalian, gue nunggu waktu yang tepat. Tapi taunya keburu ketauan sendiri. Gue gak suka diatur, kalian tau itu. Gue juga benci kenapa gue lemah kaya gini."


"Gue ngerasa gak berdaya dan dipermainkan sama orang-orang yang punya kuasa lebih. Gue bukan orang yang mampu buat lawan itu, gue gak tau lagi harus gimana." Tangis Mika semakin pecah. Memang pada dasarnya tidak ada orang yang mampu memendam masalah sendirian, ketika mempunyai orang yang tempat untuk bercerita ya beginilah jadinya.


Tessa dan Caca jadi ikut menangis. Mereka merasakan menjadi Mika pastilah tidak mudah. Bersama hampir 6 tahun dengan Mika tidak mungkin mereka tidak menyayangi Mika.


"Apa lo mau bokap gue bantuin lo?" Tanya Caca sembari menghapus air mata Mika.


"Gak, Ca. Ini udah tanggung jawab gue, kalau udah begini ya jatuhnya gue emag berhutang sama dia." Mika berusaha menguatkan dirinya lagi, tidak mungkin dia harus lari dari tanggung jawab, itu bukanlah seorang Mika.


"Tapi masa depan lo gimana?" Tanya Tessa.


"Gue gak tau. Cafe aja udah dibeli sama dia. Gue juga udah dipecat. Gue gak tau kedepannya mau kaya gimana," jawab Mika pasrah.

__ADS_1


"Gak habis pikir sama pikiran orang dewasa. Lo kuat yaa, harus kuat. Jangan nyimpen ini sendirian. Lo masih punya kita, kita bakalan selalu ada buat lo." Tessa mengeratkan pelukannya pada Mika.


Membuat Mika menjadi merasa kalau dalam kehidupan pahitnya, ternyata masih ada Tessa dan Caca yang menjadi penopangnya. Mika benar-benar beruntung memiliki keduanya.


__ADS_2